Anda di halaman 1dari 12

Kelompok 7

2016 C
Menurut
WHO

Sehat adalah keadaan utuh secara fisik,


jasmani, mental, dan social serta bukan
hanya suatu keadaan yang bebas dari
penyakit cacat dan kelemahan.
Menurut
Para Ahli

Sehat adalah suatu keadaan


keseimbangan dinamis antara bentuk dan
fungsi tubuh yang dapat mengadakan
penyesuaian sehinggat tubuh dapat
mengatasi gangguan dari luar (Pepkin’s)
Menurut
Medis

Sakit adalah keadaan dimana fisik,


emosional, intelektual, sosial,
perkembangan, atau seseorang berkurang
atau terganggu, bukan hanya keadaan
terjadinya proses penyakit.
Menurut
Para Ahli

Sakit adalah gangguan dalam fungsi normal individu sebagai


totalitas (Parson, 1972)
Paradigma sehat adalah cara Paradigma sakit adalah cara pandang
apandang atau pola pikir dalam upaya kesehatan yang
pembangunan kesehatan yang mengutamakan upaya kuratif dan
bersifat holistic, proaktif antisipatif, rehabilitatif.
dengan melihat masalah kesehatan
sebagai masalah yang dipengaruhi
oleh banyak faktor secara dinamis
dan lintas sektoral, dalam suatu
wilayah yang berorientasi kepada
peningkatan pemeliharaan dan
perlindungan terhadap penduduk
agara tetap sehat dan buka hanya
penyembuan penduduk yang sakit.
Status kesehatan merupakan suatu keaaan kesehatan seseorang dalam rentang sakit
sehat yang bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh:
PERKEMBANGAN KETURUNAN
SOSIAL & KUTURAL PELAYANAN
PENGALAMAN MASA LALU
HARAPAN SESEORANG
SOSIAL & KUTURAL
INTERNAL EKSTERNAL

Persepsi individu terhadap gelaja dan Gejala yang dapat dilihat


sifat sakit yang dialami
Kelompok sosial
Jenis penyakit
Latar belakang budaya

Ekonomi
Tidak cuci tangan sebelum makan

Makan makanan yang tidak sehat dan bersih

Tidur terlalu larut malam

Menggunakan jarum suntik yang tidak steril

Hidup ditempat dengan polusi tinggi


Persepsi Masyarakat Tentang
Konsep Sehat & Sakit

Konsep sehat dan sakit menurut pandangan


masyarakat atau dapat dikatakan masyarakat sebagai
pasien. Persepsi masyarakat tentang sehat atau sakit
ini sangatlah dipengaruhi oleh unsur pengalaman
masa lalu, di samping unsur sosial budaya.
Sebaliknya, petugas kesehatan berusaha sedapat
mungkin menerapkan kriteria medis yang obyektif
berdasarkan simpton yang tampak guna
mendiagnosa kondisi fisik seorang individu.
Perbedaan persepsi antara masyarakat dan petugas
kesehatan inilah yang sering menimbulkan masalah
dalam melaksanakan program kesehatan. Kadang-
kadang orang tidak pergi berobat atau mengunakan
sarana kesehatan yang tersedia sebab dia tidak
merasa mengidap penyakit. Atau jika si individu
merasa bahwa penyakitnya itu disebabkan oleh
makhluk halus, maka dia akan memilih untuk berobat
kepada “orang pandai” yang dianggap mampu
mengusir makhluk halus tersebut dari tubuhnya
sehingga penyakitnya itu akan hilang (Jordan, 1985 ;
Sudarti, 1988).
Konsep Sehat dan Sakit menurut
Budaya Masyarakat
Penyakit sendiri ditentukan oleh budaya: hal ini karena penyakit merupakan
pengakuan sosial bahwa seseorang tidak dapat menjalankan peran
normalnya secara wajar. Cara hidup dan gaya hidup manusia merupakan
fenomena yang dapat dikaitkan dengan munculnya berbagai macam
penyakit, selain itu hasil berbagai kebudayaan juga dapat menimbulkan
penyakit. Masyarakat dan pengobat tradisional menganut dua konsep
penyebab sakit, yaitu: Naturalistik dan Personalistik. Penyebab bersifat
Naturalistik yaitu seseorang menderita sakit akibat pengaruh lingkungan,
makanan (salah makan), ke biasaan hidup, ketidakseimbangan dalam tubuh,
termasuk juga kepercayaan panas dingin seperti masuk angin dan penyakit
bawaan.
Sedangkan konsep Personalistik menganggap munculnya penyakit (illness)
disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif yang dapat berupa makhluk
bukan manusia (hantu, roh, leluhur atau roh jahat), atau makhluk manusia
(tukang sihir, tukang tenung).
Dikenalinya atau dirasakannya gejala-gejala atau tanda-tanda yang menyimpang dari
keadaan biasa.
Banyaknya gejala yang dianggap serius dan diperkirakan menimbulkan bahaya.
Dampak gejala itu terhadap hubungan dengan keluarga, hubungan kerja dan dalam
kegiatan sosial lainnya.
Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak dan persistensinya.
Nilai ambang dari mereka yang terkena gejala itu atau kemungkinan individu untuk
diserang penyakit itu.
Informasi, pengetahuan dan asumsi budaya tentang penyakit itu.
Perbedaan interpretasi terhadap gejala yang dikenalnya.
Tersedianya sarana kesehatan, kemudahan mencapai sarana tersebut, tersedianya biaya
dan kemampuan untuk mengatasi stigma dan jarak sosial (rasa malu,takut,dsb).
Dalam menganalisa kondisi tubuhnya, biasanya orang melalui dua tingkat
analisa, yaitu :
1. Batasan sakit menurut orang lain:
Orang-orang disekitar individu yang sakit mengenali gejala sakit pada diri
individu itu ada mengatakan bahwa dia sakit dan perlu mendapat
pengobatan. Penilaian orang lain ini sangat besar artinya pada anak-anak
dan bagi orang dewasa yang menolak lkenyataan bahwa dirinya sakit.
2. Batasan sakit menurut dari sendiri:
Individu itu sering mengenali gejala penyakitnya dan menentukan apakah
dia akan mencari pengoobatan atau tidak. Analisa orang lain dapat sesuai
atau bertentangan dengan analisa individu, namun biasanya analisa itu
mendorong individu untuk mencari upaya pengobatan.
Tahap Pengenalan Gejala

Tahap Asumsi Peranan Sakit

Tahap Kontak dengan Pelayanan Kesehatan

Tahap Ketergantungan Pasien

Tahap Penyembuhan/Rehabilitasi