Anda di halaman 1dari 13

Operating Exposure

BRIAN RAHADIAN
M. IQBAL A.L.
Karakteristik operating exposure

 Eksposure operasi merupakan eksposure dari sebuah asset (valas) yang terjadi ketika
perusahaan melakukan operasi kegiatan usaha, periode setelah melakukan kontrak
transaksi sampai produk dikirim ke gudang pembeli atau saat produk/jasa diterima oleh
pembeli dan sekaligus pembeli melunasi pembayarannya.
 Mengukur eksposur operasi perusahaan memerlukan peramalan dan analisis atas seluruh
eksposur transaksi masa depan perusahaan dan eksposur masa depan atas seluruh
kompetitor dan kompetitor perusahaan di seluruh dunia.
 Analisis jangka yang lebih panjang – yaitu ketika perubahan kurs nilai tukar tidak dapat
diprediksi dan tidak dapat diperkirakan – merupakan tujuan analisis eksposur operasi.
 Arus kas perusahaan multinasional dapat dibagi menjadi arus kas operasi dan arus kas
pendanaan. Arus kas operasi timbul dari piutang dan utang antar perusahaan (antara
perusahaan yang tidak terkait) dan intra perusahaan (antar unit dalam perusahaan yang
sama), pembayaran sewa, biaya royalti dan lisensi, serta beragam biaya jasa manajemen.
 Arus kas pendanaan merupakan pembayaran untuk pinjaman (yaitu pokok dan bunga),
injeksi modal ekuitas, dan dividen yang memiliki sifat antar maupun intra perusahaan.
Manajemen strategi operating exposure

 Tujuan manajemen eksposur operasi dan transaksi adalah untuk mengantisipasi dan
mempengaruhi efek perubahan valuta asing yang tak terduga terhadap arus kas masa
depan perusahaan, dan bukan sekedar berharap untuk kondisi terbaik.
 Untuk memenuhi tujuan ini, manajemen dapat melakukan diversifikasi basis operasi dan
pendanaan perusahaan. Manajemen juga dapat mengubah kebijakan operasi dan
pendanaan perusahaan.
 Strategi diversifikasi tidak menuntut perusahaan untuk memprediksikan ketidakseimbangan,
melakukan cukup mengakuinya saat terjadi.
 Perusahaan domestik dapat pula terpengaruh sepenuhnya atas eksposur operasi mata
uang asing dan tidak memiliki pilihan untuk bereaksi dengan cara yang sama seperti halnya
perusahaan multinasional.
 Jika sumber pendanaan perusahaan terdiverisfikasi sebenarnya perusahaan telah
diposisikan dari awal untuk mendapatkan keuntungan dari deviasi temporer yang terjadi
melalui efek Fisher internasional.
Manajemen proaktif operating exposure

 Eksposur operasi dan transaksi dapat dikelola sebagian dengan mengadopsi kebijakan
operasi atau pendanaan yang dapat mengimbangi eksposur mata uang asing yang
diantisipasi. Enam kebijakan proaktif yang umumnya diterapkan adalah:
 1) Menyamakan arus kas mata uang
 2) Perjanjian pembagian risiko
 3) Back-to-back atau parallel loan
 4) Swap mata uang
 5) Leads and lags
 6) Reinvoicing center
Manajemen proaktif operating exposure

 Rangkaian eksposur transaksi tanpa henti ini dapat dilindung nilai seara berlanjut dengan
forward atau perjanjian kontraktual lainnya
1. Menyamakan arus kas mata uang Salah satu jalan untuk meniadakan eksposur panjang
yang terus berlanjut yang diantisipasi perusahaan adalah dengan mendapatkan utang
dalam denominasi mata uang tersebut (matching).
2. Klausul perjanjian menyangkuta mata uang: pembagian risko Metode alternatif untuk
mengelola eksposur arus kas jangka pajang antar perusahaan adalah dengan melakukan
pembagian risiko (risk sharing).
3. Back-to-Back Loans Back-to-back loan, yang juga dikenal sebagai parallel loan atau credit
swap, terjadi ketika dua perusahaan di dua negara berbeda mengatur untuk meminjam
dalam mata uang satu sama lain selama periode waktu tertentu.
4. Currency Swaps: Currency swap serupa dengan back-to-back loan, hanya saja tidak tersaji
pada neraca perusahaan.
5. Leads and Lags: Menentukan kembali waktu transfer dana Perusahaan dapat mengurangi
baik eksposur operasi dan transaksi dengan mempercepat atau memperlambat waktu
pembayaran yang harus dilakukan atau diterima dalam mata uang asing.
Manajemen proaktif operating exposure

6. Reinvoicing Center
Sebuah reinvoicing center adalah anak perusahaan dari suatu perusahaan multinasional
yang berada di suatu negara tertentu yang berfungsi mengelola eksposure operasi
perusahaan-perusahaan afiliasi
Pendekatan Kontraktual: Lindung nilai terhadap
transaksi yang tidak dapat dilindungi

 Pada kondisi pasar saat ini, maka dalam beberapa kesempatan hedging
menjadi terbatas. Alternatifnya perusahaan melakukan lindung nilai
kontraktual. Bisa dengan opsi mata uang jangka Panjang untuk
mengimbangi potensi kerugian dari perubahan kurs nilai mata uang.
Eksposur Translasi

 Eksposur Translasi timbul karena laporan keuangan perusahaan anak di


luar negri – yang dinyatakan dalam mata uang pelaporan perusahaan
dapat menyusun laporan keuangan konsolidasi.
 Eksposur Translasi juga merupakan potensi kenaikan atau penurunan
kekayaan bersih dah laba bersih perusahaan induk, yang disebabkan oleh
perrubhana kurs nilai tukar sejak tanggal terakhir dilakukannya translasi.
Metode translasi

 Proses translasi pada dasarnya cukup sederhana:


 1. laporan keuangan dalam mata uang asing harus disajikan kembali
dalam mata uang pelaporan kperusahaan induk.
 2. jika kurs nilai tukar yang sama digunakan untuk mengukur kembali
masing masing dan setiap komponen akun dalam laporan terpisah,maka
tidak akan ada ketidakseimbangan yang timbul dari proses pengukuran
kembali.
 Kurs nilai tukar yang berbeda digunakan untukmengukur kembali masing-
masing pos dalam laporan yaitu:
 1. prinsip translasi di banyak negara seringkali merupakan hasil kompromi
yang komplek antara valuasi pasar historis dan kini.
 2. kurs nilai tukar historis digunakan untuk pos ekuitas tertentu, asset tertentu
dan persediaan. Sedangkan kurs nilai tukar kini dapat digunakan untuk
asset lamcar, liabilitas lanncar, pendapatan dan beban.
Prosesnya cukup sederhana:
1. Laporan keuangan dalam mata uang asing harus disajikan kembali dalam
mata uang pelaporan perusahaan induk.
2. Jika kurs nilai tukar yang sama digunakan untuk mengukur kembali masing
masing dan setiap pos dalam laporan keuangan yang timbul dari proses
pengukuran ini.
3. Jika kurs berbeda, yang digunakan untuk masing masing pos dalam
masing masing lapran, maka timbul ketidakseimbangan.
 Kurs nilai tukar yang berbeda digunaka untuk mengukur kembali masing
masing pos item dalam laporan keuangan karena:
 1. prinsip translasi laporan keuangan di berbagai negara seringkali
merupakan hasil kompromi yang kompleks antara valuasi berdasarkan nilai
histpris dan harga pasar terkini.
 2. kurs nilai tukar historis dapat digunakan unruk beberapa jenis akun
ekuitas, asset tetap dan persediaan, sedangkan kurs nilai tukar kini dapat
digunakan untuk asset lancar, liabilitas lancar dan pos pos pendapatan
dan beban.
Perbandingan Eksposur Operasi dan
Eksposur Transaksi
 Eksposur operasi bergantung pada:
 1. depresiasi atau apresiasi mata uang, apabila mengalami depresiasi,
maka cenderung menimbulkan kerugian kurs.
 2. peningkatan volume, volume yang meningkat menghasilkan
keuntungan bagi perusahaan.
 3. Peningkatan harga jual. Harga jual yang meningkat juga meningkatkan
keuntungan perusahaan.
 Sebaliknya eksposur translasi selain dipengaruhi oleh depresiasi / apresiasi
kurs juga bergantung pada metode yang digunakan dalam translasi.
Pengelolaan translasi eksposur

 Teknik umum yang terutama digunakan untuk meminimalkan dampak


eksposur tranlasi adlah lindung nilai neraca. Lindung nilai neraca
memerlukan jumlah yang sama atas asset dan liabiliatas dalam mata uang
yang terekspos risiko, dalam lapora posisi keuangan konsolidasi.
 jika perusahaan melakukan translasi dengan menggunakan metode
temporal, maka posisi terekspos bersih sevesar nol tersebut disebut sebagai
saldo moneter. Saldo moneter yang komplit tidak pernah terpenuhi jika
yang digunakan adalah metode current rate.

Anda mungkin juga menyukai