Anda di halaman 1dari 20

TANIN

WIDYA WULANDARI (1801018)


EVY CAHAYAWATI (1801014)
APRILIA EKA PUTRI (1801015)
 Pengertian

Tanin merupakan salah satu jenis senyawa yang


termasuk ke dalam golongan polifenol. Senyawa tanin ini
banyak di jumpai pada tumbuhan. Tanin dahulu
digunakan untuk menyamakkan kulit hewan karena
sifatnya yang dapat mengikat protein.
 Klasifikasi Tanin

1. Tanin terkondensasi (condensed tannins)


Tanin jenis ini biasanya tidak dapat dihidrolisis, tetapi dapat
terkondensasi meghasilkan asam klorida. Tanin jenis ini
kebanyakan terdiri dari polimer flavonoid yang merupakan
senyawa fenol.
2. Tanin terhidrolisiskan (hydrolysable tannins)
Tanin ini biasanya berikatan dengan karbohidrat dengan membentuk
jembatan oksigen,maka dari itu tanin ini dapat dihidrolisis dengan
menggunakan asam sulfat atau asam klorida.
Rumus Struktur Tanin
Sifat-sifat tanin
1. Dalam air membentuk larutan koloidal yang Bereaksi
asam dan sepat.
2. Mengendapkan larutan gelatin dan larutan alkaloid.
3. Tidak dapat mengkristal.
4. Larutan alkali mampu mengoksidasi oksigen.
5. Mengendapkan protein dari larutannya dan bersenya
wa dengan protein tersebut sehingga tidak dipengaru
hi oleh enzim protiolitik.
Sifat kimia Tanin
1. Merupakan senyawa kompleks dalam bent
uk campuran polifenol yang sukar dipisahk
an sehingga sukar mengkristal.
2. Tanin dapat diidentifikasikan dengan krom
otografi.
3. Senyawa fenol dari tanin mempunyai aksi
adstrigensia, antiseptic dan pemberi warna.
Biosintesis Tanin

Biosintesis dari tanin secara umum, yaitu: biosinte


sa asam galat dengan prekursor senyawa fenol pro
panoid. Contoh: asam gallat merupakan hasil hidr
olisa tannin, dari jalur asam siklimat melalui asam
5-D-hidroksisiklimat dan katekin dibentuk dari 3
molekul asam asetat, asam sinamat asam katekin.
Beberapa contoh bagaimana tannin tersin
tesis adalah sebagai berikut :
 Asam gallat terderivasi dari asam kuinat.
 Ellagotannins terbentuk dari hexahydroxydiphenic acid esters mel
alui proses oxidative coupling dengan menggabungkan asam galla
t dengan suatu inti D-glucose.
 Oxidative coupling yang lebih lanjut akan membentuk bentuk poli
mer tannin terhidrolisis.
 Prekursor biosintesis proanthosianidin adalah leucocyanidins (flav
an-3,4-diol and flavan-4-ol)
 Melalui autooksidasi, dengan ketidakhadiran panas akan terbentuk
anthocyanidin dan 3-deoxyanthocianidin, dimana pada akhirnya a
kan berpolimerisasi.
 Jalur asam shikimat dimulai dari asam shikimat yang dengan ada
nya Erithrose PO4 + PEP akan menjadi asam kuinat, asam kuinat
inilah yang nantinya menjadi asam gallat. Asam gallat merupaka
n salah satu asam pembentuk tanin terhidrolisis.

 Pada tanin terhidrolisis golongan Gallotanin, asam gallat satu de


ngan yang lain akan dihubungkan dengan adanya ester, lalu berg
abung dengan alkoholnya (umumnya glukosa) membentuk Ellagi
tanin.

 Asam shikimat tadi juga akan menjadi fenilalanin; fenilalanin ak


an menjadi tyrosin dan asam sinamat. Asam sinamat nantinya ak
an menjadi salah satu penyusun pseudotanin. Asam sinamat akan
berikatan dengan asam kuinat atau asam shikimat membentuk ps
eudotanin.
Lanjutan BIOSINTESIS TANIN
Tanaman memproduksi berbagai macam metabolit sekunder s
eperti alkaloid, terpena, dan fenolik. Walaupun metabolit seku
nder ini tidak berfungsi seperti metabolit primer lainnya dala
m biosintesis, biodegradasi, ataupun untuk mengubah energi
dalam metabolisme, senyawa-senyawa ini berperan dalam ber
macam-macam aktivitas biologis seperti menghasilkan toksin
dan zat-zat hormonal, sampai melindungi tanaman dari hama
dan penyakit. Metabolisme fenolik dalam tumbuhan sangat k
ompleks dan menghasilkan suatu susunan senyawa yang luas
mulai dari pigmen warna pada bunga (antosianin) sampai din
ding sel tumbuhan (lignin).
Lanjutan
Tanin merupakan salah satu metabolit sekunder yang terdistribusi
luas dalam flora tanaman. Tannin adalah senyawa fenol dengan be
rat molekul tinggi yang larut dalam air dan alkohol. Senyawa ini d
apat ditemukan pada akar, kulit kayu, batang dan lapisan luar dari
jaringan tanaman. Pada suatu reaksi, tannin bersifat asam dan hal
ini berhubungan dengan adanya fenol atau gugus karboksil.
Bentuk tannin adalah kompleks dengan protein, karbohidrat,
gelatin dan alkaloid
Simplisia yang mengandung Tanin

1. Psidii Folium (Daun jambu biji)

• Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Pluchea
Spesies : Pluchea indica (L.) Less.
• Kandungan
Psidii Tanin, minyak atsiri , euginol
mengandung minyak lemak, damar
dan garam mineral.
• Khasiat
Obat mencret, adstringen
2. Murrayae Folium (Daun Kemuning)

• Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Famili : Rutaceae
Genus : Murraya
Spesies : Murraya paniculata L.Jack
• Kandungan
Murayin, minyak atsiri, damar, tannin
• Khasiat
Sebagai antigonorea dalam bentuk
dekokta dengan dosis 2-5 gram.
(Dekokta merupakan proses infusa
namun lebih lama).
3. Granati Fructus Cortex (kulit buah delima)

• Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliosida
Ordo : Myrtales
Famili : Punicaceae
Genus : Punica
Spesies : Punica granatum
• Kandungan
Alkaloid cair terutama isopeleterina dan
pelleterina, alkaloid metal peleterina dan
metal iso peleterina, Tanin, Co-oksalat dan
pati.
• Khasiat
Sebagai adstrigensia, tainisida (obat cacing)
Tania saginata (cacing pita).
JURNAL “
Penentuan Kandungan Tanin dan Uji Aktivitas Antioksidan
Ekstrak Biji Buah Alpukat (Persea americana Mill.)
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandu
ngan tanin serta menguji aktivitas antioksidan eks
trak biji alpukat segar dan kering. Penentuan kand
ungan total tanin dilakukan dengan metode Folin
Ciocalteau, sedangkan penentuan tanin terkonden
sasi dilakukan dengan metode Vanilin-HCl dan a
ktivitas antioksidan diukur dengan metode DPPH.
Cara Kerja
Ekstraksi sampel dilakukan secara maserasi baik sampel
alpukat segar maupun kering. Ditimbang sebanyak 20 g b
iji alpukat, direndam dalam 100 mL etanol 95% selama 2
4 jam kemudian disaring sehingga diperoleh filtrat. Perla
kuan dilakukan selama 48 jam. Filtrat yang diperoleh dis
atukan kemudian dievaporasi untuk mendapatkan ekstrak
etanol. Ekstrak hasil evaporasi didinginkan dalam desikat
or sebelum analisis lebih lanjut.
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai