Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

Psikofarmaka Anti Depresi dan Anti


Ansietas
Disusun oleh :
Siti Zulfah
1102014255

Pembimbing :
AKBP dr. Karjana, Sp. KJ

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa


Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
Rumah Sakit Bhayangkara tk.I R.S.Sukanto-Jakarta
Periode 21 Mei-30 Juni 2018
BAB I
PSIKOFARMAKA ANTIDEPRESAN DAN ANTIANXIETAS

Pendahuluan
Gangguan jiwa adalah sindrom atau pola perilaku, atau psikologik seseorang, yang secara klinik cukup
bermakna , dan yang secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distress) atau hendaya
(impairment/disability) di dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia. Sebagai tambahan,
disimpulkan bahwa disfungsi itu adalah disfungsi dalam segi perilaku, psikologik, atau biologik, dan
gangguan itu tidak semata-mata terletak didalam hubungan antara orang itu dengan masyarakat.
Psikofarmakoterapi adalah terapi dengan obat-obat psikofarmaka yang
meliputi obat-obat yang memiliki efek utama terhadap proses mental
disusunan saraf pusat, seperti proses pikir, perasaan dan fungsi motorik dan
atau tingkah laku. Psikofarmaka adalah obat yang bekerja secara selektif
pada susunan saraf pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap
aktivitas mental dan perilaku (mind and behavior altering drugs), yang
digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik.
Berdasarkan efek klinisnya, psikofarmaka dibagi menjadi 4 kelompok
besar yaitu obat-obat antipsikotik, antidepresan, antiansietas, dan antimanik/
mood stabilizer. Pada referai ini akan dibahas mengenai antidepresan dan
antisientas. Penjelasan terdiri atas mekanisme kerja obat, penggunaannya
secara klinis yang terdiri atas penggolongan obat, indikasi, dosis, efek
samping, dan interaksi obat.
BAB II
PEMBAHASAN
I. Anti Depresi
 Depresi adalah gangguan mood yang dikarakteristikkan dengan kesedihan
yang intens, berlangsung dalam waktu lama, dan mengganggu kehidupan
normal. Orang depresi menjadi pesimis dan putus asa, merasa sia-sia dan
sering diiringi dengan pikiran tentang hilangnya kesenangan
 Anti depresi adalah kelompok obat-obat yang heterogen dengan efek
utama dan terpenting adalah untuk mengendalikan gejala depresi.
Hipotesis terjadinya gejala depresi disebabkan oleh rendahnya kadar
neurotransmiter serotonin dineuron pasca sinaps.
 Mekanisme kerja obat anti-depresi klasik adalah menghambat “reuptake-
aminergic neurotransmitter” dan menghambat penghancuran oleh enzim
aminergic neurotransmitter atau dengan kata lain, mencegah transportasi
serotonin, norepinephrine dan dopamine. Dengan begitu, aktivitas reseptor
serotonin akan meningkat (Maslim, 2014).
Golongan obat anti-depresan terdiri atas :

 Trisiklik Antidepressants (TCA)  Amitriptiline, Clomipramine, Imipramine,


Tianeptine
 Tetracyclik Antidepressants  Maprotiline, Mianserin, Amoxapine
 MAO-I (Monoamine Oxidase Inhibitor)  Moclobemide
 Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor  Sertraline, Fluoxentine, Citalopram,
Paroxetine, Fluvoxamine
 SNRI (Seritonin Norepineprin Reuptake Inhiibitor)  Venlafaxine, Duloxetine
 Melatonergik agonist (MT1&MT2 Reseptor) dan 5-HT2C antagonist  Agomelatine
 Anti Depresi “ATYPICAL”  Tradozone, Mirtazapine
Terdapat 5 proses dalam pengaturan dosis :

 Initiating dosage (test dose) : untuk mencapai dosis anjuran selama 1 minggu,
misalnya Amitriptilin 25 mg/hari = hari 1 dan 2, 50mg/hari = hari 3 dan 4,
100mg/hari = hari 5 dan 6.
 Titrating dosage (Optimal dose) : mulai dosis anjuran sampai mencapai dosis
efektif (dosis optimal). mulai dari hari ke 7, dosis awal ditingkatkan hingga hari
ke 14 (mencapai dosis efektif)
 Stabilizing dosage (stabilization dose) : dosis optimal yang dipertahankan
selama 2-3 bulan.
 Maintaining dosage (maintenance dose) : selama 3-6 bulan, memberikan dosis
sebesar ½ dosis optimal.
 Tapering dosage (tapering dose) : menurunkan dosis optimal setiap minggu
selama satu bulan.
Dengan demikian obat anti depresi dapat diberhentikan total. Jika kemudian
sindrom depresi kambuh lagi, proses dimulai lagi dari awal dan seterusnya
(Maslim, 2014).
A. Trisiklik Anti Depresan

 bersifat serotogenik dengan menghambat ambilan kembali


neurotransmiter yang telah dilepaskan dari neuron prasinaps ke celah
sinaps, dan ambilan tersebut bersifat tidak selektif.
AMITRIPTILIN IMIPRAMIN KLOMIPRAMIN TIANEPTIN
Dosis 25 mg dapat dinaikan secara bertahap sampai dosis 25- 50 mg/hari. Depresi sehari 1-6 10 mg dapat ditingkatkan sampai 12,5 mg
maksimum 150- 300 mg/ hari. tablet, enuresis nokturna sehari 1-2 dengan maksimum dosis 250 mg sehari.
tablet, ½ -1 jam sebelum tidur
untuk 5 tahun keatas.

Indikasi Depresi disebebkan berbagai sebab Episode depresi mayor


dan simptomatologi, enuresis
nokturna.

Kontra indikasi penderita koma, diskrasia darah, gangguan Infark miokard akut Infark miokard, pemberian bersamaan Anak 15 tahun, bersama dengan
depresif sumsum tulang, kerusakan hati, dengan MAO, gagal jantung, kerusakan MAOI, harus ada jarak 2 minggu
penggunaan bersama dengan MAO. hati yang berat, glaukoma sudut sempit. Antara penghentian MAOI dengan
mulai terapi tianeptin, diperlukan
penghentian 24 jam bila akan diganti
dengan terapi MAOI.

Interaksi obat bersama guanetidin →meniadakan efek anti hipertensi, obat dapat menurunkan efek antihipertensi
antihipertensi. alkohol, barbiturate, hipnotik atau simpatomimetik, alkohol, obat penghambat neuro adrenergik, dapat
analgetik opiate mempotensiasi efek gangguan penekan SSP meningkatkan efek kardiovaskular dari
depresif SSP termasuk gangguan depresif saluran noradrenalin atau adrenalin,
napas meningkatkan aktivitas dari obat
penekan SSP, alkohol.

Perhatian ganguan kardiovaskular, kanker payudara, fungsi kombinasi dengan MAO, terapi bersama dengan preparat tiroid,
ginjal menurun, glakuoma, kecenderungan untuk gangguan kardiovaskular, konstipasi kronik, kombinasi dengan
bunuh diri, kehamilan, menyusui, epilepsi. hipotensi, gangguan untuk beberapa obat antihipertensi,
mengemudi, ibu hamil dan simpatomimetik, penekan SSP, anti
menyusui kolinergik, penghambat reseptor
serotonin selektif, antikoagulan,
simetidin. Monitoring hitung darah dan
fungsi hati, gangguan untuk
mengemudi.
Merek dagang Amitriptyline, Trilin Tofranil Anafranil Stablon
B. MONOAMINE OXIDASE INHIBITOR (MAOI)-Reversible

 Kelompok MAOI bekerja di presinaps dengan cara menghambat enzim monoaminase yang memecah atau
memetabolisme serotonin sehingga jumlah serotonin yang dilepaskan ke celah sinaps bertambah dan dengan
demikian yang diteruskan ke celah pasca sinaps juga akan bertambah.
 Dosis : Sediaan Tab 150 mg, dosis anjuran 300-600 mg/ hari
 Indikasi : Depresi: Secara umum, MAOI diindikasikan pada penderita dengan depresi atipikal (eksogen)
dan pada beberapa penderita yang tidak berespon terhadap terapi antidpresif lainnya. MAOI jarang dipakai
sebagai obat pilihan.
 Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap senyawa ini; feokromositoma; gagal jantung kongestif; riwayat
penyakit liver atau fungsi liver abnormal; gangguan ginjal parah; gangguan serebrovaskular; penyakit
kardiovaskular; hipertensi; riwayat sakit kepala; pemberian bersama dengan MAOI lainnya; senyawa yang terkait
dibenzazepin termasuk antidepresan trisiklik, karbamazepin, dan siklobenzaprin; bupropion; SRRI; buspiron;
simpatomimetik; meperidin; dekstrometorfan; senyawa anestetik; depresan SSP; antihipertensif; kafein; keju atau
makanan lain dengan kandungan tiramin tinggi.
 Peringatan : Memburuknya gejala klinik serta risiko bunuh diri, krisis hipertensif pemberian bersamaan
antidepresan, pemutusan obat, gangguan fungsi ginjal, karsinogenesis, lanjut usia, kehamilan menyusui, anak.
C. SELECTIVE SEROTONIN RE-UPTAKE INHIBITOR (SSRI)

 SSRI bekerja dengan cara yang sama tetapi dengan hambatan yang bersifat
selektif hanya pada neurotransmiter serotonin (5HT2).
FLUOXETINE SERTRALINE CITALOPRAM FLUVOXAMINE
Dosis lazim 20 mg sehari pada pagi hari, maksimum 80 50 mg/hari, maksimum 200 mg/hr 20 mg/hari, maksimum 60 mg /hari. 50mg dapat diberikan 1x/hari
mg/hari dalam dosis tunggal atau terbagi. dalam 1 minggu, pemeliharaan sebaiknya pada malam hari,
Dosis 150 mg atau lebih tidak boleh maksimum dosis 300 mg.
diberikan lebih dari 8 minggu.

Indikasi Gejala depresi dengan atau tanpa Antidepresan


riwayat mania.

Interaksi obat MAO, Lithium, obat yang merangsang aktivitas MAO, Alkohol, Lithium, obat MAO, sumatripan, simetidin. warfarin, fenitoin, teofilin,
SSP, anti depresan, triptofan, karbamazepin, obat seretogenik. propanolol, litium.
yang terkait dengan protein plasma.

Perhatian penderita epilepsi yang terkendali, penderita pada gangguan hati, terapi kehamilan, menyusui, gangguan Tidak untuk digunakan dalam 2
kerusakan hati dan ginjal, elektrokonvulsi, hamil, menyusui, mania, kecenderungan bunuh diri. minggu penghentian terapi MAO,
gagal jantung, jangan mengemudi / menjalankan mengurangi kemampuan insufiensi hati, tidak
mesin. mengemudi dan mengoperasikan direkomendasikan untuk anak dan
mesin. epilepsi, hamil dan laktasi.

Kontra indikasi hipersensitif terhadap fluoxetin, gagal ginjal yang Hipersensitif terhadap sertralin. hipersensitif terhadap obat ini.
berat, penggunaan Bersama MAOI

Efek samping Mulut kering, diare, mual, hambatan


ejakulasi,bertambahnya keringat
dispepsia, insomnia, hipotensi,
hipertensi, takikardia, ataksia,
migrain, bronkospasme, dispnea,
disuria, periferal edema.

Merek dagang Prozac, Prestin, Oxipres, Noxetine, Lodex, Antipres, Deptral, Nudep, Serlof, Cipram Luvox
Kalxetin, Foransi, Deprezac Sernade, Zoloft, Fatral, Anexin,
Fridep
D. SNRI (Seritonin Norepineprin Reuptake Inhiibitor)

 Kelompok SNRI selain bekerja dengan menghambat ambilan kembali serotonin juga
menghambat ambilan kembali neurotransmiter norepineprin, sehingga kadar serotonin dan
norepineprin pasca sinap meningkat.

VENALAFAXINE DULOXETINE

Dosis lazim 75 mg/hari bila perlu dapat ditingkatkan menjadi 150-250 mg 1x/hari. 60mg/hari, maksimum sehari 120 mg dalam 2 dosis
terbagi

Indikasi gangguan depresi mayor dan nyeri neuropati diabetes

Kontra indikasi penggunaan bersama MAO, hamil dan laktasi, anak < 18 tahun. Gangguan ginjal berat

Interaksi obat MAO, obat yang mengaktivasi SSP lain.

Perhatian riwayat kejang dan penyalahgunaan obat, gangguan ginjal atau sirosis
hati, penyakit jantung tidak stabil, monitor tekanan darah jika penderita mendapat dosis
harian > 200 mg.

Merek dagang Efexor Cymbalta


E. Tetrasiklik Anti-Depresan

MAPROTILINE
Dosis lazim 25-75 mg sebagai dosis tunggal atau terbagi tiga, depresi sedang atau berat sehari 75 mg jika
perlu dapar dinaikan sampai 150 mg, dosis maksimum 150mg/hari.

Indikasi Depresi endogenik, psikogenik, somatogenik


Kontra indikasi Hipersensitif, epilepsi / pemberian harus dihentikan pada keracunan akut alkohol, hipnotek,
analgetik, atau obat psikotropik, penderidagangguan fungsi ginjal yang berat dan mania.

Efek samping Pusing sakit kepala, kelemahan sementara, sedasi pada siang hari, perasaan ngantuk,
penglihatan kabur, retensi urin.

Merek dagang Ludiomil, Sandepril, Tilsan


F. Melatonergik agonist (MT1&MT2 Reseptor) dan 5-HT2C
antagonist

AGOMELATINE

Dosis lazim 25-50 mg (dosis anjuran), 25mg 1x/hari pada saat menjelang
tidur, bila tidak ada perbaikan selama 2 minggu, dosis dapat
ditingkatkan sampai 50 mg / hari.

Indikasi Terapi episode depresif mayor pada dewasa

Merek dagang Valdosan


G. ANTI DEPRESI “ATYPICAL”

MIRTAZAPIN

Dosis lazim 15-45mg/hari (dosis anjuran), sediaan 30 mg

Indikasi Episode depresi mayor

Kontra indikasi Hipersensitif

Efek samping Peningkatan nafsu makan, penambahan BB, mengantuk/sedasi


selama satu minggu awal pengobatan, sakit kepala, pusing.

Merek dagang Remeron

Perhatian Tidak boleh diberikan bersama dengan golongan inhibitor MAO


atau dalam waktu 2 minggu sebelum penghentian terapi dengan
inhibitor MAO.
II. Anti-Ansietas

 Sindrom anxietas disebabkan hiperaktivitas dari sistem limbik SSP yang terdiri dari
“dopaminergic, noradrenergic, dan serotonergic neurons” yang dikendalikan
oleh GABA-ergic Neurons. Obat yang digunakan untuk pengobatan adalah
sedatif, yaitu menurunkan respons terhadap rangsangan emosi sehingga
menenangkan. Utama ialah golongan benzodiazepine. Golongan obat lain
adalah antagonis selektif reseptor serotonin, Buspirone.
 Neuro transmiter yang bersifat inhibisi di otak terutama adalah asam amino
GABA (gamma-aminobutyric acid A). Secara selektif reseptor GABA membiarkan
ion chlorida masuk ke dalam sel, sehingga terjadi hiperpolarisasi neuron dan
menghambat pelepasan transmisi neuronal. Secara umum obat-obat ansietas
bekerja di reseptor GABA. Benzodiazepin menghasilkan efek terapi dengan cara
pengikatan spesifik terhadap reseptor GABA, memperkuat inhibisi sehingga
mengurangi pelepasan neurotransmiter terutama noradrenalin.
1. Benzodiazepine

 Obat antiansietas benzodiazepine yang bereaksi dengan reseptornya yang akan


meng-inforce the inhibitory action of GABA neuron, sehingga hiperaktivitas
tersebut mereda.
ALPRAZOLAM LORAZEPAM CLOBAZAM DIAZEPAM BROMAZEPAM
Dosis Dosis awal 0.25 – 0.5 mg 3x1, Dosis awal 2-3 mg 2x, Dewasa sehari 20-30 mg dalam dosis Oral 2,5-40 mg/hari, injeksi 5- 3-18mg/hari (dosis anjuran),
pada geriatri yang lemah 0,25 Dosis Maintn. 2-6 mg/hari terbagi atau tunggal diberikan sebelum 10mg (im/iv), dosis maksimum sediaan tablet 3 mg. Dewasa :
mg 2-3x/hari, dosis max 4 dibagi 2 kali sehari, tidur; pada ansietas berat dapat 30mg/hari, rectal tube ; anak sehari 3x1,5-3mg. Kasus
mg/hari Dosis Max 6 mg/hari dinaikan sampai sehari 60 mg <10kg/bb= 5mg, berat sehari 2-3 x 6-12mg.
penggunaan tidak boleh lebih dari 4 anak>10kg/bb=10mg. Dosis maksimal 60 mg, pada
minggu; lansia 10-20 mg/ hari dalam lansia dosis maksimal 3mg
dosis terbagi ; anak >3 tahun tidak dalam dosis terbagi.
boleh melebihi setengah dosis dewasa.

Indikasi Pengobatan jang ka pendek Terapi jangka pendek Mengatasi keadaan yang berhubungan Agitasi,tremor, ansietas, Untuk terapi jangka pendek
untuk ansietas sedang atau gejala ansietas yang dengan ansietas, keteganggan, psikoneurosis, gangguan fungsi pada psikoneuresis, gangguan
berat, dan ansietas yang berhubungan dengan gejala gangguan tidur disebabkan kelainan otonom, kejang otot. emosi yang berhubungan
berhubungan dengan depresi. depresi, antikonvulsi, mental, dan emosional. dengan gangguan cemas pada
hypnosis kasus berat.

Kontra indikasi Hipersensitif, glaukoma, paru- Hipersensitif, glaukoma, Glaukoma, Myasthenia gravis, Chronic Akut gloukoma, ibu hamil
paru akut. kekurangan pernafasan Renal, Chronic Hepar disease, ibu
yang berat hamil pada trimester I. Lansia, anak-
anak

Efek samping Kantuk, kelemahan otot, mengantuk diikuti pusing, Penghentian obat secara mendadak Mengantuk, taksia, kelelahan, Mengantuk, sedasi,
ataksia, amnesia, depresi light- perasaan lemah dan lesu menyebabkan Rebound erupsi pada kulit edema, mual dan kelemahan otot, vertigo, sakit
headness, bingung, halusinasi, Phenomenon konstipasi, gejala-gejala kepala, kejang, depresi
blurres vision. ekstrapiramidal, sakit kuning dan mental, gangguan
disfungsi hati.Pemberian komunikasi, tremor.
IVhipotensi, depresi nafas,
sakitb kepala, dizziness, tremor,
konstipasi, gangguan tidur.

Merek dagang Atarax, Apazol, Alprazolam, Merlopam, Renaquil) Asabium, Clobium, Clofritis, Frisium, Decazepam, Diazepam, Stesolid, Lexotan, Lexzepam
Calmlet, Feprax, Proclozam Valdimex, Valdimex 10, Valisanbe,
Frixitas,Grazolam, Opizolam, Valium
Xanax, Xanax XR, Zolastin,
2. Non-Benzodiazepine

SULPIRIDE BUSPIRONE

Dosis 100-200 mg/hari atau 2-3 x 50-100 mg/hari, Dosis awal sehari 3x 5mg, ditingkatkan 5mg
Sediaan : cap 50 mg dengan interval 2-3 hari sampai dihasilkan terapi
optimal, dosis maksimum 60mg/hari. Sediaan :
Tab 10 mg
Indikasi Gangguan ansietas umum dan gejala ansietas
nonspesifik dengan atau tanpa gejala depresi

Efek samping Pusing, mengantuk, mual, sakit kepala, gelisah,


dan pandangan kabur, tidak ada efek
withdrawal.

Merek dagang Dogmatil Xiety


EVALUASI PENGOBATAN ANTI-CEMAS

 Prinsip pengobatan psikofarmaka hanyalah membantu menstabilkan gejala dan


tidak 100% membantu menyelesaikan masalah cemas, khususnya gangguan
cemas menyeluruh. Pasien membutuhkan psikoterapi.
 Pengobatan harus diteruskan selama minimal 6 bulan setelah pengobatan
dimulai. Gangguan cemas menyeluruh umumnya lebih lama, sekitar 18 bulan
(Baldwin&Tiwari, 2016
Daftar Pustaka

 Amir N (2004). Aspek Neurobiologi Molekuler Depresi Jiwa. XXXVII : 2.


 Baldwin, DS, Tiwari, N (2016). Anxiolytic and Hypnotic Drugs. In: Anderson, IM.
and Mcallister, Rh. Fundamentals of Clinical Psychopharmacology. 4th ed.
Broken Sound Parkway: Taylor & Francis Group. 125-140.
 Elvira D, Hadisukanto Gitayanti (2017). Buku Ajar Psikiatr. Jakarta : Badan
Penerbit FK UI.
 Maslim Rusdi (2014). Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta : Nuh Jaya.
 Maslim Rusdi (2003). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukam Ringkas dari
PPDGJ-III. Jakarta : Nuh Jaya.
 Kasim Fauzi (2017). Informasi Spesialite Obat Indonesia. Jakarta : Isfi Vol 51.
 Michael J, Breus (2004). Sleep and Depression. California.
Terima Kasih
Wassalamu’alaikum wr.wb