Anda di halaman 1dari 14

KEBENARAN

ILMIAH
(HASVIA BERLIANI)
Pendahuluan
Sebagai pengetahuan yang membantu manusia untuk dapat berfikir
secara benar, lurus, tepat dan tidak mengalami kesesatan, logika
membekali kita beberapa hal yang dapat menjadi pedoman dalam
berfikir logis untuk mendapatkan sebuah kebenaran.

Sebuah pemikiran dikatakan benar ketika ada kesesuaian antara pikiran


antara pikiran dan kenyataan yang terjadi. Pedoman berfikir untuk
mendapatkan kebenaran disebut juga sebagai “asas-asas pemikiran” atau
“prinsip-prinsip berpikir” 9mundiri, 2008).
Kebenaran

Menurut KBBI (Kamus Besar Bhasa Indonesia)


kebenaran diartikan sebagai keadaan (hal dan
seagainya) yang cocok dengan keadaan yang
sesungguhnya, sesuatu yang sungguh-sungguh atau
benar-benar ada (Vadiansyah 2008).
Kebenaran
Kebenaran dapat dipahami berdasarkan tiga hal yakni,
kualitas pengetahuan, sifat/karakteristik dari bagaimana
cara atau dengan alat apakah seseorang membangun
pengetahuan itu, dan nilai kebenaran pengetahuan yang
dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu.
Kebenaran
• Kenyaaan yang benar-benar terjadi dan
telah diyakini semua orang sebagai
objektif sesuatu yang benar

• Kebenaran yang haya diakui sebagai


kebenaran oleh sebagian manusia saja
subjektif
Kebenaran ilmiah
Kebenaran yang muncul dari hasil penelitian ilmiah
melalui prosedur baku berupa tahapan- tahapan
untuk mendaoatkan pengetauan ilmiah .
Penggunaan metode ilmiah untuk mendapatkan
kbenaran sesuai sifat dasar ilmu.
Lanjut..
– Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan
mengandung isi pengetahuan. Pada saat pembuktiannya
kebenaran ilmiah harus kembali pada status ontologis objek dan
sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana
pengetahuan tejadi) yang disesuaikan dengan metodologisnya.
– Hal yang penting dan perlu mendapat perhatian dalam hal
kebenaran ilmiah yaitu bahwa kebenaran dalam ilmu harus selalu
merupakan hasil persetujuan atau konvensi dari para ilmuwan
pada bidangnya masing-masing.
Sifat kebenaran ilmiah
– struktur yang rasional-logis.Kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan
logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran
ilmiah bersifat rasional, maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat
menggunakan akal budinya secara baik), dapat memahami kebenaran ilmiah.
– Isi empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada, bahkan
sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah, berkaitan dengan
kenyataan empiris di alam ini. Hal ini tidak berarti bahwa dalam kebenaran
ilmiah, spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa
dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun suatu pernyataan
dianggap benar secara logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga
benar secara empiris.
Lanjut..
– Dapat diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis, berusaha
menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan
empiris). Maksudnya, jika suatu “pernyataan benar” dinyatakan
“benar” secara logis dan empiris, maka pernyataan tersebut juga
harus berguna bagi kehidupan manusia. Berguna, berarti dapat
untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam
hidupnya.
Teori kebenaran
– Teori korespondensi
sebuah kebenaran jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh
seatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju atau yang
dimaksud oleh pertanyaan atau pendapat tersebut.
– Teori konsistensi
Suatu upaya pengujian (tes) atas arti kebenaran. Hasil tes dianggap
benar apabila menghasilkan data yang sama apabila penyelidikan
tersebut dilakukan belang kali.
– Teori koherensi
Suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan tersebut koheren
atau tidak bertentangan dengan pernyataan lain yang sudah ada dan
dianggap benar.
– Teori pragmatis
Menguji kebenaran dalam praktik yang dikenal sebagai metodde
problem solving dalam pngajaran. Suatu gagasan atau pernyataan
dikatakan sebagai kebenaran jika hanya berguna untuk memecahkan
suatu masalah yang ada.
– Teori kebenaran religius
Teori kebenaran yang menggunakan akal, budi, fakta,
realitas dan manfaat sebagai landasannya.
Referensi
– Kusbandridjo, bambang. (2016). Dasar-dasar Logika. Jakarta:
Kencana Prenadamedia Group
– Martono, dkk. (2018). Dasar-dasar Logika. Depok: RajaGrafindo
Persada
TERIMA KASIH