Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN OTITIS MEDIA AKUT

STADIUM OKLUSI TUBA DEXTRA


KASUS TULI KONDUKTIF LATERALISASI KEKANAN
ILMU PENYAKIT THT-KL

PEMBIMBING:
dr. Sophian Sujana, SP.THT-KL., M.Kes OLEH:
Benazir Amrinnisa Yusuf, S.Ked
Ustra Ispawati P.T, S.Ked
Riwi Bedori Larasatty, S.Ked
PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2019
Identifikasi Kasus
IDENTITAS
Nama : Ny. S
Umur : 31 tahun
Pekerjaan : IRT
Alamat : Kelurahan Latuma
Suku : Tolaki
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Tanggal Berobat : 2 September 2019
No. Register : 21 XX XX
Dokter Muda Pemeriksa : Benazir Amrinnisa Yusuf
A. ANAMNESIS

Keluhan utama : Pendengaran menurun


Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang dengan keluhan terjadi penurunan pendengaran pada telinga sebelah kanan sejak dua hari
yang lalu. Pasien merasakan seperti telinga kanan tersumbat. Pasien mengeluhkan tinitus
 Riwayat trauma tidak ada
 Riwayat penyakit sebelumnya : Rinosinusitis ± 1 minggu yang lalu
 Riwayat keluarga : Memiliki keluhan serupa disangkal.
 Riwayat pengobatan sebelumnya: tidak ada
PEMERIKSAAN FISIK
1. Status present
Kesadaran kompos mentis, sakit ringan, status gizi kesan baik.
2. Status THT
Pemeriksaan Garpu Tala

- R–

W
Resume
Pasien datang dengan keluhan terjadi penurunan pendengaran pada telinga sebelah kanan
sejak dua hari yang lalu. Pasien merasakan seperti telinga kanan tersumbat. Pasien juga
mengeluhkan tinitus . Riwayat trauma tidak ada. Riwayat penyakit sebelumnya :
Rinosinusitis ± 1 minggu yang lalu Riwayat keluarga : Memiliki keluhan serupa
disangkal.Riwayat pengobatan sebelumnya: tidak ada.
Pada pemeriksaan didapatkan secret mucoid pada konka nasalis inferior.
Diagnosis
• Otitis media akut stadium oklusi tuba eustachius dextra
• Tuli konduktif dextra

Terapi
• Dekongestan
• Kortikosteroid
• Antibiotik

Prognosis
• Ad Vitam : Bonam
• Ad Fingtional : Dubia at Bonam
• Ad Sanationam : Dubia at bonam
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI TELINGA
Otitis Media Akut

Otitis media akut terjadi karena factor pertahanan tubuh terganggu. Faktor penyebab utama dari OMA adalah
sumbatan tuba eustachius. Penyebab lain juga dari OMA adalah infeksi saliran nafas bagian atas. Pada anak,
maki sering terjadi infeksi saluran nafas, maka makin besar kemungkinan terjadinya OMA. Pada bayi OMA
dipermudah oleh karena tuba eustachius nya pendek lebar dan letaknya agak horizontal.

Etiologi

Kuman penyebab utama dari OMA adalah bakteri piogenik, seperti streptokokus hemolitikus ,
stafilokokus aureus, Pneumokokus. Selain itu ditemukan juga hemofilus influenza, E. Coli Streptokokus
anhemolitikus , proteovulgaris, dan pseudomonas aerogenosa. Hemofillus influenza sering ditemuka
pada anak yang berusia di bawah 5 tahun.
Stadium OMA

Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi menjadi 5 stadium yaitu:

1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius. Tanda adanya aklusi tuba adalah gambara retraksi membrane timpani akibat
terjadinya tekanan negative didalam telinga tengah akibat absorbs udara. Kadang membrane timpani tampak
normal atau berwarna keruh pucat.
2. Stadium Hiperemis. Pada stadium ini tampak pembuluh darah yang melebar di membrane timpani atau
seluruh membrane timpani tampak hiperemis disertai edema. Sekret yang sudah terbentuk mungkin masih
bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.
3. Stadium Supurasi. Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta
terbentuknya eksudat yang purulent dikavum timpani menyebabkan membrane timpani menonjol (bulging)
kearah telinga luar. Pada stadium ini pasien tampak lesakitan nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri di
telinga bertambah hebat.
4. Stadium Perforasi. Karena beberapa sebab, seperti terlambatnya pemberian antibiotic, atau virulensi kuman
yang tinggi, maka dapat terjadi rupture membrane timpani dan nanah akan mengalir dari telinga tengah ke
telinga luar.
5. Stadium Resolusi. Bila sudah terjadi perforasi, maka secret akan berkurang dan akhirnya kering. Bila kadar
virulensi rendah dan daya tahan tubuh baik, maka resolusi akan terjadi tanpa pengobatan. OMA dapat
menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa bila secret menetap di kavum timpani tanpa
terjadinya perforasi.
Gejala Klinik

• Nyeri dala telinga


• Febris / sub febris
• Gangguan pendengaran
• Riwayat batuk pilek
• Adanya secret yang keluar dari telinga
• Kejang-kejang
Terapi
• HCL efedrin 0,5 • Pada stadium ini • Selain pemberian
diberikan antibiutoka, antiiotik, idealnya
% dalam tetes hidung dan harus disertai
larutan analgetik. Pemberian dengan
fisiologis (anak antibiotic diberikan
selama 7 hari. Pada miringotomi bila
< 12 tahun) anak, ampisilin membrane
atau laruyan diberikan dengan timpani masih
efedrin 1% dosis 50-100 mg/kg utuh. Dengan
BB/hari. Di bagi miringotomi
dalam larutan dalam 4 dosis, atau gejala-gejala klinis MEDIKAMENTOSA
fisiologis pada amoxicillin 40 mg/kg lebih cepat hilang
usia > 12 tahun BB/ hari di bago dan rupture dapat
dalam 3 dosis atau dihindari.
dan pada orang eritromisisn 40
dewasa. mg/kg BB/ hari

Stadium Stadium Stadium


oklusi Hiperemis Supurasi
MEDIKAMENTOSA

• Pengobatan pada stadium • Bila tidak terjadi resolusi


ini adalah obat cuci telinga maka pemberian antibiotic
H2O2 3% selama 3-5 hari dapat dilanjutkan sampai 3
serta antibiotic yang minggu. Bila sampai 3
adekuat. Biasanya secret minggu dan secret masih
akan hilang dan perforasi tetap banyak, kemungkinan
akan menutip kembali telah terjadi mastoiditis.
dalam waktu 7-hari.

Stadium Stadium
Perforasi Resolusi
PEMBEDAHAN

Miringotomi. Adalah tindakan insisi pada pars tensa membrane timpani agar terjadi drainase secret dari
telinga tengah ke telinga luar. Lokasi dilakukannya miringotomi adalah dikuadran posterior-anterior. Komplikasi
yang dapat terjadi pada miringotomi adalah perdarahan yang terjadi di liang telinga luar, dislikasi tulang
pendengaran, trauma pada fenestra rotundum, trauma N. fasialis trauma bulbus jugulare.

KOMPLIKASI OMA

Komplkasi yang dapat terjadi seperti abses sub-periosteal dan abses otak.
Tuli Konduktif

Tuli konduktif dapat terjadi apabila terdapat lesi pada telinga luar maupun telinga tengah. Gangguan pendengaran
konduktif tidak melebihi 60dB karena dihantarkan menuju koklea melalui tulang (hantaran tulang) bila intensitas
tinggi. Penyebab tersering pada anak adalah otitis media dan disfungsi tuba eustachius yang disebabkan oleh otitis
media sekretori . Kedua kelainan tersebut jarang menyebabkan kelainan gangguan pendengaran melebihi 40dB.

Etiologi

Secara garis besar factor penyebab terjadinya gangguan pendengaran dapat berasal dari genetic
maupun didapat.
• Gangguan pendengaran ini
biasanya bilateral tapi
dapat pula asimetrik dan
mungkin bersifat statis • Infeksi
maupun progresif. Kelainan • Neonatal
dapat bersifat dominan hyperbilirubinemia
resesif berhubungan
dengan kromosom X, • Masalah perinatal
kelainan mitokondria atau • Trauma
merupakan suatu • neoplasma
malformasi pada satu atau
beberapa organ telinga.

Genetik idiopatik
Cara pemeriksaan pendengaran

• Tes Rinne
• Tes Weber
• Tes Schwabach
Tes penala • Tes Stenger

• Pemeriksaan ini bersifat semikuantitatif menentukan derajat ketulian secara kasar.


Hal yang perlu diperhatikan ialah ruang yang cukup tenang, dengan panjang
minimal 6 meter. Pada nilai normal tes berbisik : 5/6 – 6/6
Tes Berbisik

• Pada pemeriksaan ini perlu dipahami hal-hal seperti nada murni bising NB (narrow
band) dan NW (white niose), frekuensi, intensitas bunyi, ambang dengar, nilai nol
audiometric, standar ISO dan ASA, notasi pada audiogram, jenis dan derajat
Audiomerti ketulian serta gap dan masking.
Nada Murni.
• 0-25dB : normal
• >25-40dB : tuli ringan
• >40-55dB : tuli sedang
• >55-70dB : tuli sedang berat
• >70-90dB : tuli berat
• >90 dB : tuli sangat berat

Derajat
Ketulian ISO
TERIMA KASIH