Anda di halaman 1dari 14

FARMASI RUMAH SAKIT

MESO DAN CONTOH OBAT YANG DITARIK KARENA EFEK SAMPING

Dosen : Reli Bellatasia, M. Farm, APT

Kelompok 7
Ayu Mulia
Hermila Nopianti
Sonya Agustin
Lotinoris Kardo
Fatmi Dwita Sari
CONTENTS

 Monitoring Efek Samping Obat (MESO)

 Contoh Obat yang ditarik karena efek samping


Angka kejadian
MONITORING EFEK SAMPING OBAT (MESO)  Di Barat
 Pasien rawat tinggal, yang rata-rata menerima
5-10 jenis obat selama 10 hari perawatan di
rumah sakit, lebih 25%-nya akan menderita 1
macam atau lebih efek samping obat dari
Contoh Efek Samping berbagai derajat, dan 1% menderita efek
samping yang membahayakan kehidupan.
1. Reaksi alergi akut karena penisilin (reaksi  Kematian di rumah sakit, 0,24-2,9% adalah
imunologik). karena efek samping obat.
2. Hipoglikemia berat karena pemberian insulin  Golongan umur yang terbanyak mengalami
(efek farmakologik yang berlebihan). efek samping adalah orang tua.
3. Osteoporosis karena pengobatan  Di Indonesia
kortikosteroid jangka lama (efek samping PENDAHULUAN  Data di Indonesia belum banyak terungkap,
karena penggunaan jangka lama). namun paling tidak angka ini dapat
4. Hipertensi karena penghentian pemberian memberikan gambaran kejadian dan
klonidin (gejala penghentian obat - masalahnya.
withdrawal syndrome).
5. Fokomelia pada anak karena ibunya
menggunakan talidomid pada masa awal
kehamilan (efek teratogenik). Definisi

 Efek samping adalah efek obat yang tidak


dikehendaki yang merugikan atau
membahayakan pasien (adverse drug
reactions) dari suatu pengobatan.
Rusli. (2016)
Penggolongan Efek Samping Obat  Terjadinya efek farmakologik yang berlebihan (disebut juga efek toksik) dapat disebabkan
karena dosis relatif yang terlalu besar bagi pasien yang bersangkutan.
 Misalnya pada pasien dengan gangguan faal ginjal, gangguan faal jantung, perubahan
sirkulasi darah, usia, genetik, sehingga dosis yang diberikan dalam takaran lazim, menjadi
relatif terlalu besar pada pasien-pasien tertentu: anak, usia lanjut, kehamilan.
 Selain itu efek ini juga bisa terjadi karena interaksi farmakokinetik maupun
farmakodinamik antar obat yang diberikan bersamaan, sehingga efek obat menjadi lebih
1 besar.
 Efek samping jenis ini umumnya dijumpai pada pengobatan dengan depresansia susunan
saraf pusat, obat pemacu jantung, antihipertensi dan hipoglikemika/antidiabetika.
 Contoh: Hipotensi yang terjadi pada stroke, infark miokard atau kegagalan ginjal pada
pasien yang menerima obat antihipertensi dalam dosis terlalu tinggi.
Efek samping yang
dapat diperkirakan

 Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan perhatian khusus terhadap


kelompok-kelompok pasien dengan risiko tinggi tadi (penurunan fungsi ginjal, penurunan
fungsi hepar, bayi dan usia lanjut).
 Selain itu riwayat pasien dalam pengobatan yang mengarah ke kejadian efek samping juga
perlu diperhatikan: Gejala penghentian obat , Reaksi putus obat , Efek samping yang tidak
berupa efek farmakologik utama , Iritasi lambung, yang menyebabkan keluhan pedih,
mual dan muntah pada obat-obat kortikosteroid oral, analgetika-antipiretika dll, Rasa
ngantuk (drowsiness) setelah pemakaian antihistaminika untuk anti mabok perjalanan
(motion sickness), Kenaikan enzim-enzim transferase hepar karena pemberian rifampisin,
efek teratogenik obat-obat tertentu, Penghambatan agregasi trombosit oleh aspirin,
sehingga memperpanjang waktu Pendarahan, ototoksisitas karena kinin/kinidin.

Rusli. (2016)
1. Reaksi Alergi
Reaksi alergi dapat dikenali berdasarkan sifat-sifat khasnya, yaitu:
a) Gejalanya sama sekali tidak sama dengan efek farmakologiknya.
b) Sering kali terdapat tenggang waktu antara kontak pertama terhadap
obat dengan timbulnya efek.
2. Reaksi dapat terjadi pada kontak ulangan, walaupun hanya dengan
2 sejumlah sangat kecil obat
3. Reaksi hilang bila obat dihentikan.
4. Keluhan/gejala yang terjadi dapat ditandai sebagai reaksi imunologik,
Efek samping yang tidak misalnya rash (ruam) di kulit, serum sickness, anafilaksis, asma,
dapat diperkirakan urtikaria, angio-edema.

Walaupun mekanisme efek samping dapat ditelusur dan dipelajari seperti


diuraikan di atas, namun dalam praktek klinik manifestasi efek samping
karena alergi yang akan dihadapi oleh klinisi meliputi:
 Demam
 Ruam kulit (skin rashes)
 Penyakit jaringan ikat
 Gangguan sistem darah ( Contoh: Trombositopenia)
 Gangguan pernafasan ( Contoh: Asma pada pemberian aspirin)

Rusli. (2016)
Reaksi karena faktor genetik Pada orang tertentu dengan variasi atau kelainan genetik, suatu obat mungkin dapat
memberikan efek farmakologik yang berlebihan. Efek obatnya sendiri dapat diperkirakan, namun subjek yang
mempunyai kelainan genetik seperti ini yang mungkin sulit dikenali tanpa pemeriksaan spesifik (yang juga tidak
mungkin dilakukan pada pelayanan kesehatan rutin).

 Pasien yang menderita kekurangan pseudokolinesterase herediter


tidak dapat memetabolisme suksinilkolin (suatu pelemas otot),
sehingga bila diberikan obat ini mungkin akan menderita paralisis
dan apnea yang berkepanjangan.
Sebagai contoh misalnya:  Pasien yang mempunyai kekurangan enzim G6PD (glukosa-6-fosfat
dehidrogenase) mempunyai potensi untuk menderita anemia
hemolitika akut pada pengobatan dengan primakuin, sulfonamida
dan kinidin. Kemampuan metabolisme obat suatu individu juga
dapat dipengaruhi oleh faktor genetik.

Rusli. (2016)
Contoh Obat yang ditarik karena efek samping

1.
Fluorokuinolon
Pengenalan
 Fluorokuinolon merupakan suatu antibiotik berspektrum lebar yang digunakan secara luas untuk terapi infeksi saluran pernafasan, saluran kemih,
infeksi intraabdominal, infeksi tulang dan sendi, kulit dan jaringan lunak, dan beberapa infeksi lainnya.
 Pada tahun 2011, di Amerika Serikat, antibiotik fluorokuinolon digunakan oleh sekitar 23,1 juta pasien rawat jalan (70% diantaranya adalah
siprofloksasin, 28% levofloksasin) dan 3,8 juta pasien rawat inap (diantaranya 63% levofloksasin, 28% siprofloksasin). Meskipun demikian, pada tahun
2011, di Amerika Serikat kedua antibiotik tersebut mendapat lebih dari 2000 tuntutan hukum karena efek samping yang ditimbulkan.
 Di Indonesia penggunaan antibiotik fluorokuinolon diantarannya siprofloksasin cukup tinggi. Selama tahun 2012 sampai 2014, siprofloksasin
merupakan antibiotik ketiga yang paling banyak digunakan baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit.

Permasalahan
 Salah satu masalah dalam obat ini adalah penggunaan yang berlebihan. Penelitian yang dilakukan pada pusat-pusat kesehatan di Amerika Serikat
menunjukkan sekitar 31% pemberian fluorokuinolon tidak diperlukan.
 Penelitian yang dilakukan di rumah sakit pendidikan di Perancis menunjukkan, 51% peresepan fluorokuinolon tidak sesuai dengan pedoman institusi.
 Seperti obat-obat pada umumnya, antibiotik di antaranya golongan fluorokuinolon dapat memberikan efek samping yang serius, dan sebagian efek
samping tersebut baru terlihat jelas setelah digunakan beberapa ribu orang.
 Beberapa antibiotik fluorokuinolon telah ditarik dari peredaran karena mempunyai efek samping yang serius, di antaranya temafloksasin (1992),
gatifloksasin (2006), dan travofloksasin (1999).

Raini, M. (2016)
Raini, M. (2016)
 Semua antibiotik mempunyai efek samping tetapi golongan fluorokuinolon mempunyai potensi efek samping yang paling serius, dapat
menyebabkan kerusakan permanen dan bahkan kematian
 Florokuinolon mengandung ikatan fluor di tengah struktur kimianya. Gugus fluorida telah diketahui bersifat neurotoksik dan obat yang menempel
pada gugus fluorida dapat berpenetrasi ke dalam jaringan yang sensitif termasuk otak. Kemampuan fluorida untuk menembus blood-brain barrier,
membuat fluorida bersifat neurotoksik kuat.
 Fluorida juga mengganggu sintesa kolagen, dan dapat merusak sistem imun dengan menghabiskan persediaan energi dan menghambat
pembentukan antibodi dalam darah.
 Efek samping fluorokuinolon dapat terjadi pada hampir seluruh tubuh.

Kesimpulan: Fluorokuinolon merupakan antibiotik yang mempunyai spektrum lebar dengan indikasi luas mulai dari infeksi saluran pernafasan, saluran
kemih, infeksi intraabdominal, infeksi tulang dan sendi, kulit dan jaringan lunak, saluran pencernaan, terapi meningitis hingga MDR dan infeksi lainnya.
Meskipun demikian obat ini mempunyai rentang keamanan sangat sempit dan efek samping yang banyak yaitu gangguan pencernaan, gangguan SSP,
gangguan ginjal, gangguan penglihatan, gangguan kulit, gangguan hati, atropi dan tendinitis, gangguan kardiovaskular, gangguan hematologi, reaksi
imunologi, hipoglikemi dan hiperglikemi dan teratogenik, sehingga penggunaan harus sangat hati-hati. Antibiotik ini seharusnya hanya digunakan untuk
infeksi berat yang mengancam kehidupan, MDR atau gagal terapi dengan antibiotik lain atau infeksi bakteri yang mempunyai respon baik dengan
fluorokuinolon.

Raini, M. (2016)
2
Thalidomide
Pengenalan
 Thalidomide merupakan suatu obat sedative hipnotik yang dikembangkan di Jerman Barat sekitar tahun 1954 untuk mengatasi insomnia.
 Namun dalam perjalanannya obat ini banyak disalah resepkan pada ibu hamil untuk mengatasi gejala mual dan muntah. Karena
popularitasnya, dalam waktu 3 tahun setelah dipasarkan obat tersebut telah dikonsumsi secara besar-besaran di 46 negara di dunia.
 Belum genap 6 tahun menguasai pasar obat dunia, kisah tragis dan pilu muncul bersamaan.

Permasalahan
 Bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pada saat hamil mengkonsumsi thalidomide ditemukan cacat baik dalam bentuk Amelia (tidak
memiliki tangan dan kaki), fokomelia (lengan dan kaki tidak lengkap), bibir sumbing (labioschisis), tanpa langit-langit (palatoschisis), tanpa
mata (anophtalmus), tanpa telinga (anotia), tanpa tempurung kepala (anencephali), hingga abnormalitas berbagai organ tubuh.
 Pada pertengahan tahun 1962, Thalidomide dinyatakan ditarik dari peredaran di seluruh dunia. Yang paling tragis, untuk menghentikan
tragedi obat ini diperlukan waktu yang amat panjang, yaitu 8 tahun dengan korban lebih dari 10.000 bayi cacat di seluruh dunia.

Therapeutic Advances in Hematology, 2(5), pp. 291-308.


Bayi yang Lahir dari Ibu yang Mengkonsumsi
Kapsul thalidomide
Thalidomide Saat Hamil
3
karisoprodol
Pengenalan
Obat yang pertama kali dipasarkan dengan nama dagang Soma pada tahun 1950 ini adalah obat relaksan otot yang termasuk di
dalam golongan karbamat. Mula-mula obat ini diduga memiliki efek antiseptik. Frank M. Berger di Wallace Laboratories
melakukan penelitian akan obat ini yang selanjutnya dikenal dengan nama karisoprodol (Nisopropyl-2 methyl-2-propyl-1,3-
propanediol dicarbamate; N-isopropylmeprobamate).

Permasalahan
 Memiliki efek farmakologik sebagai relaksan otot, tapi dengan efek samping sedatif atau menenangkan. Efek samping
karisoprodol kemudian sering disalahgunakan pemuda untuk melakukan kesenangan dan menambah percaya diri. Karena efek
sampingnya seperti itu perlu dilakukan penanarikan. Selain itu, obat yang mengandung Karisoprodol tidak boleh digunakan
dalam jangka panjang karena dapat mengakibatkan kerusakan ginjal dan hati.
 Laporan kasus karisoprodol terjadi di Amerika, Norwegia, dan Swedia
 Di Indonesia sendiri pada tanggal 16 Juli 2013 berdasarkan surat keputusan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan
Republik Indonesia No HK.04.1.35.06.13.3535 tahun 2013 dilakukan pembatalan izin edar, penghentiaan produksi, penarikan
dari peredaran dan pemusnahan obat yang mengandung karisoprodol.

Journal of Addictive Diseases, 1999


REVERENSI
 Keputusan Kepala Badan Pengawasaan Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor
HK.04.1.35.06.13.3535 tahun 2013 Tentang Pembatalan Izin Edar Obat Yang
Mengandung Karisoprodol
 Raini, M. (2016). Antibiotik Golongan Fluorokuinolon: Manfaat dan Kerugian. Jurnal
Media Litbangkes. 26 (3) 163-174.
 Rusli. (2016). Farmasi Rumah Sakit dan Klinik. Jakarta: Kemenkes RI.
 Struve PhD & Dorothy M. Bennett MD (1999) Carisoprodol (Soma), Journal of
Addictive Diseases, 18:2,51-56, DOI: 10.1300/J069v18n02 _05
• Triumph of Thalidomide: Lessons Learned in Drug Development. Therapeutic Advances
in Hematology, 2(5), pp. 291-308.