Anda di halaman 1dari 17

KELOMPOK

3
→ Diana Herdinita
→ Dimas Riski Alifian
→ Dwitania Noerhalizah
→ Dyah Ayu Setyowati
→ Eka Kartika Sari
→ Endah Trapsilani
→ Finayatul Jannah
→ Fella Dzakia
LATAR BELAKANG
Salah satu karakteristik budaya masyarakat yang ada di negara
berkembang adalah masih banyak unsur-unsur tradisional
dalam kehidupan sehari-hari. Situasi ini didukung oleh
keanekaragaman hayati yang terdapat dalam berbagai tipe
ekosistem yang pemanfaatannya telah mengalami sejarah
panjang sebagai bagian dari kebudayaan. Tradisi pengobatan
berbagai suku bangsa atau sekelompok masyarakat yang
tinggal di pedalaman, masih menggunakan tumbuhan sebagai
bahan obat.
Di Indonesia diperkirakan terdapat 9.600 spesies tanaman yang
telah dimanfaatkan oleh 400 etnis sebagai pengobatan alami
secara turun menurun. Salah satu pemanfaat obat tradisional
yang ada di Indonesia yaitu dengan dibuat sediaan jamu.
Banyak jenis jamu yang digunakan masyarakat indonesia yang
berasal dari bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk
inventarisasi terhadapat bahan obat tradisional yang sering
digunakan penjual jamu keliling yang ada di wilayah Kediri,
Jawa Timur.
JENIS – JENIS BAHAN ALAM YANG BIASA
DIGUNAKAN UNTUK PEMBUATAN JAMU

RHIZOMA KENCUR, KUNYIT, TEMULAWAK,


(RIMPANG) JAHE, LEMPUYANG, KUNCI
BAGIAN
YANG
DIGUNAKAN
FOLIUM
(DAUN) BELUNTAS, SIRIH, SAMBILOTO
BAGIAN YANG
DIGUNAKAN NAMA BAHAN ALAM NAMA LATIN KEGUNAAN

RHIZOMA KENCUR Kaemferia galanga L. Menambah


nafsu makan
JAHE Zingiber officinale Meredakan
Roscoe. Pegal – pegal
LEMPUYANG Zingiber zerumbet L. Menambah
nafsu makan,
mengatasi
infeksi,
menurunkan
kadar gula
darah
KUNYIT Curcuma domestica L. Melancarkan
haid, amandel,
melancarkan
ASI

TEMU KUNCI Boesenbergia rotunda Mengatasi


L. gangguan
pencernaan

TEMULAWAK Curcuma xanthorriza Antiinflamasi,


L. anti mikroba
BAGIAN YANG
DIGUNAKAN NAMA BAHAN ALAM NAMA LATIN KEGUNAAN

FOLIUM SIRIH Piper betle Menghilangkan


jerawat,
keputihan, haid
tidak lancar
BELUNTAS Plucea indica L. Antibakteri,
menghilangkan
bau badan,
kesuburan
SAMBILOTO Andrographis Meredakan flu
paniculata dan pilek,
menyembuhka
n infeksi
Penyiapan
Penyimpanan
dan
Rimpang
pengemasan Kunyit

Dihancurkan
mengunnakan Dicuci dan
blender Ditiriskan Proses
Pembuatan
Sortasi
kering Sortasi Simplisia
basah
Dioven pada
Suhu 55ºC
selama ± 5
jam Diiris ± 1mm
(atau hingga
kering)
STANDARISASI
Standarisasi adalah serangkaian parameter, prosedur dan
cara pengukuran yang hasilnya merupakan unsur-unsur
terkait paradigma mutu kefarmasian, mutu dalam arti
memenuhi syarat standart (kimia, biologi, dan farmasi),
termasuk jaminan (batas-batas), stabilitas sebagai produk
kefarmasian umumnya. Standarisasi juga berarti proses
menjamin bahwa produk akhir obat mempunyai nilai
parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan terlebih
dahulu.
PARAMETER STANDARISASI
NON-
SPESIFIK
SPESIFIK

1. Susut pengeringan
1. Identitas
2. Bobot jenis
2. Organoleptik
3. Kadar Air
3. Kadar Sari
4. Kadar Abu
4. Pola Kromatogram
Parameter Spesifik

Parameter ini digunakan untuk mengetahui identitas kimia


dari simplisia. Uji kandungan kimia simplisia digunakan untuk
menetapkan kandungan senyawa tertentu dari simplisia.
Biasanya dilakukan dengan analisis kromatografi lapis tipis.

1 Identitas

Identitas ekstrak dapat dilakukan dengan cara


sebagai berikut:
Deskripsi tata nama :
1. Nama ekstrak (generik, dagang, paten)
2. Nama latin tumbuhan (sistematika botani)
3. Bagian tumbuhan yang digunakan (rimpang,
daun, buah)
4. Nama indonesia tumbuhan
Ekstrak dapat mempunyai senyawa identitas artinya
senyawa tertentu yang menjadi petunjuk spesifik
dengan metode tertentu. Parameter identitas
ekstrak mempunyai tujuan tertentu untuk
memberikan identitas obyektif dari nama dan
spesifik dari senyawa identitas

2 Organoleptis

Parameter organoleptik digunakan untuk


mendeskripsikan bentuk, warna, bau, rasa
menggunakan panca indera dengan tujuan
pengenalan awal yang sederhana dan seobyektif
mungkin
3 Kadar Sari

Parameter kadar sari digunakan untuk mengetahui


jumlah kandungan senyawa kimia dalam sari
simplisia. Parameter kadar sari deitetapkan sebgai
parameter uji bahan baku obat tradisional karena
jumlah kandungan senyawa kimia dalam sari simplisia
akan berkaitan erat dengan reproduksibilitasnya
dalam aktivitas farmakodinamik simplisia tersebut

4 Pola Kromatogram

Pola kromatogram mempunyai tujuan untuk


memberikan gambaran awal komponen kandungan
kimia berdasarkan pola kromatogram kemudian
dibandingkan dengan data baku yang ditetapkan
terlebih dahulu
Parameter NonSpesifik

Segala aspek yang tidak berkaitan dengan aktivitas


farmakologis secara lansung namun mempunyai aspek
keamanan dan stabilitas ekstrak dan sediaan yang dihasilkan

1 Susut Pengeringan

Susut pengeringan merupakan pengukuran sisa zat


setelah pengeringan pada temperatur 105 C selama
30 menit atau sampai konstan, yang dinyatakan
dalam porsen. Dalam hal khusus (jika bahan tidak
mengandung minyak menguap/atsiri dan sisa pelarut
organik) identik dengan kadar air, yaitu kandungan
air karena berada di atmosfer/lingkungan udara
terbuka
2 Bobot Jenis

Parameter bobot jenis ekstrak merupakan parameter


yang mengindikasikan spesifikasi ekstrak uji.
Parameter ini penting, karena bobot jenis ekstrak
tergantung pada jumlah serta jenis komponen atau zat
yang larut didalamnya

3 Kadar Air

Kadar air adalah banyaknya hidrat yang terkandung


zat atau banyaknya air yang diserap dengan tujuan
untuk memberikan batasan minimal atau rentang
tentang besarnya kandungan air dalam bahan
4 Kadar Abu

Parameter kadar abu merupakan pernyataan dari


jumlah abu fisiologik bila simplisia dipijar hingga
seluruh unsur organik hilang. Abu fisiologik adalah
abu yang diperoleh dari sisa pemijaran.
Terima
Kasih