Anda di halaman 1dari 98

WORKSHOP ODMK DAN

ODGJ BERAT PSIKOSIS &


SKIZOFRENIA

Ns. Hi.Satrio Kusumo Lelono, M.Kep.,Sp.Kep.J


Ns. Spesialis Kep. Jiwa dan Perawat Konsulen
Phone: 081279212165/ wa 08159437235
BIODATA
 Nama : Ns. Satrio Kusumo Lelono, M.Kep.,Sp.Kep.J
 Instansi : RSJD Provinsi Lampung
 Pangkat/Gol : Pembina / IV a
 Jabatan : Perawat Konsulen; Supervisor 1; Koord Diklat Kep.
 Pendidikan : PAMK Kemenkes Tanjung Karang
S1 + Profesi (Ns.) PSIK-FK UGM Jogjakarta
S2 Keperawatan Jiwa FIK-UI Jakarta
Sp 1 Keperawatan Jiwa FIK-UI Jakarta
Tujuan Pembelajaran Umum:
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta
mampu melakukan asuhan keperawatan pada
ODMK dan ODGJ.
Tujuan Pembelajaran Khusus:
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta mampu:
 Menjelaskan tentang asuhan keperawatan Ansietas
 Menjelaskan tentang asuhan keperawatan perilaku kekerasan.
 Menjelaskan tentang asuhan keperawatan halusinasi
 Menjelaskan tentang asuhan keperawatan waham
 Menjelaskan tentang asuhan keperawatan isolasi sosial
 Menjelaskan tentang asuhan keperawatan defisit perawatan
diri
 Melakukan asuhan keperawatan pada ODMK dan ODGJ
Pokok bahasan A. Asuhan Keperawatan Perilaku
Kekerasan
Pokok bahasan B. Asuhan Keperawatan Halusinasi
Pokok bahasan C. Asuhan Keperawatan Waham
Pokok bahasan D. Asuhan Keperawatan Isolasi Sosial
Pokok bahasan E. Asuhan Keperawatan Defisit
Perawatan Diri
Pokok bahasan F. Asuhan Keperawatan Ansietas
Pengertian Dalam UU Kesehatan Jiwa No.18 Th 2014

Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat


berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga
individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat
mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu
memberikan kontribusi untuk komunitasnya (UU No.18 th 2014
ttg Keswa)

Orang Dengan Masalah Kejiwaan yang selanjutnya disingkat


ODMK adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental,
sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas
hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa

Orang Dengan Gangguan Jiwa yang selanjutnya disingkat ODGJ


adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran,
perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk
sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang
bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan
hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia.
PENGERTIAN SKIZOFRENIA
Istilah skizofrenia pertama kali dikemukakan oleh psikiater asal Swiss yaitu
Eugen Bleuler pada tahun 1908. Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani yang
terdiri dari dua kata yaitu “schizo” yang berarti perpecahan/split dan “phren”
yang berarti mind/pikiran. Bleuler meyakini bahwa pada skizofrenia terjadi
perpecahan antara pikiran, perasaan, emosi dan perilaku (Townsend, 2015).

Skizofrenia adalah gangguan neurobiologis kompleks sirkuit otak, penurunan


neuroantomikal otak, kelainan elektrikal dan disregulasi neurosirkulatori.
Skizofrenia akhirnya menyebabkan otak salah memproses dan menimbulkan
gejala klinis, Stuart, (2013; 2016)

Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang ditandai oleh disorganisasi


kepribadian, kemunduran fungsi sosial, dan kehilangan hubungan dengan diri
sendiri, disorientasi realitas, ditandai dengan kejadian halusinasi dan delusi
pikiran. Skizofrenia dapat dikaitkan dengan atau tanpa kerusakan organik
(Townsend, 2015).

Skizofrenia adalah gangguan jiwa kronis dan berat ditandai oleh distorsi
dalam berpikir, persepsi, emosi, bahasa, rasa diri dan perilaku. Pengalaman
umum termasuk halusinasi (mendengar suara atau melihat hal-hal yang tidak
ada) dan delusi (keyakinan salah yang menetap), (WHO, 2018)
Gejala Skizofrenia
Gejala positif : Gejala negatif :
delusi, halusinasi, afek datar, tidak
kekacauan kognitif, memiliki kemauan,
disorganisasi bicara, Gejala Agresif dan merasa tidak nyaman,
dan perilaku katatonik Hostile rasa tidak percaya
seperti keadaan gaduh diri atau harga diri rendah
gelisah dan menarik diri dari
Masyarakat

Halusinasi, Waham Perilaku Harga Diri


Rendah, Isos & DPD
Agresif/Perilaku
Kekerasan, RBD
Rentang sehat – sakit jiwa
(neurobiologis, skizofrenia dan ggn psikotik)

Respons Adaptif Respons Maladaftif


Masalah Psikososial
Sehat Jiwa Gangguan Jiwa
• Pikiran kadang
• Pikiran logis menyimpang • Waham
• Persepsi akurat • Ilusi
• Halusinasi
• Emosi konsisten • Reaksi emosional
• Ketidakmampuan
• Perilaku sesuai mengendalikan emosi
• Perilaku kadang tidak • Ketidakteraturan
sesuai
• Hub. sosial • Menarik diri • Isolasi sosial
memuaskan
Kondisi ODGJ yang dirujuk dari FKTP berdasarkan
Standar Deteksi Dini
No. Diagnosis Medik Diagnosis
Keperawatan
1. Psikotik PK/RPK, Halusinasi,
Isos, DPD, Waham
2. Depresi RBD, HDR

3. Kegawatdauratan Psikiatrik PK, Percobaan BD,


Napza, etc
4. Demensia Kerusakan Memori

5. Ansietas Ansietas
A. EPIDEMIOLOGI PERILAKU KEKERASAN

Kemarahan menjadi masalah ketika itu tidak diungkapkan atau ketika diungkapkan dengan agresif.
Perilaku Kekerasan terjadi ketika individu kehilangan kendali atas kemarahan mereka.
Di Amerika Serikat setidaknya terjadi 2,7 juta orang menjadi korban kekerasan, (Townsend, 2018).
Berdasarkan data WHO, (2018) korban pembunuhan di dunia mencapai 470.000 orang dan > 1,5 juta
orang didunia meninggal karena kekerasan/violence.
Menurut Varcarolis, (2014) perilaku kekerasan bisa menjadi penyebab kematian, dimana ditemukan
data > 40.000 kematian akibat bunuh diri, diperoleh data 1,8 juta angka kunjungan di Unit Gawat Darurat
(UGD) karena kekerasan,
Varcarolis, (2014) ditemukan bahwa 54,4% perawat ruang gawat darurat menjadi korban kekerasan di
tempat kerja. Menurut Stuart, (2013; 2016) perilaku kekerasan sering dialami perawat IGD, tercatat 20-
50% perawat IGD mengalami kekerasan fisik.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention melaporkan hampir 60.000 orang mengalami
cidera akibat Perilaku Kekerasan. Perawat sering menjadi sasaran kekerasan karena mereka memiliki
kontak paling langsung dengan klien, Varcarolis, (2018)
B. PENGERTIAN PK DAN RPK
Perilaku Kekerasan adalah merupakan tindakan yang tidak
menyenangkan yang melibatkan penggunaan kekuatan yang
disengaja mengakibatkan atau berpotensi melukai orang lain,
(Varcarolis, 2018).

Perilaku Kekerasan adalah kemarahan yang di ekspresikan


secara berlebihan dan tidak terkendali secara verbal sampai
dengan melukai/mencederai orang lain dan merusak
lingkungan, (PPNI, 2017)

Risiko perilaku kekerasan didefinisikan sebagai perilaku yang


berisiko membahayakan secara fisik, emosi dan atau seksual
pada diri sendiri atau orang lain (PPNI, 2017).

Risiko perilaku kekerasan terhadap orang lain adalah rentan


melakukan perilaku yang individu menunjukkan bahwa ia
dapat membahayakan orang lain secara fisik, emosional dan
/atau seksual, (NANDA-I, 2018-2020, Herdman, 2018).
C. Tingkatan / Fase RPK
Lima Tahapan/Fase Risiko Perilaku Kekerasan Menurut Videback, (2011; 2017)

Fase/ Definisi
No. Tanda Gejala, Perilaku
Tahapan

1. Triggering/ Sebuah peristiwa atau Gelisah, lekas marah, mondar-mandir,


Memicu keadaan lingkungan yang ketegangan otot, napas cepat,
memulai respon klien, berkeringat, suara nyaring, kemarahan
sering marah atau
permusuhan
2. Escalation/E Tanggapan berupa Pucat atau memerah wajah, berteriak,
skalasi perilaku klien yang memaki, gelisah, mengancam,
semakin tinggi yang menuntut, tangan terkepal, gerakan
menunjukkan gerakan mengancam, permusuhan, kehilangan
menuju hilangnya kontrol kemampuan untuk memecahkan
masalah atau berpikir jernih

3. Crisis/ Selama periode krisis Kehilangan kontrol emosional dan


Krisis emosional dan fisik, klien fisik, melempar benda, menendang,
kehilangan kendali memukul, meludah, menggigit,
mencakar, menjerit-jerit, berteriak-
teriak, ketidakmampuan untuk
berkomunikasi dengan jelas

4. Recovery/ Klien mendapatkan Penurunan suara; penurunan


Pemulihan kembali kontrol fisik dan ketegangan otot, komunikasi jelas
emosional; yang lebih rasional; relaksasi fisik

5. Postcrisis/ Klien mencoba Penyesalan; permintaan maaf;


Pascakrisis rekonsiliasi dengan orang menangis; tenang, perilaku menarik
lain dan kembali ke diri.
tingkat fungsi sebelum
insiden agresif dan
pendahulunya
D. RENTANG RESPON RPK
Skema 2.2 Rentang Respon Marah Menurut Stuart dan Sundeen (dalam Satrio, dkk, 2015)

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Asertif Pasif Frustrasi Agresi Amuk


f
E. PROSES TERJADINYA MASALAH RPK
BIOLOGIK PSIKOLOGIK SOSIAL BUDAYA
PREDISPOSISI

•Neuroanatomi (sistem limbik, •Faktor Perkembangan (ggn •Kemiskinan


lobus frontal, temporal dan kemampuan mengatasi frustasi, •Ketidakmampuan pemenuhan
hipotalamus) penolakan yg jelas, kebutuhan dasar kehidupan
•Genetik (kerentanan genetik, keterpaparan anak kekerasan) •Ketidakharmonisan pernikan
penelitian kembar, adopsi) •Teori Belajar Sosial (Internal •Pengangguran
•Neurotransmitter (serotinin, dan Eksternal)
•Kesulitan menjaga hub
dopamin, norepinefrin,GABA) • Pemodelan dan Kondisining interpesonal
Operan
•Struktur keluarga dan kontrol
sosial

BIOLOGIK PSIKOLOGIK SOSIAL BUDAYA


PRESIPITASI

• Stressor presipitasi adanya • Toleransi terhadap frustasi • Fasilitasdan ketersediaan


stimuli yang diterima indv yg rendah staf (penuh sesak, kurang
sbg ancaman, tuntutan • Koping tidak efektif privasi)
dan tantangan. • Membayangkan atau • Ketidakmampuan
• Gangguan umpan balik secara nyata adanya pemenuhan kebutuhan
diotak ancaman dasar kehidupan
• Abnormalitas pintu • Cemas, rasa bersalah, • Sikap dan tindakan staf yg
mekanisme di otak kecurigaan kurang berpengalaman
F. TANDA GEJALA MASALAH RPK

Data Subyektif:
Ungkapan berupa ancaman, kata-kata kasar, ingin memukul/ melukai

Data Obyektif:
Wajah memerah dan tegang
Pandangan tajam
Mengatupkan rahang dengan kuat
Mengepalkan tangan
Bicara kasar
Suara tinggi, menjerit atau berteriak
Mondar mandir
Melempar atau memukul benda/orang lain
Pengkajian dilakukan dengan cara wawancara dan
observasi pada pasien dan keluarga (pelaku rawat).
Wawancara:
Apa penyebab perasaan marah?
Apa yang dirasakan saat terjadi kejadian/penyebab marah?
Apa yang dilakukan saat marah?
Apakah dengan cara yang digunakan penyebab marah
hilang?
Apa akibat dari cara marah yang dilakukan?
Observasi :
Wajah memerah dan tegang
Pandangan tajam
Mengatupkan rahang dengan kuat
Mengepalkan tangan
Bicara kasar
Mondar mandir
Nada suara tinggi, menjerit atau berteriak
Melempar atau memukul benda/orang lain
H. TINDAKAN MASALAH RPK
No. Diagnosis Pertemuan 1 Pertemu Pertemuan 3 Pertemuan 4 Pertemuan
Keperawatan an 2 5 dst
1. Risiko Perilaku Identifikasi Latihan Latihan Verbal Latihan Latihan
Kekerasan RPK dan Obat (Meminta dan Spiritual 1,2,3,4
latihan TND, Menolak dgn Baik)
PB/PK
2. Gangguan Identifikasi Latihan Latihan bercakap- Latihan Latihan
Sensori halusinasi dan Obat cakap kegiatan 1,2,3,4
Persepsi: latihan terjadwal
Halusinasi menghardik
3. Isolasi sosial Identifikasi Latihan Latihan Kenalan Latihan Latihan
Isos dan Kenalan dgn 4-5 org dan Kenalan dgn 1,2,3,4
latihan dgn 2-3 bicara 2 topik < 5 org dan
kenalan org dan kgtan bicara 2 topik
bicara 2 kgtan
topik
kgtan
4. Harga diri Identifikasi Latihan Latihan Latihan Latihan
rendah kronik HDR dan kemampu kemampuan 3 kemampuan 1,2,3,4
latihan an 2 4
kemampuan 1
5. Defisit Identifikasi Latihan Latihan makan dan Latihan Latihan
Perawatan diri DPD dan berdanda minum toileting 1,2,3,4
latihan mandi n
6. Gangguan Identifikasi Latihan Latihan obat Diskusikan Latihan
proses piker: waham dan kemampu kemampuan 1,2,3,4
Waham latihan an yg dilatih.
memenuhi masih Kemudian
kebutuhan yg dimiliki latih
realistis
7. Risiko bunuh Identifikasi Latihan Latih cara-cara Latih tahap Latihan
diri RBD dan afirmasi mencapai harapan dan kedua kegiatan 1,2,3,4
latihan klg dan masa depan secara mencapai masa
bertahap (setahap depan
afirmasi diri lingkung
demi setahap)
an
Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
Pasien Risiko Perilaku Kekerasan
Tujuan: Keluarga mampu:
 Mengenal masalah risiko perilaku kekerasan
 Memutuskan untuk melakukan perawatan pada pasien risiko perilaku kekerasan
 Merawat pasien risiko perilaku kekerasan dengan mengajarkan dan mendampingi pasien
mengontrol emosi dengan cara melakukan kegiatan fisik, bicara yang baik, minum obat
teratur dan melakukan kegiatan ibadah
 Memodifikasi lingkungan yang kondusif agar pasien mampu mengontrol perilaku kekerasan
dan mengurangi stresor yang menimbulkan perilaku kekerasan
 Mengenal tanda kekambuhan dan menggunakan pelayanan kesehatan untuk mengatasi
masalah.
I. EVALUASI PASIEN
Pasien dapat:
Menyebutkan penyebab, tanda dan gejala perilaku kekerasan, perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan, dan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan.
Mengontrol perilaku kekerasan:
secara fisik: tarik nafas dalam dan pukul bantal/kasur
secara sosial/verbal: meminta, menolak, dan mengungkapkan perasaan dengan cara baik
secara spiritual
menggunakan terapi psikofarmaka
Melakukan latihan mengontrol perilaku kekerasan secara teratur sesuai jadual
Mengidentifikasi manfaat latihan yang dilakukan dalam mencegah PK
Keluarga dapat:
 Mengenal masalah yang dirasakan dalam merawat pasien (pengertian, tanda dan
gejala, dan penyebab terjadinya perilaku kekerasan)
 Mencegah terjadinya perilaku kekerasan
 Menunjukkan sikap yang mendukung dan menghargai pasien
 Memotivasi pasien dalam mengontrol perasaan marah
 Menciptakan suasana keluarga dan lingkungan yang mendukung pasien
mengontrol perasaan marah
 Mengevaluasi manfaat asuhan keperawatan dalam mencegah perilaku kekerasan
pasien
 Melakukan follow up ke Puskesmas dan mengenal tanda kambuh.
A. EPIDIOMOLOGI HALUSINASI

1. Sekitar 70% dari orang dengan skizofrenia yang mengalami halusinasi, meskipun
paling sering dikaitkan dengan skizofrenia. Halusinasi juga dapat terjadi pada klien
dengan gangguan manik depresif atau delirium, gangguan mental organik atau
gangguan penyalahgunaan zat. Hal ini penting untuk memahami bahwa halusinasi dan
waham dapat terjadi pada penyakit yang menganggu fungsi otak.
2. Halusinasi pendengaran adalah halusinasi yang paling umum terjadi pada
skizofrenia, dialami oleh lebih dari 60% orang dengan skizofrenia, (Waters, 2014 dalam
Varcarolis, 2018). Halusinasi pendengaran adalah jenis halusinasi yang paling umum,
(Back & Andreasen, 2014 dalam Videbeck, 2017).
3. Sekitar 90% dari orang yang mengalami halusinasi juga mengalami waham,
sedangkan hanya 35% dari mereka yang mengalami waham juga memiliki halusinasi.
Sekitar 70% dari halusinasi adalah halusinasi pendengaran, 20% adalah penglihatan dan
10% sisanya adalah halusinasi pengecapan, taktil, penciuman, kinestetik atau
senestetik. Sekitar 20% dari klien telah bercampur halusinasi sensorik, biasanya
pendengaran dan penglihatan, Stuart (2013; 2016).

Halusinasi
B. PENGERTIAN HALUSINASI

Gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu


yang sebenarnya tidak terjadi (Kemenkes, 2015).

Menurut PPNI, (2017) Gangguan persepsi sensori adalah


perubahan persepsi terhadap stimulus baik internal
maupun ekternal yang disertai dengan respon yang
berkurang, berlebihan atau terdistorsi.

Menurut Varcarolis, (2014; 2018) halusinasi adalah


perubahan dalam persepsi melibatkan kesalahan dalam
menginterprestasi persepsi dan penerimaan realitas.
Halusinasi muncul ketika seseorang mempersepsikan
pengalaman stimulus dimana tanpa adanya stimulus
external (contoh mendengar suara ketika tidak ada
seseorangpun yang mengajak bicara).
C. Jenis Halusinasi
 Halusinasi pendengaran (70%)
 Halusinasi penglihatan (20%)
 Halusinasi penghidu
 Halusinasi pengecapan
 Halusinasi perabaan 10%
 Halusinasi kinestetik
 Halusinasi cenestetik
D. FASE/TINGKATAN HALUSINASI
•Tersenyum/tertawa sendiri •Ansietas sedang
•Menggerak-gerakkan bibir •Halusinasi menyenangkan
•Respon verbal lambat Comforting
•Diam/asyik sendiri

•Tanda syaraf otonom


•Ansietas berat
•Perhatian menyempit
Comdemning •Halusinasi menjijikkan
•Asyik dg pengalaman sensori
•Tdk mampu membedakan hal & realita

•Ansietas berat
•Lebih mengikuti halusinasi •Pengalaman sensori berkuasa
•Sukar berinteraksi Controlling
•Perhatian menyempit
•Tanda fisik ansietas
•Panik
•Perilaku teror Conquering •Melebur dalam pengaruh halusinasi
•Risiko suicide dan homicide
•Aktivitas fisik mengikuti halusinasi
•Tdk berespon thd perintah
•Tdk mampu berespon lebih dr 1 org
E. RENTANG RESPON NEUROBIOLOGI
Respon Adaptif
Respon Maladaptif

Pikiran logis Distorsi pikiran Gangguan pikir / delusi


Persepsi akurat Ilusi Halusinasi
Emosi konsisten dengan Reaksi emosi berlebihan atau Sulit berespon emosi
pengalaman kurang
Perilaku sesuai Perilaku aneh/tidak biasa Perilaku disorganisasi
Berhubungan sosial Menarik diri Isolasi sosial
F. PROSES TERJADINYA MASALAH HALUSINASI
BIOLOGIK PSIKOLOGIK SOSIAL BUDAYA
PREDISPOSISI

• Genetik (Sekitar 80% risiko dari fx • Faktor Perkembangan (kurangnya • Double bind didalam keluarga
genetik dan epigenetik, 100 lokus hubungan antara orangtua dan anak, • Konflik dalam keluarga
genom manusia, tingkat pertama serta disfungsi sistem keluarga)
hubungan dengan skizofrenia) • Kemiskinan
• Stressor psikologis (perkembangan • Nutrisi yang tidak memadai
• Neuroanatomi (lobus frontal, temporal, dan tekanan keluarga seperti mulai
sistem limbik, dan disregulasi • sumber daya untuk menangani
kuliah atau pindah dari keluarga)
neurotransmitter- CT-Scan, MRI, PET) situasi stres
• Neurotransmitter (serotinin, dopamin, • Teori interpersonal (hubungan
• Tidak adanya penghasilan,
glutamat,GABA) disfungsional pada masa kehidupan
awal dan masa remaja, skizofrenia • Diskrimasi sosial
• Imunovirologi (infeksi virus pd musim
dingin & awalmusim semi) terjadi akibat ibu yang cemas
berlebihan)

BIOLOGIK PSIKOLOGIK SOSIAL BUDAYA


PRESIPITASI

• Faktor kesehatan, • kekerasan dalam keluarga • Adanya kegagalan-


lingkungan, sikap dan kegagalan dalam hidup,
perilaku individu kemiskinan.
• Penurunan fungsi dari lobus • Adanya aturan atau
frontal tuntutan di keluarga atau
• Gangguan umpan balik masyarakat yang sering
diotak tidak sesuai dengan pasien
• Abnormalitas pintu serta konflik antar
mekanisme di otak masyarakat.
Data Subyektif:
Mendengar suara-suara atau kegaduhan.
Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap.
Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang
berbahaya.
Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartun,
melihat hantu atau monster
Mencium bau-bauan seperti bau darah, urin, feses, kadang-
kadang bau itu menyenangkan.
Merasakan rasa seperti darah, urin atau feses
Merasa takut atau senang dengan halusinasinya
Data Obyektif:
Bicara atau tertawa sendiri
Marah-marah tanpa sebab
Mengarahkan telinga ke arah tertentu
Menutup telinga
Menunjuk-nunjuk ke arah tertentu
Ketakutan pada sesuatu yang tidak jelas.
Mencium sesuatu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu.
Menutup hidung
Sering meludah
Muntah
Menggaruk-garuk permukaan kulit
Isi halusinasi:
• Mendengar atau melihat apa?
• Apa yang dikatakan suara yang didengar?
Waktu terjadinya halusinasi:
• Kapan halusinasi terjadi?
Pengkajian Halusinasi
Frekuensi halusinasi:
• Seberapa sering halusinasi muncul?
• Berapa kali dalam sehari?
Situasi pencetus:
Dalam situasi seperti apa halusinasi
Respons terhadap halusinasi:muncul?
• Bagaimana perasaan pasien jika halusinasi muncul? 33

• Apa yang dilakukan jika halusinasi muncul?


I. Tindakan Keperawatan untuk Pasien Halusinasi
No. Diagnosis Pertemuan 1 Pertemu Pertemuan 3 Pertemuan 4 Pertemuan
Keperawatan an 2 5 dst
1. Risiko Perilaku Identifikasi Latihan Latihan Verbal Latihan Latihan
Kekerasan RPK dan Obat (Meminta dan Spiritual 1,2,3,4
latihan TND, Menolak dgn Baik)
PB/PK
2. Gangguan Identifikasi Latihan Latihan bercakap- Latihan Latihan
Sensori halusinasi dan Obat cakap kegiatan 1,2,3,4
Persepsi: latihan terjadwal
Halusinasi menghardik
3. Isolasi sosial Identifikasi Latihan Latihan Kenalan Latihan Latihan
Isos dan Kenalan dgn 4-5 org dan Kenalan dgn 1,2,3,4
latihan dgn 2-3 bicara 2 topik < 5 org dan
kenalan org dan kgtan bicara 2 topik
bicara 2 kgtan
topik
kgtan
4. Harga diri Identifikasi Latihan Latihan Latihan Latihan
rendah kronik HDR dan kemampu kemampuan 3 kemampuan 1,2,3,4
latihan an 2 4
kemampuan 1
5. Defisit Identifikasi Latihan Latihan makan dan Latihan Latihan
Perawatan diri DPD dan berdanda minum toileting 1,2,3,4
latihan mandi n
6. Gangguan Identifikasi Latihan Latihan obat Diskusikan Latihan
proses piker: waham dan kemampu kemampuan 1,2,3,4
Waham latihan an yg dilatih.
memenuhi masih Kemudian
kebutuhan yg dimiliki latih
realistis
7. Risiko bunuh Identifikasi Latihan Latih cara-cara Latih tahap Latihan
diri RBD dan afirmasi mencapai harapan dan kedua kegiatan 1,2,3,4
latihan klg dan masa depan secara mencapai masa
bertahap (setahap depan
afirmasi diri lingkung
demi setahap)
an
Tindakan Keperawatan untuk Keluarga Pasien
Halusinasi

Tujuan: Keluarga mampu:


Mengenal tentang halusinasi
Mengambil keputusan untuk merawat halusinasi
Merawat anggota keluarga yang mengalami halusinasi
Memodifikasi lingkungan yang mendukung pasien
mengatasi halusinasi
Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan
Tindakan Keperawatan untuk Keluarga…
 Mendiskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien
 Menjelaskan tentang halusinasi: pengertian, tanda dan gejala, penyebab
terjadinya halusinasi, dan akibat jika halusinasi tidak diatasi.
 Membantu keluarga mengambil keputusan merawat pasien
 Melatih keluarga cara merawat halusinasi
 Membimbing keluarga merawat halusinasi
 Melatih keluarga menciptakan suasana keluarga dan lingkungan yang
mendukung pasien mengatasi halusinasi
 Mendiskusikan tanda dan gejala kekambuhan yang memerlukan rujukan
segera ke fasilitas pelayanan kesehatan
 Menganjurkan follow up ke fasilitas pelayanan kesehatan secara teratur.
Pasien dapat:
Mengungkapkan isi halusinasi yang dialaminya, waktu dan frekuensi
halusinasi yang dialami, situasi yang mencetuskan halusinasi, perasaannya
ketika mengalami halusinasi
Menerapkan 4 cara mengontrol halusinasi:
Menghardik halusinasi
Mematuhi program pengobatan
Mengajak orang lain bercakap-cakap dengan bila timbul halusinasi
Menyusun jadwal kegiatan harian untuk mengurangi waktu luang dan
melaksanakan jadwal kegiatan tersebut secara mandiri
Menilai manfaat cara mengontrol halusinasi dalam mengendalikan halusinasi
Keluarga dapat:
 Menjelaskan halusinasi yang dialami oleh pasien
 Menjelaskan cara merawat pasien halusinasi
 Mendemonstrasikan cara merawat pasien halusinasi
 Memodifikasi lingkungan untuk membantu pasien mengatasi
masalahnya
 Menjelaskan fasilitas kesehatan yang dapat digunakan untuk
mengatasi masalah halusinasi.
A. PENGERTIAN GPP: WAHAM

Waham atau delusi adalah keyakinan pribadi palsu yang


tidak sesuai dengan kecerdasan seseorang atau latar
belakang budaya. Individu terus untuk memiliki keyakinan
meskipun bukti jelas bahwa itu adalah palsu atau tidak
rasional (Townsend, 2018)

Keyakinan yang keliru tentang isi pikiran yang


dipertahankan secara kuat atau terus-menerus namun
tidak sesuai dengan kenyataan.(PPNI, 2017)

Gangguan dalam aktivitas dan pengoperasian


kognitif (Nanda I, 2012)
B. Jenis-jenis Waham (Townsend, 2014; 2018)

Persecutory/Kejar

Jealous/Cemburu

Erotomanic

Grandios/Kebesaran

Somatik

Tipe Campuran
(Townsend, 2014)
Jenis-Jenis Waham
WAHAM
PARANOID/CEMBURU,
Klien yang yakin bahwa
nya pasangan atau orang
penting lainnya adalah
tidak setia, idenya tidak
WAHAM rasional dan tanpa sebab
KEJAR/PERSECUTORY, WAHAM EROTOMANIC;
percaya bahwa mereka Seorang individu,
sedang diikuti dan dimata- percaya bahwa
matai, diracun atau dibius,
ditipu, dilecehkan, difitnah seseorang dari status
jahat, atau merusak dalam sosial tinggi jatuh cinta
beberapa cara. padanya

waham
Jenis-Jenis Waham

WAHAM KEBESARAN;
klien percaya dia memiliki
bakat , pengetahuan atau
kekuasaan yang irasional
WAHAM SOMATIK; meyakini dan muluk
tubuhnya berbeda dari
biasanya klien mungkin TIPE CAMPURAN
mengeluh bagian tubuh cacat Ketika gangguan
atau nonfunctioning, percaya bercampur, waham yang
bahwa mereka penuh dengan menonjol, tapi ada satu
serangga,risiko bunuh diri tema yang dominan.
yang besar

Waham
C. Rentang Respon Neurobiologis

Respon Adaptif Respon Maladaptif

- Pikiran Logis - Pikiran kadang Menimpang - Kelainan pikiran atau delusi

- Persepsi Akurat - Ilusi - Halusinasi

- Emosi Konstan - Reaksi emosional berlebihan atau - Ketidakmampuan untuk


kurang mengalami sendiri
- Perilaku Sesuai
- Perilaku ganjil atau tidak sesuai - Ketidakteraturan
- Hubungan Sosial
- Menarik diri - Isolasi sosial

Stuart, 2016
D. PROSES TERJADINYA MASALAH WAHAM
BIOLOGIK PSIKOLOGIK SOSIAL BUDAYA
PREDISPOSISI

• Genetik (Kerabat individu dg skizofrenia


memiliki probabilitas lebih tinggi dari • Pengaruh psikologis • Kemiskinan
populasi umum, saudara dari klien
berisiko 10%) hubungan keluarga, • Perumahan padat
• Tingkat skizofrenia kembar monozigot 4
X dari dizigot, 50 % populasi umum
hubungan orangtua • Nutrisi tidak
• Neuroanatomi (pembesaran ventrikel, dan anak yang memadai
penurunan intrakranial otak)
miskin, sistem
• Neurotransmitter (dopamin, • Tidak ada perawatan
norephineprin, glutamat,GABA) keluarga
• Imunovirologi (infeksi virus pd paparan prenatal
pra lahir dan infuenza) disfungsional

BIOLOGIK PSIKOLOGIK SOSIAL BUDAYA


PRESIPITASI

• Pembesaran sulci dan atropi


serebellum • Disfungsi • Kejadian hidup
• Penurunan lobus frontal sistem penuh stress
keluarga • Kondisi sosial
yg buruk
Data Subyektif
Pasien mengatakan:
 Memiliki kekuatan luar biasa.
 Ada yang sedang mengintai atau mengancamnya.
 Televisi atau radio menyiarkan hal-hal yang berkaitan
dengan dirinya
 Ada bagian tubuhnya mengalami gangguan
Data Obyektif:
 Menggunakan pakaian atau atribut yang aneh
 Ekspresi ketakutan
 Tanda-tanda cemas
 Membatasi interaksi dengan orang lain
 Apakah pasien memiliki pikiran/isi pikir yang berulang-
ulang diungkapkan dan menetap?
 Apakah pasien takut terhadap objek atau situasi tertentu,
atau apakah pasien cemas secara berlebihan tentang tubuh
atau kesehatannya?
 Apakah pasien pernah merasakan bahwa benda-benda
disekitarnya aneh dan tidak nyata?
 Apakahpasien pernah merasakan bahwa ia berada di luar
tubuhnya?
H. TINDAKAN MASALAH WAHAM
No. Diagnosis Pertemuan 1 Pertemu Pertemuan 3 Pertemuan 4 Pertemuan
Keperawatan an 2 5 dst
1. Risiko Perilaku Identifikasi Latihan Latihan Verbal Latihan Latihan
Kekerasan RPK dan Obat (Meminta dan Spiritual 1,2,3,4
latihan TND, Menolak dgn Baik)
PB/PK
2. Gangguan Identifikasi Latihan Latihan bercakap- Latihan Latihan
Sensori halusinasi dan Obat cakap kegiatan 1,2,3,4
Persepsi: latihan terjadwal
Halusinasi menghardik
3. Isolasi sosial Identifikasi Latihan Latihan Kenalan Latihan Latihan
Isos dan Kenalan dgn 4-5 org dan Kenalan dgn 1,2,3,4
latihan dgn 2-3 bicara 2 topik < 5 org dan
kenalan org dan kgtan bicara 2 topik
bicara 2 kgtan
topik
kgtan
4. Harga diri Identifikasi Latihan Latihan Latihan Latihan
rendah kronik HDR dan kemampu kemampuan 3 kemampuan 1,2,3,4
latihan an 2 4
kemampuan 1
5. Defisit Identifikasi Latihan Latihan makan dan Latihan Latihan
Perawatan diri DPD dan berdanda minum toileting 1,2,3,4
latihan mandi n
6. Gangguan Identifikasi Latihan Latihan obat Diskusikan Latihan
proses piker: waham dan kemampu kemampuan 1,2,3,4
Waham latihan an yg dilatih.
memenuhi masih Kemudian
kebutuhan yg dimiliki latih
realistis
7. Risiko bunuh Identifikasi Latihan Latih cara-cara Latih tahap Latihan
diri RBD dan afirmasi mencapai harapan dan kedua kegiatan 1,2,3,4
latihan klg dan masa depan secara mencapai masa
bertahap (setahap depan
afirmasi diri lingkung
demi setahap)
an
Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
Pasien Waham
Tujuan:
Mengenal masalah waham
Memutuskan untuk melakukan perawatan pada
pasien waham
Merawat pasien waham
Memodifikasi lingkungan yang kondusif agar pasien
mampu mengontrol wahamnya
Mengenal tanda kekambuhan dan mencari pelayanan
kesehatan.
Tindakan Keperawatan untuk Keluarga…
 Mendiskusikan dengan keluarga tentang waham
yang dialami pasien
 Mendiskusikan dengan keluarga tentang :
 Cara merawat pasien waham di rumah
 Lingkungan yang tepat untuk pasien.
 Follow up dan keteraturan pengobatan
 Mendiskusikan dengan keluarga tentang obat
pasien
 Mendiskusikan dengan keluarga tentang kondisi
pasien yang memerlukan konsultasi segera
Pasien dapat:
mengungkapkan keyakinannya sesuai dengan
kenyataan
berkomunikasi sesuai kenyataan
menggunakan obat dengan benar dan patuh
Keluarga dapat:
 Mengenal masalah yg dirasakan dalam merawat pasien
(pengertian, tanda dan gejala, dan penyebab terjadinya
waham dan akibat jika waham tidak diatasi)
 Membantu pasien untuk mengungkapkan keyakinannya sesuai
kenyataan
 Membantu pasien melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan
kemampuan dan kebutuhan pasien
 Membantu pasien menggunakan obat dengan benar dan patuh
 Follow up ke Puskesmas dan mengenal tanda kambuh dan
rujukan.
A. PENGERTIAN ISOLASI SOSIAL
Keadaan dimana seorang individu mengalami
penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu
berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya,
(Kemenkes, 2015)

Kesendirian yang dialami oleh individu dan dianggap


timbul karena orang lain dan sebagai suatu
pernyataan negatif atau mengancam,(Hherdman,
2018)

Ketidakmampuan untuk membina hubungan yang


erat, hangat, terbuka, dan interdependen dengan
orang lain, (PPNI, 2017)
B. PROSES TERJADINYA MASALAH ISOS
BIOLOGIK PSIKOLOGIK SOSIAL BUDAYA
PREDISPOSISI

• Faktor biologis meliputi • pengalaman negatif pasien • tingkat sosial ekonomi


adanya faktor herediter terhadap gambaran diri rendah,
mengalami gangguan jiwa, • ketidakjelasan atau • riwayat penolakan
adanya risiko bunuh diri, berlebihnya peran yang lingkungan pada usia
riwayat penyakit atau dimiliki perkembangan anak,
trauma kepala, dan riwayat • kegagalan dalam mencapai • tingkat pendidikan rendah
penggunaan NAPZA. harapan atau cita-cita dan kegagalan dalam
hubungan sosial (perceraian,
hidup sendiri).

BIOLOGIK PSIKOLOGIK SOSIAL BUDAYA


PRESIPITASI

• riwayat penyakit • kekerasan dalam • kemiskinan


infeksi keluarga • adanya aturan atau
• penyakit kronis atau • kegagalan-kegagalan tuntutan dalam keluarga
dalam hidup atau masyarakat yang
kelainan struktur otak sering tidak sesuai
dengan harapan pasien,
atau konflik antar
masyarakat.
C. Tanda dan Gejala ISOS
Pasien mengungkapkan tentang
•Perasaan sepi
•Perasaan tidak aman
•Perasan bosan dan waktu terasa lambat
•Ketidakmampun berkonsentrasi
•Perasaan ditolak

Data Objektif:
Banyak diam
Tidak mau bicara
Menyendiri
Tidak mau berinteraksi
Tampak sedih
Ekspresi datar dan dangkal
Kontak mata kurang
Wawancara:
 Bagaimana perasaan anda saat berinteraksi dengan orang lain?
 Apakah ada perasaan tidak aman?
 Bagaimana pendapat anda terhadap orang-orang di sekitarnya
(keluarga atau tetangga)?
 Apakah anda mempunyai anggota keluarga atau teman terdekat? Bila
punya siapa anggota keluarga dan teman dekatnya itu?
 Adakah anggota keluarga atau teman yang tidak dekat dengan anda?
Bila punya siapa anggota keluarga dan teman yang tidak dekatnya itu?
 Apa yang membuat anda tidak dekat dengan orang tersebut?
Observasi:
Pasien banyak diam dan tidak mau bicara
Pasien menyendiri dan tidak mau berinteraksi
dengan orang yang terdekat
Pasien tampak sedih, ekspresi datar dan dangkal
Kontak mata kurang
F. TINDAKAN MASALAH ISOS
No. Diagnosis Pertemuan 1 Pertemu Pertemuan 3 Pertemuan 4 Pertemuan
Keperawatan an 2 5 dst
1. Risiko Perilaku Identifikasi Latihan Latihan Verbal Latihan Latihan
Kekerasan RPK dan Obat (Meminta dan Spiritual 1,2,3,4
latihan TND, Menolak dgn Baik)
PB/PK
2. Gangguan Identifikasi Latihan Latihan bercakap- Latihan Latihan
Sensori halusinasi dan Obat cakap kegiatan 1,2,3,4
Persepsi: latihan terjadwal
Halusinasi menghardik
3. Isolasi sosial Identifikasi Latihan Latihan Kenalan Latihan Latihan
Isos dan Kenalan dgn 4-5 org dan Kenalan dgn 1,2,3,4
latihan dgn 2-3 bicara 2 topik < 5 org dan
kenalan org dan kgtan bicara 2 topik
bicara 2 kgtan
topik
kgtan
4. Harga diri Identifikasi Latihan Latihan Latihan Latihan
rendah kronik HDR dan kemampu kemampuan 3 kemampuan 1,2,3,4
latihan an 2 4
kemampuan 1
5. Defisit Identifikasi Latihan Latihan makan dan Latihan Latihan
Perawatan diri DPD dan berdanda minum toileting 1,2,3,4
latihan mandi n
6. Gangguan Identifikasi Latihan Latihan obat Diskusikan Latihan
proses piker: waham dan kemampu kemampuan 1,2,3,4
Waham latihan an yg dilatih.
memenuhi masih Kemudian
kebutuhan yg dimiliki latih
realistis
7. Risiko bunuh Identifikasi Latihan Latih cara-cara Latih tahap Latihan
diri RBD dan afirmasi mencapai harapan dan kedua kegiatan 1,2,3,4
latihan klg dan masa depan secara mencapai masa
bertahap (setahap depan
afirmasi diri lingkung
demi setahap)
an
Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
Pasien Isolasi Sosial
Tujuan: Keluarga mampu:
Mengenal masalah isolasi sosial
Memutuskan untuk melakukan perawatan pada pasien isolasi
sosial
Merawat pasien isolasi sosial dengan mengajarkan dan
mendampingi pasien berinteraksi secara bertahap, berbicara
saat melakukan kegiatan rumah tangga dan kegiatan sosial
Memodifikasi lingkungan yang kondusif agar pasien mampu
berinteraksi dengan lingkungan sekitar
Mengenal tanda kekambuhan dan mencari pelayanan
kesehatan.
Tindakan Keperawatan untuk Keluarga…
 Mendiskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien
 Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, penyebab
terjadinya isolasi sosial dan akibat jika isolasi sosial tidak
diatasi
 Melatih keluarga cara merawat isolasi sosial
 Melatih keluarga menciptakan suasana keluarga dan
lingkungan yang mendukung peningkatan hubungan sosial
pasien
 Mendiskusikan tanda dan gejala kekambuhan yang
memerlukan rujukan segera ke fasilitas pelayanan kesehatan
 Menganjurkan follow up ke fasilitas pelayanan kesehatan
secara teratur.
Pasien dapat:
 Menjelaskan kebiasaan interaksi.
 Menjelaskan penyebab tidak bergaul dengan orang lain.
 Menyebutkan keuntungan bergaul dengan orang lain.
 Menyebutkan kerugian tidak bergaul dengan orang lain.
 Memperagakan cara berkenalan dengan orang lain.
 Bergaul/berinteraksi dengan perawat, keluarga, tetangga.
 Berkomunikasi dengan keluarga saat melakukan kegiatan sehari-hari
 Berkomunikasi saat melakukan kegiatan sosial
 Menyampaikan perasaan setelah berinteraksi dengan orang lain.
 Mempunyai jadwal bercakap-cakap dengan orang lain.
 Merasakan manfaat latihan berinteraksi dalam mengatasi isolasi sosial
Keluarga dapat:
 Mengenal Isolasi sosial yang dialami pasien
 Membantu pasien berinteraksi dengan orang lain
 Mendampingi pasien saat melakukan aktivitas rumah tangga dan kegiatan
sosial sambil berkomunikasi
 Melibatkan pasien melakukan kegiatan harian di rumah dan kegiatan
sosialisasi di lingkungan
 Menciptakan suasana keluarga dan lingkungan yang mendukung pasien untuk
meningkatkan interaksi sosial
 Memantau peningkatan kemampuan pasien dalam mengatasi isolasi sosial
 Melakukan follow up ke Puskesmas, mengenal tanda kambuh dan melakukan
rujukan
A. Pengertian Defisit Perawatan Diri

Gangguan kemampuan untuk melakukan


aktifitas perawatan diri (kebersihan diri,
berhias, makan, toileting) (Kemenkes,2015).

Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan


untuk melakukan aktifitas perawatan diri secara mandiri
(kebersihan diri, berhias, makan, toileting), ( Herdman,
2018).

Defisit perawatan diri adalah Tidak mampu


melakukan atau menyelesaikan aktvitas perawatan
diri (PPNI, 2017).
B.Jenis-Jenis Defisit Perawatan Diri
(Herdman,2018)

DPD: Mandi

DPD:
DPD : Berpakaian/
Toileting
Berhias

DPD :
Makan
RENTANG RESPONS PERAWATAN DIRI

ADAPTIF MALADAPTIF

Pola perawatan Kadang Tidak


diri seimbang perawatan diri melakukan
kadang tidak perawatan diri
D. PROSES TERJADINYA MASALAH DPD
BIOLOGIK PSIKOLOGIK SOSIAL BUDAYA
PREDISPOSISI

• Neuroanatomi: • Faktor perkembangan dimana • Kurang dukungan dan situasi


keluarga terlalu melindungi dan lingkungan mempengaruhi
• Lobus Frontal: kontrol emosi memanjakan pasien sehingga kemampuan dalam perawatan diri
dan motorik, perkembangan inisiatif • Sosial ekonomi yang
Limbik:otonom& emosi, terganggu. Kemampuan realitas rendah,pengaruh kemiskinan,
Hipotamalus: mood & turun. seperti tidak memadainya sarana
motivasi • Pasien gangguan jiwa dengan dan prasarana, tidak adekuatnya
• Neurotransmitter: dopamin, kemampuan realitas yang kurang nutrisi, rendahnya pemenuhan
serotinin, norephineprin, menyebabkan ketidakpedulian kebutuhan perawatan untuk
dirinya dan lingkungan termasuk anggota keluarga, dan perasaan
asetycolin perawatan diri. tidak berdaya

BIOLOGIK PSIKOLOGIK SOSIAL BUDAYA


PRESIPITASI

• Pembesaran sulci dan atropi • Pertumbuhan & • aturan yang sering


serebellum Perkembangan adanya bertentangan antara
• Penurunan lobus frontal abuse dalam keluarga, individu dan kelompok
atau adanya kegagalan- masyarakat, tuntutan
kegagalan dalam hidup masyarakat yang tidak
sesuai dengan
kemampuan seseorang
E. Tanda Gejala DPD
Data objektif
Data subjektif Badan bau, kotor, berdaki, rambut kotor, gigi kotor, kuku panjang,
Pasien mengatakan tentang : tidak menggunakan alat-alat mandi,tidak mandi dengan benar
Malas mandi Rambut kusut, berantakan, kumis dan jenggot tidak rapi,pakaian
tidak rapi, tidak mampu berdandan, memilih, mengambil, dan
Tidak mau menyisir rambut memakai pakaian, memakai sandal, sepatu, memakai resleting,
Tidak mau menggosok gigi memakai barang-barang yang perlu dalam berpakaian, melepas
barang-barang yang perlu dalam berpakaian.
Tidak mau memotong kuku
Makan dan minum sembarangan, berceceran , tidak menggunakan
Tidak mau berhias/ berdandan alat makan, tidak mampu ( menyiapkan makanan , memindahkan
Tidak bisa / tidak mau menggunakan alat makanan ke alat makan, memegang alat makan, membawa
makanan dari piring ke mulut, mengunyah, menelan makanan
mandi / kebersihan diri secara aman , menyelesaikan makan).
Tidak menggunakan alat makan dan minum BAB dan BAK tidak pada tempatnya, tidak membersihkan diri
saat makan dan minum setelah BAB dan BAK, tidak mampu ( menjaga kebersihan toilet,
menyiram toilet.)
Wawancara:
 Bagaimana kebersihan diri pasien?
 Apakah pasien malas mandi, mencuci rambut, menggosok
gigi, menggunting kuku?
 Bagaimana penampilan pasien?
 Apakah pasien menyisir rambut, berdandan, bercukur
(untuk laki-laki)?
 Apakah pakaian pasien rapi dan sesuai?
 Apakah pasien menggunakan alat mandi/ kebersihan diri?
Wawancara:
 Bagaimana makan dan minum pasien?
 Apakah pasien menggunakan alat makan dan minum
saat makan dan minum?
 Bagaimana BAB dan BAK pasien?
 Apakah pasien membersihkan diri dan tempat BAB
dan BAK setelah BAB dan BAK?
 Apakah pasien mengetahui cara perawatan diri yang
benar?
Observasi:
 Gangguan kebersihan diri ditandai dengan rambut kotor, gigi kotor, kulit
berdaki dan bau, kuku panjang dan kotor.
 Ketidakmampuan berhias/berdandan ditandai dengan rambut acak-
acakan, pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, pada pasien
laki-laki tidak bercukur, pada pasien wanita tidak berdandan.
 Ketidakmampuan makan dan minum secara mandiri, ditandai dengan
ketidakmampuan mengambil makan dan minum secara mandiri, makan
berceceran, dan makan tidak pada tempatnya.
 Ketidakmampuan BAB dan BAK secara mandiri, ditandai dengan BAB
dan BAK tidak pada tempatnya, tidak membersihkan diri dengan baik
setelah BAB dan BAK.
G. TINDAKAN MASALAH DPD
No. Diagnosis Pertemuan 1 Pertemu Pertemuan 3 Pertemuan 4 Pertemuan
Keperawatan an 2 5 dst
1. Risiko Perilaku Identifikasi Latihan Latihan Verbal Latihan Latihan
Kekerasan RPK dan Obat (Meminta dan Spiritual 1,2,3,4
latihan TND, Menolak dgn Baik)
PB/PK
2. Gangguan Identifikasi Latihan Latihan bercakap- Latihan Latihan
Sensori halusinasi dan Obat cakap kegiatan 1,2,3,4
Persepsi: latihan terjadwal
Halusinasi menghardik
3. Isolasi sosial Identifikasi Latihan Latihan Kenalan Latihan Latihan
Isos dan Kenalan dgn 4-5 org dan Kenalan dgn 1,2,3,4
latihan dgn 2-3 bicara 2 topik < 5 org dan
kenalan org dan kgtan bicara 2 topik
bicara 2 kgtan
topik
kgtan
4. Harga diri Identifikasi Latihan Latihan Latihan Latihan
rendah kronik HDR dan kemampu kemampuan 3 kemampuan 1,2,3,4
latihan an 2 4
kemampuan 1
5. Defisit Identifikasi Latihan Latihan makan dan Latihan Latihan
Perawatan diri DPD dan berdanda minum toileting 1,2,3,4
latihan mandi n
6. Gangguan Identifikasi Latihan Latihan obat Diskusikan Latihan
proses piker: waham dan kemampu kemampuan 1,2,3,4
Waham latihan an yg dilatih.
memenuhi masih Kemudian
kebutuhan yg dimiliki latih
realistis
7. Risiko bunuh Identifikasi Latihan Latih cara-cara Latih tahap Latihan
diri RBD dan afirmasi mencapai harapan dan kedua kegiatan 1,2,3,4
latihan klg dan masa depan secara mencapai masa
bertahap (setahap depan
afirmasi diri lingkung
demi setahap)
an
Tindakan Keperawatan untuk Keluarga…
 Diskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien defisit
perawatan diri
 Jelaskan pengertian, tanda dan gejala, dan proses terjadinya defisit
perawatan diri dan mengambil keputusan merawat pasien
 Diskusikan dengan keluarga tentang fasilitas kebersihan diri yang
dibutuhkan oleh pasien untuk menjaga perawatan diri pasien.
 Latih keluarga cara merawat dan membimbing kebersihan diri,
berdandan, makan dan minum, BAB dan BAK pasien
 Latih keluarga menciptakan suasana keluarga dan lingkungan yang
mendukung perawatan diri pasien
 Diskusikan tanda dan gejala kekambuhan yang memerlukan rujukan
segera ke fasilitas kesehatan.
 Anjurkan follow up ke fasilitas pelayanan kesehatan secara teratur.
Pasien dapat:
 Mandi, mencuci rambut, menggosok gigi dan menggunting kuku
dengan benar dan bersih
 Mengganti pakaian dengan pakaian bersih
 Membereskan pakaian kotor
 Berdandan dengan benar
 Mempersiapkan makanan
 Mengambil makanan dan minuman dengan rapi
 Menggunakan alat makan dan minum dengan benar
 BAB dan BAK pada tempatnya
 BAB dan BAK dengan bersih.
Keluarga dapat:
 Mengenal masalah yg dirasakan dalam merawat pasien
(pengertian, tanda dan gejala, dan penyebab terjadinya defisit
perawatan diri dan akibat jika defisit perawatan diri tidak
diatasi)
 Menyediakan fasilitas kebersihan diri yang dibutuhkan oleh
pasien
 Merawat dan membimbing pasien merawat diri: kebersihan diri,
berdandan (wanita), bercukur (pria), makan dan minum, BAB
dan BAK.
 Follow up ke Puskesmas danmengenal tanda kambuh dan
rujukan.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA
GANGGUAN ANSIETAS
A. Pengertian Ansietas

perasaan was-was, kuatir atau tidak nyaman seakan


akan terjadi sesuatu yang dirasakan sebagai
ancaman(Kemenkes,2015).

Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar


disertai respon otonom (sumber seringkali tidak spesifik
atau tidak diketahui oleh individu) perasaan takut yang
disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Hal ini
merupakan isyarat kewaspadaan yang memperingatkan
individu akan adanya bahaya dan memampukan individu
untuk bertindak menghadapi ancaman( Herdman, 2018).
Kondisi emosi dan pengalaman subyektif individu
terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat
antisipasi bahaya yang memungkinkan individu
melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman(PPNI,
2017).
B. TINGKATAN ANSIETAS
 Kehilangan kendali
diri
 Aktifitas motorik
meningkat
 Pusat perhatian yg  Persepsi dan pikiran
lebih selektif/penting irrasional
 Dapat melakukan
sesuatu dgn arahan
Panik
Berat
Sedang  Persepsi sangat
menyempit.
 Fokus pada satu hal
 Perlu banyak arahan
Ringa untuk hal yang lain

n – masalah sehari-
 Masalah
hari
 Waspada
 Persepsi meningkat
C. PROSES TERJADINYA ANSIETAS
FAKTOR PREDISPOSISI FAKTOR PRESIPITASI

 Riwayat keluarga dengan


BIOLOGIS  Penyakit
ansietas

 Kehilangan cinta & perhatian masa  ancaman identitas, harga diri,


kanak-kanak
integritas diri,
PSIKOLOGIS  HDR
 ancaman kehilangan orang
 Trauma masa pertumbuhan
(perpisahan, kehilangan) yang berarti
 Perceraian

 Tidak adekuatnya hubungan


SOSIAL BUDAYA  perubahan status pekerjaan,
interpersonal pada masa bayi
fungsi dan peran, lingkungan,
 Kemampuan komunikasi rendah
sosial.
D. TANDA DAN GEJALA
SUBJEKTIF
khawatir, cemas. Was-was, takut akan terjadi sesuatu

OBJEKTIF
Kognitif
Emosi Perilaku

Fisik Sosial
4. PROSES KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN

1 • Tanyakan Perasaan Klien .


• Observasi Perilaku
2
• Identifikasi tingkat ansietas
3
Tidak YA
PENKES PASIEN DAN Berat/
KELUARGA panik RUJUK
RSUD/RSJ

PULANG
BEROBAT JALAN
4. PROSES KEPERAWATAN

C. TINDAKAN KEPERAWATAN

Pasien akan :
1. Mengenal ansietas
2. Melaksanakan cara-cara mengatasi ansietas :
a. Cara distraksi verbal, auditori dan perilaku
b. Relaksasi nafas dalam
c. Hipnotis lima jari
d. Cara spiritual
e. Patuh minum obat
PROSES KEPERAWATAN .......

1. Bina hubungan saling percaya


2. Bantu Pasien mengenal ansietas
Dengan cara :
a. Bantu pasien mengidentifikasi dan mengungkapkan
perasaan
b. Bantu pasien menjelaskan situasi yang menimbulkan
ansietas
c. Bantu pasien mengenal penyebab ansietas
d. Bantu pasien menyadari perilaku akibat ansietas
TINDAKAN UNTUK PASIEN…

3.a. Latih Cara mengatasi ansietas dengan teknik distraksi:


a. Melihat pemandangan alam daerah pantai atau
pegunungan
b. Mendengar suara alam seperti bunyi air mengalir, suara
burung berkicau, musik instrumental atau musik lembut
c. Melakukan kegiatan menonton film seperti komedi, kartun,
membaca novel, membaca kata-kata dengan huruf
terbalik, mengunyah permen karet, melihat benda-benda
sekitar, mendekatkan dua jari sedekat mungkin berulang-
ulang
TINDAKAN UNTUK PASIEN…
2. Latih cara mengatasi ansietas : relaksasi nafas dalam
a. Posisi duduk di lantai atau kursi dengan tubuh
rileks dan tidak ada tekanan pada otot yang
menghambat aliran darah
b. Tarik nafas melalui hidung dengan sangat
perlahan
c. Tiup melalui mulut dengan sangat perlahan.
d. Tiup sambil mengempeskan perut
e. Lakukan berulang kali
f. Mata boleh dibuka atau dipejamkan
3. Latih cara mengatasi ansietas : HIPNOTIS LIMA
JARI
a. Posisi duduk atau berbaring dengan mata ditutup dan tubuh
rileks. Pikiran dikosongkan.
b. Sentuhkan ibu jari dengan telunjuk. Mulai membayangkan
sedang berolah raga dan memiliki tubuh yang sehat
c. Sentuhkan ibu jari dengan jari tengah. Mulai membayangkan
sedang bertemu dengan orang yang disukai dan memiliki
hubungan yang akrab
d. Sentuhkan ibu jari dengan jari manis. Mulai membayangkan
saat mendapat pujian dan memiliki kemampuan yang
dibanggakan
e. Sentuhkan ibu jari dengan kelingking. Mulai membayangkan
pemandangan alam yang indah dan sedang berada disana
HIPNOTIS 5 JARI
2. kenangan manis dengan orang
1. Kenang semua keadaan
yang dicintai
fisik yang menyenangkan

3. kenang semua
keberhasilan dan
prestasi

4. Kenang semua
tempat terindah yang
pernah dikunjungi,
bayangkan Anda di
sana beberapa saat.
4. Spiritual

• Diskusikan tentang keyakinan yang dianut oleh pasien


• Latih cara mengontrol ansietas sesuai keyakinan pasien
• Motivasi pasien untuk melakukannya
5. Patuh Minum Obat

• Jelaskan tentang prinsip 5 benar minum obat


• Jelaskan manfaat obat
• Jelaskan pentingnya minum obat teratur
• Jelaskan tentang pentingnya kontunitas minum obat
4. PROSES KEPERAWATAN

C. TINDAKAN KEPERAWATAN

Keluarga akan :
1. Mengenal masalah ansietas
2. Memutuskan pelayanan yang diperlukan pasien ansietas
3. Merawat pasien ansietas
4. Menciptakan suasana keluarga dan lingkungan yang aman.
5. Memantau dan membimbing pasien dalam mengatasi ansietas
6. Melakukan follow-up ke fasilitas pelayanan kesehatan secara teratur
TINDAKAN UNTUK KELUARGA
1. Bina hubungan saling percara
2. Diskusikan masalah yang dirasakan oleh keluarga dalam merawat pasien
3. Jelaskan tentang ansietas: pengertian, tanda dan gejala, akibat jika tidak diatasi
4. Diskusikan cara merawat pasien :
a. Anjurkan Keluarga untuk mendampingi Pasien
b. Beri penjelasan kegiatan apa yang dapat dilakukan keluarga pada Pasien :
tidak menambah masalah Pasien (stress) dengan sikap positif, memotivasi cara
relaksasi yang telah dilatih pada Pasien
5. Latih cara merawat pasien ansietas
6. Diskusikan perilaku pasien yang perlu dirujuk dan cara merujuk lapangan presepsi
menyempit, tidak mampu menerima informasi gelisah, tidak dapat tidur)
D. EVALUASI
1. Pasien :
a. Kecemasan berkurang
b. Melakukan cara – cara mengurangi kecemasan

2. Keluarga dapat :
a. Memahami proses terjadi kecemasan
b. Merawat Pasien dengan kecemasan
c. Kontrol Pasien ke Puskesmas
94
Daftar Pustaka

 Herdman, (2018). Nursing Diagnoses : Definitions & Classification 2018-2020


Philadelphia: NANDA International
 Satrio, K.L, Damayanti, R & Ardinata. (2015). Buku Ajar Keperawatan Jiwa .
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2KM) IAIN Radin Intan
Lampung, Lampung
 Satrio, K.L, Waluyo,A, & Fiolasari. (2018. Panduan Penegakan Diagnosis
Keperawatan: Definisi dan Pemanfaatan Area Klinik dan Pengajaran Keperawatan,
CV. Gemilang, Surabaya
 Stuart, G.W, Keliat B.A, Pasaribu, J. (2016). Prinsif dan Praktik Keperawatan
Kesehatan Jiwa Stuart, Edisi Indonesia 10, Mosby: Elsevier, Singapore, Pte.Ltd.
 Townsend, M.C. (2018). Psychiatric Mental Health Nursing Concepts of Care in
Evidence-Based Practice. 8th edition. Philadelphia: F.A. Davis Company
 Varcarolis & Halter M.J. (2018). Varcarolis’s Foundations of Psychiatric Mental
Health Nursing A Clinical Approach. 8th edition Missouri : Saunders Elsevier, USA
 Videbeck, SL,(2017). Psychiatric Mental Health Nursing 7th ed. Philadelphia :
Lippincott Williams & Wilkins
 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa
 WHO, (2018) Fact Sheet; Mental Disorder and Schizophrenia, www. who.int.
96
erdas intelektual, emosional dan spiritual
mpati dalam berkomunikasi efektif
ajin beribadah sesuai agama dan keyakinan
nteraksi yang bermanfaat bagi kehidupan
sah, Asih dan Asuh Tumbuh Kembang
dalam Keluarga & Masyarakat
rioskals@yahoo.co.id