Anda di halaman 1dari 22

Ghereetha (112016140)

Pembimbing: dr. Elfrieda Simatupang, Sp.A


 Penyakit infeksi sistemik yang bersifat akut
yang disebabkan oleh S.typhi.
 Amerika Selatan: 150/100.000/tahun
 Asia : 900/100.000/tahun
 Indonesia (2009): mencapai 80.850kasus
 Umur penderita: 3-19tahun (91%)
 5 negara Asia yang endemis tifoid: Cina,
India, Indonesia, Pakistan dan Vietnam
 Morbiditas dan mortalitas : anak usia 1-
4tahun dan paling tinggi pada bayi <3bulan
 Salmonella typhi
 Bakteri gram negatif, mempunyai flagela, tidak
berkapsul, tidak membentuk spora, fakultatif
anaerob
 Jumlah bakteri yang harus masuk untuk
menimbulkan infeksi klinis: 106-109
Mengikuti aliran S.typhi
limfe bermultipli
Bakteri mesenterika kasi
bersama bahkan melewati didalam sel
makanan/min sirkulasi sistemik fagosit
uman masuk sampai ke RES di mononukle
kedalam hati dan lien ar
mulut

Setelah
Bakteri melalui MI,
Di mencapai S.typhi
lambung: folikel melalui
banyak limfe duct.thoracicu
bakteri usus s ke sistemik
yang halus
mati

S.typhi dapat
Melekat pada sel mencapai organ
mukosa, manapun (S.typhi
Bakteri menginvasi dan punya tempat yang
yang masih menembus disukainya).
hidup dinding usus. Ekskresi di empedu
masuk ke Tempat dapat menginvasi
usus halus internalisasi: ulang dinding
Plague Pyeri usus/keluar melalui
tinja
Produksi
enterotoksin
Bakteri  cAMP
bertahan hidup meningkat
dalam aliran dalam kripta
Bakteri darah usus 
bertahan hidup keluarnya
dan elektrolit dan
bermultiplikasi air ke lumen
di makrofag intestinal
Penempelan
dan invasi Peyer’s patch
sel-sel M
Peyer’s patch
 Peran endotoksin belum jelas dalam
patogenesis
 Diduga:
 Menstimulasi makrofag dalam hati, limpa,
kelenjar limfe mesenterika  menghasilkan
sitokin  nekrosis sel, demam , depresi sstl,
kelainan darah dan stimulasi sist imunologi
(imunitas seluler lebih berperan)
Demam
Infeksi enterik
lokal
Bakteremia

Gastroen
teritis
Step-ladder temperature chart (Demam)
Nyeri kepala
Malaise
Anoreksia
Nausea
Mialgia
Nyeri perut
Radang tenggorokan
Gejala GIT
Coated tongue
Hepatomegali/splenomegali
Rose spot
Gejala
gastroint
Pemeriksaan Demam estinal
Penunjang
Pemeriksaa - Darah Ganggua
n Fisik perifer n
kesadara
- Serologi n
Anamnesis
- Biakan
Salmonella
- Radiologi
- Foto Tifoid  diagnosis pasti:
abdomen isolasi S.typhi dari darah
 Kultur (Gold Standard) dari spesimen:
 Darah (minggu pertama-awal minggu kedua)
 Tinja dan urine (minggu kedua-ketiga)
 Sumsum tulang: invasif dan sulit dilakukan
 PCR
 Serologis
 Pemeriksaan antibodi : Widal, Hemaglutinin, tes
cepat (Typhidot, TUBEX)
 Pemeriksaan antigen : ELISA
 Tes cepat (tubex dan typhidot) mendeteksi
IgM terhadap Ag spesifik OMP dan O9
lipopolisakarida S.typhi.
 Widal: mengukur Ab terhadap Ag O dan H
S.typhi
 Hematologi
 Tirah baring
 Pemenuhan kebutuhan cairan
 Nutrisi
 Pemberian antibiotik
 Kloramfenikol (DOC) selama 10-14hari atau
sampai 5-7hari setelah demam turun
100mg/kg/hari
 Ampisilin 200mg/kg/hari iv
 Amoksisilin 100mg/kg/hari PO
 Resisten kloramfenikol: sefalosporin gen.III
Seftriakson 100mg/kg/hari  1 atau 2dosis 5-7hari
Sefotaksim 150-200mg/kg/hari  3-4dosis
Sefiksim PO 10-15mg/kg/hari selama 10hari
 Tifoid kasus berat: dexametason iv disamping
antibiotik
 Monitor suhu (hari 4-5 setelah pengobatan
demam tidak reda  adakah komplikasi?
resistensi?
 Pasien dapat dipulangkan apabila tidak
demam selama 24jam tanpa antipiretik,
napsu makan baik, klinis perbaikan dan tidak
ada komplikasi.
 Intrainstestinal
 Ekstraintestinal
 Negara maju: mortalitas <1%
 Negara berkembang: mortalitas >10%
 Memperhatikan kualitas kebersihan makanan
dan minuman
 Imunisasi aktif