Anda di halaman 1dari 90

EVALUASI SEDIAAN

STERIL

Dewi Ekowati
EVALUASI SEDIAAN INJEKSI
Evaluasi Sediaan Injeksi

 Kebocoran
 Kejernihan
 Keseragaman Volume
 Keseragaman Bobot
 Pirogenitas
 Sterilitas
 Penandaan
Uji Kebocoran

1. Injeksi dengan sterilisasi pemanasan :


 Disterilkan terbalik dengan ujung yang dilebur di sebelah
bawah  wadah yang bocor akan kosong
 Untuk yang tidak dapat dibalik (misalnya injeksi tertutup
karet, karena tidak ada karet yang inert betul-betul) : panas-
panas dimasukkan ke dalam larutan biru metilen 0,1% yang
dingin  Wadah yang bocor akan berwarna biru karena
larutan biru metilen masuk kedalamnya.
2. Untuk injeksi yang tidak dipanaskan atau dibuat
secara aseptis dan injeksi yang berwarna 
memasukkannya dalam eksikator, kemudian
divakumkan  Wadah yang bocor akan terhisap
keluar isinya.
Uji Kejernihan

 Diperiksa dengan melihat


wadah pada latar belakang
hitam-putih, disinari dari
samping.
 Kotoran berwarna akan
kelihatan pada latar belakang
putih, yang tidak berwarna akan
kelihatan pada latar belakang
hitam.
Uji Keseragaman Bobot

 Keseragaman bobot untuk injeksi yang sebelum dipergunakan


dilarutkan atau disupensikan terlebih dahulu.
 Cara : hilangkan etiket 10 wadah, cuci bagian luar wadah
dengan air, keringkan. Timbang satu persatu dalam keadaan
terbuka. Keluarkan isi wadah, cuci wadah dengan air
kemudian etanol 95%, keringkan pada suhu 105o hingga bobot
tetap, dinginkan, timbang satu per satu. Bobot isi wadah tidak
boleh menyimpang lebih dari batas yang tertera dalam daftar
berikut, kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih
dari 2 kali batas yang tertera.
Bobot yang tertera pada etiket Batas penyimpangan (%)
tidak lebih dari 120 mg ± 10
antara 120 dan 300 mg ± 7,5
300 mg atau lebih ± 5
Uji Keseragaman Volume
 Obat harus sesuai dengan yang dinyatakan pada etiket 
farmakope menganjurkan volume isi netto tiap wadah harus
sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan. Kelebihan
volume yang dianjurkan tertera dalam daftar di bawah ini :

Volume tambahan yang dianjurkan


Volume pada etiket
Cairan encer Cairan kental
0,5 ml 0,10 ml 0,12 ml
1,0 ml 0,10 ml 0,15 ml
2,0 ml 0,15 ml 0,25 ml
5,0 ml 0,30 ml 0,50 ml
10,0 ml 0,50 ml 0,70 ml
20,0 ml 0,60 ml 0,90 ml
30,0 ml 0,80 ml 1,20 ml
50,0 ml atau lebih 2% 3%
Uji Keseragaman Kadar

 Terlebih dahulu dilakukan uji


identitas untuk bahan aktif
obat secara kimia, kemudian
pengujian kadar dapat
dilakukan dengan volumetric,
spektrofotometer, HPLC atau
alat lain sesuai standar
Farmakope
Penandaan
Yang harus tercantum pada etiket :
 Nama sediaan dalam huruf yang berbeda dari huruf lain.
 Kadar zat utama dalam% b/v, jika sediaan berbentuk serbuk untuk injeksi,
maka bobot sediaan dan volume serta jenis pelarut yang dibutuhkan juga
pernyataan harus segera digunakan setelah dilarutkan.
 Nama dan persentase semua zat yang ditambahkan untuk stabilitas obat.
 Kata S T E R I L
 Nama pembuat atau pabrik dan nomer kodenya, serta tanggal
pembuatannya atau nomor batch.
 Obat suntik yang dimaksud untuk pengobatan hewan, harus dinyatakan
demikian.
 Injeksi berupa suspense : kocok dulu.
 Injeksi yang mengandung antibiotika : kesetaraan bobot terhadap UI dan
daluwarsa.
Uji pH

 Bertujuan menetapkan pH
sesuai monografi.
 Pengukuran : menggunakan
pH meter atau kertas
indikator universal.
Homogenitas

 Pengujian homogenitas
suspense dan emulsi
 Suspensi  viscometer
Brookfield
 Emulsi  visual
Uji Sterilitas

 Uji sterilitas ditujukan untuk menganalisis senyawa-


senyawa, sediaan-sediaan, atau alat-alat kesehatan yang
berdasarkan farmakope dipersyaratkan steril.
 Hasil uji dikatakan memenuhi syarat  jika tidak
ditemukan adanya kontaminasi mikroorgnisme di dalam suatu
sedian uji selama kondisi pengujian.
Uji Sterilitas
1. Tindakan Pencegahan terhadap Kontaminasi Mikroba
 Pengujian sterilitas dilaksanakan pada kondisi aseptik.
 Untuk mencapai kondisi tersebut, lingkungan pengujian
harus dibuat sama seperti uji sterilitas dilakukan.
 Tindakan mencegah kontaminasi tidak boleh
mempengaruhi mikroba yang ada dalam pengujian.
Uji Sterilitas

2. Media dan Suhu Inkubasi


 Media-media yang digunakan dalam pengujian harus diuji
terlebih dahulu  sterilitas dan fertilitasnya (kemampuan
untuk menumbuhkan mikroorganisme).
 Media yang digunakan untuk pengujian sterilitas :
a. Media Cair Tioglikolat
b. SoyaBean-Casein Digest Medium
c. Media untuk Golongan Penisilin dan Sefalosporin
Uji Sterilitas
a. Media Cair Tioglikolat
 Terutama digunakan untuk pertumbuhan bakteri anaerob,
namun bisa juga digunakan untuk pertumbuhan bakteri
aerob.
 Diinkubasi pada suhu 30-35o C.
 Untuk sediaan yang mengandung pengawet raksa yang tidak
bisa diuji menggunakan metode penyaringan membran,
Media Cair Tioglikolat diinkubasi pada suhu 20-25oC
sebagai pengganti SoyaBean-Casein Digest Medium yang
telah tervalidasi yang tertera pada uji Fertilitas Anaerob,
Aerob, dan Kapang.
Uji Sterilitas

b. SoyaBean-Casein Digest Medium


 Media ini sesuai untuk pertumbuhan kapang dan bakteri aerob.
 Media ini diinkubasi pada suhu 22,5±2,5o
Uji Sterilitas

c. Media untuk Golongan Penisilin dan Sefalosporin


 Modifikasi pembuatan media, baik media Masukkann
SoyaBean-Casein Digest Medium dan Media Cair
Tioglikolat yaitu dengan memasukkan secara aseptic pada
tiap wadah media sejumlah β-laktamase yang diperlukan
untuk menginaktifkan sejumlah antibiotik, menggunakan
sediaan β-laktamase yang sebelumnya telah diuji inaktivasi
daya hambat dari penisilin atau sefalosporin
Uji Sterilitas

 Media dikatakan steril dan sesuai untuk pengujian jika


tidak terdapat kontaminasi mikroorganisme di dalam
media tersebut setelah masa inkubasi selama 14 hari.
Uji Sterilitas
 Uji Fertilitas untuk Aerob, Anaerob dan Kapang
 Lakukan uji fertilitas terhadap tiap lot media siap pakai dari tiap bets
dari media yang dibuat menggunakan media kering atau dari
bahannya.
 Media cair Tioglikolat : kedalam sejumlah media terpisah
dinokulasikan dg Clostridium sporogenes, Pseudomonas
aeruginosa, dan Staphylococcus aureus (tidak lebih dari 100 koloni).
 Media “Soybean Casein Digest Medium” : media diinokulasikan dg
Aspergillus brasiliensis, Bacillus subtilis dan Candida Albicans
(tidak lebih dr 100 koloni).
 Inkubasi dilakukan tidak lebih dari 3 hari bakteri & tidak lebih
dari 5 hari kapang.
 Media dapat digunakan jika terlihat pertumbuhan mikroba yang
jelas.
Uji Sterilitas
 Beberapa cara untuk menghilangkan aktivitas
bakteriostatik/fungistatik dalam sampel adalah:
a. Pemberian zat penetral steril
 Misalnya penambahan enzim beta laktamase pada
sediaan yang mengandung antibiotika golongan penisilin
dan sefalosporin.
b. Pengenceran
 Dengan pengenceran sampel dengan larutan pengencer
yang steril sehingga konsentrasi yang dihasilkan tidak
lagi memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan
mikroba uji.
c. Filtrasi Membran
 Dengan filtrasi menggunakan membran diharapkan
larutan yang mengandung zat bakteriostatik/fungistatik dapat
lolos melewati membrane sementara mikroba dapat bertahan
pada membran.
Uji Sterilitas

 Jumlah bahan yang yang diuji:


 Kecuali dinyatakan lain, gunakan jumlah wadah sesuai yang
tertera pada tabel berikut:
Uji Sterilitas
Terdapat dua cara pengujian sterilitas:
a. Penyaringan membrane
 Sampel cairan dilewatkan ke suatu membran steril yang
memiliki ukuran tertentu yang dapat menahan lewatnya
bakteri  Membran tsb kemudian diinokulasikan ke
media pengujian.
 Penyaringan Membran digunakan untuk sampel yang sesuai 
sediaan yang mengandung air dan dapat disaring, sediaan yang
mengandung alkohol atau minyak, dan sediaan yang dapat
dicampur dengan atau yang larut dalam pelarut minyak,
dengan ketentuan bahwan pelarut tidak mempunyai efek
antimikroba pada kondisi pengujian.
 Gunakan penyaring membran dengan porositas tidak lebih
dari 0,45µm yang telah terbukti efektif menahan mikroba.
 Penyaring selulosa nitrat  larutan yang mengandung air,
minyak dan larutan yang mengandung alcohol berkadar
rendah.
 Penyaring selulosa asetat  larutan mengandung alcohol
berkadar tinggi.
 Cairan pengencer dan pembilas untuk penyaringan membrane
1. Cairan A
 Larutkan 1 g peptic digest of animal tissue dalam air hingga 1
liter, jika perlu saring atau sentrifus hingga jernih, atur pH
7,1±0,2. Bagikan ke dalam wadah dan sterilisasi menggunakan
proses yang telah divalidasi
2. Cairan D
 Untuk setiap 1 liter cairan A tambahkan 1 mol polisorbat
80 P, atur pH hingga 7,1±0,2, bagikan ke dalam wadah dan
sterilisasi menggunakan proses yang telah divalisasi. Gunakan
cairan ini untuk bahan uji yang mengandung lesitin atau
minyak, atau untuk alat kesehatan yang beretiket lumen
steril.
3. Cairan K
 Larutkan 5 g peptic digest of animal tissue; 3 g beef
axtract dan 10 g polisorbat 80 P, dalam air hingga 1 liter.
Atur pH hingga setelah steril pH 6,9±0,2.
b. Cara Pengujian dengan Inokulasi Langsung
 Sampel berupa sediaan obat atau alat kesehatan langsung
diinokulasikan ke media pengujian. Pindahkan sejumlah
sediaan uji ke dalam media hingga volume sediaan tidak
lebih dari 10% volume media, kecuali dinyatakan lain.
 Jika sediaan uji mempunyai aktivitas antimikroba,
lakukan uji setelah dinetralisasi
Uji Sterilitas
 Larutan minyak
 Gunakan media yang telah ditambahkan bahan pengemulsi
yang sesuai misal polisorbat 80 P dengan konsentrasi 10 g per
liter.

 Salep dan Krim


 Mengencerkan lebih kurang 1 dalam 10 dengan bahan
pengemulsi yang sudah dipilih ke dalam pengencer steril
yang sesuai.
 Pindahkan sediaan yang telah diencerkan ke dalam
media yang tidak mengandung bahan pengemulsi 
Inkubasi selama 14 hari.
Uji Sterilitas

 Zat Padat
 Ambil sejumlah sediaan dalam bentuk kering padat (atau
yang terlebih dahulu dibuat suspensi dalam pengencer steril
dalam kemasan langsung).
 Pindahkan bahan yang diperoleh ke dalam 200 ml media cair
tioglikolat dan campur. Dengan cara yang sama pindahkan
juga ke dalam 200 ml Soybean Casein Digest Medium dan
campur.
Uji Sterilitas
 Pengamatan dan Penafsiran Hasil Uji
 Pada interval waktu tertentu dan akhir periode
inkubasi, amati secara visual adanya pertumbuhan mikroba
dalam media.
 Jika bahan uji menimbulkan kekeruhan pada media
sehingga tidak dapat ditetapkan secara visual ada atau
tidaknya pertumbuhan mikroba, 14 hari sejak dimulai
inkubasi, pindahkan sejumlah media ke dalam media segar
yang sama, kemudian inkubasi bersama-sama tabung awal
selama tidak kurang dari 4 hari.
 Jika tidak terjadi pertumbuhan mikroba, maka bahan uji
memenuhi persyaratan sterilitas.
 Jika terbukti terjadi adanya pertumbuhna mikroba, maka
bahan uji tidak memenuhi syarat sterilitas, kecuali dapat
ditunjukkan bahwa uji tidak absah disebabkan oleh hal yang
tidak berhubungan dengan bahan uji.
 Uji dikatakan tidak absah jika satu atau lebih kondisi dibawah
ini dipenuhi:
 Data pemantauan mikrobiologi terhadap fasilitas uji
sterilitas menunjukkan ketidaksesuaian.
 Pengkajian prosedur uji yang digunakan selama pengujian
menunjukkan ketidaksesuaian
 Pertumbuhan mikroba ditemukan pada control negative
 Setelah dilakukan identifikasi mikroba yang diisolasi
dari hasil uji, pertumbuhan mikroba dapat dianggap
berasal dari kesalahan pada bahan uji, atau teknik pengujian
yang digunakan pada prosedur uji sterilitas.
 Jika pengujian dinyatakan tidak absah, maka lakukan uji
ulang dengan jumlah dan bahan yang sama dengan uji
awal.
 Jika ditemukan pertumbuhan mikroba pada uji ulang, maka
sampel tidak memenuhi uji syarat sterilitas.
Pirogen
 Pirogen  kata pyro  artinya keadaan yang berhubungan
dengan panas, dan kata gen  artinya membentuk atau
menghasilkan
 Pirogen : senyawa yang dapat menyebabkan kenaikan suhu
tubuh akibat penggunaan produk farmasi yang diberikan secara
intravena.
 Uji pirogen  untuk membatasi risiko reaksi demam pada
tingkat yang dapat diterima oleh pasien pada pemberian
sediaan injeksi.
Sifat Pirogen
 Termostabil, sehingga hanya dapat dihilangkan dengan
pemanasan pada suhu 650oC selama 1 menit.
 Larut dalam air.
 Tidak dipengaruhi oleh bakterisida biasa.
 Tidak menguap.
 Berat Molekul (BM) antara 15.000-4.000000.
 Ukuran umumnya 1-50 millimikron.

25/2/2009
Jenis Pirogen

 Pirogen endogen
 Pirogen endogen adalah faktor-faktor yang berasal dari
dalam tubuh kita sendiri sebagai reaksi kekebalan melawan
kuman penyakit yang masuk ke tubuh.
 Misalnya:
- interleukin-1 (IL-1)
- interleukin-6 (IL-6)
- alpha-interferon, dan
-tumor necrosis factor (TNF)

48 25/2/2009
Jenis Pirogen
 Pirogen eksogen
 Pirogen eksogen merupakan faktor eksternal tubuh yang
menyebabkan gangguan pada fungsi tubuh manusia.
 Misalnya bagian dari sel bakteri dan virus. Selain itu, bisa
juga berupa zat racun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri
atau virus tertentu.

49 25/2/2009
Sejarah Uji Pirogen

 Bacterial endotoxin test (BET) merupakan salah satu uji yang


penting terhadap produk parenteral dan alat kesehatan
 1912 : uji pirogen dilakukan dengan metode kelinci (Rabbit
test)
 Digunakan dalam USP XII pada tahun 1942 sampai 40 tahun
kemudian
 1980 : metode baru diterapkan yaitu Limulus amoebocyte
lysate (LAL) test
Bahan yang perlu uji pirogen
 Sediaan parenteral
 Peralatan dan
perlengkapan kesehatan
yang mengalami kontak
langsung dengan darah
dan cairan spinal
 Bahan baku produksi
sediaan steril
Uji Pirogen

 Pengujian meliputi pengukunan kenaikan suhu kelinci setelah


penyuntikan sediaan uji secara intravena dan ditujukan untuk
sediaan yang dapat ditoleransi oleh kelinci percobaan pada
dosis tidak lebih dari 10 ml per kg yang disuntikkan secara
intravena dalam periode tidak lebih dari 10 menit
 Alat dan Pengencer :
 Alat suntik, jarum dan alat gelas dibebaskan dari pirogen
dengan pemanasan pada 250° selama tidak kurang dari 30
menit atau dengan metode lain yang sesuai. Lakukan uji
pirogen pada pengencer dan larutan untuk pencuci atau
pembilas alat secara berkala.
 Bila digunakan Injeksi Natrium Klorida sebagai pengencer,
gunakan larutan yang mengandung natrium klorida 0,9%.
 Rekaman Suhu
 Gunakan alat pendeteksi suhu yang teliti seperti thermometer
klinik atau alat termistor atau alat sejenis yang telah dikalibrasi
untuk menjamin ketelitian ± 0,1o pembacaan maksimum
dapat dicapai kurang dari 5 menit.
 Masukkan alat pendeteksi suhu  rektum kelinci tidak kurang
dari 7,5 cm
 Hewan Uji
 Gunakan kelinci dewasa yang sehat.
 Tempatkan kelinci satu ekor dalam satu kandang dalam
ruangan suhu 20° - 23°, Perbedaan suhu tidak lebih dari ±3°
 Kelinci tidak boleh digunakan untuk uji pirogen lebih dari
sekali dalam waktu 48 jam, atau sebelum 2 minggu untuk uji
pirogen yang menunjukkan kenaikan suhu 0,6° atau lebih, atau
telah digunakan untuk uji sediaan yang dinyatakan pirogenik.
 Prosedur:
 Lakukan pengujian dalam ruang terpisah yang khusus untuk uji
pirogan
 Kelinci tidak diberi makan selama waktu pengujian, Boleh
diberi minum tiap saat tapi terbatas, apabila pengujian
menggunakan termistor, masukkan kelinci kedalam kotak
penyekap, sehingga kelinci tertahan dengan letak leher yang
longgar.
 Tidak lebih dari 30 menit sebelum penyuntikan larutan uji,
tentukan “suhu awal” kelinci  untuk menentukan kenaikan
suhu. Suhu tiap kelinci tidak boleh lebih dari 1°c dan suhu
setiap kelinci tidak boleh > 39,8°.
 Kecuali dinyatakan lain pada masing-masing monografi,
suntikkan 10 ml larutan uji per kg berat badan kedalam vena
telinga setiap tiga kelinci, lakukan penyuntikan dalam waktu 10
menit.
 Lakukan penyuntikan setelah larutan uji dihangatkan pada
suhu 37o±2o .
 Rekam suhu berturut-turut antara jam ke-1 dan ke-3 setelah
penyuntikan dengan selang waktu 30 menit.
 Interpretasi Hasil & Lanjutan
 Setiap penurunan suhu dianggap nol.
 Sediaan memenuhi syarat apabila tidak ada satupun kelinci
yang menunjukkan kenaikan suhu 0,5° atau lebih.
 Bila ada kelinci yang menunjukkan kenaikan suhu 0,5° atau
lebih, lanjutkan uji menggunakan lima ekor kelinci lain.
Sediaan memenuhi syarat bebas pirogen bila, tidak lebih dari 3
dari 8 ekor masing-masing menunjukkan kenaikan suhu 0,5°
atau lebih dan jumlah kenaikan suhu maksimum 8 kelinci tidak
melebihi 3,3o•
Uji Endotoksin

 Endotoksin  toksin yang dihasilkan oleh bakteri gram


negatif.
 Uji endotoksin bakteri : uji untuk mendeteksi atau
mengkuantitasi endotoksin bakteri yang mungkin terdapat
dalam sampel yang diuji.
Sumber Endotoksin

 Pada proses sterilisasi produk parenteral (menggunakan panas),


bakteri gram negative yang mungkin ada dalam produk, akan
mati dan lisis terjadi, endotoksin akan terlepas dan tetap tinggal
di dalam produk
 Sifatnya stabil terhadap panas (heat-stable)
 Pirogen : senyawa yang menyebabkan kenaikan suhu tubuh
akibat penggunaan produk farmasi yang diberikan secara
intravena
 Semua endotoksin bersifat pirogen, tetapi tidak semua senyawa
pirogen itu merupakan endotoksin
 Endotoksin bakteri terdiri dari Lipopolisakarida (LPS),
umumnya terikat pada protein dan fosfolipid.
 LPS ini menyusun membran luar bakteri gram negatif.
 Efek endotoksin pada tubuh:
 Demam
 Aktivasi sistem sitoksin
 Rusaknya sel-sel endotelial
 Permeabilitas pembuluh darah berubah sehingga
menyebabkan turunannya tekanan darah
LAL-tes

 The Limulus amebocyte lysate (LAL) test adalah uji in vitro


untuk deteksi dan analisis kuantitatif endotoksin bakteri.
 Metode analisis LAL yang dilakukan mencakup teknik gel-clot,
turbidimetri kinetik dan kromogenik (kolorimetri)
Limulus Amebocyte Lysate

 Lisat diperoleh dari ekstrak air amebosit dalam kepiting ladam


kuda (Limulus polyphemus)
 Penggunaan LAL untuk deteksi endotoksin berawal dari
pengamatan Bang (1956) bahwa infeksi bakteri gram negatif
pada Limulus Polyphemus  koagulasi intravaskular yang
parah.
 Th 1964, Levin and Bang kemudian menunjukkan bahwa
penggumpalan itu merupakan hasil reaksi antara endotoksin
dan protein yang dapat menggumpal dalam amubosit.
Limulus polyphemus
(horseshoe crab)
Prinsip LAL-tes

 Uji LAL memanfaatkan dasar respon imun dari kepiting


landam kuda terhadap invasi bakteri gram negatif.
 Bahan-bahan yang terkandung dalam amubosit kepiting landam
kuda terdiri dari berbagai protein, faktor, kofaktor dan ion-ion
yang berinteraksi menyebabkan koagulasi
 Endotoksin Gram negatif mengkatalisis aktivasi proenzim
dalam lisat amubosit Limulus. Kecepatan awal aktivasi
ditentukan oleh konsentrasi endotoksin
 Selanjutnya enzim yang diaktivasi (enzim koagulase)
menghidrolisis ikatan spesifik dalam suatu protein penggumpal
(koagulogen) yang juga terdapat pada lisat amubosit Limulus
menghasilkan koagulin.
 Sekali terhidrolisis, koagulin yang dihasilkan bergabung dengan
sendirinya dan membentuk suatu gumpalan/bekuan seperti gel
 Metode LAL-tes :
1. Teknik pembentukan jendal gel
2. Teknik fotometrik.
Teknik fotometrik mencakup :
 Metode turbidimetni didasarkan  pembentukan
kekeruhan setelah penguraian substrat endogen,
 Metode kromogenik didasarkan  pembentukan warna
setelah terjadi penguraian kompleks kromogen-peptida
sintetik.
Kelebihan Uji Pirogen

 Metode ini telah lama dikenal dan digunakan untuk menguji


berbagai sediaan dan terbukti memberikan hasil memuaskan;
 Kelinci memiliki sensitivitas terhadap substansi pirogenik yang
mirip dengan manusia.
 Metode kelinci mampu mendeteksi semua pirogen
termasuk endoktoksin sedangkan LAL tidak.
Kelemahan Uji Pirogen

 Memerlukan pemeliharaan dan perawatan hewan dan


laboratorium yang lebih intensif
 Sensitivitas dipengaruhi oleh musim, kegaduhan,
kegelisahan, makanan dan lain sebagainya. Kegelisahan
kenaikan suhu relatif tinggi, sehingga mengacaukan
interpretasi hasil
 Variabilitas biologis  Respon setiap kelinci terhadap
substansi yang sama belum tentu sama,
Kelebihan LAL-tes

 Penanganan praktis
 Pelaksanaan dan persiapan cepat
 Personil dan ruangan lebih kecil
 Sensitifitas terhadap endotoksin mencapai 0,01 — 0,04 ng/ml
atau lebih kecil
Kelemahan LAL-tes

 LAL mendeteksi endotoksin dan tidak mampu mendeteksi


pirogen eksogen lain
 LAL tidak dapat digunakan untuk memeriksa beberapa sediaan
secara langsung, seperti Sediaan yang tidak dapat dinetralkan
menjadi pH 6—7, dan Sediaan yang mengandung zat
penghambat pembentukan gel (Ca2+, tetrasiklin,
kloramfenikol,dll)
EVALUASI SALEP MATA
Evaluasi Salep Mata

1. Uji Kebocoran
2. Uji Partikel Logam
Uji Kebocoran

1. Pilih 10 tube salep mata, bersihkan bagian luar tube dengan


kain penyerap
2. Letakan tube pada posisi horizontal di atas kertas penyerap
dalam oven suhu 60 ±3° C selama 8 jam
3. Tidak boleh terjadi kebocoran selama atau setelah pengujian
selesai. Jika ada kebocoran pada 1 tube, percobaan diulangi
dengan tambahan 20 tube. Uji memenuhi syarat bila dalam 10
tube tidak ada yang bocor, atau tidak lebih dari 1 tube dari 30
tube yang diuji.
Uji Partikel Logam

 Keluarkan isi 10 tube, masukkan masing-masing ke dalam


cawan Petri terpisah ukuran 60 mm, alas datar, jernih dan
bebas goresan.
 Tutup cawan, panaskan pada suhu 85o selama 2 jam 
meleleh sempurna.
 Biarkan masing-masing mencapai suhu kamar dan membeku
 Angkat tutup, balikkan cawan Petri sehingga berada di bawah
mikroskop, pembesaran 30 kali
 Hitung jumlah partikel logam yang berukuran 50 µm atau lebih
besar pada setiap dimensi
 persyaratan :
 jika jumlah partikel dari 10 tube tidak lebih dan 50 partikel dan
jika tidak lebih dari 1 tube mengandung 8 partikel.
 Jika persyaratan tidak dipenuhi, ulangi uji dengan penambahan
20 tube lagi: persyaratan dipenuhi jika jumlah partikel logam
yang berukuran 50 µm atau lebih besar pada tiap dimensi dari
30 tube tidak lebih dan 150 partikel dan jika tidak lebih dari 3
tube masing-masing mengandung 8 partikel.
EVALUASI TETES MATA
Evaluasi sediaan obat tetes mata

1. Sterilitas
• Memenuhi persyaratan uji sterilitas seperti yang tertera pada FI

2. Kejernihan
• Dengan alat khusus, tidak terlihat adanya partikel asing
3. Volume
 Volume isi netto setiap wadah harus sedikit berlebih dari
volume yang ditetapkan. Kelebihan volume bisa dilihat di tabel.
4. Stabilitas bahan aktif
 Harus dapat dipastikan bahwa bahan aktif stabil pada proses
pembuatan khususnya pada proses sterilisasi dan stabil pada
waktu penyimpanan sampai waktu tertentu.
 Artinya sampai batas waktu tersebut kondisi obat masih dapat
memenuhi persyaratan.
5. Kemampuan difusi bahan aktif dari sediaan
 Sesuai dengan bahasan tentang pengaruh pH terhadap
penetrasi bahan aktif dari sediaan OTM, maka koefisien partisi
bahan aktif dalam sediaan merupakan hal yang sangat penting
 Evaluasi terhadap kemampuan difusi bahan aktif dari sediaan
OTM berlangsung beberapa tahap:
 Kemampuan perubahan pH sediaan OTM sebagai akibat
penambahan sejumlah volume tertentu larutan pH 7,4
 Kecepatan difusi bahan aktif dari sediaan setelah
penambahan sejumlah volume tertentu larutan dengan pH
7,4