Anda di halaman 1dari 31

Pleno 2

Kelompok 4
Anggota kelompok

● Hermanus Jomathan L ● Irgy Priejenka A


(030.18.036) (030.18.042)
● Hernita Putri Ananda ● Juniar Frananda S T
(030.18.037) (030.18.043)
● Himawan Jodie Sukma ● Kazya Kweri
(030.18.038) (030.18.044)
● Ichsan Budi Sadewo ● Kezya Indira Pramesti
(030.18.040) (030.18.045)
● Irdina Eka Irsalina ● Klara Devina Vanessa
(030.18.041) (030.18.046)
● Lantika Dhia Nareswari
(030.18.047)
Judul : Hiks! Nenekku Lumpuh!

SKENARIO :

Nenek siti, umur 70 tahun, jatuh dari dudukan kloset kamar mandi, dan tidak bisa berdiri lagi
walau dibantu oleh anak cucunya. Timbul bengkak dan rasa nyeri pada daerah panggul
kanannya. Sebelumnya nenek siti tidak pernah sakit seperti ini.

KATA KUNCI : Umur, tidak bisa berdiri lagi, bengkak, nyeri, daerah panggul.
klarifikasi istilah
1. bengkak : perbesaran abnormal sementara pada bagian atau daerah tubuh tertentu
2. lumpuh : kehilangan atau gangguan fungsi motorik pada suatu bagian tubuh akibat lesi
pada mekanisme saraf dan otot
3. nyeri : mekanisme protektif tubuh untuk menimbulkan kesadaran terhadap kenyataan
bahwa sedang atau akan terjadi kerusakan
4. panggul : bagian inferior batang tubuh yang disebelah lateral dibatasi oleh 2 tulang
pinggul dan posterior oleh tulang sacrum dan coccigis
identifikasi masalah
1. siti 70 tahun jatuh dari dudukan kloset, tidak mampu berdiri walaupun dibantu oleh
cucunya
2. timbul bengkak dan nyeri pada daerah panggul
3. tidak ada riwayat penyakit sebelumnya
siti jatuh dari tidak anatomi
70 tahun kloset bisa panggul
bangun

nyeri, jenis
bengkak fraktur fraktur
daerah panggul panggul
panggul

histologi
karena tulang
osteoporosis

faktor
definisi klasifikasi etiologi epidemiologi etiologi patofisiologi diagnosis
resiko
Learning objective

● Definisi Osteoporosis ● Klasifikasi Fraktur panggul


● Klasifikasi Osteoporosis ● Anatomi panggul
● Etiologi Osteoporosis ● Histologi panggul
● Epidemiologi ● Patogenesis
● Fraktur Resiko ● Mineralisasi tulang
● Patogenesis
● Tatalaksana fraktur panggul
● Tahap Diagnosis
● Pencegahan fraktur panggul
● Gejala Klinis
● Tatalaksana
● Pencegahan
Anatomi panggul
Vaskularisasi
Persarafan
Histologi tulang
Mineralisasi
Tulang
osteoporosis
penyakit sistemik yang ditandai oleh penurunan densitas massa
tulang dan pembentukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang
menjadi rapuh dan mudah patah.
Epidemiologi

● Pada tahun 2009, terdapat 200 juta penderita osteoporosis di dunia termasuk 1,6 juta
fraktur panggul.
● Dari data Poslitbank Gizi Depkes RI tahun 2004, 14 provinsi di Indonesia mencapai
tingkat yang perlu diwaspadai yaitu 19,7%
Etiologi

1. Sel Osteoblast tidak berfungsi dengan normal, karena


gangguan
2. Ketidakseimbangan aktivitas osteoblast dan osteoklast
(aktivitas osteoklast > osteoblast) sehingga massa tulang
menurun
3. Mengkonsumi paratiroid hormon dalam dosis besar
4. Mengkonsumis obat-obatan kortikosteroid dalam jangka
panjang
5. Merokok dan mengkonsumsi alkohol
Gejala Klinis

1. Massa tulang menurun, terdapat nyeri dan ditemukan oedem


2. Merasakan sakit punggung (normal: 4-6 minggu) dan tinggi
badan menurun (bungkuk)
3. Mudah mengalami fraktur (rapuh), terutama pada vertebra,
columna femoris, pergelangan tangan
4. Fraktur yang terjadi ditandai dengan ketidakmampuan untuk
berdiri atau bertumpu kembali
Klasifikasi osteoporosis

Osteoporosis dibedakan menjadi osteoporosis primer (tipe I, seperti pasca menopause dan
sekunder (Tipe II disebut osteoporosis senilis)

● Osteoporosis tipe 1, diawali pada penurunan kadar estrogen (pada menopause)


sehingga terjadi perubahan aktivitas osteoblas dan osteoklas, penurunan absorpsi dan
reabsorpsi kalsuim (hipokalsemia), serta pelepasan mediator inflamasi oleh sel-sel
mononuklear dan endotel yang turut meningkatkan aktifitas osteoklas.
● Osteoporosis tipe 2, lebih disebabkan penurunan hormon secara keseluruhan (growth
factor, estrogen, vitamin D), gangguan absopsi di usus, serta penurunan aktvitas fisik
Yang berujung pada penurunan fungsi osteoblas (lebih dominan) dan penigkatan turn-
over tulang.
Patofisiologi
Diagnosis
1. Anamnesis
● Melihat adanya faktor risiko dan predisposisi osteoporosis.
● Riwayat haid (termasuk usia menarke dan menopause, keteraturan haid. riwayat
kehamilan) pada perempuan.
● analisis gizi
● riwayat cedera/jatuh

1. Pemeriksaan Fisik:
● Deformitas tulang
● Nyeri spina
● Pemeriksaan tanda-tanda kelainan muskuloskeletal lainnya
● Pemeriksaan anthropometri
● Melihat gaya berjalan
3. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan laboratorium: darah perifer lengkap untuk skrining penyakit dasar. kalsium urin
24 jam. fungsi ginjal, fungsi hati. dan kadar TSH.
2. Pemeriksaan biokimia tulang: kalsium total serum. ion kalsium, kadar fosfor serum, hormon
paratiroid. dan vitamin D.
3. Pemeriksaan radiologis X-ray:
● terutama untuk menyingkirkan kelainan tulang lain dan mencari adanya fraktur
● Pada Osteoporosis dapat dijumpai karakteristik berikut: gambaran tulang menjadi lebih
lusen, trabekulasi menjadi jarang dan kasar. penipisan korteks. serta pada korpus vertebra
akan terjadi perubahan bentuk seperti trabekulasi komponen vertikel lebih dominan dan
bentuk menjadi lebih pipih (paling sering bagian anterior korpus atau sentral). 4
1. Pemeriksaan densitas massa tulang (densitometri) dengan alat dual x-ray absorptiometry
(DXA):
● Memprediksi risiko fraktur dan monitor terapi.
● Pada pengukuran BMD dengan DXA akan didapatkan nilai skor T dan skor Z.
a. Skor T: perbandingan nilai BMD pasien dengan BMD rata-rata orang muda normal
b. Skor Z: perbandingan nilai BMD pasien dengan BMD rata-rata orang seusia pasien
Faktor Resiko
1. Usia
2. Penurunan kalsitonin
3. Kurangnya kegiatan aktivitas fisik
4. Penurunan absorbsi Ca
5. Kurang gizi dan merokok
6. Postur tubuh
7. Lifestyle
8. Jenis Kelamin
9. Lingkungan
Klasifikasi
Fraktur Pelvis
menurut Tile
Tatalaksana Fraktur pelvis
Tatalaksana
1. Medikamentosa
a. Terapi substitusi hormonal
- Peremuan pascamenopause : Estrogen terkonjugasi 0,3125-1,25 mg/hari per
oral dikombinasikan dg medroksiprogesteron asetat 2,5-10 mg/hari per oral
setiap hari secara kontinu
- Perempuan pramenopause : Estrogen terkonjugasi 0,3125-1,25 mg/hari per
oral diberikan pada siklus haid. Sedangkan medroksiprogesteron asetat 2,5-
25 siklus haid. Keduanya diberhentikan pd hari 26-28 siklus haid
b. SERM (Selective Estrogen Receptor Modulators)
- Raloksifen : golongan antiestrogen yg memiliki efek seperti estrogen pd
tulang dan lipid. Dosis disarankan 60 mg/hari per oral. kontraindikasi :
kehamilan
c. Bifosfonat
- Menghambat kerja osteoklas
d. Strontium Ranelat
- Memiliki efek ganda : meningkatkan kerja osteoblas dan menghambat kerja
osteoklas. Dosis diberikan 2 gram/hari per oral, diberikan malam hari
e. Kalsium
- Yang direkomendasikan : kalsium karbonat sediaan 500 mg 2-3 kali/hari per
oral
2. Non Medikamentosa

a. Edukasi penyakit
- Anjuran untuk aktivitas fisik yg teratur untuk mengurangi risiko jatuh
- Menjaga asupan kalsium 1000-1500 mg/hari, dpt diberikan suplemen bila
perlu
- Berhenti merokok, minum alkohol, serta mengangkat benda berat
a. Latihan fisik dan rehabilitasi
- latihan fisik teratur untuk melatih kekuatan otot dan meningkatkan
remodeling tulang
- Dapat digunakan tongkat atau alat bantu berjalan untuk orangtua yg
terganggu keseimbangannya
Referensi
1. National Osteoporosis Foundation. Clinician’s Guide to Presentation and Treatment of
Osteoporosis. Washington DC: NDF.2014
2. Netter, Frank. Atlas of Human Anatomy. 25th Edition. Jakarta:EGC. 2014
3. Syam Y, Noersasongko, Sunaryo. Fraktur Akibat Osteoporosis. Jurnal e-Clinic. 2014.
4. Mescher, Anthony.Junqueira's Basic Histology Text & Atlas .14th Edition.McGraw-Hill
Medical.2016.
5. Rahmadani. Faktor-faktor Resiko Osteoporosis dan Upaya Pencegahannya. Jurnal
Kesehatan Masyarakat..2010.
6. Gartner. Atlas of Histology 3rd Edition . Singapore: Elsevier. 2014.