Anda di halaman 1dari 12

Monyet ekor

panjang
(Macaca
fascicularis
Raffles)
klasifikasi
 Monyet ekor panjang merupakan mamalia dengan
klasifikasi sebagai berikut (Napier dan Napier, 1967):
 Filum : Chordata
 Sub Filum : Vertebrata
 Kelas : Mammalia
 Ordo : Primata
 Sub Ordo : Anthropoidae
 Famili : Cercopithecidae
 Sub Famili : Cercotihecidae
 Genus : Macaca
 Spesies : Macaca fascicularis Raffles
 Nama lokal : Monyet ekor panjang
PENDAHULUAN
Monyet ekor panjang merupakan jenis monyet yang paling banyak ditemukan di hutan –
hutan Indonesia, habitatnya tersebar luas di pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali
sampai Flores. monyet ekor panjang dalam peraturan perundangan di indonesia belum
termasuk sebagai satwa liar yang dilindungi, The International Union for the
Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) memasukkan monyet ekor
panjang dalam kategori Least Concern (LC) dan Convention on International Trade in
Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) memasukkan monyet ekor panjang
dalam kategori appendix II yang berarti satwa tersebut belum terancam punah, namun
dapat terancam punah apabila pengendalian dalam pemanfaatanya tidak dikendalikan.
punah, namun dapat terancam punah apabila pengendalian dalam pemanfaatanya tidak
dikendalikan.
Morfologi
 Monyet ekor panjang tergolong monyet kecil yang berwarna coklat dengan
bagian perut lebih muda dan disertai rambut keputih-putihan yang jelas
pada bagian muka. Dalam perkembangannya rambut yang tumbuh pada
muka tersebut berbeda-beda antara individu satu dengan individu lainnya.
10 Perbedaan warna ini dapat menjadi indikator yang dapat membantu
mengenali individu berdasarkan jenis kelamin dan kelas umurnya (Chivers,
1980).
 Bayi monyet yang baru lahir memiliki rambut yang berwarna
hitam dengan muka dan telinga berwarna merah muda.
Dalam waktu satu minggu, warna rambut pada kulit muka
akan memudar dan berubah menjadi abu-abu kemerah-
merahan. Setelah kirakira berumur enam minggu, warna
rambut yang hitam pada saat lahir berubah menjadi coklat.
Setelah dewasa, rambut kulit berwarna coklat kekuningan,
abu-abu dan coklat hitam, tetapi bagian bawah perut dan
kaki sebelah dalam selalu lebih cerah. Rambut di atas
kepalanya tumbuh kejur (semacam kuncir) ke belakang,
kadang-kadang membentuk jambul. Rambut di pipi
menjurai ke muka, di bawah mata selalu terdapat kulit yang
tidak berambut dan berbentuk segitiga, kulit pada pantat
juga tidak berambut (Carter, 1978).
Mengapa disebut monyet ekor
panjang ?
 karena memilki ekor yang panjang, berkisar antara 80% hingga 110% dari
total panjang kepala dan tubuh. Bobot tubuh jantan badan 5,4 kg hingga
10,9 kg. Betina mempunyai bobot tubuh 4,3 kg hingga 10,6 kg (Sajuthi,
1983). Supriatna dan Wahyono (2000) menyatakan bahwa monyet ekor
panjang memiliki panjang tubuh berkisar antara 385 mm hingga 668 mm.
Bobot tubuh jantan dewasa berkisar antara 3,5 kg hingga 8,0 kg, sedangkan
bobot tubuh rata-rata betina 3 kg.
Populasi Monyet Ekor Panjang
 Monyet ekor panjang (MEP, Macaca fascicularis)
tersebar luas secara acak di Asia Tenggara (Southwick
and Siddiqi 1994, Fooden 1995, Wheatley 1999). MEP
ditemukan di berbagai lingkungan dengan kelimpahan
terbesar di hutan rawa dan hutan sekunder (Crockett
and Wilson 1980; Fooden 1995; Yanuar et al. 2009).
MEP juga umumnya ditemukan di tepi sungai sekitar
hutan karena spesies ini mencari perlindungan pada
waktu malam hari di sepanjang sungai (Fittinghoff and
Lindburg 1980; van Schaik et al. 1996).
Habitat Monyet Ekor Panjang
 Habitat monyet ekor panjang tersebar mulai dari hutan hujan tropis, hutan
musim, hutan rawa mangrove sampai hutan montane seperti di Himalaya.
Disamping itu juga terdapat di hutan iklim sedang di Cina dan Jepang serta
padang rumput dan daerah kering yang bersemak dan berkaktus di India
dan Ceylon (Napier and Napier, 1967).
Menurut Crockett and Wilson (1977) dikutip Lindburg (1980), monyet ekor
panjang banyak dijumpai di habitat-habitat yang terganggu, khususnya daerah
riparian (tepi sungai, tepi danau, atau sepanjang pantai) dan hutan sekunder
dekat dengan areal perladangan. Selain itu juga terdapat di rawa mangrove
yang kadang-kadang monyet ini hanya satu-satunya spesies dari anggota
primata yang menempati daerah tersebut. Menurut Mukhtar (1982), pada
mulanya kehidupan primata ini adalah arboreal, mereka hidup bertempat
tinggal terutama di pohon-pohon dan hanya beberapa saja yang hidup di
darat. Primata yang mempunyai kemajuan ke arah kehidupan terestrial
keadaannya lebih kuat dan cakap untuk melindungi dirinya dari predator.
Pertahanan diri yang dipakai adalah dengan cara hidup berkelompok.
Reproduksi
 Menurut Van Lavieren (1983), monyet ekor panjang mencapai kedewasaan atau umur
minimum dapat melakukan perkawinan berkisar antara 3,5-5 tahun. Menurut Napier
and Napier (1967), kematangan seksual pada monyet ekor panjang jantan adalah 4,2
tahun dan betina 4,3 tahun.
 Siklus menstruasi berkisar selama 28 hari dan lama birahi sekitar 11 hari. Selang
waktu pembiakan (breeding interval) terjadi antara 24-28 bulan, masa kehamilan
berkisar antara 160-186 hari dengan rata-rata 167 hari. Jumlah anak yang dapat 8
dilahirkan satu ekor dan jarang sekali dua ekor dengan berat bayi yang dilahirkan
berkisar antara 230-470 gram.Anak monyet ekor panjang disapih pada umur 5-6
bulan. Masa mengasuh anak berlangsung selama 14-18 bulan. Perkawinan dapat
terjadi sewaktu-waktu dan ovulasi berlangsung spontan dengan rata-rata pada hari
ke12 sampai ke-13 pada siklus birahi (Napier and Napier, 1967).
 Hampir seluruh jenis monyet yang termasuk ke dalam famili Cercopithecideae
memiliki sistem perkawinan poligami, yakni memiliki beberapa ekor betina dewasa
dalam setiap kelompoknya (Mukhtar, 1982).
Makanan
 Monyet ekor panjang merupakan salah satu satwa pemakan buah
(frugivorous) dan tak jarang disebut juga sebagai hewan yang
omnivora. Sebagai golongan omnivora yang memakan daging dan
tumbuhan, makanannya bervariasi dari buah-buahan, daun, bunga,
jamur, serangga, siput, rumput muda, dan lain sebagainya. Bahkan kera
ini kerap pula memakan kepiting. Tetapi, 96% konsumsi makanan
mereka adalah buah-buahan (SKMA, 2008 dikutip oleh Irianto 2009).
Menurut Crockett dan Wilson (1980) dikutip Yulianti (2002) jenis pakan
monyet ekor panjang adalah buah karet (Havea sp), pucuk padi (Oriza
sativa), buah jagung (Zea mays) muda serta beberapa yang tua.
Menurut Winarno (1992) dikutip Irianto (2009), selain buah-buahan,
sumber pakan lain yang potensial untuk populasi monyet ekor panjang
di Pulau Tinjil adalah umang-umang (Acanthurus leucosternon)
beberapa siput dan kepiting tanah (Scylla serrata).

Daftar pustaka
Napitu,. Ja Posman. 2007. Pengelolaan Kawasan Konservasi. Thesis.Yogyakarta : Departemen Konservasi Sumberdaya Alam Dan
Lingkungan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada
 Sulistyo, Kuspriadi. 2005. Kajian Rencana Rehabilitasi Kawasan Suaka Margasatwa Paliyan. Tesis. Program Pasca Sarjana. Yogyakarta:
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
 Jarot, D.H. 2014. Perilaku Harian Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis, Raffles 1821) di Jurang Gondang, Deles Kawasan Taman
Nasional Gunung Merapi, Klaten Jawa Tengah. Skipsi S-1. Yogyakarta: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNY.
 Chivers, D.J. 1980. The Siamang in Malaya: A Field Study of Primate in Tropical Rain Forest. Contribution on Primatologi. New York
 [CITES] Convention on International Trades in Endangered Species of Wildlife Flora and Fauna. 2009. Macaca fascicularis. Di dalam: CITES
species database Indonesia. http://www.cites.org/ [21 September 2014].
 Napier, J.R. and Napier, P.H. 1967. A Handbook of Living Primate Morphology Ecologi And Behaviour Of Human Primates. Academic Press
London New York.
 Mukhtar, A.S. 1982. Penelitian Pola Pergerakan (Macaca fascicularis, Raffles,1821) Di Taman Wisata dan Cagar Alam Penanjung
Pangandaran, Jawa Barat. Tesis Magister Sains. Fakultas Pasca Sarjana IPB. Bogor. Tidak Dipublikasikan.
 Crockett, M.C., and Wilson, 1980. The ecological separation of Macaca nemestrina and Macaca fascicularis in Sumatra. In: The Macaques:
Studies in Ecology, Behavior and Evolution,D. G. Lindburg (ed.), Van Nostrand Reinhold, New York, pp. 148–181.
 Irianto, Koes. 2009. Panduan Praktium Parasitologi Dasar untuk Paramedis dan Non Paramedis. Bandung : Yrama Widya.
 Md-Zain B, Tarmizi M, Zaki M. 2011. Campus Monkeys of University Kebangsaan Malaysia: Nuisance Problems and Students Perceptions.
Di dalam: Gumert M, Fuentes A, Jones EL, editor. Monkeys on the Edge: The Ecology and Management of Longtailed Macaque
Populations and their Interface with Humans. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
 McConkey KR, Chivers DJ. 2004. Low mammal and hornbill abundance in the forests of Barito Ulu, Central Kalimantan, Indonesia. Oryx,
38:439-447.
 Marchal V, Hill C. 2009. Primate crop-raiding: A study of local perceptions in four villages in North Sumatra, Indonesia. Primate
Conservation. 24:107-116.
 Linkie M, Dinata Y, Nofrianto A, Leader-Williams N. 2007. Patterns and perceptions of wildlife crop raiding in and around Kerinci Seblat
National Park, Sumatra. Animal Conservation. 10:127-135. MacKinnon J, Mackinnon K. 1987. Conservation status of the primates of the
Indo-Chinese Subregion. Primate Conservation. 8:187-195.
 Md-Zain B, Tarmizi M, Zaki M. 2011. Campus Monkeys of University Kebangsaan Malaysia: Nuisance Problems and Students Perceptions.
Di dalam: Gumert M, Fuentes A, Jones EL, editor. Monkeys on the Edge: The Ecology and Management of Longtailed Macaque
Populations and their Interface with Humans. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
 Ong P, Richardson M. 2008. Macaca fascicularis: IUCN 2010: IUCN Red List of Threatened Species.
 Southwick C, Siddiqi MF. 1994. Primate commensalism: The rhesus monkey of india.
 Revue D’Ecologie (Terre et la Vie). 49:223-231. Supriatna J, Yanuar A, Martarinza, Wibisono HT,
Sinaga R, Sidik I, Iskandar S. 1996.
 A preliminary survey of long-tailed and pig-tailed macaques (Macaca fascicularis and Macaca
nemestrina) in Lampung, Bengkulu, and Jambi provinces, southern Sumatra, Indonesia. Tropical
Biodiversity. 3:131- 140. Umapathy G, Singh M, Mohnot SM. 2003. Status and Distribution of
Macaca fascicularis umbrosa in the Nicobar Islands, India. Int J Primatol. 24:281-293. van Schaik
CP, van Amerongen A, van Noordwijk MA. 1996.
 Riverine Refuging by Wild Sumatran Long-Tailed Macaques (Macaca fascicularis). Di dalam: Fa JE,
Lindburg DG, editor. Evolution and ecology of macaque societies. Cambridge: Cambridge
University Press. hlm 160-181. Wheatley B, Harya Putra DK. 1994. Biting the hand that feeds you:
Monkeys and tourists in Balinese monkey forests. Tropical Biodiversity. 2:317-327. Wheatley B.
1999.
 The Sacred Monkeys of Bali. Prospect Heights, Illinois: Waveland Press, Inc. Wheatley BP, Putra
DK, Gonder MK. 1996
 . A Comparison of Wild and Food-Enhanced LongTailed Macaques (Macaca fascicularis). Di
dalam: Fa JE, Lindburg DG, editor. Evolution and Ecology of Macaque Societies. Cambridge:
Cambridge University Press. hlm 182-206. Yanuar A, Bekti D, Saleh C. 1993.
 The status of the Karimata primates Presbytis rubicunda carimatae and Macaca fascicularis
carimatensis in Karimata Island, Indonesia. Tropical Biodiversity. 1:157-162. Yanuar A, Chivers DJ,
Sugardjito J, Martyr DJ, Holden JT. 2009.
 The population distribution of pigtailed macaque (Macaca nemestrina) and long-tailed macaque
(Macaca fascicularis) in West Central Sumatra, Indonesia. Asian Primates,.1:2-1
 Rianto, Milan. 2006. Pendekatan, Strategi dan Metode Pembelajara. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional