Anda di halaman 1dari 27

1

BAB II
KEBANKSETRALAN

KELAS : MA.17.D8
NAMA KELOMPOK : 1. DEVI OKTAVIANI (111710383)
2. MEYNABELLA (111710855)
A. PENDAHULUAN 2
 Bank Sentral mempunyai peran yang sangat strategis
bagi masyarakat umumnya dan pembangunan ekonomi
khususnya, yang sangat mendasar adalah prosses nya
dalam mencetak dan mengedarkan uang.
 Bank Sentral merupakan satu-satu nya lembaga yang
berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan mata
uang sebagai alat pembayan yang sah di suatu negara.
 Melalui Perannya yang demikian besar Bank Central
mempunyai tujuan dan diberi tanggung jawab untuk
mencapai dan memelihara kestabilan nilai dan mata
uang yang di edarkan, terlebih laggi ketika pada dunia
modern sekarang ketika uang Fiat Money.
 Kestabilan nilai dari mata uang dari mata uang tersebut
merupakan kewajiban mendasar bagi Bank Central
B. KELEMBAGAAN BANK
INDONESIA 3

 Bank Central merupakan lembaga yang memiliki peran


penting dalam perekonomian, terutama dibidang moneter,
Keuangan, dan Perbankan.
Peran tersebut tercermin pada tugas-tugas utama yang
dimiliki oleh Bank Central, Yaitu menetapkan dan
melaksanakan kebijakan Moneter, Mengatur dan Mengawasi
Bank, Serta Menjaga sistem Pembayaran,

“Tugas Utama tersebut tidak selalu sama antara satu Bank Central
dengan Bank Central lainnya di dunia ini.”
1. Perkembangan Status dan
Kedudukan Bank Sentral. 4
 Bank Sentral pada mulanya berkembang dari suatu bank
yang mempunyai tugas sebagaimana dilakukan oleh bank-
bank lainnya. Secara gradual bank tersebut diberi tugas dan
tanggung jawab yang lebih besar dengan bank lainnya
Seperti menerbitkan uang kertas dan bertindak sebagai agen
dan bankir pemerintah.
Awalnya Bank Central disebut Bank Of Issue (Bank
Sirkulasi) , Karena tugasnya yang harus mempertahankan
konvensi uang kertas yang dikeluarkannya terhadap emas /
perak bisa jadi keuangnya.
Pada dasarnya Bank Sentral tidak menekankan motif secara
keuntungan sepeti Bank Komersial.
Bank Sentral dibentuk untuk pencapaian suatu tujuan
ekonomi tertentu yang menyangkut kepentingan nasional /
Kesejateraan umum.
2. Status dan Kedudukan Bank
Indonesia. 5
Peran dan tugas Bank Indonesia selaku Bank Sentral di
indonesia hingga saat ini telah mengalami evolusi dan yang
semula hanya sebagai Bank Sirkulasi hingga sebagai agen
pembangunan, dan trakhir sejak 1999 telah menjadi
independen dan mempunyai tugas mencapai sasaran tunggal
yaitu stabilitas nilai rupiah.

Dengan diberlakukannya UU No.23 Tahun 1999, Kedudukan


Bank Indonesia Selaku Bank Sentral Republik Indonesia telah
dipertegas kembali, dimana bank indonesia mempunyai
kedudukan yang independen sebagai mana bank-bank sentral
di beberapa negara, Seperti Amerika, Chili, Filipina dll.

Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk merumuskan


kebijakan moneter dan melaksanakan kebijakan yang telah
ditetapkan dalam pelaksanaan tugasnya tanpa campur tangan
pihak di luar bank indonesia.
UUD 1945

MPR PRESIDEN KEKUASAAN KEHAKIMAN


BI BPK
DPD DPR W.PRESIDEN MK MA KY
LEGISLATIF EKSEKUTIF YUDIKATIF

Struktur Bank Indonesia Dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia


3. Tujuan dan Tugas Pokok Bank
Indonesia. 7

a. Tujuan.

• UU No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia Secara tegas telas


memberi landasan bagi independensi Bank Indonesia dalam
mencapai target yang ditetapkan
• Penetapan Inflasi sebagai sasasran akhir kebiajakan moneter
dilakukan oleh Bank Indonesia dengan pertimbangan buti-bukti
empiris.
• Penetapan tujuan tunggal mejadikan sasaran dan batas tanggung
jawab Bank Indonesia semakin jelas dan focus.

b. Tugas

Tugas Bank Indonesia Sesuai UU No. 23 Tahun 1999 :


• Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter.
• Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
• Mengatur dan Mengawasi Bank
4. Hubungan dengan pemerintah.
8
Dalam rangka koordinasi kebijakan moneter dan kebijakan fiskal, Bank
Indonesia selaku otoritas moneter pelu menjalin hubungan kerja dengan
pemerintah selaku otoritas fiskal, baik secara teori maupun dalam
pelaksanaan kedua sektor tersebut saling terkait dalam mencapai sasaran
secara nasional berupa pertumbuhan ekonomi.

Meskipun Bank Indonesia telah memiliki Independendi, cakupan tugas dan


wewenangnya sedikit-banyak terkait dengan kepentingan pemerintah.
Secara makro, tugas Bank Indonesia juga ditentukan oleh kinerja institusi-
intitusi yang berhubungan erat dengan tujuan Bank Indonesia, yakni
mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, dalam kondisi yang
demikian, sinkronasi dan koordinasi Bank Indonesia dengan pemerintah
tetap diperlukan mengingat keduanya memiliki tanggung jawab yang
semuanya untuk kepentingan bank.

Hubungan Bank Indonesia dengan pemerintah diatur dengan jelas dalam


UU No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Yaitu bahwa bank dintunjuk
sebagai pemegang kas pemerintah.Selain itu, Bank Indonesia untuk dan tas
nama pemerintah dapat menerima pinjaman luar negri, menatausahakan,
serta menyelesaikan tagihan dan kewajiban keuangan pemrintah terhadap
luar negri.
5. Hubungan Internasional
9
Selain dengan Pemerintah, Bank Indonesia juga menjalin hubungan kerja
dengan lembaga-lembaga Internasional. Hubungan tersebut diperlukan
dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas Bank Indonesia
maupun pemerintah yang berhubungan dengan ekonomi, moneter, maupun
perbankan.
Secara Umum, hubungan kerja sama internasional yang dijalankan oleh
bank sental sendiri.
a. Kerja Sama yang dilakukan atas nama bank Sentral dalam rangka
melaksanakan tugas-tugasnya, seperti keanggotaan bank sentral di
south East Asia Central Bank (SEACEN);dan
b. Kerja sama yang dilakukan untuk dan atas nama negaranya
masing-masing, seperti keanggotaan suatu negara di lembaga
keuangan internasional seperti International Monetrary Fund (IMF).
Bank Indonesia juga menjalin kerja sama internasional yang meliputi di
bidang-bidang :
1. Investasi bersama untuk kestabilan pasar valuta asing
2. Penyelesaian transaksi lintas negara.
3. Hubungan Koresponden.
4. Tukar-menukar informasi mengenai hal yang terkait dengan tugas
Bank Sentral;
5. Pelatihan / Penelitian di bidang moneter dan sistem pembayaran.
Keanggotaan Bank Lembaga dan forum internasional atas nama Bank
Indonesia sendiri, antara lain:
10
The South East Asian Central Banks Research and Training Centre
(SEACEN Centre)
• 1982,12 Bank Sentral, Pusat Penelitian dan penelitian dan pelatihan bagi pegawai
bank sental yang menjadi anggotanya dari kawasan asia tenggara di bidang
Keuangan, Moneter, Perbankan, Kebanksetralan, dan ekonomi pembangunan.

The South East Asian, New Zealand and Australia Forum of Banking
Supervisors (SEANZA)
• 1957,20 Bank Sentral, Membantu Mengatasi Masalah keterbatasan SDM
yang ahli dan berpengalaman,khususnya pada tingkat manajerial menengah
ke atas, yang di hadapi bank sentral negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

The Executive’ Meeting of East Asian and Pasific Central Banks


(EMEAP)
• 1991,11 Bank Sentral, Organisasi Kerja sama bank sentral dan otoritas moneter di kawasan
Asia dan Pasifik yang bertujuan untuk mempererat hubungan kerja sama sesama
anggotanya.Kerja sama ini dalam bentuk Govermors Meeting, Depuities Meeting, dan Working
Group. Bentuk lainya antara lain pembentukan jejaring regional untuk pertukaran informasi.
Lanjutan :

11

ASEAN Central Bank Forum (ACBF)

ACBF. 2002, 10 Bank Sentral.


• Dibentuk dengan tujuan mengevaluasi perekonomian dan resiko keuangan yang
mungkin timbul dengan menekankan pada Policy option dan implikasinya, Serta
mendorong dilakukannya langkah awal untuk meminimalisasi risiko tersebut dengan
bantuan dan beberapa lembaga multilateral baik di tingkar regional maupun
internasional.

Bank For Internasional Settlement (BIS), Mei 1930, 49 Bank Sentral


• Forum Kerja sama keungan dan moneter internasional,
sebagai lembaga yang memainkan peran penting dalam
menyediakan jasa keuangan dalam pengelolaan devisa.
Keanggotaan Bank Indonesia mewakili pemerintah republik indonesia :

1. ASEAN, Agustus 1967 12


2. Association Of South East Asian Nations (ASEAN) + 3
3. ADB (Asian Development Bank),1966
4. APEC (Asian Pasific Economic Cooperation)
5. MFG (Manila Framework Group)
6. ASEM (Asia Europe Meeting)
7. IDM (Islamic Development Bank)
8. CGI (Consultative Group on Indonesia)
9. IMF (International Monetary Fund)
10. Word Bank / IBRD
11. IDA (International Development Association)
12. IFC (International Finance Corporation)
13. MIGA (Multilateral Invesment Guarentee Agency)
14. WTO (Word Trade Organization)
15. G20

Selain itu, Bank Indonesia atas nama pemerintah Republik Indonesia


Sebagai Pengamat, antara lain :
a. G15
b. G24
6. Dewan Gubernur
Bank Indonesia sebagai Bank Sentral Republik Indonesia dipimpin oleh 13
Dewan Gubernur. Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Gubernur dengan
Deputi Gubernur Senior sebagai wakil. Dewan Gubernur terdiri atas seorang
Gubernur, Seorang Deputi Gubernur Senior, dan minimal empat orang atau
maksimal tujuh orang Deputi Gubernur sebagai anggotanya. Dewan
Gubernur memiliki maksimal masa jabatan maksimum lima tahun dan hanya
dapat diangkat kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya.

Persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon anggota Dewan Gubernur yang
akan diusulkan Presiden :
1. Warga Negara Indonesia
2. Memiliki akhlak dan moral yang tinggi, yang dapat dipercaya baik dalam
ucapan maupun tindakannya.
3. Memeiliki Keahlian dan pengalaman di bidang ekonomi.
GUBERNUR

Deputi Gubernur Senior 14

Deputi Deputi Deputi Deputi Deputi Deputi Deputi


Gubernur Gubernur Gubernur Gubernur Gubernur Gubernur Gubernur

Susunan Dewan Gubernur Bank Indonesia


C. Kebijakan Moneter 16

Kebijakan Moneter merupakan kebijakan otoritas moneter atau


bank sentral dalam bentuk pengendalian besaran moneter
untuk mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang
diinginkan.
1. Kebijakan Moneter & Siklus
Kegiatan Ekonomi 15

Kebijakan moneter sebagai salah satu dan kebijakan ekonomi makro pada
umumnya diterapkan sejalan dengan business cycle ‘Siklus Kegiatan
Ekonomi. Dalam hal ini, kebijakan moneter yang diterapkan pada kondisi di
mana perekonomian sedang mengalami boom ‘perekonomian yang sangat
pesat’ tentu berbeda dengan kebijakan moneter yang diterapkan pada
kondisi di mana perekonomian sedang mengalami depression atau slump
‘perkembangan yang melambat’.

2. Kebijakan Moneter & Kebiajakan


Ekonomi Makro Lain.
Penerapan kebijakan moneter tidak dapat dilakukan secara terpisah dengan
penerapan kebijakan ekonomi makro lainnya, seperti kebijakan fiskal,
kebijakan sektor riil, dan lain-lain. Hal ini terutama mengingat keterkaitan
antara kebijakan moneter dan kebijakan ekonomi makro lain yang sangat
erat.
3. Kebijakan Moneter dalam
Perekonomian Terbuka 17
Dalam perekonomian sederhana dan tertutup ketika perekonomian suatu
negara tidak berinteraksi dengan perekonomian negara lain, maka formulasi
dan implementasi kebijakan moneter dapat dilakukan dengan lebih
sederhana. Hal ini disebabkan berbagai variabel-variabel ekonomi
internasional, seperti perdagangan, aliran modal, nilai tukar, dalam suku
bunga yang tidak berpengaruh terhadap perekonomian. Namun demikian, di
era globalisasi ini dapat dikatakan tidak terdapat suatu negara pun yang
memiliki sistem perekonomian tertutup, sehingga pembahasan selanjutnya
akan difokuskan pada kebijakan moneter dalam perekonomian terbuka.
palam era perekonormian global, interaksi ekanomi antarnegara merupakan
salah satu aspek yang tidak terpisahkan dari perkembangan ekonomi suatu
negara yang semakin terbuka. Terlebih lagi, kepesatan perkembangan
teknologi informasi, komunikasi dan transportasi, serta kebijakan
perdagangan telah mendorong pesatnya keterbukaan ekonomi dan
ketergantungan antarnegara, sehingga dengan semakin besarnya
keterkaitan antarnegera, maka semakin terbuka perekonomian nerara yang
bersangkutan. Keterbukaan ekonomi tersebut berdampak pada peningkatan
transaksi perdagangan antarnegara. Sebuah negara yang tidak dapat
memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa tertentu dapat membeli
(mengimpor) barang dan jasa tersebut dari negara lain.
Dalam perekonomian sederhana dan tertutup ketika perekonomian suatu
negara tidak berinteraksi dengan perekonomian negara lain, maka formulasi
dan implementasi kebijakan moneter dapat dilakukan dengan lebih 17
sederhana. Hal ini disebabkan berbagai variabel-variabel ekonomi
internasional, seperti perdagangan, aliran modal, nilai tukar, dalam suku
bunga yang tidak berpengaruh terhadap perekonomian. Namun demikian, di
era globalisasi ini dapat dikatakan tidak terdapat suatu negara pun yang
memiliki sistem perekonomian tertutup, sehingga pembahasan selanjutnya
akan difokuskan pada kebijakan moneter dalam perekonomian terbuka.
palam era perekonormian global, interaksi ekanomi antarnegara merupakan
salah satu aspek yang tidak terpisahkan dari perkembangan ekonomi suatu
negara yang semakin terbuka. Terlebih lagi, kepesatan perkembangan
teknologi informasi, komunikasi dan transportasi, serta kebijakan
perdagangan telah mendorong pesatnya keterbukaan ekonomi dan
ketergantungan antarnegara, sehingga dengan semakin besarnya
keterkaitan antarnegera, maka semakin terbuka perekonomian nerara yang
bersangkutan. Keterbukaan ekonomi tersebut berdampak pada peningkatan
transaksi perdagangan antarnegara. Sebuah negara yang tidak dapat
memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa tertentu dapat membeli
(mengimpor) barang dan jasa tersebut dari negara lain.
5. Mekanisme Tranmisi Kebijakan
Moneter 19
Dalam Literatur ekonomi moneter, Kajian mengenai mekanisme transmisi
kebijakan moneter umumnya mengacu pada peranan uang dalam
perekonomian, yang pertama kali dijelaskan oleh, Quantity Theory of Money
‘Teory Kuantitas Uang’. Teori ini pada dasarnya menggambarkan krangka
kerja yang jelas mengenai analisis hubungan langsung yang sistematis
antara pertumbuhan jumlah uang beredar dan inflasi, yang dinyatakan
dalam suatu identitas yang dikenal sebagai “The Equation of
Excharge”:Mv=PT dimana jumlah uang beredar (M) dikalikan dengan tingkat
perputaran uang lincom velocity (V) sama dengan jumlah output atau
transaksi ekonomi/output riil (T) dikalikan dengan tingkat harga (P), dengan
kata lain, dalam keseimbangan, jumlah uang beredar yang digunakan dalam
seluruh kegiatan transaksi ekonomi (MV) sama dengan jumlah outpout yang
dihitung dengan harga yang berlaku, yang ditransaksikan (PT).

Berdasarkan mekanisme transmisi ini, dalam jangka pendek, pertumbuhan


jumlah uang beredar hanya memengaruhi perkembangan output riil,
selanjutnya, untuk jangka panjang menenngah pertumbuhan jumlah uang
beredar akan mendorong kenaikan harga (inflasi), yang pada gilirannya
menyebabkan penurunan perkembangan output rill menuju posisi semula.
a. Mekanisme Suku Bunga
Mekanisme trasmisi melalui jalur suku bunga menekankan bahwa kebijakan 20
moneter dapat mempengaruhi permintaan agregat melalui perubhan suku
bunga.

Investasi /
Kebijakan moneter Suku Bunga Biaya Modal
Kosumsi
Jumlah Uang
Beredar

b. Jalur Nilai Tukar

Mekanisme Transmisi melalui jalur nilai tukar menekankan bahwa


pergerakan nilai tukar dapat mempengaruhi perkembangan penawaran dan
permintaan agrerat.

Harga Lelatif Harga


Kebijakan moneter Nilai Tukar
Impor
Jumlah Uang
Beredar Permintaan
Agregat
c. Jalur Harga Aset
Mekanisme transmisi melalui jalur harga aset menekankan bahwa kebijakan 21
moneter berpengaruh pada perubahan harga aset dan kekayaan
masyarakat.

Investasi /
Kebijakan moneter Suku Bunga Harga Aset
Kosumsi
Jumlah Uang
Beredar

d. Jalur Kredit

Mekanisme transmisi melalui jalur kredit dapat dibedakan menjadi dua jalur.
1. Bank Lending Channel ‘ Jalurn Pinjaman Bank’
2. Balance Sheet Chaneel ‘Jalur Neraca Perusahaan’
Liabilitas Ketersediaan
Kebijakan moneter
Bank Kredit Bank
Jumlah Uang Investasi
Beredar

Suku Bunga / Nilai Bersih Pemeberian


Harga Saham Perusahaan Kredit Bank
d. Jalur Ekspetasi
Mekanisme transmisi melalui jalur ekspetasi menekankan bahwa kebijakan 22
moneter dapat diarahkan untuk memengaruhi pembentukan ekspetasi
mengenai inflasi dan kegiatan ekonomi.

Ekspetasi inflasi Keputusan


Kebijakan moneter / Kegiatan Investasi /
Ekonomi Kosumsi
Jumlah Uang
Beredar
6. Kerangka Operasional Kebijakan
Moneter 23

Instrumen Sasaran Oprasional Sasaran Antara

• Oprasi Pasar • Besaran Moneter


• Uang Primor Sasaran
Terbuka (M1,M2,Kredit)
(MC) Akhir
• Cadangan wajib • Suku Bunga
• Resorve bank
minimum
• Fasilitas
Diskonto • Stabillitas Harga
• Imbauan • Pertumbuhan
Ekonomi
• Kesempatan
Kerja
Krangka Transmisi Operasional dengan Pendekatan
Kuantitas
24
Variabel-variabel
Informasi Sasaran
Instrumen Sasaran Oprasional
Akhir

• Oprasi Pasar • Suku Bunga • Stabillitas Harga


Terbuka (Pasar Uang / • Pertumbuhan
• Cadangan wajib Jangka Panjang) Ekonomi
minimum • Kesempatan
• Fasilitas Kerja
Diskonto
• Imbauan

Krangka Oprasional dengan Pendekatan Harga


Uraian :
1. Kebijakan Moneter di Indonesia 25
2. Krangka Strategis Kebijakan moneter
3. Mekanisme Transmisi Kenijkan Moneter
4. Krangka Oprasional Kebijakan Moneter

Instrumen
(OPT,GWM,dll)

Sasaran Oprasional

Sasaran Antara
(Uang Beredar
M1,M2)
Kestabilan
Prosses Oprasional Pengendalian Moneter Harga
D. Mekanisme Pengendalian Moneter 26

Berdasarkan sasaran inflasi yang ditetapkan, serta proyeksi


pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, suku bunga, dan variabel
ekonomi makro lainnya, Bank Indonesia melalui penyusunan
program moneter dapat memperkirakan permintaan uang yang
sesuai dengan kebutuhan riil perekonomian.
Dan perhitungan ini, dapat diperkirakan pertumbuhan jumlah
uang beredar (M1 dan M2) yang di butuhkan masyarakat.
Selanjutnya, Bank Indonesia dapat memperkirakan Posisi
Pertumbuhan uang primer sebagai sasaran operasional
kebijkan moneter. Sasaran oprasional tersebut di tentukan baik
secara tahunan, Kuartalan, bulanan, maupun mingguan untuk
digunakan sebagai dasar pelaksanaan kebijakan moneter
Bank Indonesia.
27
1.Mekanisme Pengendalian Uang primer
Melalui OPT
a.Lelang SBI
b.Fasilitas Bank Indonesia
c.Sertifikasi / Intervensi Valuta Asing

2.Kebijakan Nilai Tukar dan Devisa


a.Kebijakan Nilai tukar
b.Kebijakan Devisa