Anda di halaman 1dari 35

7 UNSUR KEBUDAYAAN

SUKU BUGIS MAKASAR


OLEH:
Anggri gustina (2720170081) Mutia Safitri (2720170065)
Fathin Azizah .M (2720170040) Siti Hosimah (2720170009)
1. Agama yang dianut suku Bugis Makassar

■ Religi orang Bugis-Makassar dalam zaman pra-Islam, seperti tampak dari


sure’ Galigo, sebenarnya telah mengandung suatau kepercayaan satu dewa yang
tunggal yang disebut dengan beberapa nama seperti :

1. Patoto-e (dia yang menentukan nasib).

2. Dewata seuwa-e (dewa yang tunggal).

3. Turie a’rana (kehendak yang tertinggi).

■ Sisa-sisa kepercayaan lama seperti ini masih tampak jelas misalnya pada orang
To Lotang di kabupaten Sidenreng-Rappang dan pada orang Amma-Towa di
Kajang, kabupaten Bulukumba.
■ agama islam masuk ke Sulawesi Sealatan pada permulaan abad
ke-17, maka ajaran Tauhid dalam Islam, mudah dapat di pahami
oleh penduduk yang telah percaya kepada dewa yang tunggal
dalam La Galigo.

■ Demikian agama islam mudah diterima dan proses itu


dipercepat oleh kontak terus-menerus dengan pedagang-pedagang
Melayu islam yang sudah menetap di Makassar, maupun dengan
kunjungan-kunjungan orang Bugis-Makassar ke negeri-negeri lain
yang sudah beragama islam.
2. Bahasa, Tulisan dan Kesusasteraan
■ Orang Bugis mengucapkan bahasa Ugi dan orang Makassar
bahasa Mangasara. Kedua bahasa tersebut pernah dipelajari
dan diteliti secara mendalam oleh seorang ahli bahasa Belanda
B.F.Matthes.

■ Huruf yang dipakai dalam naskah-naskah Bugis-Makassar


kuno adalah aksara lontara, sebuah sistem huruf yang asal dari
huruf sansekerta. Sejak abad permulaan abad ke-17 waktu
agama islam dan kesasteraan islam mulai mempengaruhi
Sulawesi Sealatan, maka kesusasteraan Bugis dan Makassar
ditulis dalam huruf Arab (aksara serang).
3. Kesenian
A. Alat-alat music tradisional bugis terdiri dari :

1. Kacapi (kecapi)

■ Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis. Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya
kecapi ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang memiliki dua dawai, diambil karena
penemuannya dari tali layar perahu.

2. Sinrili

■ Alat musik yang mernyerupai biaola cuman kalau biola di mainkan dengan membaringkan di pundak sedang singrili di mainkan dalam
keedaan pemain duduk dan alat diletakkan tegak di depan pemainnya.

3 Gendang

■ Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang dan bundar seperti rebana.

4. Suling

■ Suling bambu/buluh,
LANJUTAN...
Tarian

■ Tarian adat bugis terdiri dari berbagai macam tarian seperti:

a. Tari Pelagi atau biasa disebut tarian meminta hujan ialah tarian diketika musim hujan tak
turun atau musim kemarau panjang didaerah tersebut maka orang-orang sekitar daerah bugis
menarikan tarian ini.

b. Tari Paduppa Bosara adalah tarian yang mengambarkan bahwa orang bugis jika kedatangan
tamu senantiasa menghidangkan bosara sebagai tanda kesyukuran dan kehormatan.

c. Tari Pattennung adalah tarian adat yang menggambarkan kesadaran dan ketekunan perempuan-
perempuan bugis.

d. Tari Pajoge dan Tari Anak Masari adalah tarian yang dilakukan oleh calabai (waria), namun
jenis tarian ini sulit sekali ditemukan bahkan dikategorikan telah punah.
4. Makanan
■ Jenis-jenis makanan pada orang-orang bugis terdiri dari:

1. Coto makasar.

■ Makan ini selalu dibuat pada hari-hari perayaan terutama di Hari Raya Puasa
dan Hari Raya Korban, dan kebanyakan juga ditemukan didaerah TAWAU.
Karna daerah tersebut sangat gemar menyajikan makanan ini.
5. Mata Pencarian Hidup
Penduduk Sulawesi Selatan pada umumnya petani seperti
penduduk dari lain-lain daerah di Indonesia.

■ Akan tetapi pada orang Bugis dan Makassar yang tinggal di desa-
desa di daerah pantai, mencari ikan merupakan suatu mata
pencaharian hidup yang penting. Memang orang Bugis dan
Makassar terkenal sebagai suku-bangsa pelaut di Indonesia yang
telah mengembangkan suatu kebudayaan maritim sejak beberapa
abad lamanya
6. Rumah adat
■ Rumah adat suku Bugis Makassar dapat di bedakan
berdasarkan status sosial orang yang menempatinya,
Rumah Saoraja (Sallasa) berarti rumah besar yang di
tempati oleh keturunan raja (kaum bangsawan) dan bola
(rumah biasa) adalah rumah yang di tempati oleh rakyat
biasa. Rumah adat ini juga bisa berdiri tanpa
mengunakan paku pun.
7. Kesehatan
■ konsep pengetahuan budaya orang Bugis-Makassar khusus yang berkaitan
dengan istilah "sakit" tidak lain adalah mengacu kepada adanya kondisi fisik yang
tidak stabil, akibat terjadinya gangguan serta disfungsional antara zat-zat alam yang
terdapat dalam diri manusia itu sendiri.

■ Dalam konteks ini hakikat keberadaan alam ditentukan coraknya oleh suhu udara.
Suhu udara itu sendiri ditandai oleh sifat panas dan dingin, dengan sumber yang berbeda
pula.

■ Udara panas bersumber dari matahari, sedangkan udara dingin bersumber dari
bulan. Sesuai dengan pengelompokkan penyakit menurut kategori panas dan dingin
Lanjutan..
■ pengobatan tersebut biasanya dilakukan oleh seseorang yang dipandang ahli yaitu sanro,
atau dapat juga anggota masyarakat biasa yang mempunyai keahlian di bidang pengobatan
tradisional.

■ Dalam praktiknya, masyarakat setempat mengelompokkan sanro menjadi beberapa


kategori seperti:

a. Sanro pekdektek tolo, atau pemotong ari-ari bayi.


b. Sanro pabbura-bura, ahli mengobati berbagai macam penyakit dengan ramuan
tanaman obat.
c. Sanro pajjappi, mengobati melalui pembacaan mantera-mantera.
d. Sanro tapolo, ahli pengobatan dan penyembuhan penyakit patah tulang, melalui
praktik urut dan pembacaan mantera.

e. Sanro pattirotiro, pengobat tradisional yang memusatkan diri pada usaha pengobatan
melalui ramalan/nujum.
BUDAYA PENGOBATAN
PENYAKIT CACAR DENGAN
KASUMBA TURATE

DI SUKU BUGIS - MAKASSAR


KASUS
■ An. Agung berusia 8 tahun tinggal di desa turatea di bawa ke RS
menggunakan pete-pete atas keinginan ibunya karena sudah 5 hari
sakitnya tidak kunjung sembuh. Setelah masuk RS klien di Dx.
Varicella sebelum di rawat klien mengeluh badan nya terasa lemah,
tidak enak badan, tidak nafsu makan, sakit kepala disertai demam
dan juga terdapat adanya bintik-bintik kemerahan dibadannya yang
berisi cairan jernih. Saat ini An. A dijaga oleh neneknya biasanya An.
A diberikan ramuan tradisional berupa cabikan bunga kering yang
sering disebut Kasumba Turatea yang secara turun temurun
dipercayai oleh suku bugis makassar dapat menyembuhkan penyakit
cacar air, walaupun An. A di rawat di RS sang nenek tetap
memberikan obat kasumba turatea karena meyakini obat yang di
berikan RS adalah obat kimia yang tidak baik bagi tubuh. Setelah
dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan hasil S:38,6 TD :115/75
mmhg N:95x/mnt RR:25x/mnt

■ Dari pemeriksaan klien terdapat hasil : warna kulit : sawo matang


Rambut : lurus stukrtur tubuh
DATA DEMOGRAFI
■ Nama Lengkap : An. Agung Cenning
■ Jenis Kelamin : laki-laki
■ Alamat : desa turatea kabupaten Jeneponto ,
Makassar Bugis
■ Diagnosa Medis : Varicella
DATA BIOLOGIS /VARIASI BIOKULTURAL
■ Warna Kulit : Sawo matang
■ Rambut : lurus
■ Struktur tubuh : lumayan gemuk
■ Bentuk wajah : bulat
■ Tanda-tanda Vital :
■ TD : 115/75 mmhg
■ N: 95x/mnt
■ RR :25x/mnt
■ S: 38,6 c
FAKTOR TEKNOLOGI
■ Keluarga An. A biasanya menggunakan Pete-pete sebagai
alat transportasi umum sehari-hari untuk menempuh
perjalanan di dalam kota dan berjalan kaki untuk
perjalanan jarak dekat

■ Bahasa yang digunakan oleh suku Makassar Bugis yaitu


Bahasa bugis

■ Nenek dari An. A meyakini obat yang diberikan oleh rumah


sakit dapat menyembuhkan cucunya, karena beliau lebih
yakin pada obat turun menurun dari leluhurnya.
FAKTOR AGAMA DAN FILOSOFI
■ Keluarga An. A menganut Agama Islam

■ Tindakan yang dilakukan oleh nenek An. A kepada


cucunya yang di dx. varicella ialah memberikan
minuman dari ramuan obat tradisional Kasumba
Turatea yang dipercaya dapat menyembuhkan cacar
air secara turun temurun.
FAKTOR SOCIAL DAN IKATAN
KEKERABATAN (KINDSHIP)
■ Status : Anak kandung
■ Klien tinggal bersama : orang tua dan neneknya
■ Tindakan yang dilakukan keluarga jika ada anggota yang
terkena sakit cacar air ialah dengan memberikan obat
tradisional Kasumba turatea
NILAI-NILAI BUDAYA, KEPERCAYAAN
DAN PANDANGAN HIDUP

■ Budaya suku bugis makassar, sulawesi selatan


apabila ada orang yang sakit atau tarkena cacar air
maka akan di beri obat tradisional yang di percaya
secara turun temurun dapat mengobati penyakit
cacar yaitu kasumba turatea
FAKTOR EKONOMI
■ Ayah dari An.A bekerja sebagai petani sedangkan
ibunya bekerja sebagai kasir di sebuah toko.

■ Sumber biaya pengobatan PPJS kesehatan

■ Sumber ekonomi yang dimanfaat oleh keluarga An.


A biaya hidup hidup sehari hari dari penghasilan
orang tua klien
FAKTOR POLITIK
■ Kebijakan dan peraturan pelayanan kesehatan
yaitu:
An. A tidak teratur dalam meminum obat nya di
karenakan sang nenek lebih mempercayai obat
tradisional di bandingkan obat rumah sakit.
FAKTOR PENDIDIKAN
■ Ayah dan nenek An. A hanya sampai pada tingkat
sekolah dasar sedangkan ibu An. A sampai pada
tingkat sekolah menengah atas
■ nenek An. A sangat percaya bahwa obat tradisional
sangat efektif dalam menyembuh kan penyakit
cacar air.
■ Orang tua An. A berharap agar petugas kesehatan
dapat membantu proses penyembuhan penyakit
cacar air.
ANALISA DATA
No DATA ETIOLOGI Problem

1. DS: An. A mengeluh badan nya terasa demam Aktifitas antigen/antibodi Hipertermi

DO: Inflamasi
S: 38,6 C 
TD : 115/75 mmhg Implus disampaikan ke hipotalamus
N: 95x/mnt termoregulator
RR : 25x/mnt 
Hipertermi
2. DS: Nenek An. A mengatakan bahwa tidak percaya obat Kurang pengetahuan tentang pengobatan Ketidakpatuhan dalam
dari RS lebih manjur dari obat tradisional kasumba pengobatan
turatea dalam menyembuhkan penyakit cacar air.

DO: An. A tampak pucat dan lemah


S: 38,6 C
TD : 115/75 mmhg
N: 95x/mnt
RR : 25x/mnt
3. DS: keluarga An. A mengatakan tidak tahu cara Kurangnya tingkat informasi terkait Kurangnya pengetahuan
mengobati penyakit anaknya selain menggunkan penyakit varicella
obat tradisional.

DO: Keluarga An. A tampak bingung


S: 38,6 C
TD : 115/75 mmhg
N: 95x/mnt
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermi b.d proses infeksi penyakit
2. Ketidakpatuhan dalam pengobatan b.d sistem nilai yg
diyakini atau tradisi yang di anut
3. Kurang nya pengetahuan b.d kepercayaan efektifitas
perilaku promosi kesehatan
■ Salah satu diagnosa keperawatan yang paling
memberi pengaruh kepada petugas kesehatan ialah
nenek klien serta kebudayaan suku

Ketidakpatuhan dalam pengobatan b.d sistem nilai yg


diyakini atau tradisi yang di anut
PERENCANAAN KEPERAWATAN
Cultural care preservation
■ Identifikasi tentang perbedaan konsep antar klien dan
perawat tentang pengobatan dalam penyakit cacar air
■ Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinteraksi
dengan klien dan keluarga klien
■ Mendiskusikan tentang kesenjangan budaya yang dimilii
klien dan peawat
Cultural care accommodation
■ Menggunakan bahasa yang dipahami oleh klien dan
keluarga
■ Libatkan keluarga dalam perencanaan kegiatan
■ Apabila konflik tidak dapat terselesaikan , lakukan
negosiasi dimana kesepakatan berdasarkan pengetahuan
biomedis , pandangan klien dan standar etik.
Cultural care repartening / reconstruction
■ Berikan kesempatan pada untuk memahami informasi yang
diberikan dan melaksanakannya
■ Tentukan tentang tingkat perbedaan pasien melihat dirinya
dari budaya kelompok
■ Gunakan pihak ketiga bila perlu
■ Terjemahkan terminology gejala pasien kedalam bahasa
kesehatan yang dapat dipahami pleh klien dan keluarga
■ Berikan informasi pada klien dan keluarga tentang system
pelayanan kesehatan
NO TUJUAN DAN KH Intervensi
1 • Setelah di lakukan tindakan 1. Kaji ketidakpatuhan dengan
keperawatan selama 1x24 jam mengenali informasi yang
diharapkan klien dan keluarga dapat diketahui keluarga pasien
memahami dan mematuhi terkait
tentang pengobatan.
dengan penyakit serta cara
pengobatanya. 2. Berikan penkes tentang
penyakit cacar dan cara
• Kriteria hasil: pengobatan yang efektif agar
1. Keluarga pasien dapat mengerti
tidak berbahaya untuk klien
tentang pentingnya obat.
2. Keluaga pasien menerima tindakan dikemudian hari
dengan prinsip cultural care 3. Sediakan informasi kepada
accomodation keluarga klien mengenai
3. Monitor perkembangan
perawatan kesehatan
pengetahuan keluarga pasien
tentang penkes yg di berikan 4. Diskusikan perbedaan
4. Motivasi pasien dan keluarga untuk presepsi keluarga pasien agar
mempertahankan status kesehatan. menyadari dan mengklarifikasi
masalahnya
TERIMAKASIH