Anda di halaman 1dari 58

TRK II

Reactor Trickel Bed


Kelompok 3 :
1. Aldi Nelfrian H.
2. Annisa Savira S.
3. Ake Tupesla B.
4. Arie Choyungsya
5. Cut Mutia H.
6. Donny Tusary
7. Fachriza Izzaty
8. Nadia Sukma
9. Nadya Aprilia R.
10. Mawaddah
11. Revan
12. Yogi Benzyliano
13. Yosi Febri
1
Reactor Trickel Bed
Pengerian Reactor Trickel
Bed

3

Reaktor trickle bed adalah reaktor dengan packing katalis dimana
fasa cair dan gas mengalir searah ke bawah yang mengalami interaksi
pada katalis padatan. Reaktor ini banyak digunakan pada industri
perminyakan dan aplikasinya dalam bidang proses kimia, petroleum,
industry biokimia dan pengolahan limbah. Kata “trickle”
mendeskripsikan karakteristik operasional reactor ini dimana liquid
mengalir secara bertahap melewati katalis solid dalam bentuk film,
anak air ataupun droplet.
4
Biasanya, partikel padatan katalis di pak secara acak didalam bed
dimana fase gas dan liquid mengalir. Dalam sebagian besar industri
reactor trickle bed, partikel katalis yang digunakan biasanya berpori


dan berbentuk bermacam-macam seperti bola, silinder, ektrudat,
trilobe, atau multilobe seperti pada gambar berikut :

5

Konfigurasi reactor trickle bed diklasifikasikan menjadi tiga tipe :
1. Reaktor trickle bed konvensional : berisikan partikel katalis
berpori secara acak didalam packed bed.
2. Reaktor trickle bed semi-struktur : berisikan partikel yang di pak
teratur atau katalis yang dilapiskan pada packing terstruktur.
3. Reaktor trickle bed-mikro : berisikan beberapa saluran-mikro
yang di pak dengan partikel katalis.
6

7

Reaksi yang terjadi dalam reactor trickle bed seringkali bersifat


eksotermis dan melepaskan 3 energy dikarenakan reaksi kimia yang
terbawa oleh aliran komponen
8 gas dan liquid
Dalam reaktor trickle bed, secara teknis reaktan gas dapat mencapai
permukaan katalis dengan melewati fase liquid ataupun kontak
langsung bergantung pada derajat pembasahan. Difusi intrapartikel
dari gas terlarut, adsorpsi pada permukaan katalis dan reaksi kimia


terjadi secara simultan di dalam partikel katalis.

9
Teknik Reaksi pada Reaktor Trickle Bed Hal – hal yang
mempengaruhi performa proses dengan reactor trickle bed adalah :


1. Homogenitas bed, distribusi liquid, dan factor geometri.
2. Cara operasi : aliran gas-liquid secara concurrent atau
countercurrent, aliran recycle, pembasahan partikel katalis,
distribusi aliran, pengadukan axial dan radial.
3. Transfer massa : gas-liquid, fluid-particle.
4. Kinetika laju reaksi : persamaan laju reaksi, deaktivasi katalis.
5. Efek non-isotermal : reaksi eksoterm atau endoterm, penguapan
solvent reaktan.

10

11
laju reaksi dapat dideskripsikan dalam langkah sebagai berikut :
(i) Transfer perpindahan fase gas reaktan A dari fase gas ke bulk
liquid.

(ii) Transfer A dan B dari bulk liquid ke permukaan katalis.
(iii) Difusi intrapartikel A dan B dengan pori katalis.
(iv) Adsorpsi A dan B pada sisi katalis dan reaksi permukaan kimia
dari A dan B teradsorbsi untuk menghasilkan produk.
(v) Desorpsi produ, ke fase bulk liquid.

12
Karakterisasi Reaktor Trickle Bed Objek utama dalam mendesain
reactor trickle bed adalah untuk meningkatkan kontak secara efektif
dari reaktan fase gas dan liquid dengan sisi katalis aktif. Faktor –


factor yang didesain untuk operasi pada reaktor trickle bed adalah :
(i) Pressure drop
(ii) Luas permukaan spesifik
(iii) Residence Time Distribution (RTD)
(iv) Pengadukan
(v) Liquid holdup
(vi) Perpindahan panas dan perpindahan massa

13
Karakterisasi Reaktor Trickle Bed Objek utama dalam mendesain
reactor trickle bed adalah untuk meningkatkan kontak secara efektif
dari reaktan fase gas dan liquid dengan sisi katalis aktif. Faktor –


factor yang didesain untuk operasi pada reaktor trickle bed adalah :
(i) Pressure drop
(ii) Luas permukaan spesifik
(iii) Residence Time Distribution (RTD)
(iv) Pengadukan
(v) Liquid holdup
(vi) Perpindahan panas dan perpindahan massa

14

Beberapa factor diatas dapat diperoleh variable yang diinginkan
dengan cara memanipulasikan struktur bed, tipe – tipe struktur
packing konvensioanal yang digunakan pada reaktor trickle bed yaitu
1. gauze packing,
2. corrugated sheet packing,
3. mesh-type packing,
4. monoliths atau honeycomb, dan
5. three layer packing. 15

16
Prinsip Kerja Reaktor
Trickel Bed

17
Pengertian Reaktor Trickel Bed

Pada reaktor trickle bed fasa padat merupakan fasa yang diam didalam
reaktor, sedangkan fasa cair dan gas mengalir melalui bagian atas kolom
secara co-current. Fasa cair mengalir searah dengan gravitasi dari puncak ke
bagian bawah reaktor dengan bantuan dorongan dari fasa gas, melaui unggun
yang didistribusikan oleh distribution pallet atau sprayer dan kemudian
membentuk lapisan tipis (film) di dinding permukaan partikel unggun. Laju alir
fasa cair ini tidak boleh tinggi dan aliran gas bergerak secara kontinyu

Pada aplikasinya, penggunaan fasa gas selain sebagai pendorong dan


pendistribusi fasa cair pun bertindak sebagai excess hidrogen pada proses
hidrogenation. Penggunaan hidrogen secara berlebih ini dilakukan karena
kandungan hidrogen pada fasa cair 18tidak mencukupi secara stoikiometri,
meskipun fasa cair dialirkan dengan tekanan yang sangat tinggi.
19
Perhitungan Pada Reaktor
Trickel Bed

20
Fundamentals

▣ Reaksi dasar dan langkah-langkah pengangkutan dalam reaktor


trickle bed mirip dengan reactor slurry. Perbedaan utamanya
adalah korelasi yang digunakan untuk menentukan koefisien
perpindahan massa. Selain itu, jika ada lebih dari satu
komponen dalam fase gas (mis., Cairan memiliki tekanan uap
tinggi atau salah satu gas yang masuk tidak aktif), ada satu
langkah tambahan dalam transportasi fase gas. Gambar 1.1
menunjukkan berbagai langkah pengangkutan dalam reaktor
trickle bed. Mengikuti analisis kami untuk reaktor slurry, kami
mengembangkan persamaan untuk laju transportasi setiap
langkah.
1. Transportasi dari fase bulk gas ke antarmuka gas-cair.
Laju pengangkutan per massa katalis adalah

(1.1)
Transportasi dari bulk gas ke antarmuka gas-cair ke antarmuka cair-cair ke cair-padat Difusi dan
reaksi dalam pelet katalis

(a) Trickle bed reactor; (b)


reactant concentration profile.
2. Keseimbangan pada antarmuka gas-cair:

(1.2)

C Ai = konsentrasi A dalam cairan di antarmuka


H = konstanta Henry
3. Transportasi dari antarmuka ke bulk liquid

(1.3)

dimana
k 1 = koefisien perpindahan massa fase cair, m / s
C Ai = konsentrasi A dalam cairan pada antarmuka, kmol / m^3
C Ab = konsentrasi cairan curah A, kmol / m^3
4. Transportasi dari bulk liquid ke permukaan katalis eksternal :

(1.4)
5. Difusi dan reaksi dalam pelet.

▣ Jika kita mengasumsikan reaksi orde pertama dalam


gas terlarut A dan dalam cairan B, kita punya
(1.5)
▣ Menggabungkan Persamaan (1.1) hingga (1.5) dan
mengatur ulang dengan cara yang identik dengan
yang mengarah pada pengembangan Persamaan
(1.6) untuk reaktor slurry, kami memiliki

(1.6)
(1.7)

di mana kvg koefisien transfer keseluruhan untuk gas ke dalam pelet (m^3 gas / g cat.s).
Keseimbangan mol pada spesies A adalah

(1.8)

Selanjutnya mempertimbangkan transportasi dan reaksi spesies B, yang tidak


meninggalkan fase cair.
6. Pengangkutan B dari bulk liquid ke antarmuka
katalis padat

(1.9)

di mana CB dan CBs adalah konsentrasi B dalam bulk liquid dan pada antarmuka padat, masing-masing.

7. Difusi dan reaksi B di dalam pelet katalis:


Persamaan disusun menjadi

(1.10)

Keseimbangan mol pada spesies B sebagai berikut,

(1.11)
▣ Satu catatan bahwa konsentrasi permukaan A dan B,
CA dan CB, muncul dalam penyebut dari koefisien
transpor keseluruhan kvg dan kvl.
Aplikasi Reaktor Trickel
Bed

33
Aplikasi Reaktor Trickel Bed

Reaktor Trickle Bed secara luas digunakan di industri kimia


seperti industri petrokimia, perminyak dan gas, farmasi,
biokimia dan industri pengolahan air limbah. Secara umum
reaktor Trickle Bed dioperasikan pada kondisi tekanan dan
suhu tinggi pada industri perminyakan untuk proses
penghilangan sulfur (hidrodesulfurisasi) dan proses
perengkahan minyak bumi (hydrocracking). Namun disamping
itu, reaktor Trickle Bed juga dapat diaplikasikan pada tekanan
dan suhu rendah meskipun penggunannya tidak sebanyak
kondisi 4 tekanan dan suhu tinggi, contohnya terdapat pada
industri biokimia dan pengolahan air limbah
34
Aplikasi Trickle Bed Reactor pada
suhu dan tekanan tinggi

Hidrosulfuriasasi

35
Hidrosulfurisasi

Hidrosulfurisasi merupakan suatu proses kimia katalitik yang secara


luas digunakan untuk menghilangkan kandungan sulfur (S) dalam
gas alam atau produk hasil refinery minyak bumi seperti gasoline
atau petrol (bensin), bahan bakar pesawat, kerosene (minyak tanah,
paraffin), solar dan fuel oil. Tujuan dari penghilangan kandungan
sulfur ini adalah untuk mengurangi kandungan SO2 pada emisi gas
hasil pembakaran. Alasan lain pentingnya penghilangan sulfur dari
aliran nafta pada pemurnian minyak bumi adalah senyawa sulfur baik
dalam konsentrasi sangat rendah sekalipun, memberikan efek yang
buruk pada logam mulia (platinum dan rhenium) di unit catalytic
reforming yang digunakan untuk menaikkan nilai oktan dari aliran
nafta.
36
Aplikasi Trickle Bed Reactor pada
suhu dan tekanan tinggi

Hydrocracking

37
Hydrocracking

Hydrocracking mengacu pada proses yang tujuannya adalah untuk


menurunkan titik didih produk yang lebih rendah dibandingkan
umpan. Proses ini melibatkan dua tahap yaitu pretreat step dan
secondary step. Pada pretreat step senyawa poliakromatik dalam
keadaan jenuh dan senyawa organik nitrogen juga sulfur diubah
menjadi ammonia dan sulfur hidroksida, karena senyawa organik
nitrogen akan menghambat kerja cracking catalyst pada tahap
selanjutnya. Kemudin pada tahap sekunder (cracking step) molekul
hidrokarbon yang memiliki berat molekul yang lebih besar dipecah
secara sempurna oleh katalis hydrocracking

38
Aplikasi Trickle Bed Reactor pada
suhu dan tekanan tinggi

Hydrotreating

39
Hydrotreating

Hydrotreating merupakan suatu proses katalitik untuk menstabilisasi produk


minyak bumi dengan cara mengubah olefin menjadi paraffin atau
menghilangkan elemen berat dari produk ataupun bahan baku dengan
mereaksikannya dengan hidrogen” .Proses stabilisasi pada hydrotreating
meliputi konversi hidrokarbon tak jenuh, seperti olefin dan pembentukan
gum-forming di-olefin yang tidak stabil menjadi parafin. Elemen berat yang
terkandung dalam produk ataupun bahan baku meliputi sulfur, nitrogen,
oksigen, halida dan logam berat. Hydrocracking dan hydrotreating disebut
sebagai hydro-processing dimana proses-proses keduanya mampu
menghilangkan sulfur dan nitrogen secara signifikan dibandingkan dengan
kandungannya pada umpan. Pada keadaan lapangan di industri istilah
hydcracking, hydrotreating, hydroprocessing, dan hydrosulfurzation tidak
selalu tepat digunakan karena dalam prosesnya cracking dan desulfurisasi
terjadi secara bersamaan, dan itu realtif terhadap proses yang mendominasi.
40
Aplikasi Trickle Bed Reactor pada
suhu ambient dan tekanan
atmosfer

Katalitik denitrifikasi dalam Trickle Bed Reactor


untuk proses pengolahan waste brine dengan
metode Ion Exchange
41
Katalitik denitrifikasi dalam Trickle Bed Reactor untuk proses pengolahan waste brine
dengan metode Ion Exchange

Prinsip kerjanya adalah dengan mengalirkan synthetic brine sebanyak 150


liter dengan kadar NaCl 10 wt% dan 15.000 mg/L nitrat (1,5wt%) yang
dilarutkan menggunakan deionized water. Synthetic brine ini adalah sebagai
fasa cair yang akan dialirkan melalui bagian atas kolom reaktor Trickle Bed
yang selanjutnya akan dikontakkan dengan Hidrogen dan Karbon Dioksida
secara co-current. Secara keseluruhan penelitian ini dilakukan dalam tekanan
atmosferik dan temperatur ambient (27±1 oC). Berbagai kecepatan superfisial
cairan (Ur) dan kecepatan superfisial gas Hidrogen (Ug-H2) dievaluasi untuk
menilai kinerja pada rezim aliran yang berbeda. Katalis 12x30 menunjukkan
aktivitas katalitik 100% lebih tinggi dan laju transfer massa 280% lebih tinggi
dibandingkan katalis 12x14. Pada kedua katalis, kinerja Reaktor Trickle Bed
secara optimal dicapai dalam rezim aliran trickle flow.
42
Menurut Chaplin et al dalam Allison et al (2011), selama
denitrifikasi, gas hidrogen berfungsi sebagai donor elektron
untuk pengurangan nitrat. Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut:

43
Aplikasi Trickle Bed Reactor pada
suhu ambient dan tekanan
atmosfer

Penambahan gas H2 untuk meningkatkan


kapasitas bakteri hydrogenotrophic dalam reaktor
Trickle Bed
44
Penambahan gas H2 untuk meningkatkan kapasitas bakteri hydrogenotrophic dalam
reaktor Trickle Bed

Prinsip kerja dari penerapan aplikasi reaktor trickle bed adalah untuk
meningkatkan kapasitas bakteri hydrogenotrophic agar dapat menghasilkan
biomethane. Metanogen hydrogenotrophic adalah jenis bakteri yang dapat
tumbuh pada karbon dioksida dan gas hidrogen sehingga dapat menghasilkan
gas methan. Untuk meningkatkan kapasitas bakteri tersebut maka dilakukan
penambahan gas H2 kedalam reaktor trickle bed. Unggun diam yang terdapat
dalam reaktor trickle bed tersebut berupa sel immobilisasi dari bakteri
hydrogenothropic. Nutrient, biogas dan gas H2 dikontakkan didalam reaktor
trickle bed dan mengalir melalui trickling filter (sel immobilisasi). Nutrient
dialirkan dengan menggunakan pompa peristaltic agar tidak terjadi flooding
didalam reakor sehingga pendistribusian dalam sel immobilisasi menjadi
merata.
45
Hidrodinamika Reaktor Trickle Bed

rezim aliran

distribusi fasa cair pada unggun

fraksi kekosongan pada unggun

phase holdups

efisiensi kebasahan

koefisien transfer massa gas-cair

koefisien transfer massa cair-padat


46
47
empat rezim aliran dalam reactor trickle bed

Trickle flow Dispersed bubble flow

Spray flow
Pulse flow

48
Trickle flow

disebut juga low interaction flow terjadi saat fasa gas mengalir
secara kontinyu dan fasa cair mengalir layaknya anak sungai
49
Pulse flow

Pulse flow ini dapat terjadi


ketika aliran cairan dan gas our screenshot here
dinaikkan dan menghasilkan
keadaan high interaction dimana
cairan dibantu untuk melewati
bagian-bagian kosong pada
unggun oleh gas .

50
Dispersed bubble flow

Ketika laju alir fasa gas


rendah dan laju alir fasa cair
cukup tinggi maka akan Place your screenshot here
menghasilkan rezim bubble
flow dimana fasa cair
menjadi fasa kontinyu
dengan terdapat
gelembung-gelembung kecil
pada fasa cair

51
Place your screenshot here

Spray flow

Rezim spray flow terjadi ketika laju alir fasa gas tinggi dan laju alir
fasa cairan rendah
52
Scale Up dan Scale Down Reaktor Trickle Bed .

53
scale • mengaplikasikan
proses pada industri
down dengan kapasitas kecil

• mengaplikasikan suatu
scale penemuan baru yang
dilakukan dalam skala
up laboratorium
54
55
Aspek Dalam Reaktor

Pressure Drop Aspek rasio reaktor Laju alir fasa gas dan
parameter pressure drop didisain berdasarkan cair
pada unggun dapat geometri atau Skala reaktor sangat
diabaikan, meskipun hal persamaan kinematika. berperngaruh terhadap
ini merupakan hal yang Rasio tinggi reaktor rentang penggunaan laju
sangat penting pada terhadap diameter (L/D) alir fasa cair dan gas
perancangan reaktor reaktor untuk reaktor pada masing-masing
skala komersial berskala pilot atau reaktor.
laboratorium adalah 5 -
100, sedangkan rasio L/D
untuk reaktor skala
komersial yaitu
56 0,5 – 100
57
58