Anda di halaman 1dari 18

PAJAK DAN CASH FLOW

SETELAH PAJAK

OLEH :
IR I NENGAH SUBAGIA, MT
PAJAK, DAN CASH FLOW SETELAH PAJAK
Depresiasi dilaksanakan dlm hal perhitungan
perpajakan sebagai suatu pengurangan
pendapatan terkena pajak sesuai UU yang telah
ditetapkan Pemerintah

Pajak
Kekayaan

Pajak
Pajak
Penghasilan/
Pendapatan
Penjualan

Pajak yang
dikenakan
pada
perusahaan
• Pajak yang dipungut sebagai fungsi dari pendapatan usaha
ataupun perseorangan yang besarnya dihitung sebagai
Pajak presentase dari pendapatan bersih perusahaan atau
Pendapatan perseorangan

• Pajak yang dibebankan oleh pemerintah pada pemilik


Pajak
tanah, bangunan, mesin atau peralatan, barang inventaris,
dan lainnya sesuai dengan peraturan
Kekayaan

• Pajak yang ditentukan sebagai fungsi dari pembelian


barang atau pemberian pelayanan dan tidak ada kaitannya
Pajak dengan pendapatan bersih atau keuntungan perusahaan
Penghasilan
• Dari berbagai pajak tersebut, yang relevan untuk
dibicarakan dengan persoalan ekonomi teknik
hanya pajak pendapatan saja.

• Hasil penjualan produk jasa


• Deviden – deviden yang diterima saham
• Bunga dari pinjaman
Pendapatan • Sewa – sewa
• Honorarium
• Penerimaan lainnya yang diperoleh dari
kepemilikan modal dan kekayaan

• Kerugian – kerugian dari kebakaran


• Pencurian
• Iuran – iuran
Potongan • Penyusutan / depresiasi
• Bunga obligasi
• Pengeluaran untuk penelitian
• Dan sebagainya
• Perbedaan antara Pendapatan dan Potongan adalah
merupakan pendapatan yang terkena wajib pajak

• Pajak = Pendapatan Kena Pajak x Tarif Pajak (%)


• Maka cash flow setelah pajak adalah
• Contoh 1: Suatu rencana investasi dengan estimasi cash flow
adalah
• Investasi Rp. 700 juta
• Annual benefit Rp. 130 juta
• Annual cost Rp. 30 juta
• Overhoul (t = 5) Rp. 70 juta
• Nilai sisa Rp. 300 juta
• Umur investasi 8 tahun
• Pajak perusahaan 10% per tahun

• Diminta : Susunlah cash flow setelah pajak, jika menggunakan


depresiasi
• SLD
• DDBD
Metode Straight Line Depreciation
CF Sebelum Pajak
SLD = 1/N CF Setelah
n PKP Pajak 10%
(I-S) Pajak
(-) (+) NCF

a b c (d = c-b) e (f = d-e) (g = fx10%) (h = d-g)

0 700 -700 -700

1 30 130 100 50 50 5 95

2 30 130 100 50 50 5 95

3 30 130 100 50 50 5 95

4 30 130 100 50 50 5 95

5 100 130 30 50 -20 -2 32

6 30 130 100 50 50 5 95

7 30 130 100 50 50 5 95

8 30 130 100 50 50 5 95

S 300 300 300

30 + 70
Metode Double Declining Balance
Depreciation
CF Sebelum Pajak
DDBD = 2/N CF Setelah
n BVt PKP Pajak 10%
(BVt-1) Pajak
(-) (+) NCF

(ft = dt-1 - (h = g x
a b c (d = c-b) e (g = d-e) (i = d-h)
BVt) 10%)

0 700 -700 700 -700

1 30 130 100 175 525 -75 -7.5 107.5

2 30 130 100 131 393.75 -31 -3.1 103.1

3 30 130 100 98 295.31 2 0.2 99.8

4 30 130 100 74 221.48 26 2.6 97.4

5 100 130 30 55 166.11 -25 -2.5 32.5

6 30 130 100 42 124.58 58 5.8 94.2

7 30 130 100 31 93.44 69 6.9 93.1

8 30 130 100 23 70.08 77 7.7 92.3


• Contoh 2: Suatu rencana investasi baru dengan cash flow
sebagai berikut:
• Investasi Rp. 700 juta
• Annual benefit Rp. 140 juta
• Annual cost Rp. 35 juta
• Benefit lump-sum (t=4) Rp. 70 juta
• Nilai sisa Rp. 100 juta
• Umur investasi 10 tahun
• Pajak perusahaan 20% per tahun

• Diminta : Susunlah cash flow setelah pajak, jika:


• Metode depresiasi straight line depreciation
• Metode depresiasi double declining balance depreciation
• Evaluasilah kelayakan rencana sebelum pajak dan sesudah
pajak
PENYELESAIAN

• Perhitungan Straight Line Depreciation (SLD)


• Depresiasi tahunan
• SLDt = (I-S)
• SLDt = 1/10 x (700 – 100)
• SLDt = Rp. 60 juta / tahun
CF Sebelum Pajak CF SetelahPajak
T
(-) (+) Net SLD EBT Pajak EAT

a b c (d = c-b) e (f = d-e) (g = f x 20%) (h = d - g)

0 700 -700 0 -700

1 35 140 105 60 45 9 96

2 35 140 105 60 45 9 96

3 35 140 105 60 45 9 96

4 35 230 195 60 135 27 168

5 35 140 105 60 45 9 96

6 35 140 105 60 45 9 96

7 35 140 105 60 45 9 96

8 35 140 105 60 45 9 96

9 35 140 105 60 45 9 96

10 35 140 105 60 45 105

S 100 100 100


PERHITUNGAN DOUBLE DECLINING
BALANCE DEPRECIATION

• DDBDt=1 = 2/10 (700) = 140


• DDBDt=2 = 2/10 (560) = 112
• DDBDt=3 = 2/10 (448) = 89.60
• DDBDt=4 = 2/10 (858.4) = 71.68
• DDBDt=5 = 2/10 (286.72) = 57.34
• DDBDt=6 = 2/10 (229.38) = 45.36
• DDBDt=7 = 2/10 (183.5) = 36.7
• DDBDt=8 = 2/10 (146.8) = 29.36
• DDBDt=9 = 2/10 (117.45) = 23.46
• DDBDt=10 = 2/10 (93.96) = 18.79
Perhitungan CF Setelah Pajak
CF Sebelum Pajak
T Metode DDBD
EBT Pajak 20% EAT
(-) (+) Net DDBDt E Dept BV

0 700 -700 -700

1 35 140 105 140 140 560 -35 0 105

2 35 140 105 112 252 448 -7 0 105

3 35 140 105 89.6 341.6 358.4 15.4 3.08 101.92

4 35 140 105 71.68 413.28 286.72 33.32 6.664 188.33

90 6

5 35 140 105 57.34 470.62 229.38 47.66 9.532 95.468

6 35 140 105 45.86 516.48 183.5 59.14 11.828 93.172

7 35 140 105 36.7 553.18 146.8 68.3 13.66 91.34

8 35 140 105 29.36 582.54 117.44 75.64 15.128 89.872

9 35 140 105 23.49 606.03 93.95 81.51 16.302 88.698

10 35 140 105 18.79 624.82 75.16 86.21 17.242 87.758

S 100 100 100

Catatan: Jika Nilai EBT kecil dari nol (negatif) maka pajak = nol karena
tidak ada pembayaran pajak penghasilan
ANALISIS KELAYAKAN
Cash Flow sebelum Pajak, metode NPV:
NPV = CFt (FBP) dimana FBP = faktor bunga present
NPV = - I + Ab (P/A, i, n) + Ls (P/F, i, 4) + S (P/F, i, n) – Ac
(P/A, i, n)
NPV = = - 700 + 140 (P/A, 8, 10) + 90 (P/F, 8, 4) + 100 (P/F,
8, 10) – 35 (P/A, 8, 10)
NPV = - 700 + 140 (6.710) + 90 (0.7350) + 100 (0.4632) –
35 (6.710)
NPV = + Rp. 117,02 Juta (LAYAK EKONOMIS)
ANALISIS KELAYAKAN
Cash Flow setelah pajak dengan perhitungan depresiasi SLD:
NPV = CFt (FBP) dimana FBP = faktor bunga present
NPV = - I + Ab (P/A, i, n) + Ls (P/F, i, 4) + S (P/F, i, n)
NPV = = - 700 + 96(P/A, 8, 10) + 72 (P/F, 8, 4) + 100 (P/F,
8, 10)
NPV = - 700 + 96 (6.710) + 72 (0.7350) + 100 (0.4632)
NPV = + Rp. 43,4 Juta (LAYAK EKONOMIS)
ANALISIS KELAYAKAN
Cash Flow setelah pajak dengan perhitungan depresiasi DDBD:
NPV = CFt (FBP) dimana FBP = faktor bunga present
NPV = - 700 + 105 (P/A, 8, 2) + 101.92 (P/F, 8, 3) + 188.336 (P/F, 8, 4) +
95.468 (P/F, 8, 5) + 93.175 (P/F, 8, 6) + 91.34 (P/F, 8, 7) + 89.872 (P/F, 8,
8) + 88.692 (P/F, 8, 9) + 187.758 (P/F, 810)
NPV = - 700 + 105 (1.783) + 101.92 (0.7938) + 188.336 (0.7350) + 95.468
(0.6806) + 93.175 (0.6302) + 91.34 (0.5835) + 89.872 (0.5403) + 88.692
(0.5002) + 187.758 (0.4632)
NPV = + Rp. 63,428 Juta (LAYAK EKONOMIS)

KESIMPULAN : Rencana Investasi Layak Untuk Ketiga Kondisi Evaluasi


• Contoh 1: Suatu rencana investasi dengan estimasi cash
flow adalah
• Investasi Rp. 900 juta
• Annual benefit Rp. 130 juta
• Annual cost Rp. 40 juta
• Overhoul (t = 5) Rp. 70 juta
• Nilai sisa Rp. 300 juta
• Umur investasi 8 tahun
• Pajak perusahaan 10% per tahun
• Bunga Bank 9%/th

• Diminta : Susunlah cash flow setelah pajak, jika


menggunakan depresiasi
• SLD/Cara Garis lurus dan Hitunglah NPV, IRR dan
Payback Period. /ZA
17
SEKIAN DAN TERIMA KASIH

/ZA
18