Anda di halaman 1dari 32

RUMAH SAKIT

ISLAM
JEMURSARI
SEJARAH SINGKAT
RS Islam Jemursari merupakan salah satu unit usaha
di bawah Yayasan RS Islam Surabaya. RS Islam
Jemursari menempati lahan seluas 4,6 Ha, berlokasi di
Jalan Jemursari No. 51 – 57 Surabaya.
• 25 Mei 2002 → soft opening RSI Jemursari (82 TT)
• Maret 2007 → dibuka Ruang Kemuning
• Tahun 2007 → dibuka Stroke Center
• Tahun 2009 → RS Islam Jemursari mempunyai
Depo Farmasi di UGD dan pelayanan UDD (Unit
Dose Dispensing) untuk pasien rawat inap
• Tahun 2011 → dibuka ruang Dahlia (Faskes kelas II
& III, kerjasama dengan Jamsostek dan Askes) (136
TT)
• Akhir tahun 2011 → RSI Jemursari mendapatkan
pengakuan menjadi Rumah Sakit tipe B oleh
Kementerian Kesehatan RI dan lulus Akreditasi 16
pelayanan
• Tahun 2012 → membuka Ruang Rawat Inap baru
yaitu Ruang Azzahra (172 TT) 2
VISI RUMAH SAKIT
Rumah Sakit Islam Berstandar Internasional

MISI RUMAH SAKIT


• Memberikan pelayanan jasa rumah sakit
secara prima dan islami menuju Standar Mutu
Pelayanan Internasional dengan dilandasi
prinsip kemitraan.
• Melaksanakan Manajemen Rumah Sakit
berdasarkan Manajemen Syariah yang
berstandar Internasional.
• Membangun SDM Rumah Sakit yang
profesional sesuai standar Internasional yang
islami dengan diiringi intergritas yang tinggi
dalam pelayanan.
• Menyediakan sarana prasarana rumah sakit 3
MOTTO RUMAH
SAKIT
Kami selalu melayani dengan Ramah, Senyum, Ikhlas, dan Salam.

NILAI DASAR
Shiddiq dalam artian bahwa jujur dengan memiliki
integritas dan kemandirian.

Yaqin dalam artian bahwa yakin terhadap potensi diri


dan kesembuhan pasien adalah berkat rahmat Allah
SWT.
Iman dalam artian bahwa semua tindakannya
dilandasi keimanan kepada Allah, disertai ikhlas dalam
pelayanan dan bersifat fleksibel.
Fathanah dalam artian bahwa cerdas dalam
menangkap peluang dan selalu meningkatkan
pengetahuan dan sikap.
Amanah dalam artian bahwa dapat diandalkan dan
transparan dalam menjalankan tugas yang menjadi
tanggung jawabnya. 4
STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT
1. Dewan Pengurus
2. Direktur: Prof. Dr .dr. Rochmad
Romdhoni Sp. PD, Sp.JP(K)
3. Wakil Direktur Umum dan Keuangan:
Rochadi Kardiyanto, S.E., MBA
4. Wakil Direktur Medis : dr. Dyah
Yumiati, Sp.S

5
BED OCCUPANCY RATE Bulan BOR RS (%)
Januari 64.45
Menurut Depkes RI (2005), BOR adalah
prosentase pemakaian tempat tidur Februari 68.71
pada satuan waktu tertentu. Nilai Maret 73.75
parameter BOR yang ideal adalah antara
60-85%. April 76.28
Mei 74.42
Juni 72.96
Juli 61.68
Agustus 64.63
September 67.84
Oktober 68.73
November
BOR 67.94
Ruang Azzahra RSI Jemursari 6

Tahun 2016
BED OCCUPANCY RATE
Shift Kelas 2 Kelas 3 BOR
Pagi 10 pasien 9 pasien 19/31 x 100% = 61,2
%
Sore 10 pasien 9 pasien 19/31 x 100% = 61,2
Tabel BOR Ruang Azzahra RSI Jemursari Tanggal
15 Desember 2016 %
Malam 9 pasien 10 pasien 19/31 x 100% = 61,2
Shift Kelas 2 Kelas 3 BOR
%
Pagi 10 pasien 12 pasien 22/31 x 100% = 70,9
%
Sore 10 pasien 12 pasien 22/31 x 100% = 70,9
Tabel BOR Ruang Azzahra RSI Jemursari Tanggal %
16 Desember 2016
Malam 10 pasien 12 pasien 22/31 x 100% = 70,9
Analisa : Bor 15-19 Desember 2016:
%
BOR = 141 : (5 x 31 ) X 100 % = 90,9 % 7
STRUKTUR ORGANISASI RUANG
AZZAHRA II
Koordinator
Ruang Azzahra II

Shift Pagi Shift Sore Shift Malam

Katim Katim Katim Katim Katim Katim

2-3 2-3 2-3 2-3 2-3 2-3


Perawat Perawat Perawat Perawat Perawat Perawat
Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana

Helper/Pekarya

8
1. Berdasarkan perhitungan menggunakan
PLANNING metode rasio menunjukkan bahwa di IRNA
Azzahra terdapat kekurangan perawat
ORGANIZING sebanyak 8 orang.
2. Berdasarkan penghitungan rumus Douglas
ACTUATING didapatkan kebutuhan perawat adalah shift
pagi sebanyak 7 orang, shift sore sebanyak
CONTROLLING 4 orang dan shift malam sebanyak 3 orang.
Hal ini menunjukkan bahwa pada shift pagi

MAN
terdapat kekurangan sebanyak 1 orang,
kelebihan tenaga pada shift sore dan shift
malam sebanyak 1 orang.
3. Berdasarkan rumus diatas menunjukkan
bahwa di Azzahra terdapat kekurangan
perawat sebanyak 1 orang pada shift pagi
dan shift sore, dan kelebihan tenaga pada
shift malam.
4. Di ruang Azzahra terdapat perawat dengan
tingkat pendidikan D3 Keperawatan yaitu
sebanyak 17 orang (77,27%). Perawat
dengan tingkat pendidikan S1 dan Ners
sebanyak 5 orang (22,73%).
1. IRNA Azzahra menggunakan MAKP Tim. Hal
ini menandakan bahwa rasio perawat dan
pasien tidak sesuai dengan jumlah ideal.
2. Bila dihubungkan kembali dengan kondisi
PLANNING lapangan, jumlah perawat lepas dinas tidak
dapat disesuaikan dengan rumus, yaitu
ORGANIZING hanya 3 orang. Hal ini karena terkait
ACTUATING dengan jam kerja pegawai yang sudah
ditetapkan oleh kepegawaian RSI. Sehingga
CONTROLLING berpengaruh kepada jumlah hari libur
masing-masing perawat.
3. Azzahra II menggunakan MAKP Tim. Hal ini
MAN menandakan bahwa rasio perawat dan
pasien tidak sesuai dengan jumlah ideal.
Bila dihubungkan kembali dengan kondisi
lapangan, jumlah perawat lepas dinas tidak
dapat disesuaikan dengan rumus, yaitu
hanya 3 orang. Hal ini karena terkait
dengan jam kerja pegawai yang sudah
ditetapkan oleh kepegawaian RSI. Sehingga
berpengaruh kepada jumlah hari libur
masing-masing perawat.
4. Terdapat sistem peningkatan jabatan.
5. Kriteria beban kerja perawat sedang dan
kebutuhan tenaga terpenuhi .
PLANNING
1. Ruang Azzahra II
ORGANIZING
belum terdapat alur
ACTUATING
supervise secara
CONTROLLING
tertulis
MAN 2. Adanya perawat
yang dijadwalkan
untuk mengikuti
pelatihan (in house
training) atau
seminar.
1. Prosentase produktivitas
kerja pada shift pagi di IRNA
PLANNING Azzahra RSI Jemursari
Surabaya adalah sebesar
ORGANIZING
73,28 % (kategori sedang).
ACTUATING 2. Prosentase produktivitas
CONTROLLING kerja pada shift sore di IRNA
Azzahra RSI Jemursari

MAN
Surabaya adalah sebesar 71
% (kategori sedang).
3. Prosentase produktivitas
kerja pada shift malam di
IRNA Azzahra RSI Jemursari
Surabaya adalah sebesar 75
% (kategori sedang).
4. Terdapat sitem penilaian
kinerja yang dilaksanakan 6
bulan sekali.
PLANNING
ORGANIZING
1. Infrastruktur dan fasilitas di RSI
ACTUATING Jemursari dan IRNA Azzahra 2
CONTROLLING sudah sesuai dengan
PERMENKES No. 24 tahun 2016.
2. Persediaan obat dan alkes untuk
MATERIAL keadaan emergency masih
kurang lengkap (tidak terdapat
intubasi set,beberapa persediaan
cairan masih kurang).
3. Nurse station terletak di ujung
ruangan,tidak berada di tengah
ruangan.
PLANNING
ORGANIZING
ACTUATING
CONTROLLING

MATERIAL Pemeliharaan dan perawatan


dari sarana prasarana penunjang
kesehatan sudah ada.
PLANNING
ORGANIZING
ACTUATING
CONTROLLING
Semua perawat mengerti
MATERIAL cara menggunakan alat-
alat perawatan.
1. Belum ada format atau
bukti tertulis untuk
PLANNING
pelaporan alat rusak.
ORGANIZING 2. Mempunyai sarana dan
ACTUATING prasarana yang
CONTROLLING memadai untuk pasien,
dan tenaga kesehatan
MATERIAL termasuk universal
precaution untuk
perawat.
3. Terdapat administrasi
penunjang (buku
pemberian obat, buku
TT, lembar visite, SOP
dll).
1. Perawat Azzahra 2 menyatakan bahwa
PLANNING model MAKP Tim yang diterapkan MAKP
Tim murni. Dengan jumlah tenaga yang
ORGANIZING terbatas sehinga penerapan MAKP murni
kadang sangat sulit. Pernyataan perawat
ACTUATING tersebut sesuai dengan hasil observasi,
bahwa pada saat timbang terima, kepala
CONTROLLING ruang membagi perawat untuk melakukan
asuhan keperawatan pada pasien yang

METHOD sudah ditentukan dan pasien yang dikelola


hari ini berbeda dengan hari sebelumnya.
Pembagian seperti ini terkadang membuat
perawat tidak mengetahui secara runtun
informasi tentang pasien yang dapat
menimbulkan kebingungan dan
membutuhkan waktu untuk mengetahui
informasi sebelumnya.
2. Berdasarkan hasil wawancara, ruang
Azzahra 2 tidak melaksanakan ronde
keperawatan.
3. RS memiliki visi, misi sebagai acuan
melaksanakan kegiatan pelayanan.
PLANNING
ORGANIZING 1. Belum ada petunjuk
ACTUATING tertulis mengenai
pembagian tugas dalam
CONTROLLING
metode tim.
METHOD 2. Sudah ada MAKP yang
digunakan yaitu MAKP
metode tim.
3. Ada kemauan perawat
untuk menerapkan MAKP
metode tim.
PLANNING
ORGANIZING
ACTUATING
CONTROLLING 1. Ruang Azzahra II belum
terdapat alur supervise
METHOD secara tertulis.
2. Sudah terdapat
komunikasi yang baik
antara PA dan ketua tim.
1. Dari dokumentasi yang dilakukan, di ruang
Azzahra II sudah terdapat dokumentasi
mengenai catatan pemberian obat yang
PLANNING terpisah antara obat oral dan obat injeksi,
namun untuk cairan infus masih menjadi satu
ORGANIZING dengan obat injeksi. Selain itu sudah dilakukan
double checker antara 2 orang petugas
ACTUATING kesehatan yang melakukan pemberian obat,
CONTROLLING namun belum terdapat tanda tangan dari pasien
atau keluarga yang sudah dilakukan pemberian
obat.
METHOD 2. Kekurangan dari buku timbang terima dan
proses timbang terima yaitu, tidak ada tanda
tangan dari perawat jaga, selain itu kekurangan
yang lain perawat hanya menuliskan nama
pasien, dan tidak ada penomoran untuk masing-
masing pasien, sehingga ketika di akhir timbang
terima terjadi perbedaan pendapat terkait
jumlah total pasien.
3. Beberapa kendala yang dapat terjadi saat
discharge planning yaitu pendokumentasian
yang kurang optimal karena beban kerja
perawat yang dinilai tinggi sehingga proses
berjalan kurang optimal.
PLANNING
ORGANIZING
ACTUATING 1.Ada sumber dana
CONTROLLING dari jasa medik,
untuk pasien BPJS,
MONEY
Asuransi dan Umum.
2.Tiap perawat
mendapat konsumsi
tiap shift.
PLANNING
ORGANIZING
ACTUATING 1. Tidak ada pendapatan
CONTROLLING tambahan dari ruangan
selain dari pasien.
MONEY 2. Jasa insentif untuk
pelayanan dan jasa medik
yang diberikan sama
untuk semua perawat.
PLANNING
ORGANIZING
1. Adanya tuntutan yang lebih tinggi dari
ACTUATING masyarakat untuk mendapatkan
CONTROLLING pelayanan kesehatan yang lebih
professional sehingga membutuhkan
MONEY pendanaan yang lebih besar untuk
mendanai sarana dan prasarana.
2. Pelaksanaan billingpasien di rawat
inap RSI Jemursari dilakukan oleh
perawat yang bertugas pada semua
shift, namun shift malam bertugas
untuk memeriksa kembali
PLANNING
ORGANIZING
ACTUATING
1. Keterbatasan waktu yang
CONTROLLING dimiliki oleh perawat untuk
mendokumentasikan survey
MUTU keselamatan pasien.
2. Kurangnya sosialisasi dan
kesadaran perawat maupun
keluarga untuk melakukan
hand hygiene.
PLANNING
ORGANIZING
ACTUATING
CONTROLLING
Kurangnya sosialisasi dan
MUTU kesadaran perawat maupun
keluarga untuk melakukan hand
hygiene .
1. Kepuasan pasien terhadap pelayanan
kesehatan di RS.
2. Tidak ada form tindak lanjut harian indikator
PLANNING mutu (kenyamanan, nyeri dan kecemasan).
ORGANIZING 3. Keterbatasan waktu yang dimiliki oleh
perawat untuk mendokumentasikan survei
ACTUATING keselamatan pasien.
4. Penilaian kepuasan pasien terhadap kinerja
CONTROLLING perawat dilakukan dengan cara
memberikan kuisioner kepuasan kepada
MUTU 5.
pasien.
Penilaian kecemasan pasien dilakukan
dengan cara memberikan kuisioner tingkat
kecemasan Zung Self Rating Anxiety Scale
(SAS/SRAS).
6. Penilaian perawatan diri dilakukan dengan
melakukan penilaian indekz KATZ.
7. Menerapkan identifikasi pasien dengan
mencocokkan gelang identitas yang dipakai
pasien dan mengkonfirmasi nama pasien,
nomor register, alamat, dan usia sebelum
melakukan tindakan keperawatan.
FISHBONE
SISTEM PENUGASAN & JOB DESCRIPTION
Ruang Azzahra II RSI Jemursari Surabaya, didapatkan bahwa
Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) yang digunakan
di saat ini adalah metode tim.
Pelaksanaan metode tim di ruang Azzahra II yaitu dimulai dari
kepala ruang akan membagi tanggung jawab perawatan pasien
ke dalam 2 tim, dalam setiap shift-nya. Tanggung jawab
perawatan pasien dilakukan berdasarkan kelas perawatan pasien,
yaitu kelas II dan kelas III. Selanjutnya Kepala Ruang akan
menunjuk satu orang perawat pada masing-masing tim yang dan
bertugas sebagai Ketua Tim.

28
KEPALA RUANGAN
Kepala Ruangan bertugas
membagikan 2-3 tim dalam
setiap shift-nya. Dalam tim
tersebut Kepala Ruangan akan Controll Plannin
menunjuk salah satu perawat
profesional untuk menjadi Ketua ing g
Tim. Tanggung jawab kepala
ruangan, antara lain:
Actuatin Organiz
g ing

29
KETUA TIM
Ketua tim bertanggung jawab terhadap perawatan pasien dalam
timnya, sehingga ketika ada masalah perawatan pasien yang
tidak bisa diselesaikan oleh anggota tim, maka anggota tim akan
berkonsultasi dengan ketua tim. Tugas ketua tim, antara lain:
membuat perencanaan;
membuat penugasan, supervisi, dan evaluasi;
mengenal/mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai
tingkat kebutuhan pasien;
mengembangkan kemampuan anggota;
menyelenggarakan konferensi.

30
ANGGOTA TIM
Anggota dalam tim yang melaksanakan asuhan keperawatan
kepada pasien. Tanggung jawab anggota tim, antara lain:
memberikan asuhan keperawatan pada pasien di bawah
tanggung jawabnya;
kerja sama dengan anggota tim dan antartim;
memberikan laporan.

31
32