Anda di halaman 1dari 33

Asuhan Keperawatan Pada Klien

dengan Gangguan Aktivitas

Dwi Harianto, S.Kep.,Ns.,M.Kep


Pengertian Imobilisasi
• Imobilisasi adalah suatu kondisi yang relatif,
dimana individu tidak saja kehilangan
kemampuan geraknya secara total tetapi juga
mengalami penurunan aktivitas dari
kebiasaan normalnya
Kondisi Patologik Yang Mempengaruhi
Imobilisasi
1. Postur abnormal :
– Tortikolis : kepala miring
pada satu sisi, di mana
adanya kontraktur pada
otot sternoklei
domanstoid.
– Lordosis : kurva spinal lumbal yang terlalu cembung ke
depan/ anterior
– Kyphosis : peningkatan kurva spinal torakal.
– Scolioasis : kurva spinal yang miring ke samping, tidak
samanya tinggi hip/ pinggul dan bahu.
– kifoskoliosis : tidak normalnya kurva spinal anteroposterior
dan lateral.
– Foot drop: plantar fleksi, ketidakmampuan menekuk kaki
karena kerusakan saraf peroneal.
2. Gangguan perkembangan otot, seperti distropsi muskular,
terjadi karena gangguan yang disebabkan oleh degenerasi
serat otot skeletal.
3. Kerusakan sistem saraf pusat
4. Trauma langsung pada sistem muskuloskeletal: kontusio,
salah urat, dan fraktur.
• Kelemahan fisik dan mental yang menghalangi
seseorang untuk melakukan aktivitas hidup sehari-
hari. Ketidakmampuan ini dibagi menjadi dua yaitu :
1. Ketidakmampuan primer yaitu disebabkan oleh
penyakit atau trauma (misalnya : paraisis akibat
gangguan atau cedera pada medula spinalis).
2. Ketidakmampuan sekunder yaitu terjadi akibat
dampak dari ketidakmampuan primer (misalnya
kelemahan otot dan tirah baring)
Jenis Mobilisasi
• Mobilisasi penuh, merupakan kemampuan
seseorang untuk bergerak secara penuh dan
bebas sehingga dapat melakukan interaksi
sosial dan menjalankan peran sehari-hari.
• Mobilisasi sebagian, merupakan kemampuan
seseorang untuk bergerak dengan batasan
jelas dan tidak mampu bergerak secara bebas
karena dipengaruhi oleh gangguan saraf
motorik dan sensorik pada tubuhnya
Jenis Imobilisasi
1. Imobilisasi fisik, ketidakmampuan bergerak
secara fisik karena terjadi gangguan pada
system neuro dan muskoloskeletal secara
langsung maupun komplikasi dari penyakit.
2. Imobilisasi intelektual, merupakan keadaan
ketika seseorang mengalami keterbatasan
daya pikir, seperti pada pasien yang
mengalami kerusakan otak akibat suatu
penyakit
3. Imobilisasi emosional, keadaan ketika
seseorang mengalami pembatasan secara
emosional karena adanya perubahan secara
tiba-tiba dalam menyesuaikan diri.
4. Imobilisasi sosial, keadaan individu yang
mengalami hambatan dalam melakukan
interaksi sosial karena keadaan penyakitnya
sehingga dapat memengaruhi perannya
dalam kehidupan sosial
Gejala Klinis
batasan karakteristik dari hambatan mobilitas fisik
1. Penurunan waktu reaksi.
2. Kesulitan membolak balik posisi
3. Melakukan aktivitas lain sebagai pengganti
gerakan (mis. Meningkatkan perhatian pada
aktivitas orang lain, mengendalikan prilaku, fokus
pada ketunadayaan/aktivitas sebelum sakit).
4. Dispnea setelah aktivitas.
5. Perubahan cara berjalan.
7. Pergerakan gemetar.
8. Keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan
motorik halus.
9. Keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan
motorik kasar.
10.Keterbatasan rentang pergerakan sendi
11.Tremor akibat pergerakan.
12.Ketidakstabilan postur.
13.Pergerakan lambat.
14.Pergerakan tidak terkodinasi.
15.Seseorang yang mengalami gangguan mobilitas fisik akan
menunjukan tanda dan gejala seperti di atas.
Pemeriksaan Fisik
1. Mengkaji skelet tubuh
– Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang
abnormal akibat tumor tulang. Pemendekan ekstremitas,
amputasi dan bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran
anatomis. Angulasi abnormal pada tulang panjang atau
gerakan pada titik selain sendi biasanya menandakan adanya
patah tulang.
2. Mengkaji tulang belakang : Skoliosis, Kifosis, Lordosis
3. Mengkaji system persendian : Luas gerakan dievaluasi
baik aktif maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan
adanya benjolan, adanya kekakuan sendi.
4. Mengkaji system otot : Kemampuan mengubah posisi, kekuatan
otot dan koordinasi, dan ukuran masing-masing otot. Lingkar
ekstremitas untuk mementau adanya edema atau atropfi, nyeri
otot.
5. Mengkaji cara berjalan
– Misalnya cara berjalan spastic hemiparesis - stroke, cara berjalan selangkah-
selangkah – penyakit lower motor neuron, cara berjalan bergetar – penyakit
Parkinson
6. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
– Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih
dingin dari lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi dengan
mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan waktu pengisian kapiler.
7. Mengkaji fungsional klien
Skala kekuatan otot
Skala Ciri-ciri

0 Lumpuh total
Tidak ada gerakan, teraba/terlihat adanya
1
kontraksi otot
Ada gerakan pada sendi tetapi tidak dapat
2
melawan gravitasi ( hanya bergeser)
Bisa melawan gravitasi tetapi tidak dapat menahan
3
atau melawan tahanan pemeriksa
Bisa bergerak melawan tahanan pemeriksa tetapi
4
kekuatanya berkurang
Dapat melawan tahanan pemeriksa dengan
5
kekuatan maksimal
Pemeriksaan diagnostik/penunjang
• Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, dan
perubahan hubungan tulang.
• CT scan (Computed Tomography) menunjukkan rincian bidang
tertentu tulang yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor
jaringan lunak atau cidera ligament atau tendon. Digunakan untuk
mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang didaerah yang
sulit dievaluasi.
• MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik
pencitraan khusus, noninvasive, yang menggunakan medan magnet,
gelombang radio, dan computer untuk memperlihatkan
abnormalitas (mis: tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak
melalui tulang Dll.
• Pemeriksaan Laboratorium:
• Hb ↓pada trauma, Ca↓ pada imobilisasi lama, Alkali Fospat ↑,
kreatinin dan SGOT ↑ pada kerusakan otot.
Therapy
1. Kesejajaran Tubuh
– Dalam mempertahankan kesejajaran tubuh yang tepat,
perawat mengangangkat klien dengan benar, menggunakan
teknik posisi yang tepat, dan memindahkan klien dengan
posisi yang aman dari tempat tidur ke kursi atau brankar.
– Pengaturan posisi dalam mengatasi masalah kebutuhan
mobilitas, digunakan untuk meningkatkan kekuatan,
ketahanan otot, dan fleksibilitas sendi. Posisi-posisi tersebut,
yaitu : posisi fowler (setengah duduk), posisi litotomi, posisi
dorsal recumbent, posisi supinasi (terlentang), posisi pronasi
(tengkurap), posisi lateral (miring), posisi sim, posisi
trendelenbeg (kepala lebih rendah dari kaki)
2. Mobilisasi Sendi
– Untuk menjamin
keadekuatan mobilisasi
sendi maka perawat
dapat mengajarkan klien
latihan ROM (Range Of
Motion). Apabila klien
tidak mempunyai
control motorik
volunteer maka perawat
melakukan latihan
rentang gerak pasif.
3. Mengurangi Bahaya Mobilisasi
• Intervensi keperawatan klien imobilisasi harus
berfokus mencegah dan meminimalkan
bahaya imobilisasi. Intervensi harus diarahkan
untuk mempertahankan fungsi optimal pada
seluruh sistem tubuh
Komplikasi
– Perubahan Metabolisme
• Secara umum imobilisasi dapat mengganggu
metabolisme secara normal, mengingat imobilisasi
dapat menyebabkan turunnya kecepatan
metabolisme di dalam tubuh. Hal tersebut dapat
dijumpai pada menurunnya basal metabolism rate
(BMR) yang menyebabkan berkurangnya energi
untuk perbaikan sel-sel tubuh, sehingga dapat
memengaruhi gangguan oksigenasi sel.
– Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit
• Terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
sebagai dampak dari imobilisasi akan
mengakibatkan persediaan protein menurun dan
konsentrasi protein serum berkurang sehingga
dapat mengganggu kebutuhan cairan tubuh. Di
samping itu, berkurangnya perpindahan cairan dari
intravascular ke interstisial dapat menyebabkan
edema sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan
dan elektrolit.
– Gangguan Fungsi Gastriointestinal
• Imobilisasi dapat menyebabkan gangguan
fungsi gastrointestinal. Hal ini disebabkan
karena imobilisasi dapat menurunkan hasil
makanan yang dicerna, sehingga penurunan
jumlah masukan yang cukup dapat
menyebabkan keluhan, seperti perut kembung,
mual, dan nyeri lambung yang dapat
menyebabkan gangguan proses eliminasi.
– Perubahan Sistem Pernafasan
• Akibat imobilisasi, kadar hemoglobin menurun, ekspansi paru
menurun, dan terjadinya lemah otot yang dapat menyebabkan proses
metabolisme terganggu.
– Perubahan Kardiovaskuler
• Sistem kardiovaskular juga dipengaruhi oleh imobilisasi. Ada tiga
perubahan utama yaitu hipotensi ortostatik, peningkatan beban kerja
jantung, dan pembentukan thrombus. Hipotensi ortostatik adalah
penurunan tekanan darah sistolik 25 mmHg dan diastolik 10mmHg
ketika klien bangun dari posisi berbaring atau duduk ke posisi berdiri.
Pada klien imobilisasi, terjadi penurunan sirkulasi volume cairan,
pengumpulan darah pada ekstremitas bawah, dan penurunan respon
otonom.
– Perubahan Sistem Muskuloskeletal
• Perubahan yang terjadi dalam sistem muskuloskeletal sebagai
dampak dari imobilisasi adalah sebagai berikut: (Fundamental
Keperawatan Potter dan Perry Edisi 7 Buku 3)
• Gangguan Muskular. Menurunnya massa otot sebagai dampak
imobilitas dapat menyebabkan turunnya kekuatan otot secara
langsung. Menurunnya fungsi kapasitas otot ditandai dengan
menurunnya stabilitas. Kondisi berkurangnya massa otot dapat
menyebabkan atropi pada otot. Sebagai contoh, otot betis
seseorang yang telah dirawat lebih dari enam minggu ukurannya
akan lebih kecil selain menunjukkan tanda lemah atau lesu.
• Gangguan Skeletal. Adanya imobilitas juga dapat menyebabkan
gangguan skeletal, misalnya akan mudah terjadinya kontraktur
sendi dan osteoporosis. Kontraktur merupakan kondisi yang
abnormal dengan kriteria adanya fleksi dan fiksasi yang
disebabkan atropi dan memendeknya otot.
– Perubahan Sistem Integumen
• Perubahan sistem integumen yang terjadi berupa penurunan
elastisitas kulit karena menurunnya sirkulasi darah akibat
imobilisasi dan terjadinya iskemia serta nekrosis jaringan
superficial dengan adanya luka decubitus sebagai akibat tekanan
kulit yang kuat dan sirkulasi yang menurun ke jaringan.
– Perubahan Eliminasi
• Eliminasi urine klien berubah oleh adanya imobilisasi. Pada posisi
tegak lurus, urine mengalir keluar dari pelvis ginjal lalu masuk ke
dalam ureter dan kandung kemih akibat gaya gravitasi. Jika klien
dalam posisi rekumben atau datar, ginjal dan ureter membentuk
garis datar seperti pesawat. Ginjal yang membentuk urine harus
masuk ke dalam kandung kemih melawan gaya gravitasi. Akibat
kontraksi peristaltik ureter yang tidak cukup kuat melawan gaya
gravitasi, pelvis ginjal menjadi terisi sebelum urine masuk ke
dalam ureter.
– Perubahan Prilaku
• Perubahan perilaku sebagai akibat imobilisasi,
antara lain timbulnya rasa bermusuhan, bingung,
cemas, emosional tinggi, depresi, perubahan siklus
tidur, dan menurunnya koping mekanisme.
Terjadinya perubahan perilaku tersebut merupakan
dampak imobilisasi karena selama proses
imobilisasi seseorang akan mengalami perubahan
peran, konsep diri, kecemasan, dan lain-lain.