Anda di halaman 1dari 27

Dwi Harianto, S.Kep.,Ns.,M.

Kep
Memindahkan korban ke lingkungan
yang lebih aman dan nyaman untuk
mendapatkan pertolongan medis lebih
lanjut. dengan cara-cara yang
sederhana di lakukan di daerah-daerah
yang sulit dijangkau dimulai setelah
keadaan darurat.
Prinsip dasar dalam melakukan
evakuasi adalah:
1. Dilakukan jika mutlak perlu
2. Menggunakan teknik yang baik dan
benar
3. Penolong harus memiliki kondisi fisik
yang prima dan terlatih
4. Penolong harus bisa melakukan
perawatan darurat selama dalam
perjalanan
 Dalam melaksanakan proses
evakusi korban ada beberapa cara
atau alat bantu,
 Tergantung pada kondisi yang
dihadapi (medan, kondisi korban
ketersediaan alat).
1. Pengangkutan tanpa menggunakan alat atau
manual
 Peranan dan jumlah pengangkut
mempengaruhi cara angkut yang
dilaksanakan
 dianjurkan pengangkatan korban maksimal 4
orang
2. Pengangkutan dengan alat (tandu)
− Tandu permanen
− Tandu darurat
− Kain keras / ponco / jaket lengan
panjang
− Tali / webbing
1. Persiapan,
2. Pengangkatan korban ke atas tandu,
3. Pemberian selimut pada korban
4. Tata letak korban pada tandu disesuaikan
dengan luka atau cedera.
 Proses pemindahan di lakukan oleh satu penolong,dua
penolong atau lebih tanpa menggunakan alat-alat
bantu.
 Satu Penolong:
 Human crutch : di papah dengan di rangkul dari samping.
 Drag : di seret.
 Cradle : di bopong.
 Pick-A-back : di gendong, ngamplok dipunggung.

 Dua Penolong :
 Cara The two-handed seat : ditandu dengan kedua lengan
penolong.
 Cara The fore and aft carry.
Kondisi korban.
 Sadar mampu berjalan.
satu penolong : Human crutch.
dua penolong : Two-handed
seat.

 Sadar tidak mampu berjalan.


satu penolong : Cradle,pick-a-
back.
dua penolong : Two-hand seat.
The fore and aft
carry.
 Tidak sadar.
satu penolong : Cradle,drag.
dua penolong : Fore-and-aft
carry.
Proses pemindahan dapat dilakukan oleh dua-
empat penolong dengan menggunakan alat-
alat bantu.
−Dengan menggunakan kursi kayu.
−Dengan menggunakan tandu/usungan.
−Dapat menggunakan kendaraan.
 Pengangkatan korban,
Harus secara efektif dan efisien dengan dua
langkah pokok; gunakan alat tubuh (paha, bahu,
panggul), dan beban serapat mungkin dengan
tubuh korban.
 Sikap mengangkat.
Usahakan dalam posisi rapi dan seimbang untuk
menghindari cedera.
 Posisi siap angkat dan jalan.
Biasanya posisi kaki korban berada di depan dan
kepala lebih tinggi dari kaki, kecuali;
−menaik, bila tungkai tidak cedera,
−menurun, bila tungkai luka atau hipotermia,
−mengangkut ke samping,
−memasukan ke ambulan kecuali dalam keadaan
tertentu
−kaki lebih tinggi dalam keadaan shock.
 Diperlukan dan tidak membahayakan
penolong.
 Jelaskan pada korban apa yang harus
dilakukan (kooperatif).
 Libatkan penolong lain.
 Pemindahan korban di bawah satu
komando.
 Cara mengangkat korban dengan cara yang
benar.
Yang perlu diperhatikan:
1. Kondisi korban memungkinkan untuk dipindah atau
tidak berdasarkanpenilaian kondisi dari: keadaan
respirasi, pendarahan, luka, patah tulang dan angguan
persendian
2. Menyiapkan personil untuk pengawasan pasien
selama proses evakuasi
3. Menentukan lintasan evakusi serta tahu arah dan
tempat akhir korban diangkut
4. Memilih alat
5. Selama pengangkutan jangan ada bagian tuhuh yang
berjuntai atau badan penderita yang tidak dalam
posisi benar.
 Merupakan kegiatan pemindahan korban dari
tempat darurat ke tempat yang fasilitas
perawatannya lebih baik, seperti rumah sakit.
 Biasanya dilakukan bagi pasien/ korban cedera
cukup parah sehingga harus dirujuk ke dokter.
a. Dasar melakukan pemindahan korban;
− aman,
− stabil,
− cepat,
− pengawasan korban,
− pelihara udara agar tetap segar.
b. Syarat pemindahan korban:
−keadaan umum cukup baik
−tidak ada gangguan pernapasan
−pendarahan sudah di atasi
−luka sudah dibalut
−patah tulang sudah dibidai
c. Sepanjang pelaksanaan pemindahan
korban perlu dilakukan pemantauan dari
korban tentang:
−Keadaan umum korban
−Sistem persyarafan (kesadaran)
−Sistem peredaran darah (denyut nadi dan
tekanan darah)
−Sistem pernapasan
−Bagian yang mengalami cedera