Anda di halaman 1dari 8

Masalah Tukar Tambah (Trade-In)

Dalam Penjualan Angsuran


• Yang dimaksud dengan istilah tukar tambah disini adalah perjanjian
dimana penjual menyerahkan barang-barang baru dengan perjanjian
angsuran, sedangkan pembeli menyerahkan barang yang sudah
dipakai yang digunakan sebagai pembayaran uang muka. Barang
bekas pakai tersebut dinilai atas dasar perjanjian antara penjual dan
pembeli.
• Bagi si penjual, sebelum menetapkan harga pertukaran tersebut
biasanya memperhatikan adanya kemungkinan untuk direvisi dan
dijual kembali. Untuk itu si penjual harus menilai kembali barang
bekas pakai tersebut pada saat dimulainya perjanjian tukar tambah.
Dalam kasus tukar tambah ini, barang bekas pakai yang diterima harus
dicatat sebesar harga penilaian yang dapat dianggap sebagai perkiraan
harga pokok (Estimated Cost). Sedangkan harga barang bekas yang
diterima sesuai dengan perjanjian dianggap sebagai harga pertukaran.
Apabila terdapat perbedaan antara harga pokok yang diperkirakan
dengan harga pertukaran, maka perbedaan tersebut akan dicatat dalam
rekening “Cadangan Selisih Harga Pertukaran” atau disingkat CSHP.
Contoh Soal
Dealer Motor “PRANA” melayani tukar tambah motor untuk menjual motor
dagangannya. Seorang konsumen menginginkan sebuah motor baru dengan
cara menukarkan sebuah motor miliknya sebagai uang muka. Perjanjian
diantara keduanya adalah sebagai berikut :
• Harga motor bekas disetujui Rp. 3.000.000
• Harga motor baru Rp. 10.000.000
• Harga pokok motor baru Rp. 8.000.000
Sedangkan Toko “PRANA” mempunyai data-data mengenai perkiraan biaya
revisi dan harga jualnya sebagai berikut :
• Perkiraan biaya perbaikan Rp. 200.000
• Harga jual setelah perbaikan Rp. 3.250.000
• Laba kotor rata-rata penjualan motor = 20%
Berdasarkan data diatas, Toko “PRANA” sebagai penjual akan membuat
perhitungan dan jurnal mengenai tukar tambah motor sebagai berikut :

Nilai motor bekas disetujui Rp. 3.000.000


Nilai jual setelah perbaikan Rp. 3.250.000
Dikurangi :
Laba kotor rata-rata= 20% X Rp. 3.250.000 (Rp. 650.000)
Perkiraan perbaikan (Rp. 200.000)
Perkiraan harga pokok (Estimated Cost) Rp. 2.400.000
Cadangan selisih harga pertukaran Rp. 600.000
Setelah membuat perhitungan diatas, seperti dalam uraian di muka
dijelaskan bahwa barang bekas dicatat sebesar perkiraan harga pokok
(Estimated Cost). Jurnal yang dibuat oleh Toko “PRANA” adalah sebagai
berikut :

Motor bekas Rp. 2.400.000


Cadangan selisih harga pertukaran Rp. 600.000
Piutang angsuran Rp. 7.000.000
Penjualan angsuran Rp. 10.000.000
Harga pokok motor Rp. 8.000.000
Persediaan motor Rp. 8.000.000
Penjelasan :

Piutang angsuran besarnya ditentukan oleh tiga rekening, yaitu :


Penjualan angsuran, yang dicatat sebesar harga motor baru yang
dijual
Motor bekas, yang dicatat sebesar perkitaan harga pokok
(Estimated Cost)
Cadangan selisih Harga pertukaran, yang dicatat sebesar selisih
antara harga pertukaran dengan perkiraan harga pokok.
Apabila di dalam perjanjian juga ditentukan adanya pembayaran sejumlah uang tunai, maka besarnya
piutang angsuyaran akan dipengaruhi juga oleh besarnya uang tunai yang dibayarkan. Misalnya dalam contoh
tersebut diatas ditentukan juga bahwa disamping menyerahkan motor bekas pakai miliknya, konsumen
tersebut diharuskan menyerahkan uang tunai sebesar Rp. 1.750.000, maka jurnal yang dibuat oleh Toko
“PRANA” adalah sebagai berikut :
a) Kas Rp. 1.750.000
Motor bekas Rp. 2.400.000
Cadangan selisih harga pertukaran Rp. 600.000
Piutang angsuran Rp. 5.250.000
Penjualan angsuran Rp. 10.000.000
b) Harga pokok motor Rp. 8.000.000
Motor Rp. 8.000.000
Berdasarkan jurnal diatas, tampaklah bahwa besarnya piutang angsuran menjadi berubah. Setelah
rekening piutang angsuran dapat ditentukan besarnya, maka proses selanjutnya sama seperti prosedur
perhitungan dan pencatatan pejualan angsuran aktiva tetap atau penjualan angsuran barang dagangan lainnya
yang telah dibahas sebelumnya.