Anda di halaman 1dari 16

1.

Sinta Novitasari ( P27824118029 )


2. Afifah fitriana ( P27824118030 )
3. Elyana sugagono ( P27824118031 )
4. Femi friskilia ( P27824118032 )
5. Ayu anita Rahman ( P27824118033 )
6. Fresha galuh M ( P27824118034 )
7. Sonia triwahyuni ( P27824118035 )
8. Mifta auliya ( P27824118036 )
9. Ainun istiqomah ( P27824118037 )
10. Ulfa fahmi ( P27824118038 )
11. Miftakhul inayah ( P27824118039 )
12. Marinda wahyu ( P27824118040 )
 Awal pertumbuhan, anak memiliki fase petumbuhan dan
perkembangan yang progresif sehingga perlu adanya
optimalisasi pemenuhan segala kebutuhan anak di
masa awal pertumbuhan.

 Kebutuhan psikososial adalah kebutuhan-kebutuhan


dasar anak untuk tumbuh kembang yang optimal
meliputi Asuh, Asih, dan Asah
ASUH
 Soetjiningsih dan Roesli (dalam Sulistiyani, 2010)
menyatakan bahwa asuh menunjukkan kebutuhan bayi
dalam mendukung pertumbuhan otak dan jaringan tubuh
 Kebutuhan fisik dan biologis ini berpengaruh pada
pertumbuhan fisik yaitu otak, alat penginderaan, dan alat
gerak yang digunakan oleh anak untuk mengeksplorasi
lingkungan, sehingga berpengaruh pada kecerdasan anak
 Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi maka kecerdasan
anak juga ikut terganggu (Soedjatmiko, 2009)
Indikator Asuh
Soetjiningsih (1995) menggolongkan kebutuhan asuh ini
menjadi beberapa indikator yaitu:

1) Zat Gizi Seimbang, masa tumbuh kembang anak


membutuhkan zat gizi lengkap seperti protein,
karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan mineral.
Kebutuhan diatas jika tidak terpenuhi akan
menghambat proses tumbuh kembang pada tahap
selanjutnya (Hidayat, 2006).
Indikator Asuh
2) Perawatan Kesehatan Dasar , yaitu perawatan yang
harus dilakukan pada anak dan harus dipenuhi
diantaranya imunisasi lengkap, pemberian ASI,
penimbangan secara teratur, dan memberikan
pengobatan ketika anak sakit (Soetjiningsih, 1995).

3) Perumahan (Tempat Tinggal), menurut Tim Familia


(2006) rumah memiliki pengaruh sangat besar terhadap
perkembangan anak. Sebagai salah satu contohnya
apabila rumah lembab akan menjadi faktor pencetus
anak menderita penyakit paru-paru
Indikator Asuh
4) Pakaian, pakaian merupakan sebuah bentuk
perlindungan dan kehangatan yang diberikan untuk
mencegah dan melindungi anak dari berbagai benda
yang dapat membahayakan anak
5) Kebersihan Diri dan Lingkungan, lingkungan yang bersih
akan membantu mewujudkan hidup sehat, sehingga
anak tidak akan mengalami gangguan dalam
pertumbuhan dan perkembangan (Narendra dalam
Hidayat, 2008).
6) Kesegaran Jasmani dan Rekreasi menambah aktifitas
fisiologis dan stimulasi terhadap perkembangan otot
anak
KRITERIA POLA ASUH
ANAK
Pola asuh orangtua terhadap perilaku anak memiliki beberapa kriteria yaitu
(Syamsul, 2005):
• Pola asuh Authoritarian — Pola asuh orangtua, dimana sikap orangtua yang
rendah, namun kontrolnya tinggi, suka menghukum secara fisik dan bersikap
komando.
• Pola asuh Permissive — Pola asuh orangtua, dimana sikap orangtua meningkat
namun kontrolnya rendah, memberikan kebebasan terhadap anak untuk
mengatakan dorongan keinginannya.
• Pola asuh Authoritative — Pola asuh oragtua, dimana sikap yang meninggat dan
kontrolnya meningkat, bersikap responsif terhadap kebutuhan anak, mendorong
anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan, memberikan penjelasan
tentang dampak perbuatan yang baik atau buruk.
• Pola asuh Dominan — Pola asuh orangtua yang mendominasi dalam segala hal
yang menyangkut remaja dalam tindakan sehari-hari.
• Pola asuh Submission — Orangtua cenderung senantiasa memberikan sesuatu
yang diminta anak berperilaku semaunya dirumah.
• Pola asuh Overdisplin — Orangtua senantiasa mudah memberikan hukuman,
menanamkan kedisiplinan secara keras.
ASAH
 Soetjiningsih dan Roesli dalam Sulistiyani (2010)
menyebutkan bahwa kebutuhan asah merupakan
kebutuhan rangsangan atau stimulasi yang dapat
meningkatkan perkembangan kecerdasan anak secara
optimal
 Anak perlu distimulasi sejak dini untuk
mengembangkan sedini mungkin kemampuan
sensorik, motorik, emosi-sosial, bicara, kognitif,
kemandirian, kreativitas, kepemimpinan, moral dan
spiritual anak
Stimulasi untuk tumbuh kembang anak dapat
dilakukan dengan memberikan permainan atau
bermain dengan anak

 Tindakan stimulasi tidak hanya bersumber dari


permainan melainkan berbagai aktivitas, seperti
latihan gerak, berbicara, berpikir, kemandirian,
dan sosialisasi.
Prinsip Dasar Stimulasi Anak

1. Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang.


2. Selalu tunjukkan sikap dan perilaku yang baik karena akan meniru
tingkah laku orang-orang yang terdekat dengannya
3. Berikan stimulasi sesuai dengan kelompok umur anak.
4. Lakukan stimulasi dengan cara mengajak anak bermain, bernyanyi,
bervariasi, menyenangkan, tanpa paksaan dan tidak ada hukuman
5. Lakukan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur
anak , terhadap ke 4 aspek kemampuan dasar anak.
6. Gunakan alat bantu/permainan yang sederhana, aman dan ada di
sekitar anak.
7. Berikan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan.
8. Anak selalu diberi pujian, bila perlu diberi hadiah atas
keberhasilannya.
ASIH

Kebutuhan yang dipenuhi dari rasa kasih sayang


dan luapan emosi. Orang tua terkadang
melupakan pentingnya binaan tali kasih sayang
(asih) antara anak dan orang tua, dibentuk sejak
anak masih di dalam kandungan. Hal ini akan
dapat dirasakan juga oleh anak (Soetjiningsih,
1995).
ASIH
Untuk menjamin tumbuh kembang fisik-mental dan
psikososial anak dengan cara:
a) menciptakan rasa aman dan nyaman,
b) anak merasa dilindungi,
c) diperhatikan minat, keinginan, dan pendapatnya
d) diberi contoh (bukan dipaksa
e) dibantu, didorong/dimotivasi, dan dihargai
f) dididik dengan penuh kegembiraan, melakukan koreksi
dengan kegembiraan dan kasih sayang (bukan ancaman/
hukuman).
Penyimpangan perkembangan
dan psikologi pada bayi , balita
dan apras
Ada 3 jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat dikerjakan
oleh tenaga kesehatan di puskesmas dan jaringannya, berupa:
• Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk
mengetahui/menemukan status gizi kurang/buruk dan
mikrosefali/makrosefali.
• Deteksi dini penyimpangan perkembangan yaitu untuk
mengetahui gangguan perkembangan anak (Keterlambatan),
gangguan daya lihat, gangguan daya dengar.
• Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk
mengetahui adanya masalah mental emosional, autisme dan
gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.
Deteksi dini penyimpangan
perkembangan
• Skrining/Pemeriksaan perkembangan anak
menggunakan Kuisioner Pra Skrining Perkembangan
(KPSP) dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan
anak normal atau ada penyimpangan.
• Tes Daya Dengar (TDD) dengan tujuan untuk
menemukan gangguan pendengaran sejak dini, agar dapat
segera ditindak lanjuti untuk meningkatkan kemampuan
daya dengar dan bicara anak.
• Tes daya Lihat (TDL) dengan tujuan untuk mendeteksi
secara dini kelainan daya dengar agar segera dapat
dilakukan tindakan lanjutan sehingga kesempatan untuk
memperoleh ketajaman daya lihat menjadi lebih besar.
Beberapa jenis alat untuk mendeteksi
secara dini adanya penyimpangan mental
emosional pada anak
• Kuisioner Masalah Mental Emosional (KMME) bagi anak
umur 36 bulan sampai 72 bulan. Tujuan untuk mendeteksi
secara dini adanya penyimpangan/masalah mental emosional
pada anak prasekolah.
• Ceklist Autis anak prasekolah (Checklist for Autism in
Toddler/CATT) bagi anak umur 18 bulan samapai 36 bulan.
Tujuan untuk mendeteksi secara dini adanya Autis pada anak
umur 18 bulan – 36 bulan.
• Formulir deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan
Hiperaktivitas (GPPH) menggunakan Abreviated Conner
Rating Scale bagi anak umur 36 bulan ke atas. Tujuan untuk
mendeteksi secara dini adanya gangguan Pemusatan
Perhatian dan Hiperaktivitas pada anak umur 36 bulan ke atas.