Anda di halaman 1dari 86

Pengenalan Boiler

Pembangkit

Andik Santoso – 7906078JA


DESEMBER 2019
Pengenalan Boiler
Definisi Boiler

Bahan bakar dan udara direaksikan


di ruang bakar (furnace) untuk
menghasilkan energi panas. Energi
panas dipindahkan ke air yang
menerima energi panas dan
berubah menjadi uap. Sisa
pembakaran bahan bakar menjadi
gas buang (flue gas)
DEFINISI BOILER

• BOILER merupakan kombinasi antara sistem dan peralatan yg dipakai untuk


perubahan energi kimia bahan bakar menjadi energi thermal dan
pemindahan energi termal yang dihasilkan itu ke fluida kerja sehingga
berubah dari air menjadi uap.

• Proses konversi energi kimia bahan bakar menjadi energi termal (heat
generation) berlangsung di daerah furnace dengan bantuan alat pembakar
(burner)

• Proses pemindahan energi termal ke fluida kerja (heat transfer)


berlangsung pada bagian-bagian utama boiler
Klasifikasi Boiler
KLASIFIKASI MENURUT METODE PEMBAKARAN

Klasifikasi Keterangan singkat


Dengan Stoker Terutama digunakan pada industrial boiler
Dengan Burner Terutama digunakan pada utility boiler atau industrial boiler kapasitas besar
Dengan cyclone furnace Cocok untuk batubara yg mempunyai viskositas slag rendah dan kandungan besi rendah. Bahan bakar
dibakar di dalam dinding pipa air silinder, dan api dipusarkan oleh pancaran udara-serbuk batubara
secara tangensial atau oleh pancaran udara sekunder secara tangensial dengan kecepatan tinggi (80 -
120 m/s); abu dibuang dari furnace dalam bentuk cairan
Dengan fluidized bed Partikel bahan bakar padat (1 - 6 mm) bercampur dengan bed material dan dari bawah dihembuskan
aliran udara pada kecepatan tertentu sehingga partikel terangkat diatas permukaan bed material dan
dibakar pada keadaan mengambang (fluidized) digunakan pada industrial boiler untuk membakar
bahan bakar padat kualitas rendah
KLASIFIKASI MENURUT METODE PEMBUANGAN SLAG

Klasifikasi Keterangan singkat


Boiler dengan dry ash Cocok untuk batubara dengan abu yg mempunyai
furnace temperatur fusi (leleh) tinggi, abu dibuang dari
bottom furnace dalam keadaan padat dan kering

Boiler dengan slag tap Slag cair mengalir ke kolam cairan slag di bawah
furnace furnace dan di tapping ke dalam tangki slag yang
berisi air
KLASIFIKASI MENURUT ORIENTASI LINTASAN
AIR/UAP TERHADAP GAS PEMBAKARAN

Klasifikasi Keterangan singkat


Firetube Boiler Api dan gas panas hasil pembakaran melintas di dalam
tube, sedangkan air/uap berada di luar tube dalam bejana.
Untuk mengurangi tebal bejana, penggunaan dibatasi :
- Tek. uap maks : 17 bar, operasional : 10 bar
- Diameter : 8 ft
Watertube Api dan gas panas hasil pembakaran melintas di luar tube,
Boiler sedangkan air/uap mengalir di dalam tube. Cocok sekali
dipakai untuk pembangkit uap berkapasitas besar dan
bertekanan tinggi :
- Tek. : 45 s/d 140 atm (jenis pipa air biasa)
: 350 atm (jenis supercritical)
- produksi uap : s/d 2100 ton/jam
- diameter pipa : 2 hingga 4 inch
1st Generation Modern Boiler
Fire Tube Boiler
Locomotive Boiler
KLASIFIKASI MENURUT PENGGUNAANNYA

Klasifikasi Keterangan singkat


Utility Boiler Untuk pembangkit tenaga listrik. Kapasitas besar, P dan T uap tinggi,
efisiensi tinggi, type boiler pipa air, bila P uap > 14 MPa biasanya
dilengkapi dengan reheater

Industrial Boiler Untuk pemanasan, proses, dll.


Kapasitas lebih kecil, P dan T uap lebih rendah, furnace dengan
burner, stoker atau fluidized bed, tanpa reheater

Marine Boiler Sebagai sebagai sumber penggerak kapal. Bentuk kompak, bobot
lebih ringan, umumnya berbahan bakar minyak, tanpa reheater
Common Power Plant Boiler
STOKER FIRING BOILER

Drum
Bank
Bunker

Furnace

Spreader

Grate
Common Power Plant Boiler
FLUIDIZED BED BOILER
(BUBBLING TYPE)

Drum

Furnace Furnace Bank


Common Power Plant Boiler
FLUIDIZED BED BOILER
(CIRCULATING TYPE)

Cyclone

Furnace
Common Power Plant Boiler
PULVERIZED COAL
FIRING BOILER

Drum

Bunker Bank

Furnace

Pulverizer
Comparison of different
types of boilers

Property Packed bed Fluidized bed Fast bed Pneumatic


Transport
Application Stoker Bubbling Circulating Pulverized
Mean particle size (mm) <300 0.03-3 0.05-0.5 0.02-0.08
Gas velocity through combustion 1-3 0.5-3 3-12 15-30
zone (m/s)
Solid-solid Mixing Negligible Usually near Perfect Near plug flow
perfect mixing mixing
Temperature gradient Large Very small Small Significant
Heat transfer coefficient (W/m2 50-150 200-550 100-250 50-100
K)

Fluidized Bed Systems Limited 18


KLASIFIKASI MENURUT SIRKULASI AIR-UAP

Klasifikasi Keterangan singkat


Sirkulasi natural Sirkulasi fluida di pipa evaporator akibat perbedaan massa jenis antara campuran air-
uap di riser dan air di downcommer. Dan hanya beroperasi pada tekanan subcritical
Sirkulasi paksa Sirkulasi fluida di pipa evaporator dihasilkan secara paksa oleh pompa sirkulasi
(BWCP). Dan hanya beroperasi hanya beroperasi pada tekanan subcritical
Once-through Tanpa steam drum, fluida secara paksa dialirkan melalui pipa-pipa evaporator hanya
boiler oleh pompa BFP. Dan dapat beroperasi pada tekanan subcritical dan supercritical
Sirkulasi Terdapat pompa sirkulasi, back-pressure valve, dan pencampur. Pada saat start, back-
kombinasi pressure valve dibuka dan boiler beroperasi sebagai boiler sirkulasi paksa. Pada
pencapaian beban spesifik, pompa sirkulasi pada posisi off, back-pressure valve
menutup secara otomatis, dan boiler beroperasi sebagai once-through boiler. Dapat
beroperasi pada tekanan subcritical dan supercritical
STEAM
(Ms)
Ms

Mw

WATER

COLD SIDE
(Mw)

DOWNTAKE or DOWNCOMER
Steam +
Water

HOT SIDE
HOT SIDE
COLD SIDE

CIRCULATING PUMP
ORIFICE

Natural Circulation Forced Circulation


KLASIFIKASI MENURUT TEKANAN KERJANYA

Klasifikasi Keterangan singkat


Boiler Tekanan rendah Digunakan sebagai industrial boiler, sirkulasi natural, beberapa
dan sedang (<10MPa) diantaranya dengan boiler bank, furnace dengan burner atau stoker,
tanpa reheater
Boiler Tekanan tinggi Digunakan sebagai utility boiler, biasanya sirkulasi natural, dgn
(10-14 Mpa) reheater hanya bila tekanannya  14 MPa.
Boiler Tekanan sangat Digunakan sebagai utility boiler, sirkulasi natural atau paksa
tinggi (>17MPa) tergantung pada engineering-economical aprroach, dengan reheater,
harus dipertimbangkan pencegahan terhadap film boiling dan korosi
karena temperatur tinggi
Boiler Tekanan Digunakan sebagai utility boiler, kapasitas besar, sirkulasi once-
supercritical through atau kombinasi, dengan reheater, harus dipertimbangkan
(>22,1MPa) pencegahan terhadap pseudo-film boiling, dan korosi karena
temperatur tinggi
KLASIFIKASI MENURUT JENIS BAHAN BAKAR

Klasifikasi Keterangan singkat

Boiler dengan Terutama digunakan batubara, komponen bahan


bahan bakar bakar dan karakteristik abu adalah faktor sangat
padat penting dalam desain boiler
Dengan bahan Dengan kecepatan gas buang yang lebih tinggi dan
bakar minyak volume furnace yang lebih kecil
Dengan bahan Terutama digunakan gas alam dengan kecepatan
bakar gas gas buang yang lebih tinggi dan volume furnace yang
lebih kecil
Boiler Size comparison
Komponen Utama Boiler
STEAM DRUM

• Semua boiler yg beroperasi di bawah Tekanan subcritical biasanya dilengkapi dengan steam drum
• Di dalam steam drum, uap jenuh dipisahkan dari campuran air-uap yang keluar dari riser
• Stam drum berfungsi juga sebagai vessel penyimpan air yg mengakomodasi perubahan permukaan air
selama perubahan beban dan internal water treatment
• Berfungsi juga sebagai steam separator dan steam purificator, dan juga sebagai pengumpul fase cair agar
homogen
STEAM DRUM
Steam Outlet

Chevron Dryer

Cyclone

Scrubber

Baffle Plate
SUPERHEATER & REHEATER

• Tube Superheater dan Reheater mempunyai


konstruksi yg similar tetapi berbeda pada
tekanan kerjanya
• Pada reheater tekanan uap berkisar 3 – 6
Mpa
• Aliran uap di dalam tube menyerap panas
dari gas yang mengalir di luar tube. Dengan
demikian temperatur uap akan naik dan
volumenya juga naik
SUPERHEATER

• Untuk pemanasan lanjut uap jauh di atas temperatur jenuhnya sebelum


diekspansikan di turbine
• Uap panas lajut (superheated steam) yang dialirkan ke turbinakan
menaikkan efisiensi total siklus serta untuk mengurangi kelembaban
pada saat berekspansi di dalam turbin

• Menurut cara menerima energi termal : Superheter radiasi, konveksi dan,


kombinasi

REHEATER
• Untuk pemanasan ulang uap setelah berekspansi di dalam HP Turbine
• Meningkatkan efisiensi total siklus
• Mencegah kelembaban agar tidak tinggi sehingga tidak terjadi
kondensasi saat uap berekspansi pada IP Turbine dan LP Turbine
ECONOMIZER

Gas meninggalkan superheater konveksi temperaturenya masih tinggi (750oC s/d


900oC)

 Kerugian panas bila langsung dibuang


 Dimanfaatkan untuk memanasi air pengisi
 Diperoleh keuntungan sebagai berikut :

1. Pemanfaatan panas
2. Air yg dipanasi sebelum masuk steam drum akan menghindarkan “heat stress”
pada sambungan riser dengan drum sehingga steam drum akan lebih awet
3. Air pengisi yang telah panas membutuhkan panas yang lebih sedikit untuk
menguapkan dalam evaporator

- Hemat bahan bakar  hemat biaya operasi


- Hemat biaya perawatan
- Harga lebih murah (evaporator cukup kecil)  hemat biaya investasi.

Dengan memanasi air pengisi ketel  berarti ekonomis  alatnya disebut Economizer
AIR HEATER

• Temperature flue gas meninggalkan economizer masih cukup tinggi (400oC s/d 700oC  merupakan kerugian
bila langsung dibuang ke udara luar melalui cerobong
• Dimanfaatkan untuk memanasi udara bakar  dalam suatu alat yang disebut “pemanas udara / air heater”

Tujuan pemanasan udara pembakaran :


• Udara masuk furnace sudah dalam keadaan panas, sehingga api dalam furnace tidak banyak diambil panasnya
untuk sampai ke temperatur penyalaan
• Laju pembakaran bahan bakar ( burning rate) menjadi lebih besar  kapasitas boiler menjadi lebih besar
• Mencegah kemungkinan flame loss di dalam furnace
EVAPORATOR/WATER WALL FURNACE

Pipa-pipa evaporator pada “water wall tube boiler” berfungsi juga sebagai dinding furnace
Desuperheater
Fungsi Desuperheater
Karakteristik Boiler
Gas Velocity in Boiler
Sekilas Tentang CFB Boiler
Prinsip Sirkulasi Bed Material dalam CFB Boiler
Karakter Boiler Stoker
Kelebihan :
1. Bahan Bakar fleksibel (kayu, limbah organik,
biomass, batubara kalori rendah)
2. Keandalan tinggi
3. Low Maintenance
4. Mudah dioperasikan

Kekurangan :
1. Efisiensi rendah
2. Kapasitas kecil
3. Respon terhadap perubahan beban lambat
Karakter Boiler CFB
Kelebihan :
1. Bahan Bakar lebih fleksibel daripada
Pilverized Coal (biomass, batubara kalori
rendah)
2. Emisi rendah (ramah lingkungan)
3. Efisiensi pembakaran tinggi
4. Kapasitas menengah hingga besar

Kekurangan :
1. Keandalan rendah
2. Lebih sulit dioperasikan
3. Respon terhadap perubahan beban lambat
Karakter Boiler Pulverized Coal

Kelebihan :
1. Keandalan tinggi
2. Emisi rendah (ramah lingkungan)
3. Efisiensi pembakaran tinggi
4. Kapasitas menengah hingga besar
5. Respon perubahan beban lebih cepat

Kekurangan :
1. Pilihan bahan bakar terbatas
2. Perawatan lebih sulit
3. Lebih sulit dioperasikan

Pulverized Coal
Karakter Boiler Super Critical

Kelebihan :
1. Efisiensi tinggi
2. Emisi rendah (ramah lingkungan)
3. Kapasitas besar
4. Respon perubahan beban cepat

Kekurangan :
1. Biaya Investasi tinggi
2. Pilihan bahan bakar terbatas (kalori tinggi)
3. Perawatan lebih sulit
4. Lebih sulit dioperasikan

Super Critical
Perbandingan Karakter Boiler
STOKER CFB PULVERIZED COAL SUPER CRITICAL

1. ASPEK BIAYA
a. Biaya Investasi ( ↓ ) 1 2 3 4
b. Biaya Operasi ( ↓ ) 4 2 3 1
c. Biaya Pemeliharaan ( ↓ ) 1 4 2 3
2. ASPEK OPERASIONAL
a. Kemudahan Pengoperasian ( ↑ ) 1 4 2 3

b. Respon Perubahan Beban ( ↑ ) 1 2 3 4

c. Keandalan Peralatan ( ↑ ) 4 1 3 2

d. Efisiensi Pembangkit ( ↑) 1 2 3 4
e. Maintainability ( ↑ ) 4 2 3 1
f. Kapasitas Pembangkit ( ↑ ) 1 2 3 4

g. Emisi dan Pencemaran Lingkungan 4 2 3 1


(↓)
Keterangan :
a. Range penilaian  1 = Paling Rendah, 4 = Paling Tinggi
b. ( ↓ )  Semakin rendah semakin bagus, ( ↑ )  Semakin tinggi semakin bagus
Combustion Tuning Boiler CFB
COMBUSTION TUNING

Bahan bakar di dalam boiler memerlukan udara dalam jumlah tertentu


untuk terjadinya proses pembakaran yang sempurna. Hal ini merupakan
“ theoretical air ” yang diperlukan untuk terjadinya proses pembakaran
COMPLETE dalam kondisi yang sempurna. Jumlah udara lebih inilah yang disebut
COMBUSTION “excess air ”

Stoikiometri pembakaran adalah kebutuhan reaksi pembakaran yang


utuh pada atau di atas kebutuhan udara stoikiometris untuk mencapai
complete combustion

Untuk PLTU Pulang Pisau perbandingan udara dan bahan bakar ideal
adalah 1 : 6.8

Unburn carbon

O² content Sebagai indikasi kebutuhan udara pembakaran


BED PARTIKEL SIZE
BERIKUT MERUPAKAN REKOMENDASI BED MATERIAL
MENURUT MANUAL BOOK DONGFANG CO., LTD

UKURAN BED MATERIAL YANG DIREKOMENDASIKAN


ADALAH MAXIMUM 3mm & D50 0,7mm

BED PARTIKEL SIZE SANGAT MENENTUKAN KEBUTUHAN


UDARA PA (PRESS & FLOW) YANG SANGAT DINAMIS
UNTUK KEBUTUHAN FLUIDISASI, IDEALNYA BED
PARTIKEL SIZE 1-2mm, KETIKA UNIT BEROPERASI BED
MATERIAL AKAN MENGALAMI JENUH & HABIS,
SEHINGGA BED MATERIAL HARUS SELALU
DIPERHATIKAN KARENA SANGAT BERPENGARUH
TERHADAP FLUIDISASI DI DALAM FURNACE, SEMAKIN
HOMOGEN UKURAN BED AKAN SEMAKIN SEMPURNA
JUGA PROSES FLUIDISASI (DAYA DORONG SAMA
DALAM BED FURNACE)

BED SIZE + UDARA  FLUIDISASI  COMBUSTION = CFB


CHEMICAL COMPOSITION BED MATERIAL
Bed material PLTU Kaltim Teluk menggunakan pasir lokal yang dominan adalah
silika 96% menurut hasil pengujian

*Silika base akan bereaksi dengan alkali (Na2O, K20 & SO3) yang terkandung
pada batubara, sehingga menurunkan ash fusion temperature <900°C, yang
menyebabkan melting point fly ash (idt : initial deformation temperature), yang
mengakibatkan potensi aglomerasi
*Seiringnya boiler beroperasi bed material akan mengalami
1. Jenuh = Terlalu banyak clinker sehingga ukuranya semakin membesar
 apabila ukuran bed material semakin membesar ∆P pada bed akan
semakin naik sehingga mengganggu fluidisasi sehingga temperature
bed juga ikut naik
2. Habis = Ukuran bed material akan semakin mengecil atau terdegradasi
akibat impact pada saat pembakaran
*Bed material PLTU Kaltim Teluk mempunyai ketahanan temperature maximum
mencapai 1763 °C
*Density pada bed material juga menentukan kebutuhan udara primary air
untuk fluidisasi, semakin besar nilai density semakin besar kebutuhan udara
BATUBARA (KOMPOSISI & ENERGI)

DALAM BOILER CFB YANG DIPERHATIKAN UNTUK BATUBARA ADALAH NILAI KALOR
DAN KOMPOSISI

Data coal of quality untuk desain boiler PLTU Kaltim Teluk, Dongfang Boiler Co., Ltd
UKURAN BATUBARA

Data pengujian batubara outlet crusher PLTU Teluk Balikpapan

*Ukuran batubara sangat menentukan kestabilan pembakaran di dalam boiler, ukuran yang semakin homogen akan membuat furnace
pressure semakin stabil dan distribusi pembakaran akan semakin merata, semakin besar ukuran batubara akan lebih susah dalam melakukan
balancing combustion karena akan membutuhkan spreading yang besar atau akan menyebabkan pembakaran hanya terjadi pada sisi front
(sisi dekat dengan outlet coal feeder)
AIR QUALITY

YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM


AIR QUALITY ADALAH PRESSURE, FLOW
& TEMPERATURE :
1. PRIMARY AIR
• PRIMARY AIR CHAMBER
(NOZZLE)
• UPPER BURNER
• SPREADING
2. SECONDARY AIR
• SECONDARY UPPER
• SECONDARY LOWER
3. HP FAN

*Yang harus diperhatikan dalam air quality adalah verifikasi alat ukur (press, flow & temperature)
RESIRKULASI BED MATERIAL
Dalam boiler CFB resirkulasi bed material sangatlah penting untuk
menjaga temperature dalam boiler
Fluidisasi bed material & pembakaran diharapkan terjadi pada bed
furnace / bed chamber yang berada pada area yang tercover refractory
Sedangkan sirkulasi material halus / ringan dan panas menuju upper
furnace  cyclone  sealpot (untuk mendistribusikan panas pada
waterwall & cyclone)
Di dalam sealpot sirkulasi diatur untuk membantu bed material menuju
bed chamber sehingga dapat menurunkan temperatur (meterial bed dari
furnace relative lebih dingin karena panas telah terserap ketika
sirkulasi), resirkulasi di dalam sealpot diatur oleh Nozzle area lifting dan
return
FURNACE PRESSURE
PLTU Teluk Balikpapan untuk furnace
pressure pada normal operasi diatur -50
Pa sampai -100 Pa

Furnace Pressure adalah parameter yang


digunakan untuk
1. Mengetahui dan mengontrol laju
aliran sirkulasi bed material menuju
cyclone dan mengatur gas buang

*apabila furnace pressure hunting adalah


sebagai indikasi batubara tidak homogen
ANALISIS PROKSIMAT DAN ULTIMAT BAHAN BAKAR
Reaksi Pembakaran
Reaksi pembakaran dalam boiler CFB adalah di dalam FURNACE
Urutan reaksi pembakaran adalah :
1. Moisture Release
2. Volatile Reaction
3. Carbon Combustion
4. Complete Combustion
Yang menghasilkan sisa hasil pembakaran
1. Debu
2. Gas Buang
3. Air
MASS, PRESS, & HEAT BALANCE PLTU KALTIM TELUK 2X110 MW, B-MCR
DRUM LEVEL
Auto  20 mm
Max  50 mm *Differential Temperature bed max 100 °C
*Critical flow primary air 90000 Nm³/h
*∆ Press Bed MAX 1Kpa SIDE R/L
20
%

80

Titik
kesetimbangan
MASS, PRESS, & HEAT BALANCE PLTU KALTIM TELUK 2X110 MW, B-MCR
ITEM UNIT DATA
APH RESISTANCE Pa 2050
DUCTING RESISTANCE Pa 1000
PRIMARY AIR CHAMBER RESISTANCE Pa 1100
BED NOZZLE RESISTANCE Pa 5500
TOTAL PA RESISTANCE Pa 9650
BED MATERIAL MAX Pa 8000
TOTAL KEBUTUHAN PRESSURE PRIMARY AIR Pa 17650

17650 Pa
KETERANGAN :
P1B = DENSE PHASE
P2B = MEDIUM PHASE
P3B = FAST PHASE • Bed pressure & semua parameter harus terkalibrasi dan tervalidasi
• Pemahaman lokasi bed pressure yang menentukan interpretasi pembacaan parameter
Kerusakan Critical CFB
Reasons for Boiler Failure

1. Design of Boiler
2. Quality of material used
3. Workmanship or quality of Manufacture &
Installation
Improper Heating rate

Erosion Failure of Anchor


Tube Refractory
Material
Corrosion Failure Failure
Refractory
Selection
Poor Workmanship
CFB Boiler Operating Problems

[Source: Cheng et al (2011)]


Problems in CFB Boiler

• Poor workmanship in
manufacturing/construction/installation
• Improper material supply
• Improper operation

• Improper design
Grid Nozzle related problems

Type of Nozzles
Grid Nozzle related problems
Grid Nozzle Related Problems
Back flow through nozzle
Erosion of nozzles

Nozzles Pluggage

Non-Uniform distribution
of air in bed

Formation of hot
spot/dead zones

Increased tendency for


agglomeration
Refractory Failure

Commonly used refractory types:


1. Castables: lower furnace, loopseal, stand pipe
2. Plastic refractory: Cyclone, Corner area of
furnace

Castables are less expensive than Plastic


Plastic has higher strength

Both of them needs the support with Anchors


Refractory Failure

BULL NOSE TARGET WALL

Burner Throat Area

VORTEX & INLET ROOF


Refractory Failure

Lower Furnace Refractory


Refractory Failure
Refractory Failure occurs in:
1. Lower furnace
2. Bull nose area, target area and roof of cyclone
3. Loopseal and stand pipe

Most of the failures are caused by:


1. Improper drying out
2. Poor selection/density of anchor material
3. Design of the components
Refractory Failure

Ways to reduce the failure:

1. Modify Design
a. Moving from hot cyclone to water/steam cooled cyclone.

2. Anchor Material
a. Use of ceramic anchors
b. Increasing density of the anchors
c. Additional retainer plates in for bull nose area

3. Refractory material type


a. Use of plastic refractory instead of castables in cyclones.

4. Following Proper heating up procedure


Erosion, Corrosion & Fouling Problems

67/3
Erosion, Corrosion & Fouling Problems
Erosion, Corrosion & Fouling Problems
Tube Failure

Corner Tubes
Furnace(1)

Welding Bead On Site Kick Out Of Corner

Kick out tube level suffered erosion for solid


Projection of welding bead or unevenness suffered
active erosion easily (For example tube panel
welding at site)
Kick out corner of wall concentrate solid, so easy to
wear out
If find out partly to wear out, measure tube of
thickness as the need, and unevenness points grind
with smoothly
Kick Out
Furnace(2)

Roof wall suffered erosion Roof Wall


for upper solid flow
Near refractory of tube,
solid down flow damage to
the tube for projection
Both Sides of pressure gage,
solid down flow damage to
the tube, Necessary to
measure thickness of tube
and to repair as the need Near Refractory

Pressure Gage
Flue Gas Outlet & Compact Separator

Vortex Finder

Compact Separator Target Wall

Compact separator target wall, erosion condition is very severe


Vortex finder check deformation as a whole, and damage like a crack of slit
Top of vortex finder remove deposit and clean up
(Deposit get into refractory between Vortex finder, caused deformation)
Vortex Finder & Hot Gas Duct

Vortex Finder

Hot Gas Duct Expansion

Ceramic fiber that between Vortex finder and refractory wear out, so clean
up and exchange every shut down
Get into ceramic fiber Hot gas duct expansion joint prevent from the lost
function of expansion with the ash entering
Convection Cage Hanger Tube

Convection Cage & Hanger Tube Hanger Tube Protector Band

Hot gas duct outlet is higher velocity, hanger tube


protector damage Hanger Tube Through Roof Wall
Check the protector band damage
Hanger tube through roof wall, tube sleeve damage to
easily
Check the degree of erosion both side of soot blower
hole
Dog bone lug, check the damage like a crack (Non
destructive testing as the need:Penetrant test)
Dog Bone Lug Soot Blower Hole
Secondary Superheater

Secondary Superheater & Baffle Plate

Tube Of Bend Protector & Dog Bone Lug

Check whether baffle plate come off (If baffle plate come off, tube caused hard erosion for concentrate solid flow)
Tube of bend suffered erosion
Dog bone lug, check the damage like a crack (Non destructive testing as the need: Penetrant test)
Primary Superheater

Primary Superheater & Baffle Plate

Protector For Soot Blower

Check whether baffle plate come off


Protector near side tube suffered
erosion for soot blower
Check whether hanger tube dog
bone lug damage
Dog Bone Lug & Hanger Tube
Economizer

Eco Outlet Header Hanger Strap

Baffle Plate & Tube Protector


Bend

Check whether baffle plate come off and damage


Protector suffered erosion and check whether tube hanger strap damage like
a crack
Check whether inlet header stub neck damage
Doubling plate to inlet header and economizer casing, whether damage like a
crack of welding bead Inlet Header
Gas Air Preheater (GAH)

Neck Of Tube Sheet

GAH Gas Side

Under the soot blower blow hole, whether tube suffered erosion
At the near side wall and casing corner concentrate solid, so tube suffered erosion
Tube neck of tube sheet suffered abrasion too
Ash blow and cleaning between tube, remaining ash caused absorb moisture and
as a result caused corrosion
Gas Air Preheater (GAH)

GAH Air Side

GAH Air Side (Low Temperature)

Check open hole for damage from air side every each tube
Check rock wool and wire support
Clean up dust on the duct floor
Fouling problems

Fouling, deposition of ash on the heat exchanger tube, reduces the heat transfer
coefficient therefore reducing the efficiency of boiler

• The fouling does not involve problems


related with melting of ash.
• The ash are more likely to be deposited
in gas duct downstream of the furnace
i.e super heater areas.
• If ash contains the elements needed for
corrosion, then fouling can also cause
the tube to corrode.
• Also fouling results in increased metal
temperature that can lead to corrosion.

To remove the deposits from the heat exchanger surfaces, soot blower system are
uses. More common are the steam soot-blowing.
Agglomeration in fluidized bed boilers
Mechanism
<Silica> + <alkali> = <Eutectic mixture of silicate>
2 SiO2 + Na2CO3 = 2Na2O.2SiO2 + CO2

Sintering tendency is high when


[K2O+Na2O]/SiO2 > 1.0
[K2O+Na2O]/HHV > 0.34

Potassium (K) and sodium (Na) are two


major elements contributing to the
agglomeration. Calcium (Ca) on the other
hand reduces the agglomeration potential.
What affects agglomeration

1. Fuel ash constituents


2. Bed temperature
3. Fluidization velocity
4. Bed particle size

Greenfield Research Incorporated 83


Options for reducing Agglomeration
Early detection: Of the onset of agglomeration
Use of additives: China clay, dolomite or limestone, Soils containing kaoline.
Pre-processing of fuels: Leach alkali with rainwater.
Use of alternative bed materials: Bed material contains a sufficient amount of
iron oxide (Fe2O3), Feldspar, Dolomite, Magnesite and Alumina-Alumina (Al2O3),
limestone.
Co-firing with coal: The sulfur in coal helps reduce the agglomerate formation as
it shifts equilibrium towards alkali sulfates that have higher melting point.
Reduction in bed temperature: Reducing the combustion temperature could
reduce the vaporization of alkali salts and hence the resulting agglomeration or hot
corrosion.
Circulation failure

• Tube can fail due to improper


water circulation
Terima Kasih