Anda di halaman 1dari 24

KEBIJAKAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN

KANTOR KEMENTERIAN AGAMA


KOTA TEGAL

Oleh H.NURIL ANWAR, SH.MH

Page 1
VISI RPJMN 2010-2014
“INDONESIA YANG SEJAHTERA, DEMOKRATIS,
DAN BERKEADILAN”
(Perpres 5/2010 : RPJMN 2010-2014)

Memperkuat triple tracks strategy


Sejahtera serta pembangunan inklusif dan
berkeadilan

Memantapkan konsolidasi
Demokratis demokrasi

Memperkuat penegakan hukum dan


Berkeadilan pemberantasan korupsi serta
pengurangan kesenjangan
Page 22
“Terwujudnya Masyarakat Indonesia Taat
VISI

Beragama, Rukun, Cerdas, Mandiri dan


Sejahtera Lahir Batin”

1. Meningkatkan kualitas kehidupan beragama.


2. Meningkatkan kualitas kerukunan umat beragama.
3. Meningkatkan kualitas raudhatul athfal, madrasah,
perguruan tinggi agama, pendidikan agama, dan
MISI

pendidikan keagamaan.
4. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji.
5. Mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang bersih
dan berwibawa.
Page 33
TUJUAN
Tujuan jangka panjang pembangunan bidang
agama yang hendak dicapai oleh Kementerian
Agama adalah terwujudnya masyarakat Indonesia
yang taat beragama, maju, sejahtera, dan cerdas
serta saling menghormati antar pemeluk agama
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara, dalam wadah Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI).

Page 44
Fokus Pembangunan Pendidikan Islam
Tahun 2010-2014
...pembangunan Pendidikan Islam diarahkan dalam rangka mencetak generasi Islami yang
berakhlak mulia, cerdas dan kompetitif melalui pelaksanaan missi dan prinsip-prinsip
pembangunan Pendidikan Islam sebagaimana tertuang dalam Dokumen Renstra
Pendidikan Islam 2010-2014

Pendidikan
PT AKADEMIK

PAIS
5 KEGIATAN PADA PROGRAM
PM PENDIDIKAN ISLAM

PD

PAUD Pendidikan
KARAKTER

Page 55
1. Mengembangkan Pendidikan Keagamaan Islam berbasis tafaqquh fid
din bertradisikan pengajian dan kajian, kearifan lokal, berwatak
kewirausahaan, serta berwawasan kebangsaan dan lingkungan, agar
mampu mengembangkan potensi peserta didik dalam berpikir,
berkarya, serta proaktif dalam merespons perkembangan teknologi.

2. Mengembangkan madrasah yang mampu menghasilkan lulusan yang


Islami, unggul dalam ilmu pengetahuan, bersikap mandiri, dan
berwawasan kebangsaan; dengan proses penyelenggaraan yang
bertumpu pada prinsip good govermance dan pemberdayaan
masyarakat agar sanggup menyediakan layanan pendidikan bagi anak
usia madrasah.

3. Menyelenggarakan Pendidikan Agama Islam pada satuan pendidikan


terhadap seluruh peserta didik beragama Islam dengan
mengedepankan nilai keislaman, kualitas pendidikan, penanaman
keimanan dan ketakwaan, pembentukan akhlak mulia dan sikap
toleran, dengan penyelenggaraan pendidikan yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.

Page 66
4. Mengembangkan Pendidikan Tinggi Islam yang memiliki basis
budaya riset sehingga mampu menghasilkan lulusan yang unggul
dalam mengintegrasikan keilmuan dengan nilai keislaman, dilandasi
penyelenggaraan pendidikan yang selaras dengan prinsip good
governance, terintegrasi dengan pembinaan kepribadian, dan
pengembangan jaringan akademis.

5. Meningkatkan kualitas manajerial dan tata kelola pendidikan Islam


yang Islami berdasarkan prinsip akuntabilitas, transparansi, dan
efisiensi; serta memiliki rancangan pengembangan yang visioner.

6. Meningkatkan kualitas penelitian dan pengembangan guna


memberikan masukan kepada pengambil keputusan dalam
merumuskan kebijakan peningkatan mutu Pendidikan Islam;

7. Menumbuhkan budaya pengawasan dan upaya preventif dengan


pendekatan nilai-nilai keagamaan untuk menjadi fondasi bagi
pengawasan melekat.

Page 77
Pengelolaan pembangunan pendidikan Islam mengacu pada beberapa
prinsip:
Memberikan perhatian pada peningkatan mutu guru sebagai faktor
kunci keberhasilan pendidikan Islam;
Melakukan pemihakan pada kelompok masyarakat miskin dan
berprestasi;
Menerapkan perlakuan yang sama kepada satuan-satuan pendidikan
Islam negeri dan swasta;
Memperkuat ciri khas keagamaan dan lifeskills sebagai faktor
keunggulan minimal seluruh satuan pendidikan Islam;
Mengoptimalkan peran pendidikan Islam dalam pengembangan
keagamaan, kesejahteraan sosial serta kesatuan dan persatuan
bangsa;
Mengembangkan kemitraan dengan masyarakat dan institusi yang
mendukung pembangunan pendidikan.
Mengelola sumber daya pendidikan secara efektif, efisien, transparan,
akuntabel, dan berkelanjutan.
Page 88
Memastikan kompatibilitas aturan dan pedoman Pendidikan Islam dengan
aturan dan pedoman pendidikan pada umumnya;
Mendorong rintisan program unggulan secara tepat, cepat, dan
berkelanjutan, yang memperlihatkan mutu pendidikan islam lebih baik
dibandingkan dengan mutu pendidikan pada umumnya;
Melakukan bencmarking dengan pendidikan yang lebih bermutu baik
dalam negeri maupun luar negeri;
Melakukan pendataan dan Mapping pendidikan Islam di Indonesia secara
akurat, konstan, dan menarik untuk mendasari kebijaakan dan perlakuan
nyata terhadap pengembangan, peningkatan mutu, dan pencitraan
pendidikan Islam;
Melanjutkan best practice yang sudah dicapai selama ini dan sekaligus
mengeliminasi bad practice yang terjadi di masa lalu;
Mengutamakan program yang langsung dirasakan oleh guru, siswa, dan
eksponen satuan pendidikan lainnya;
Memperkuat jaringan kordinasi struktural dan professional dengan
mengoptimalkan peran satker dan pendidikan tinggi dalam binaan Ditjen
Pendidikan Islam.
Page 99
Ringkasan Jumlah Lembaga &
peserta didik
Jml Jumlah Peserta Didik
No Lembaga Ket.
Lembaga Lk Pr Jumlah
1 RA/BA 25.435 538.822 535.309 1.074.131 PAUD

2 MIN 1.686 210.150 202.427 412.577


3.200.459
3 MIS 21.385 1.353.912 2.787.882
1.433.970 Pendidikan
1.437 318.527 332.917 651.444 Dasar
4 MTsN
2.745.022
5 MTsS 13.807 1.081.885 2.093.578
1.011.693
6 MAN 758 134.972 219.768 354.740 Pendidikan
1.059.814
5.906 278.247 426.827 705.074 Menengah
7 MAS
8 PTAIN 52 130.060 157.789 287.849 Pendidikan
617.200
593 147.704 181.647 329.351 Tinggi
9 PTAIS
10 Pontren 27.230 1.872.450 3.759.198
1.886.748
Pendidikan
11 Madin 68.471 2.257.708 4.329.141
2.071.433 Non Formal
12 TPQ 136.333 4.528.682 8.256.127
3.727.445
Total 282.096 23.128.221

Page 10
Ringkasan Jumlah Guru/DOSEN
Status Kepegawaian Kualifikasi Guru/Dosen
No Lembaga Total Ket.
PNS Non PNS < S1 ≥ S1

1 RA/BA 10.079 107.465 72.496 45.048 117.544 PAUD

2 MIN 21.854 12.303 11.071 23.086 34.157

3 MIS 99.528 172.369 94.406 177.491 271.897 Pendidikan


4 MTsN 33.589 15.277 5.595 43.271 48.866 Dasar

5 MTsS 55.970 206.365 73.419 188.916 262.335

6 MAN 20.378 9.443 2.396 27.425 29.821 Pendidikan


7 MAS 22.243 92.924 23.524 91.643 115.167 Menengah

8 PTAIN 10.647 3.194 - 13.841 13.841


Pendidikan
9 PTAIS 1.174 16.461 76 17.641 17.717 Tinggi

10 Pontren 153.276 108.816 44.460 153.276


-
Pendidikan
11 Madin 16.525 279.246 183.351 112.420 295.771
Non Formal
12 TPQ 704.738 608.964 95.774 704.738
-
Jumlah 291.987 1.773.061 1.184.114 881.016 2.065.130

Page 11
Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan
Keagamaan:
 Bagaimana mutu Pendidikan Keagamaan?
 Bagaimana meningkatkannya ?
 Bagaimana Pendidikan Keagamaan
melakukan perbaikan mutu ?
 Bagaimana melakukan Pengawasan Mutu ?

Page 12
Mutu ( kualitas ) dalam kerangka ISO
9000 didefinisikan sebagai “ ciri dan
karakter menyeluruh dari suatu produk
atau jasa yang mempengaruhi
kemampuan produk tersebut untuk
memuaskan kebutuhan tertentu ”.

Page 13
1. Bagaimana mutu Pendidikan Keagamaan ?
• Mutu Pendidikan Keagamaan berkaitan dengan
derajat kebaikan , kehadalan , keunggulan
sehingga menjadi kepuasan seluruh pemangku
kepentingan
• Mengukur dan Memetakan Mutu Benchmarking
internal berarti membandingkan mutu lulusan
antar tahun pada satu Lembaga Pendidikan
Keagamaan . Bencmarking eksternal adalah
membandingkan mutu yang dihasilkan dengan
yang dihasilkan lembaga lain yang sejenis .

Page 14
• Menetapkan Indikator Lembaga harus
menetapkan indikator yang spesifik pada
komponen : input, proses , dan output .
a. Komponen input terdiri atas (1) Peserta
didik (2) materi pelajaran atau kurikulum ,
(3) pendidik dan tenaga kependidikan ,
(4) sarana dan prasarana , dan (5) biaya .
b. Konponen proses (1) pembelajaran , (2)
penilaian dan (3) pengelolaan . c.
Komponen output (1) standar kompetensi
lulusan .

Page 15
Parameter Untuk menilai mutu Lembaga
• Lulusannya dapat melanjutkan ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi
• Lulusannya memiliki tanggung jawab dan
kepedulian kepada Masyarakat
• Lulusannya Beriman dan Bertaqwa.
• Lulusannya mampu mengintrepretasikan
ajaran agamanya sesuai lingkungan sosial

Page 16
2. Peningkatan Mutu Lembaga:
1) Visi dan Misi sebagai Poros
Pembaharuan
2) Meningkatkan Pengetahuan dan
Keterampilan SDM
3) Meningkatkan Mutu Berbasis SKL
4) Meningkatkan Penjaminan Mutu Proses
5) Peningkatan Mutu Berbasis Data

Page 17
sistem manajemen moderen selalu memiliki
dua sisi kegiatan yang terintegrasi yaitu
mengembangkan fungsi fungsi manajemen
yang meliputi perencanaan , pelaksanaan
dan evaluasi Administratif dan kegiatan
substantif

Page 18
3. Perbaikan Mutu :
• Perbaikan yang terus manerus Perbaikan
proses Rekayasa ulang Program Menilai
kemampuan potensial Desain ulang
Implementasi
• Semangat Kaizen Hari esok harus lebih baik
dari hari ini Tiada hari tanpa perbaikan /
peningkatan Masalah yang timbul merupakan
peluang untuk perbaikan Menghargai setiap
perbaikan meskipun kecil Perbaikan tidak harus
melalui investasi yang besar

Page 19
Langkah perbaikan mutu :
• School Review Benchmarking Quality
Assurance Quality Control :
School Review : Suatu proses dimana seluruh
komponen Lembaga bekerja sama khususnya
dengan orang tua dan tenaga profesional ( ahli )
untuk mengevaluasi dan menilai efektivitas
Lembaga serta mutu lulusan
Benchmarking : Suatu kegiatan untuk
menetapkan standar dan target yang akan
dicapai dalam suatu periode tertentu

Page 20
Quality Assurance : Suatu teknik untuk
menentukan bahwa proses pendidikan
telah berlangsung sebagaimana
seharusnya .
Quality Control : Suatu sistem untuk
mendeteksi terjadinya penyimpangan
kualitas output yang tidak sesuai dengan
standar

Page 21
4. Pengawasan Mutu Pendidikan:
• Pengawasan Mutu Pendidikan
perencanaan , pelaksanaan dan
pengawasan pendidikan

Page 22
Jenis Supervisi:
• Supervisi akademik ( pengawasan core/
pengawasan operasional )
• Supervisi administrasi ( pengawasan
manajerial / pengawasan organisasional ).

Page 23
Page 24