Anda di halaman 1dari 20

Nur’Adina

Nur Annisa Surbakti


Nur Dani Nasution
Rosindah
Rosliani
Roy Alpian Harahap
Pengertian Sediaan Kapsul
Kapsul dapat didefinisikan sebagai bentuk sediaan
padat, dimana satu macam obat atau lebih dan/atau bahan
inert lainnya yang dimasukkan ke dalam cangkang atau
wadah kecil yang umumnya dibuat dari gelatin lunak atau
keras. Kebanyakan kapsul-kapsul yang diedarkan di pasaran
adalah kapsul yang semuanya dapat ditelan oleh pasien,
untuk keuntungan dalam pengobatan. Kapsul gelatin yang
keras merupakan jenis yang digunakan oleh ahli farmasi
masyarakat dalam menggabungkan obat-obat secara
mendadak dan di lingkungan para pembuat sediaan farmasi
dalam memproduksi kapsul pada umumnya (Ansel, 2008).
Ada dua tipe kapsul, keras dan lunak. Kapsul lunak terdiri
dari cangkang padat lentur yang mengandung serbuk, cairan
non-aqueous, larutan, emulsi, suspensi, atau pasta. Beberapa
kapsul mengandung cairan diberikan dalam bentuk sediaan
bentuk padat, contoh minyak ikan cod. Kapsul ini dibentuk,
diisi dan ditutup dalam satu proses produksi. Cangkang
kapsul keras digunakan dalam pengolahan sebagian besar
pembuatan kapsul dan peracikan kapsul. Cangkang terbagi
dua, badan dan tutup, keduanya berbentuk silinder dan
dapat ditutup pada ujungnya. Serbuk dan partikulat padat,
seperti granul dan pelet, ditempatkan dalam badan dan
kapsul ditutup dengan menyatukan badan dan tutup secara
bersamaan (Winfield, et al., 2009).
Pengembangan Sediaan Kapsul
A.Gastroretentive Drug Delivery System
Sistem penghantaran obat yang tertahan di lambung atau
Gastroretentive Drug Delivery System (GRDDS) merupakan
bentuk sediaan yang dapat tetap berada di lambung selama
beberapa jam sehingga secara signifikan memperpanjang
waktu tinggal obat di lambung. Peningkatan waktu retensi
lambung meningkatkan bioavailabilitas, mengurangi limbah
obat, dan meningkatkan kelarutan obat yang kurang larut
dalam lingkungan pH tinggi. Hal ini juga cocok untuk
pengiriman obat lokal untuk perut dan bagian proksimal dari
usus kecil.
Adapun metode untuk membuat sediaan tinggal di lambung adalah:
1. Penggunaan bentuk sediaan yang memiliki berat jenis yang lebih
rendah dari cairan lambung sehingga menghasilkan daya apung
dalam cairan lambung.
2. Penggunaan bahan yang berat jenisnya tinggi: bahan dengan berat
jenis tinggi (˃2.5g/cm3) akan mempunyai waktu tinggal yang lama di
saluran cerna. Hal ini dapat dicapai dengan penambahan bahan
seperti barium sulfat.
3. Sistem bioadhesi, sistem yang mempunyai daya lekat terhadap
mukosa lambung.
4. Pemberian obat atau bahan bahan tambahan farmasi yang
memperlambat motilitas saluran cerna.
5. Sistem ekspansi dengan pembengkakan atau pengembangan ke
ukuran yang lebih besar sehingga membatasi kemampuan
pengosongan dari sistem untuk melewati sphincter pilorus (Garg dan
Gupta, 2008).
1.Floating Drug Delivery System
Sistem penghantaran obat terapung atau Floating Drug
Delivery System (FDDS) memiliki berat jenis yang lebih
rendah dibandingkan dengan cairan lambung sehingga
mengapung dalam lambung tanpa dipengaruhi waktu
pengosongan lambung dengan waktu yang diperpanjang.
Ketika sistem terapung dalam kandungan lambung, obat
secara perlahan terlepas dengan laju yang diinginkan. Setelah
lepasnya obat, sistem yang tersisa dikosongkan dari lambung.
Kondisi ini menghasilkan peningkatan waktu pengosongan
lambung dan pengendalian yang lebih baik terhadap
fluktuasi kadar obat dalam plasma (Mishra & Gupta, 2012).
Pembagian sistem floating
Sistem penghantaran floating dibagi berdasarkan pada
variabel formulasinya: effervescent dan sistem non-
effervescent.
1.Bentuk sediaan floating non-effervescent

Sistem non-effervescent ini bekerja dengan


mekanisme pengembangan polimer, bioadhesif dari
polimer pada lapisan mukosa saluran pencernaan. Pada
umumnya dalam formulasi sistem non-effervescent ini
menggunakan bahan yang mampu membentuk gel atau
memiliki kemampuan mengembang yang baik seperti
senyawa hidrokoloid, polisakarida. Biasanya juga
digunakan bentuk matriks dari polimer seperti
polimetakrilat, poliakrilat, polistiren, dan bioadhesif
polimer yaitu kitosan dan karbopol (Goyal, et al., 2011).
2. Bentuk sediaan floating effervescent

Sistem ini dibuat dalam bentuk matriks dengan


menggunakan polimer yang dapat mengembang seperti
HPMC, kitosan, senyawa polisakarida lain, dan berbagai
komponen effervescent seperti natrium bikarbonat,
kalsium karbonat, asam sitrat atau asam tartrat. Sediaan
ini dirancang sedemikian rupa, sehingga ketika kontak
dengan cairan lambung, gas karbondioksida (CO2) akan
terlepas dan terperangkap dalam sistem hidrokoloid
yang mengembang. Hal ini menyebabkan sediaan
mengapung (Goyal, et al., 2011).
Keuntungan Floating Drug Delivery System
Keuntungan Floating Drug Delivery System ini meliputi:
a) Menguntungkan untuk obat yang dimaksudkan untuk aksi lokal di
lambung misalnya: Antasida.
b) Menguntungkan untuk menjaga obat dalam kondisi mengapung di
lambung ketika gerakan usus kuat dan ketika diare sehingga
menghasilkan respon yang relatif lebih baik.
c) Zat yang bersifat asam seperti aspirin dapat mengiritasi lambung
ketika bersentuhan dengan dinding lambung. Oleh karena itu, formulasi
FDDS mungkin berguna untuk pemberian aspirin dan obat-obatan lain
dengan sifat yang sama.
d) Menguntungkan untuk obat-obat diserap di lambung misalnya: garam
ferro, Antasida.
e) Meningkatan penyerapan obat, karena terjadi peningkatan waktu
tinggal di lambung dan peningkatan waktu kontak obat dengan daerah
penyerapan (Arunachalam, et al., 2011).
Kerugian Floating Drug Delivery System

Kerugian Floating Drug Delivery System meliputi:


a) Sistem floating tidak sesuai untuk obat-obat yang memiliki masalah
kelarutan atau stabilitas pada cairan lambung.
b) Obat-obatan seperti nifedipine yang diserap di seluruh saluran
pencernaan dan yang menjalani metabolisme lintas pertama tidak
sesuai sebagai kandidat FDDS karena pengosongan lambung yang
diperlama dapat menyebabkan penurunan bioavailabilitas sistemik.
c) Keterbatasan penerapan FDDS untuk obat yang mengiritasi mukosa
lambung.
d) Salah satu kelemahan dari sistem floating adalah sistem ini
membutuhkan jumlah cairan yang cukup banyak di lambung,
sehingga bentuk sediaan obat dapat terapung dan bekerja secara
efisien dalam cairan lambung.
e) Retensi lambung dipengaruhi oleh banyak faktor seperti makanan, pH
dan motilitas lambung (Arunachalam, et al., 2011).
Ranitidin HCl
Uraian bahan

Mekanisme Kerja
Ranitidin HCl menghambat produksi asam dengan
cara berkompetisi secara reversibel dengan histamin
untuk berikatan dengan reseptor H2 pada membran
basolateral sel-sel parietal (Goodman dan Gillman,
2007).
Kegunaan
Ranitidin HCl digunakan untuk pengobatan tukak lambung dan tukak
duodenum, refluks esofagitis, dyspepsia episodic kronis, tukak akibat
AINS, tukak duodenum akibat H.pylori, sindrom Zollinger Ellison,
kondisi lain dimana pengurangan asam lambung akan bermanfaat
(Sukandar, et al., 2008).
Efek Samping
Secara keseluruhan insidensi reaksi merugikan yang timbul akibat
pemakaian antagonis reseptor-H2 adalah rendah (<3%). Efek samping
yang umumnya ringan meliputi diare, sakit kepala, mengantuk,
kelelahan, nyeri otot, dan konstipasi. Ranitidin hanya memiliki 10% efek
relatif terhadap aktifitas sitokrom P450 sehingga memiliki efek samping
yang lebih sedikit dibandingkan simetidin. Ginekomastia pada pria dan
galaktorea pada wanita dapat muncul akibat ikatan simetidin pada
reseptor androgen dan penghambatan hidroksilasi estradiol yang
dikatalisasi oleh sitokrom P450 (Goodman dan Gillman, 2007).
Alginat
Alginat merupakan polimer yang banyak terdapat
pada ganggang cokelat (Phaeophcyceae) dan
melimpah di alam dan sebagai kapsul polisakarida
pada bakteri. Alginat adalah kopolimer yang
tersusun dari α-L-Guluronat dan β-D-Mannuronat.
Alginat komersil umumnya diproduksi dari
Laminaria hyperborean, Macrocystis pyrifera,
Laminaria digitata, Ascophyllum nodosum,
Laminaria japonica, Edonia maxima, Lessonia
nigrescens, Durvillea Antarctica, dan Sargassum sp
(Draget, et al., 2005).
Struktur kimia Alginat
Alginat termasuk dalam kopolimer yang tidak
bercabang, alginat tersusun dari (1→4) β-D-mannuronat
(M) dan α-L-guluronat (G). Melalui hidrolisis parsial
dengan asam klorida, alginat dapat dibagi menjadi tiga
fraksi. Dua dari fraksinya adalah berupa homopolimer
yang terdiri dari molekul asam guluronat (G) dan asam
mannuronat (M), dan fraksi ketiga terdiri dari gabungan
asam mannuronat dan asam guluronat dengan jumlah
yang sama. Dari sini dapat disimpulkan bahwa alginat
terdiri dari homopolimer M dan G serta bagian MG yang
mempunyai gugus sama (Draget, et al., 2005).
Struktur kimia alginat
a. Monomer alginat
b. Konformasi alginat
c. Distribusi monomer
Alginat secara luas digunakan pada pambuatan
produk makanan dan sediaan farmasi oral maupun
topikal. Alginat dipilih karena sifatnya yang non toksik
dan juga tidak mengiritasi. Pada pembuatan tablet dan
kapsul, alginat digunakan sebagai pengikat dan bahan
desintegran pada konsentrasi 1-5% w/w. Alginat juga
banyak digunakan sebagai bahan pengental dan
suspending agent pada pembuatan pasta, krim, gel, dan
juga sebagai stabilizing agent pada pembuatan emulsi
minyak dalam air (Rowe, et al., 2009).
Eudragit
Eudragit merupakan polimer kation dan anion
sintetik dari dimetilaminoetil metakrilat, asam
metakrilat dan ester asam metakrilat dalam
perbandingan yang berbeda-beda
Eudragit biasanya digunakan dalam penyalutan film
kapsul dan tablet. Film dengan karakteristik kelarutan yang
berbeda dapat dihasilkan, tergantung dari jenis polimer yang
digunakan.
Salah satu aplikasi penggunaan Eudragit yaitu dalam
pembuatan sediaan gastroretentive. Pembuatan sediaan
gastroretentive didasarkan pada pendekatan seperti
pendekatan berat jenis sediaan yang rendah sehingga sediaan
dapat mengapung dalam cairan lambung, mempunyai berat
jenis sediaan yang tinggi sehingga sediaan dapat tertahan di
bagian bawah lambung, bioadhesi terhadap mukosa,
membesar atau mengembang di dalam saluran cerna
(lambung) sehingga tidak akan dapat melewati sphinkter
pylorus. Semua teknik tersebut dapat kita capai dengan
menggunakan Eudragit yang berbeda-beda.