Anda di halaman 1dari 21

KELOMPOK 8

OSTEOPOROSIS
DOSEN PENGAMPU: WINDI ASTI, S.Farm., Apt

DISUSUN OLEH

KELVIN OTNIEL 163110076/C


LIFIA RAHMA PUTRI 163110087/C
MUHAMMAD FAIRUZ 163110109/D
NI’MAH TUSSOLIKHAH 163110117/D
DEBY RARA AMIATI163110181/D
PENDAHULUAN

•Saat ini diperkirakan bahwa > 200 juta orang di seluruh dunia menderita osteoporosis. Hasil penelitian Puslitbang
Gizi Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada 16 provinsi menemukan risiko osteoporosis di Indonesia
tahun 2005 mencapai 10,3%.

• Manusia lanjut usia (lansia) beresiko menderita osteoporosis, sehingga setiap patah tulang pada lansia perlu
diasumsikan sebagai osteoporosis. Pada usia 60-70 tahun, lebih dari 30% perempuan menderita osteoporosis
dan insidennya meningkat 70% pada usia 80 tahun keatas. Hal ini berkaitan dengan defisiensi esterogen pada
masa menopause dan penurunan masa tulang karena proses penuaan. Pada laki-laki osteoporosis lebih
dikarenakan proses usia lanjut, sehingga insidennya tidak sebanyak perempuan.

•Osteoporosis seharusnya dapat dicegah dan diobati. Cara yang paling tepat mencegah osteoporosis adalah
dengan membudayakan perilaku hidup sehat yang intinya mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang yang
memenuhi kebutuhan nutrisi dengan unsur kaya serat, rendah lemak dan kaya kalsium (1.000-1.200 mg kalsium
perhari), berolahraga secara teratur, tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol. Merokok dan
mengkonsumsi alkohol yang tinggi dapat meningkatkan risiko osteoporosis 2 kali lipat (DepKes RI).
DEFINISI

Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya


tulang, dan porous berarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi,
osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu penyakit yang
mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau
berkurang, disertai dengan gangguan mikro-arsitektur tulang dan
penurunan kualitas jaringan tulang, yang dapat menimbulkan
kerapuhan tulang.
ANATOMI DAN FISIOLOGI TULANG MANUSIA

A. Tulang dalam garis besarnya dibagi menjadi :

1. Tulang Panjang
Yang termasuk tulang panjang misalnya seperti femur,
tibia, fibula, ulna dan humerus.

2. Tulang pendek
Contoh dari tulang pendek adalah antara lain tulang
vertebra dan tulang-tulang karpal.

3. Tulang pipih
Yang termasuk tulang pipih antara lain tulang iga, tulang
scapula, dan tulang pelvis.
B. Pada tulang yang aktif pertumbuhan, terdapat empat jenis sel :

1. Osteoprogenitor
Sel ini paling aktif selama pertumbuhan tulang namun
diaktifkan kembali semasa kehidupan dewasa pada pemulihan
fraktur tulang dan bentuk cedara lainnya.

2.Osteoblast
Osteoblast berhubungan dengan proses pembentukan tulang,
kaya alkaline phosphatase dan dapat merespon produksi
maupun mineralisasi matriks.

3.Osteocyte
Osteocyte berada di lakunare, fungsinya sebagai pemeliharaan
tulang.

4.Osteoclast
Osteoclast adalah mediator utama resorbsi (penyerapan) tulang,
PREVALENSI

•Hasil analisa data oleh Puslitbang Gizi Depkes pada 14 provinsi menujukkan bahwa masalah osteoporosis di
Indonesia mencapai tingkat yang perlu diwaspadai yaitu 19,7%. Itulah sebabnya kecenderungan osteoporosis di
Indonesia 6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan negeri Belanda.

•Lima provinsi dengan risiko osteoporosis lebih tinggi adalah Sumatera Selatan (27,7%), Jawa Tengah (24,02%),
DI Yogyakarta (23,5%), Sumatera Utara (22,82%), Jawa Timur (21,42%) dan Kalimantan Timur (10,5%)
(DepKes RI,2004).

•Tahun 2006, berdasarkan analisis data dan risiko osteoporosis yang dilakukan DEPKES RI bersama PT. Fonterra
Brands Indonesia, prevalensi osteoporosis di Indonesia saat ini telah mencapai 41,75%. Artinya, setiap 2 dari 5
penduduk Indonesia memiliki risiko untuk terkena osteoporosis. Hal ini lebih tinggi dari prevalensi dunia yang
hanya 1 dari 3 berisiko osteoporosis ( Era Baru News, 2008).
KLASIFIKASI
jenis osteoporosis berdasarkan WHO :

1. Osteoporosis Primer Tipe 1 (Osteoporosis Postmenopause)

Osteoporosis primer tipe 1 sering menyerang wanita pasca menopause dan juga pada pria usia lanjut
dengan penyebab yang belum diketahui. osteoporosis postmenopause biasanya terjadi karena kekurangan
hormon esterogen .Biasanya gejala timbul pada perempuan yang berusia antara 51-75
tahun, tetapi dapat muncul lebih cepat atau lebih lambat.

2. Osteoporosis primer tipe 2 (Osteoporosis Senilis)

merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan antara
kecepatan penghancuran/pemecahan tulang (osteoclast) dengan proses pembentukan tulang baru (osteoblast).
Penyakit ini biasanya terjadi pada orang-orang berusia diatas 70 tahun dan dua kali lebih sering menyerang
wanita.
LANJUTAN

3. Osteoporosis Sekunder

Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau penyebab lain, misalnya karena pemakaian obat-obat
tertentu, adanya penyakit hipertiroid, kelainan hepar, gagal ginjal kronis, kebiasaan minum alkohol, kelebihan
kafein, dan merokok, defisiensi vitamin d dan kalsium.

4. Osteoporosis juvenil idiopatik

Merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini biasa terjadi pada anak-anak dan
dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal, dan tidak
memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
•Determinasi penurunan massa tulang

Faktor genetik

Faktor usia
Penyebab primer osteoporosis : Kalsium
Sejarah keluarga Protein
Gangguan endokrin Faktor hormon

Gangguan nutrisis dan gastrointestinal

Penyakit ginjal
Penyebab sekunder osteoporosis
Obat-obatan

•Gangguan lainnya, meliputi : porfiria,


kehamilan/laktasi, chronic obstructive pulmonary
disease (COPD), HIV/AIDS.
FAKTOR RESIKO

Faktor yang dapat diubah Faktor yang tidak dapat diubah


Kurang aktivitas fisik Riwayat keluarga
Seseorang yang jarang melakukan aktivitas fisik dapat Jika memiliki keluarga yang menderita Osteoporosis, diperkiakan
mengakibatkan turunnya masa tulang dan bertambahnya usia; 60%-80% slah satu anggota keluarga yang mengalami
terutama pada usia lanjut. Osteoporosis.
Asupan kalsium rendah Jenis kelamin
Sebaiknya konsumsi kalsium yang cukup sudah dimulai sejak usia Osteoporosis lebih sering terjadi pada wanita 80% daripada laki-
remaja, karena pada masa remaja kalsium akan diserap dapat laki 20%.
dijadikan dan disimpan didalam tubuh sampai lansia, sehingga
dapat mengurangi timbulnya Osteoporosis.
Kurang asupan vitamin D Usia
vitamin D mempunyai peranan penting dalam pemeliharaan dan Semakin bertambhanya umur,fungsi organ akan semakin menurun
pertumbuhan tulang. dan peluang untuk kehilangan tulang semakin meningkat.
Konsumsi minuman tinggi kafein dan tinggi alkohol Ras
alkohol dan kafein dapat mengurangi masa tulang,mengganggu biasanya ras/suku yang rentan terkena Osteoporosis yaitu dari
metabolisme vitamin D, dan menghambat penyerapan kalsium. (kewarganegaraan Eropa Utara, Jepang, Cina dan Kaukaasia)
dibandingkan dengan kewarganegaraan Afrika-Amerika memiliki
masa tulang yang lebih besar
Kebiasaan merokok
Dengan kebiasaan merokok hormon esterogen didalam tubuh
akan menurun dan akan mudah kehilangan masa tulang (BMD).
GEJALA

1. Nyeri tulang punggung bawah

4. Penurunan tinggi badan secara bertahap

2. Nyeri leher

5. Mudah sekali mengalami patah tulang

3. Postur tubuh bungkuk


DIAGNOSIS

Anamnesis terperinci tentang faktor risiko yang mungkin dimiliki pasien sangat membantu dalam menegakkan
diagnosis. Analisis faktor risiko ini penting untuk menentukan perlu atau tidaknya, kemudian dilakukan
pemeriksaan densitas mineral tulang (BMD) yang merupakan modalitas diagnosis yang utama dalam
menegakkan diagnosis osteoporosis.
Penilaian langsung densitas tulang untuk mengetahui ada/tidaknya osteoporosis dapat dilakukan secara :
Radiologik
Radioisotop
QCT (Quantitative Computerised Tomography)
MRI (Magnetic Resonance Imaging)
QUS (Quantitative Ultrasound)
Densitometer (X-ray absorpmetry)
PEMERIKSAAN

1. Evaluasi klinis terhadap penderita osteoporosis diarahkan pada identifikasi faktor risiko.

2. Pemeriksaan Radiologi, untuk menilai densitas tulang sangat tidak sensitif. Nilai diagnostik pemeriksaan
radiologi biasa untuk menilai osteoporosis dini, kurang memuaskan, karena pemeriksaan ini baru dapat
mendeteksi osteoporosis setelah penurunan densitas massa tulang lebih dari 30%.

3. Pemeriksaan Densitas Massa Tulang, densitometri tulang merupakan pemeriksaan yang akurat dan
presisi untuk menilai densitas massa tulang, sehingga dapat digunakan untuk menilai faktor prognosis,
prediksi fraktur dan diagnosis osteoporosis. Seperti : single photon absorptiometry (SPA), dual photon
absorptiometry (DPA), X-ray Absorptiometry .

4. Densitometri US (ultrasound), kerusakan yang terjadi pada tulang dapat didiagnosis dengan pengukuran
ultrasound, yaitu dengan mengunakan alat quantitative ultrasound (QUS). Hasil pemeriksaan ini ditentukan
dengan gelombang suara, karena cepat atau tidaknya gelombang suara yang bergerak pada tulang dapat
terdeteksi dengan alat QUS. Jika suara terasa lambat, berarti tulang yang dimiliki padat. Akan tetapi, jika
suara cepat, maka tulang kortikal luar dan trabekular interior tipis.
MANIFESTASI KLINIK

Nyeri dengan atau tanpa adanya fraktur yang nyata.


Nyeri timbul secara mendadak.
Nyeri dirasakan ringan pada pagi hari.
 Nyeri akan bertambah karena melakukan aktifitas atau pekerjaan sehari-hari atau karena pergerakan yang
salah.
Rasa sakit karena adanya fraktur pada anggota gerak.
Rasa sakit karena adanya kompresi fraktur pada vertebrata.
Rasa sakit hebat yang terlokalisasi pada daerah vertebrata.
Patah kolumna femoris, patah tulang akibat kerapuhan kolumna femoris ini menyebabkan penderitanya
mengalami gangguan berjalan disertai rasa nyeri terus-menerus.
TERAPI OSTEOPOROSIS
FARMAKOLOGII NON FARMAKOLOGII

Non hormon Hormon


Kurangi Berat Badan
Kalsium dan selective
suplemen estrogen receptor
vitamin D modulators Konsumsi banyak kalsium

Bisphosphonate Estrogen Konsumsi vitamin D

Olahraga secara teratur


Strontium Testosteron
ranelate

Paratoroid (PTH)
INTERAKSI OBAT

1. Interaksi obat bisphosphonate


penggunaan bisfosfonat tidak boleh diberikan bersamaan dengan makanan dan obat-obatan
lainnya. Karena dapat mengurangi absorpsi dari bisfosfonat.
Contoh: alendronat harus dikonsumsi setidaknya 30 menit sebelum makanan pertama pada hari
itu dan air yang diminum adalah bukan air mineral kurang lebih 240 ml air. Jika mengonsumsi
alendronat dalam bentuk cair, harus meminium satu botol (75ml) dan minum air kurang lebih 60
ml air. Selama interval waktu untuk mengkonsumsi makanan atau obat-obat lain, pasien harus
tetap dalam posisi tegak baik itu duduk atau berdiri dan tidak boleh berbaring. Pasien tidak boleh
mengunyah tablet. Jiak pasien tidak mematuhi aturan yang sudah diberikan maka akan beresiko
terjadi gangguan pada esofagus.

2. Interaksi obat vitamin D


Ditinjau dari interaksi obatnya, vitamin D dengan phenytoin, barbiturat, carbazepine, rifampin
meningkatkan metabolisme vitamin D. Sedangkan cholestyramine, colestipol, orlistat, atau
minya mineral menurunkan absorpsi vitamin D. Vitamin D dengan diuretik thiazid pada pasien
hipertiroid dapat memicu hiperkalemia.(Welss B.G., Dipiro J.T., Schwinghammer T.L., Dipiro
C.V., 2009)
LANJUTAN

3. Interaksi obat raloxifen


Kombinasi raloxifene dengan alendronat meningkatkan efek BMD (Bone Mass
Density) dibanding penggunaan tunggal raloxifene, namun tidak lebih besar dari
penggunaan alendronat tunggal.

4. Interaksi obat pada terapi esterogen


Penggunaan kombinasi terapi esterogen dengan bisfosfonat dan hormonparatiroid
meningkatkan efek BMD. Penambahan progestin pada terapi esterogen tidak
memberikan perubahan atau peningkatan yang sangat sedikit pada efek BMD.
(Welss B.G., Dipiro J.T., Schwinghammer T.L., Dipiro C.V., 2009)
STUDY KASUS

Nama : sumiyati
Usia : 77 tahun
Pekerjaan : Pensiunan Guru
Alamat : Jl. Sawo, Jakarta Selatan
Status : Menikah, 4 anak , 7 cucu
Keluhan Utama : Nyeri panggul kiri
Dari anamnesis didapatkan bahwa sekitar 2 jam yang lalu, nenek tersebut tersandung karpet saat akan berjalan dari posisi
duduk ke berdiri, sehingga kembali jatuh terduduk di kursi. Menurut pasien pada saat jatuh benturan yang terjadi tidak keras. Pada
saat berusaha berdiri dari posisi tersebut, pasien merasa nyeri pada panggul kiri, tetapi masih sanggup dengan menumpu pada kaki
kiri. Beberapa waktu kemudian nyeri dirasakan semakin berat, tungkai kiri terasa berat untuk digerakkan, panggul kiri terasa kaku
dan nyeri, sehingga pasien tidak dapat berdiri dan bertumpu pada panggil kiri. Pasien mengaku sudah tidak mengalami menstruasi
sejak 25 tahun yang lalu, tidak memiliki kebiasaan merokok, tidak minum alcohol, tidak minum obat anti alergi. Tidak melakukan olah
raga teratur dan aktivitas paling banyak adalah nonton TV di kamar.
PEMERIKSAAN LAB

Pada pasien ini, jenis metode yang digunakan adalah dual-energy X-ray absorptiometry (DXA).
Ada 3 bagian tulang yang diukur untuk menentukan diagnosis osteoporosis (Region of Interest, ROI):
Tulang belakang (L1-L4)
Panggul
o Femoral neck
o Total femoral neck
o Trochanter
Lengan bawah (33% radius), bila:
o Tulang belakang dan atau panggul tak dapat diukur
o Hiperparatiroidisme
o Sangat obes

Pada pemeriksaan BMD femur sinistra pasien ini, Total T-score pada femur sinistra pasien ini adalah -2,7.Maka dapat di simpulkan bahwa
pasien memiliki osteoporosis berat karena hasil yang kurang dari -2,5 dan terjadi fraktur pada colum femorisnya.
Total T-score padavertebra L1-L4 pasien ini adalah -3,5. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami osteoporosis di
daerah vetebra.
Oleh karena itu kita dapatkan pada pemeriksaan BMD femur sinistra adalah Osteoporosis berat, karena pada foto x-ray didapatkan adanya fraktur
pada columna femoris. Nilai yang diambil adalah T-score total pada femur. Kemudian pada vertebra L1-L4 adalah Osteoporosis. Hal ini
menunjukkan bahwa pengeroposan yang terjadi tidak rata.