Anda di halaman 1dari 216

Skenario 5

Perilaku dan Implementasi


Promotif – Preventif Kesgimul
Masyarakat
PBL 1
PROMOSI KESEHATAN
Dwi Retno Anggraeny – 1506669066

Ann Felton et al, Basic Guide to Oral Health Education and Promotion 2014
Jill Mason. Concepts in Dental Public Health, 2nd Edition 2010
Ann Felton et al, Basic Guide to Oral Health Education
and Promotion 2014

Jill Mason. Concepts in Dental Public


Dental health Dental health Health, 2nd Edition 2010.
education promotion

Promosi kesehatan adalah ilmu dan


seni membantu orang dan masyarakat
mengubah gaya hidup mereka untuk
“Promosi
DHE merupakankesehatan gigi
bagian dari danyang
aspek mulut
lebih mencapai kesehatan yang optimal.
berusaha
luas untukkesehatan
dari promosi membuat pilihan
mulut, yang
menjadi
melibatkanlebih sehat
program dansebagai
kerja samapilihan
lokal,
nasional danlebih
yang bahkan internasional
mudah”
Peningkatan Peningkatan
Kuantitas Kualitas

Peningkatan
Kesehatan
Promosi kesehatan menurut WHO:

Promosi kesehatan bekerja melalui


“The process of enabling people to increase aksi komunitas yang nyata dan efektif
control over and to improve their health.” dalam menetapkan prioritas, dan
mengambil keputusan

Promosi kesehatan melampaui perawatan kesehatan.


Promosi kesehatan menempatkan kesehatan dalam agenda
pembuat kebijakan di semua sektor dan di semua tingkatan, Menggabungkan empat bagian dalam
rencana perawatan kesehatan gigi:
menyadarkan individu mengenai konsekuensi kesehatan dan menilai (assessing), merencanakan
bertanggung jawab terhadap kesehatannya. (planning), menerapkan(implementing),
dan mengevaluasi (evaluating) strategi
untuk mencapai kesehatan yang lebih baik.
Tujuan Promosi Kesehatan
Memberdayakan masyarakat
untuk mencapai kesetaraan Promosi kesehatan mulut ditujukan untuk empat
dalam kesehatan penyakit mulut yang dapat dicegah:

Meraih kesetaraan dalam


kesehatan serta mengurangi 1. Karies Gigi
insidensi dan prevalensi 2. Penyakit Periodontal
penyakit gigi mulut melalui 3. Kanker Mulut dan Faring
edukasi dan intervensi 4. Cedera Kraniofasial
Untuk mencapai tujuan ini, pr
Organisasi dan lembaga pemerintah faktor-faktor dalam masyar
yang mempengaruhi promosi kesehatan pemerintah, dan pembuat ke
langkah-langkah pencegahan,
lingkung
Perilaku individu tidak mudah diubah

Promosi kesehatan harus menggunakan pendekatan


interdisipliner yang melibatkan perawatan klinis,
pendidikan kesehatan, penelitian, kebijakan publik, ilmu
sosial, dan kesehatan masyarakat dengan tujuan
menyeluruh untuk menghilangkan kesenjangan kesehatan
Berikut lima strategi utama promosi k
STRATEGI (WHO’s five core strategies of he

1. Menciptakan lingkungan yang sup


Motivasi
2. Membuat kebijakan publik meng
3. Memperkuat kegiatan komunitas
4. Mengembangkan skill personal
5. Reorientasi pelayanan kesehatan
Barriers

Lembaga dan
Kebijakan publik organisasi pemerintah
OTTAWA CHARTER FOR HEALTH PROMOTION

1. Advokasi
2. Enable
3. Mediasi
4. Membangun kebijakan masyarakat sehat
5. Ciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan
6. Menguatkan peran komunitas
7. Mengembangkan keterampilan personal
8. Reorientasi pelayanan kesehatan
KOMPONEN-KOMPONEN PROGRAM PROMOSI
KESGIMUL YANG EFEKTIF

Kompleksitas sifat manusia, masyarakat, dan penyakit


mulut menuntut program promosi kesehatan gigi dan
mulut yang efektif dan memiliki komponen-komponen
khusus. Program yang efektif direncanakan dengan baik,
menguraikan populasi sasaran, dalam tujuan dan
sasarannya.

Intervensi Edukasi
Intervensi
Pertimbangan dalam memilih
intervensi yang tepat:
Berbagai tindakan kesehatan baik promotif,
preventif, kuratif, atau rehabilitasi yang tujuan
utamanya adalah meningkatkan kesehatan.
Edukasi Harus spesifik terhadap
target audiens!

Edukasi didesain untuk membantu individu atau Contoh:


kelompok mempelajari informasi kesehatan dan Edukasi mengenai tembakau yang
membangun perilaku kesehatan yang baru. menargetkan anak kelas enam SD
1. Harus mencakup informasi yang
sesuai dengan usia, aktivitas, dan
bacaan yang menarik dan mudah
dipahami.
2. Memanfaatkan apa yang
dipahami oleh banyak guru kelas
enam
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
DERAJAT KESEHATAN

Faktor Sosial Faktor Psikologis

Faktor sosial dapat


mempengaruhi kesehatan Faktor psikologis yang
seseorang pada tingkat: memengaruhi kesehatan:
1. Mikro 1. Kebiasaan
2. Meso 2. Motivasi
3. Makro
Faktor Sosial

Pada tingkat MIKRO


Faktor sosial yang memengaruhi kesgimul
termasuk kebiasaan, nilai-nilai, jaringan sosial,
dan etnisitas, terkait dengan penyakit mulut.
Karakteristik, seperti:
1. Usia
2. jenis kelamin
Contoh tingkat pengaruh mikro dapat dilihat 3. sosial ekonomi
pada tingkat pendapatan keluarga. 4. etnis, dan ras
dapat mendikte tempat seseorang
dalam suatu budaya, komunitas,
masyarakat, atau kelompok
keluarga.
Pada tingkat MESO

Melibatkan institusi, organisasi, dan jejaring


Pada tingkat MAKRO
sosial.

Contoh:
Atlet profesional adalah teladan yang kuat untuk
remaja. Atlet muda meniru atlet profesional.Ketika Berdampak pada lembaga sosial,
atlet profesional menggunakan tembakau, orang budaya, dan politik.
muda yang ingin menjadi seperti mereka lebih
cenderung menggunakan tembakau. Nilai-nilai dan keyakinan yang berkembang
di lembaga-lembaga besar dan pemerintah
mempengaruhi kebijakan mereka.
FAKTOR PSIKOLOGIS

Kebiasaan Motivasi

Motivasi itu kompleks, namun perlu untuk


Mengubah perilaku itu sulit bahkan jika membawa perubahan perilaku yang
perubahan itu penting dalam menjaga meningkatkan kesehatan.
kesehatan.
“Getting between the teeth is easy. It is getting
between the ears that is difficult.”
Perilaku bergantung pada
pengetahuan, keyakinan, dan nilai Ekspektasi individu, ide, perasaan, keinginan,
individu dan memerlukan kepatuhan harapan, sikap, dan nilai membentuk motivasi.
Motivasi  intrinsik atau ekstrinsik
Hubungan Perilaku dengan
KESGIMUL
Abdul Robby Farhan - 1506668946
Definisi Perilaku

• Perilaku merupakan segala kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung maupun
tidak dapat diamati oleh pihak luar. (Notoatmodjo 2007)
• Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan
(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2001)
• Perilaku mempunyai peranan yang sangat besar terhadap status kesehatan individu, kelompok
maupun masyarakat. (Kartono 2000)

STIMULUS
Jenis Perilaku

Covert Behavior Overt Behavior


Perilaku yang tidak terlihat Perilaku yang terlihat

Perilaku tertutup terjadi apabila respon dari Perilaku terbuka terjadi apabila respon terhadap
suatu stimulus belum dapat diamati oleh suatu stimulus dapat diamati oleh orang lain.
orang lain secara jelas. Respon seseorang Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas
terhadap stimulus ini masih terbatas pada dalam suatu tindakan atau praktik yang dapat
perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dengan mudah diamati oleh orang lain.
dan sikap terhadap stimulus tersebut. Bentuk
covert behavior yang dapat diamati adalah
pengetahuan dan sikap.
Pembentukan Perilaku
• Awareness
• Interest
• Evaluation
• Trial
• Adoption
Faktor – Faktor Mempengaruhi Perilaku

Menurut Lawrence (1980) dalam Notoatmojo (2007) sikap ditentukan atau


terbentuk dari 3 faktor.
• Faktor predisposisi (predisposing factor) meliputi faktor-faktor dasar, misalnya:
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan lain sebagainya yang
terdapat dalam diri individu maupun masyarakat
• Faktor pendukung (enabling factors) meliputi lingkungan fisik seperti umur,
status sosial ekonomi, pendidikan, sumber daya atau potensi masyarakat
• Faktor pendorong (reinforcing factor) meliputi sikap dan sikap dari orang sekitar
individu. Misalnya: sikap orang tua, suami, tokoh masyarakat bahkan petugas
kesehatan.
Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar
menjawab pertanyaan. Pada dasarnya pengetahuan merupakan hasil
tahu dari manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan dari
manusia untuk memahami suatu objek tertentu.
Domain Pengetahuan
Bloom pada tahun 1956
• Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
• Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan
emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
• Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Pengetahuan menurut Bloom
• Tahu (know)
• Memahami (comprehension)
• Aplikasi (application)
• Analisis (analysis)
• Sintesis (synthesis)
• Evaluasi (evaluation)
Tahu (Know)
Tahu dapat diartikan sebagai mengingat suatu bahan yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
(recall) sesuatu yang bersifat khusus dari seluruh bahan yang dipelajari atau
rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu, tahu ini merupakan tingkat
pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu
tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan,
mendefinisikan, menyatakan, dan lain sebagainya.
Memahami (comprehension)
Memahami dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat menjelaskan materi tersebut secara benar.
Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek
yang dipelajari.
Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan apa yang telah didapatkan
dari materi sebelumnya. Aplikasi dapat diartikan sebagai sarana/aplikasi atau
penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam
konteks atau situasi yang lain yang masih berhubungan dengan materi.
Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke
dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu lingkup organisasi, dan
masih ada kaitannya dengan satu sama lain. Kemampuan analisa sudah terlihat dari
penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan),
membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian
di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Sintesis adalah suatu kemampuan
untuk menyusun fomulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat
menyusun, merencanakan, meringkaskan, menyesuaikan, dan sebagainya terhadap
suatu teori atau rumusan-rumusan sudah didapat (Notoatmodjo, 2007).
Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berhubungan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap
suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu dilandaskan pada suatu kriteria
yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada
(Notoatmodjo, 2007).
Perilaku yang Berpengaruh thd Kesgimul
1. Karies
2. Periodontal
3. Oral Cancer
KARIES
• Perilaku host sangat berpengaruh terhadap kejadian karies. Konsumsi
makanan dan minuman manis (frekuensi makan, cara makan, jumlah
intake) merupakan faktor tisiko karies.
• Perilaku menjaga kesehatan oral berupa cara, frekuensi, dan waktu
menyikat gigi, dental flossing, penggunaan mouthwash, dan intake
fluoride akan mempengaruhi kemungkinan individu mengalami
karies.
• Kesadaran untuk memeriksa ke dokter gigi secara berkala juga
memegang peranan dalam pencegahan karies.
PERIODONTAL
ORAL CANCER
• Peran rendahnya konsumsi buah dan sayuran telah diteliti sebagai faktor risiko
kanker oral. Banyak kandungan pada sayuran
• membantu mencegah kanker seperti karotenoid, flavonoid, askorbat, folat, dan
serat.
• Kebersihan rongga mulut yang buruk dan penyakit periodontal kronis merupakan
faktor risiko kanker.
• Konsumsi tembakau mengakibatkan inflamasi kronis sehingga terjadi kerusakan
jaringan yang menstimulasi percobaan regenerasi dan perbaikan jaringan, dan ini
dapat berkontribusi terhadap pembentukan kanker
Referensi
1. Notoatmodjo, S. (2007). Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.
2. Kartono, K. (2000). Hygiene mental. Bandung: PT. Mandar maju.
3. Green, L.W. (1980). Health educational planning diagnostic approach. California:
Mayfield Publishing Company.
Dental Health Education
Oceana Roswin
1506726630
PBL 1
Edukasi Kesehatan
merupakan intervensi edukasional yang didesain untuk membantu individu atau komunitas
untuk mempelajari informasi kesehatan yang baru sehingga dapat mengembangkan
kebiasaan baru terkait dengan kesehatan.

TUJUAN:
Edukasi Kesehatan gigi dan mulut

Merupakan rangkaian informasi, kegiatan, atau pengalaman yang terencana dengan tujuan untuk
meningkatkan kesehatan gigi dan mulut.

Tujuan utama dari edukasi kesehatan oral adalah prevensi penyakit.

Agar bisa sukses, rencana edukasi kesehatan oral harus bisa memberikan akses dan akomodasi
level dan kebutuhan ilmu dari target
FOKUS
EDUKASI
KESEHATA
N
LANGKAH-LANGKAH DHE:

SHOCKING INFORMATION EDUCATION MOTIVATION

AWARENESS INTEREST EVALUATION

TRIAL ADAPT
METODE PENYAMPAIAN PESAN

ONE WAY TWO WAY


COMMUNICATION COMMUNICATION

Spesifikasi Metoda

Dua Arah Satu Arah

Berita/pesan Langsung Tidak Langsung

Jangkauan Publik Luas Sangat Luas

Petugas Kesehatan Terlatih Tidak Terlatih

Dana Operasional Kecil Besar

Perubahan Sikap & Mental Cepat Lambat


TAHAPAN ONE WAY COMMUNICATION

Pemilihan
Penyusunan
Analisis masalah Masukan audiens strategi
pesan
komunikasi

Penetapan Menentukan Menentukan


metode dan saluran lingkungan
materi penyampaian penyampaian
komunikasi pesan pesan
TAHAPAN TWO WAY COMMUNICATION

Komunikator Media
Pesan
menyampaikan memindahkan
disampaikan
pesan pesan

Komunikan
Ada Dampak Feedback menerima
pesan
TEKNIK BERKOMUNIKASI KEPADA
PROFESIONAL

Lecture with Panel of


Lecture
discussion Experts

Classroom Small Group


Videotapes
discussion discussion

Worksheet/
Role playing
survey
Teknik Persiapan Kelebihan Kekurangan
Lecture  Membutuhkan  Memberikan materi  Ahli belum tentu
perkenalan dan secara langsung menjadi guru yang
ringkasan yang jelas  Berisikan pengalaman baik
 membutuhkan yang menginspirasi  target bersifat pasif
pembatasan waktu dan  menstimulasi  Kesulitan untuk
konten agar efektif pemikiran untuk diskusi menangkap materi
 Membutuhkan contoh terbuka  Komunikasi 1 arah
dan anekdot  berguna untuk grup
besar
Teknik Persiapan Kelebihan Kekurangan

Lecture Memburuhkan pertanyaan  Melibatkan target  Waktu bisa melimitasi


dengan yang disiapkan untuk diskusi sedikit setelah lecture sesi diskusi
diskusi  Target bisa bertanya,  Kualitas ditentukan
mengklarifikasi, dan dari kualitas
menanang pertanyaan dan
diskusi
Teknik Persiapan Kelebihan Kekurangan

Panel of  Fasilitator mengkoordinasi  Mengijinkan ahli untuk  Ahli belum tentu


experts fokus panel, perkenalan, memberikan opini menjadi pembicara yang
dan rangkuman berbeda baik
 Pembukaan panel  bisa memberikan diskusi  sifat bisa saja menutupi
yang lebih baik daripada konten
diskusi 1 orang  Subjek materi belum
 Seringnya merubah tentu berurut secara
pembicara bisa menahan logika
atensi tanpa lag
Teknik Persiapan Kelebihan Kekurangan

Videotapes  Membutuhkan persiapan  Konten pengajaran yang  Bisa mengangkat terlalu


alat menarik dan mengangkat banyak isu dalam diskusi
 Efektif hanya jika fasilitator isu yang terfokus
menyiapkan pertanyaan  Mempertahankan atensi  diskusi belum tentu
untuk diskusi setelah video  Terlihat professional melibatkan partisipasi
ditayangkan  Menstimulasi diskusi penuh
Teknik Persiapan Kelebihan Kekurangan
Classroom  Membutuhkan rencana  banyak ide dan  Tidak praktikal untuk
discussion matang dari fasilitator untuk pengalaman dari lebih dari 20 orang
membawa diskusi kelompok  Sedikit orang bisa
 Membutuhkan outline  Efektif setelah presentasi, mendominasi
pertanyaan film, atau pengalaman  Yang lain belum tentu
yang perlu dianalisis berpartisipasi
 Memberikan kesempatan  Membuang waktu
kepada semua orang  Bisa lepas dari arah
untuk partisipasi pada
proses aktif
Teknik Persiapan Kelebihan Kekurangan
Small  Membutuhkan persiapan  Memberikan kesempatan  Butuh pemikiran
group tugas atau pertanyaan partisipasi semua orang matang sesuai tujuan
discussion untuk grup agar dijawab  Orang merasa lebih dari grup
nyaman pada grup kecil  grup bisa saja lepas dari
 bisa meraih persetujuan alur diskusi
bersama
Teknik Persiapan Kelebihan Kekurangan
Role playing  Pelatih perlu mendefinisikan  Memperkenalkan situasi  Orang terlalu sadar diri
situasi masalah dan peran masalah dengan drama  Tidak cocok untuk grup
dengan jelas  menyediakan kesempatan besar
 Pelatih harus memberikan bagi orang untuk  Orang bisa merasa
instruksi yang benar-benar mengasumsi peran orang terancam
jelas lain dan apresiasi sudut
pandang lain
 Memberikan eksplorasi
solusi
 Menyediakan kesempatan
untuk melatih skill
Teknik Persiapan Kelebihan Kekurangan
Workshe Fasilitator harus  Membuat orang  Hanya bisa
et/ menyediakan print mampu berpikir tanpa digunakan untuk
surveys lembaran survey terpengaruh orang waktu yang pendek
lain
 Pikiran pribadi bisa
dituangkan dalam
grup besar
Metode Komunikasi kepada Target

Komunikasi Komunikasi
Komunikasi koersif
informatif persuasif
• Penerima pesan • Penerima dituntut • Komunikasi
hanya tahu isi tidak hanya tahu instruktif
pesan tanpa ada tetapi juga • Penerima pesan
perubahan sikap mengikuti isi dipaksa mengikuti
pesan pesan dengan
sanksi tegas bila
tidak dilakukan
Syarat Komunikasi yang baik
Clear • Pesan memiliki tujuan jelas

Concise • Ringkas tapi fokus dengan poin yang ingin disampaikan

• Pesan konkret, dapat dipahami oleh target


Concrete • Didukung dengan fakta atau data

Correct • Pesan bebas dari kesalahan tata bahasa sehingga mudah dimengerti

Coherent • Komunikasi yang logis dan masuk akal, pesan sesuai topik

Complete • Komunikasi lengkap

Courteus • Sopan, ramah, dan terbuka


TEORI PERUBAHAN
PERILAKU INDIVIDU
JESICA ULI GIOVANI
1506737211
REFERENSI

1. Jill Mason. Consepts in dental public health, 2nd ed, 2010. p. 136-145
2. Solhi M, Zadeh DS, Seraj B, Zadeh SF. The application of the health belief
model in oral health education. Iranian J Publ Health, Vol. 39, No.4, 2010, pp.
114-119
LEVELS OF FOCUS IN HEALTH EDUCATION

Tingkat •Target : individu


• penerima program memiliki kemampuan dan sumber daya untuk memulai dan
intrapersonal menjaga perubahan perilaku sendiri

Tingkat • target : kelompok


•“people helping people”
interpersonal • salah satu orang yang bisa melakukan program dengan baik akan mendorong /
memotivasi anggota lain

Tingkat • Target : komunitas / populasi


• pembuat kebijakan dan badan legislative berpartisipasi dalam edukasi kesehatan
Komunitas • kelebihan : ada kekuatan komunitas → mengatasi masalah bila edukasi jika
dilakukan secara individu ataupun kelompok tidak efektif
PERUBAHAN PERILAKU INDIVIDU

 Perubahan perilaku dapat terjadi dengan adanya motivasi individu untuk


belajar sehingga melakukan perubahan
 motivasi dapat berupa dorongan internal ataupun eksternal
 Model motivasi :

Maslow’s Hierarchy of
Needs

Learning Ladder / Decision


Making Continuum
Maslow’s Hierarchy of
Needs
Physiologic Kebutuhan dasar hidup
Needs → (oksigen, udara, maknan, air, istirahat)
 keinginan/keubuthan (need) dalam diri dapat Security & Safety kebutuhan untuk terhindar dari bahaya dan
menyebabkan orang melakukan aksi dan Needs injuri fisik & psikologis
mendahulukan sesuatu diatas yang lain → lingkungan aman, bebas dari ketakutan,
punya pekerjaan, dll
 Hal paling penting diletakkan di dasar
Social Needs Mendapatkan cinta dan sosialisasi → ‘not
alone’
→ berada pada suatu adat, keluarga,
kelompok, mendapat cinta
Esteem / Ego Harga diri
Needs → daya saing, sukses, berprestasi, bebas,
jadi orang terhormat,
Self- Memiliki potensi orang lain / dapat
Actualization / mengendalikan orang lain
Self-Realization
Learning Ladder / Decision Making
Continuum

• konsep : manusia belajar dalam serangkaian tingkatan yang

berurutan  dari tidak peduli akan informasi hingga adopsi

perilaku baru

• Individu harus melewati setiap langkah untuk dapat komit

akan perilaku baru (habit)


TEORI PERUBAHAN PERILAKU INDIVIDU

Health Belief
Model
individu percaya bahwa ia rentan
Susceptibility
terkena penyakit / kondisi

individu percaya bahwa kondisi peny tsb


 berguna dalam prediksi Severity
parah atau serius pada kehidupannya
kepatuhan individu akan
individu percaya bahwa ada aksi yang
rekomendasi profesional untuk
dapat diambil untuk mengurangi risiko
perilaku kesehatan preventif Beneficial
atau mengontrol penyakit tsb (ada
 berdasarkan pada teori bahwa perilaku preventif)
perilaku diarahkan oleh persepsi Benefits
individu percaya bahwa tindakan yang
outweigh
dan kepercayaan diambil dapat melewati kesulitan dan
barriers to
masalah
 semakin besar kepercayaan, action
semakin tinggi probabilitas aksi
kesehatan akan diambil
CONTOH
TERIMAKASIH
THE TRANSTHEORETICAL MODEL
(STAGES OF CHANGE)
TEORI PERUBAHAN PERILAKU

The Transtheoretical Model (Stages of Change)

• Disebut juga stages of change model


• Dikembangkan oleh Prochaska dan DiClemente (1970)
• Teori ini berkaitan dengan kesiapan sesorang untuk mengadopsi
perubahan perilaku untuk kehidupan yang lebih sehat. Dan memandang
perubahan perilaku terutama perilaku kebiasaan sebagai sebuah
proses/siklus
• Konsep utama dari teori ini yaitu bahwa orang-orang melalui siklus
tahapan kesiapan yang berbeda dan bahwa seseorang dapat berada
dalam tahap apapun pada suatu titik waktu tertentu.
• Model ini berupa lingkaran, bukan linier.
• Orang dapat masuk atau keluar dari siklus
lingkaran tersebut pada titik manapun dan
mungkin mengulang siklus-siklus tersebut.
• Para edukator kesehatan gigi dan mulut
dapat menggunakan teori ini untuk menilai
kesiapan seseorang untuk melakukan
perubahan dan mencocokkan upaya
pendidikan kesehatan yang sesuai.
Stages of
Changes
Relapse/Rec
urrence

Pre-Contemplation…

Contemplation…
Stages of Changes

6. Relapse 1. Precontemplation
Kembalinya perilaku lama (X) Masalah <Informasi
(X) Niat Resistant,
unmotivated
2. Contemplation
5. Maintenance ✔️ Masalah
Melanjutkan tindakan ✔️ Niat u/ berubah dlm
Menghindari terjadinya waktu lama
relapse Sadar dari + dan – dari
perubahan
4. Action 3. Preparation/Determination
✔️Praktek tingkah laku ✔️ Rencana berubah
Perubahan perilaku sudah Niatan mengambil tindakan dalam
dilakukan selama 6 bulan. waktu dekat
THEORY OF PLANNED BEHAVIOR
THEORY OF PLANNED BEHAVIOR

Dimulai untuk memprediksi niat individu untuk


Teori ini mengeksplorasi hubungan antara
terlibat dalam perilaku pada waktu dan
perilaku dan kepercayaan, sikap, dan niat
tempat tertentu.

Komponen kunci  Niat perilaku


Niat perilaku (behavioral intention) dipengaruhi oleh sikap tentang kemungkinan bahwa perilaku akan
memiliki hasil yang diharapkan dan evaluasi subyektif risiko dan manfaat dari hasil tersebut.
Pada gambar tersebut dijelaskan bahwa bagaimana behavioral intention menentukan perilaku (behavior),
dan bagaimana sikap terhadap perilaku (attitude toward behavior), subjective norm,dan pecieved
behavioral control mempengaruhi behavioral intention
Behavioral Intention
Ini mengacu pada faktor motivasi yang
mempengaruhi perilaku yang diberikan di
mana semakin kuat niat untuk melakukan
perilaku, semakin besar kemungkinan Perceived behavioral
perilaku akan dilakukan.
control
Ini mengacu pada persepsi seseorang
tentang kemudahan atau kesulitan
Attitude towerd behaviour melakukan perilaku yang menarik
Ini mengacu pada sejauh mana seseorang
memiliki evaluasi yang menguntungkan atau
tidak menguntungkan dari perilaku yang Perceived power
Ini mengacu pada kehadiran yang
diminati dirasakan dari faktor-faktor yang dapat
memfasilitasi atau menghambat kinerja dari
Subjective norms suatu perilaku
Ini mengacu pada keyakinan tentang
apakah sebagian besar orang menyetujui
atau tidak menyetujui perilaku
Social Norm
Ini mengacu pada kode kebiasaan perilaku
dalam kelompok atau orang atau konteks
budaya yang lebih besar
REFERENSI

• W, Wayne. 2018. “The theory of planned behavior”. [Internet]


http://sphweb.bumc.bu.edu/otlt/MPHModules/SB/BehavioralChangeTheories/Beh
avioralChangeTheories5.html Diakses tanggal 8 Oktober 2018)
• Concept of Dental Public Health 2nd ed ;
https://www.prochange.com/transtheoretical-model-of-behavior-change ;
Theoryata Glance: A Guide for Health Promotion Practice.
P E N D E K ATA N
M O T I V AT I O N A L
INTERVIEWING
DEFINISI MI
• MI adalah metode komunikasi yang bersifat person-
centered, goal- directed
• Bertujuan untuk meningkatkan dan menguatkan motivasi
internal untuk merubah sebuah kebiasaan
• Awalnya dikembangkan pada bidang terapi adiksi
DEFINISI MI
BUKAN BUKAN PASIEN,
DOKTER, TAPI TAPI
COUNSELOR CLIENT
TIPE PERCAKAPAN MI
DIRECTING GUIDING FOLLOWING

• D:Menyediakan info, • D: menjadi •P: yang lebih banyak


instruksi,saran pendengar yang bicara
baik, namun tudak •D: mendengar dan
• D:Memberi tahu apa menaruh minat pada apa
yang harus mengikuti seluruh yang pasien ceritakan
dikerjakan yang diinginkan •D: berusaha untuk
• D: memberi arahan pasien begitu saja mengerti dan menahan
P: hanya menaati • D: menawarkan diri dari apa yang ingin
keahliannya ketika dikatakan
• Ex: dokter memberi
diperlukan •Ex: pasien sekarat/
tahu cara pasien marah
mengonsumsi obat
PIRAMIDA MI
Kolaborasi antara dokter dengan
pasien : membangun kerja sama
strategies (kolaborasi) berdasarkan pengalaman dan
pandangan pasien

Evocating: dokte memicu motivasi


principles internal dr diri pasien

Menekankan otonomi pasien


spirit
PIRAMIDA MI
Prinsip MI adalah saling menghargai dan
strategies kolaborasi.
Dokter harus melepaskan keinginan untuk
memecahkan masalah pasien (sering
disebut sebagai “righting reflex”) dan
principles membiarkan pasien untuk
mengartikulasikan solusinya sendiri.

spirit
PIRAMIDA MI
strategies Resisting the righting reflex

Understanding your patient’s motivation

principles
Listen to your patient

spirit Empower pasien dengan


dukungan,self efficacy dan optimisme
PROSES MI

Engaging Focusing Evoking Planning

Membimbing
Melibatkan
pasien menuju
perencanaan dan
Metode konseling suatu target Membangkitkan
pembangunan
patient-centered : perilaku yang baik motivasi internal
jembatan untuk
mendengarkan utk dengan pasien unutk
perubahan pasien
memahami pasien menanyakan apa berubah
dan komitmen
saja hal yang
pasien.
penting
4 PRINSIP DASAR MI
Express empathy
Tujuan: Membangun hubungan
dokter-pasien yang baik
Develop discrepancy • Penerimaan akan
memfasilitasi perubahan
Roll with resistance • Reflective listening merupakan
hal fundamental

Support self- efficacy


4 PRINSIP DASAR MI
Express empathy
Menunjukkan pro dan kontra
Develop discrepancy • Adanya kesenjangan antara
tujuan dan nilai pasien vs
Roll with resistance perilaku saat ini lah yang
bisa memotivasi perubahan

Support self- efficacy


4 PRINSIP DASAR MI
Express empathy Menghormati otonomi pasien
• Bila ada resistensi/ kekeh/ ngeyel, ini
adalah sinyal bagi dokter untuk
Develop discrepancy merespon secara MI
• Hindari argumentasi dan persuasi, yang
dapat mendorong pasien ke arah
berlawanan
Roll with resistance • Pasien mendapatkan perspektif baru
dan solusi, secara mandiri, bukan
dipaksa doker
Support self- efficacy
4 PRINSIP DASAR MI
Express empathy
Mengkomunikasikan bahwa pasien mampu
berubah
• Pasien PD = kunci motivasi
Develop discrepancy • Pasien adalah org yang
bertanggungjawab akan pencapaian
tujuan
Roll with resistance • Dokter menegaskan tanggungjawab/
komitemen ini dan mendukung mereka
dalam kemampuannya mencapai tujuan

Support self- efficacy


STRATEGI INTERVIEW:
Hindari ertanyaan ya/ tidak. Setelah nanya, tunggu
Open ended questions pasien untuk menjelaskan

Berusaha menggali kekuatan pasien dan kesulitan yang


Affirmation dialami pasien dengan cara yang tulus dan suportif

Mendengar tanpa judge, lalu repeat- rephrasing-


Reflective Listening paraprasing perkataan pasien

Membuat kesimpulan untuk menunjukkan


Summarising bahwa dokter telah mendengarkan secara
seksama
KOMPONEN DAN TEKNIK MI
Ask Permission Elicit-Provid- Ecit

• D: jika hendak bertanya • Memulai diskusi dengan


atau memberi informasi, meminta pasien(asking)
minta izin dulu menyampaikan:
• Menunjukkan rasa hormat • Apa yang sudah ia ketahui
dokter trhdp hak otonom • Apa ketertarikannya
pasien (listening)
• Selanjutnya, memberikan
informasi yang dibutuhkan
pasien (informing)
Teori Perubahan Perilaku Tingkat
Kelompok / Keluarga / Interpersonal

Billy Gunawan / 1506739394


• Teori ini mencetuskan  suatu pembelajaran dapat terjadi pada situasi sosial yang
dinamis dan interaksi resiprokal (timbal-balik) antara manusia, lingkungan, dan
perilaku
• Melalui pengalaman langsung seperti observasi perilaku orang lain, termauk pengalaman di masa
lalu

• Reaksi terhadap suatu perilaku dapat bersifat positif maupun negative  mampu
mendorong / mencegah terjadinya perubahan perilaku

• Tujuan utama SCT untuk menjelaskan bagaiamana manusia dapat mengalami


perubahan perilaku melalui interaksi control and reinforcement  untuk mencapai
tujuan perubahan perilaku yang dapat dipertahankan seiring waktu
• Teori perubahan perilaku dalam promosi kesehatan umumnya  tidak mempertimbangkan
maintenance dari perlaku, tetapi hanya focus untuk insiasi perubahan perilaku
Komponen Pembentuk Social Cognitive Theory
1. Reciprocal Determinism
• Definisi: inti dari SCT, interaksi yang dinamis dan 2 arah antara:
• manusia (pengalaman individu),
• lingkungan (konteks sosial),
• perilaku (respon dari stimulus untuk mencapai tujuan)
• Aplikasi: melibatkan individu dan orang lain yang berhubungan

2. Behavioral Capability
• Definisi: kemampuan seseorang untuk berperilaku berdasarkan atas
pengetahuan dan keahlian
• Manusia belajar dari konsekuensi akibat perilaku mereka, juga berdampak pada
lingkungan mereka
• Aplikasi: memberikan informasi dan pelatihan tentang suatu tindakan
3. Observational Learning
• Definisi: seseorang dapat mengobservasi perilaku orang lain  lalu mengikuti
perilaku tersebut.
• Dapat juga bersifat fisik / tampilan seseorang

• Aplikasi: menunjukkan pengalaman orang lain dan perubahan fisik

4. Reinforcements
• Definisi: merupakan respon internal atau eksternal seseorang yang dapat
berdampak pada kelanjutan, atau ketidaklanjutan dari suatu perilaku.
• Dapat berupa positive atau negative, dan dapat self-initiated ataupun di lingkungan

• Aplikasi: menyediakan insentif, penghargaan, pujian, yang dapat menurunkan


penghalang negative untuk suatu perubahan positive
5. Expectations
• Definisi: antisipasi konsekuensi yang terjadi bila seseorang melakukan suatu tindakan.
• Antisipasi ini dapat memicu keberhasilan suatu tujuan dalam berperilaku
• Hal ini berkaitan dengan pengalaman sebelumnya, lebih focus pada hasil dari capaian perilaku,
bersifat subjektif
• Aplikasi: menggabungkan informasi tentang kemungkinan hasil tindakan suatu saat
nanti

6. Self-Efficacy  komponen yang baru ditambahkan dalam SCT, faktor yang


paling berpengaruh menentukan usaha seseorang dalam mengubah perilaku
• Definisi: kepercayaan diri untuk mengambil tindakan dan untuk bertahan dalam
tindakan tersebut
• Self-efficacy yang besar  mendorong motivasi yang besar untuk menghadapi
masalah, meningkatkan kemungkinan bertahannya suatu perilaku mekipun tidak dalam
pengawasan karena hal ini berasal dari diri sendiri
Tahapan Pembelajaran dalam Teori SCT

1. Attentional phase  individu mengobservasi role model (orang


berkuasa, dihormati, memilki karakteristik yang sama dengan observant)

2. Retention phase  Individu memproses dan menyimpan apa yang telah


diamati

3. Reproduction phase  Individu mengikuti perilaku yang diamati

4. Motivational phase  individu termotivasi melakukan perilaku tertentu


dengan adanya pengaruh dari reinforcement dan punishment
Kekurangan dalam Social Cognitive Theory

• Teori ini berasumsi bahwa perubahan lingkungan akan langsung berdampak pada
perubahan perilaku manusia, hal ini tidak selalu benar

• Teori ini tidak menjelaskan seberapa jauh pengaruh dari dampak setiap komponen
terhadap perubahan perilaku

• Teori ini sangat focus pada proses pembelajaran, sedangkan masih terdapat faktor
biological dan hormonal yang dapat mempengaruhi perilaku

• Teori ini tidak berfokus pada emosional dan motivasi

• Teori ini dapat bersifat luas, akan sulit bila diterapkan seutuhnya
PROMOSI KESEHATAN
Nadine Khalissya
DENGAN FOKUS PBL 1

KOMUNITAS
Promosi Kesehatan dengan Pendekatan
Komunitas
❖ Berfokus pada pengaruh ekonomi, politik, atau faktor-faktor lainnya yang menjadi
aspek dalam perilaku komunitas.
❖ Di dalamnya termasuk upaya promosi kesehatan yang melibatkan pihak pembuat
keputusan (badan pengawas atau legislatif).
❖ Program edukasi yang berfokus pada komunitas memiliki keuntungan dari kekuatan

komunitas untuk mengatasi masalah-masalah yang tidak dapat ditangani secara


efektif pada level individu dan kelompok.

❖ Contoh strategi: Community organizing, social marketing.


Promosi Kesehatan dengan Pendekatan
Komunitas (cont’d)
Promosi Kesehatan dengan Pendekatan Komunitas
(cont’d)

Budaya dan masyarakat memiliki kontrol


terhadap kesehatan gigi dan mulut pada level


makro.
Mengembangkan nilai-nilai dan kepercayaan

dalam institusi-institusi besar dan pemerintah


mempengaruhi kebijakan yang dibuat.
Kebijakan-kebijakan ini merefleksikan

kepercayaan masyarakat —> misi dan tujuan


institusi.
Contoh: Medicaid dental coverage for adults

TEORI PERUBAHAN
PERILAKU DENGAN
FOKUS KOMUNITAS
Community Organization Theory

Dibangun atas dasar mengidentifikasi masalah umum,


mengembangkan dan mengimplementasi metode untuk meraih
goal yang diinginkan dan mengaktifkan sumber daya yang ada.
Teori ini menekankan partisipasi aktif dan perkembangan
komunitas untuk mengevaluasi dan menyelesaikan masalah
kesehatan dan sosial. Berkebalikan dengan aktivitas yang didesain
dan diimplementasi secara professional, hal ini merupakan proses
perkembangan oleh diri sendiri di dalam kelompok.
Komunitas atau grup merupakan sarana untuk proses perubahan.
Community Organization Theory
(cont’d)
Pada teori ini, anggota:
❖ Berpartisipasi dan sadar akan proses perubahan dirinya.
❖ Percaya bahwa mereka memiliki kontrol akan kehidupnya sendiri dan kehidupan
anggota kelompoknya (empowerment).
❖ Memiliki tanggung jawab dan memiliki peran leadership dalam perubahan.
❖ Secara efektif berkolaborasi untuk mengidentifikasi masalah dan mencapai
kesepakatan dalam menetukan tujuan dan prioritas serta
mengimplementasikannya dalam bentuk tindakan.
Diffusion of Innovations Theory
Sebelum ide, perilaku, produk, atau suatu layanan baru menjadi bagian dari
masyarakat, hal tersebut harus dikomunikasikan, diterima, dan diadopsi
terlebih dahulu —> Teori Difusi Inovasi menjelaskan bagaimana suatu ide,
praktik sosial, atau produk baru yang menyebar melalui dan antar
masyarakat dikomunikasikan, diterima, dan diadopsi.
Seberapa baik sebuah inovasi diterima, atau seberapa cepat hal itu diterima dan diadopsi, ditentukan oleh
beberapa faktor yaitu:
❖ Melibatkan populasi sasaran dalam pengembangan inovasi

❖ Nilai, kebutuhan, pengalaman, dan kebiasaan populasi sasaran

❖ Teori ini juga menunjukkan bahwa penting untuk mengidentifikasi opini pemimpin masyarakat dan
mendapatkan dukungan mereka terhadap ide dan pengalaman baru. Ketika seorang pemimpin
masyarakat menyajikan kembali informasi yang telah diberikan melalui media massa, kemungkinan
orang akan menerima ide atau praktik baru meningkat.
Diffusion of Innovations Theory (cont’d)
Diffusion of Innovations Theory (cont’d)
Beberapa FAKTOR yang dapat meningkatkan kemungkinan adopsi inovasi:

Relative
Compatibility Complexity
advantage

Trialability Observability
Untuk mengimplementasikan Teori Difusi Inovasi perlu diperhatikan
hal-hal berikut:

Identifikasi nilai, kebutuhan, kebiasaan, dan pengalaman dari populasi yang menjadi sasaran

Mengidentifikasi opini pemimpin dan meminta dukungan mereka

Libatkan kelompok dalam mengembangkan dan memberikan umpan balik mengenai ide baru
tersebut.

Gunakan media untuk mengekspos kelompok tersebut pada inovasi.

Buat kegiatan yang memungkinkan orang melihat dan memahami kemungkinan keuntungan untuk
menerima inovasi.
Diffusion of Innovations Theory (cont’d)

❖ Aspek penting lain dari teori ini adalah bahwa memandang komunikasi
sebagai proses dua arah. Ketika satu orang atau kelompok membujuk
populasi sasaran untuk menerima atau mengadopsi suatu ide, komunikasi
berjalan secara timbal balik dalam dua arah.
❖ Saat menerapkan teori ini, semua saluran komunikasi formal dan informal
serta sistem sosial harus diidentifikasi dan digunakan untuk menyebarkan
pengetahuan baru.
Organizational Change Theory / Stage
Theory

Memahami bagaimana menciptakan suatu perubahan dalam


organisasi.

Proses dan strategi tertentu mungkin dapat meningkatkan peluang


kebijakan dan program kesehatan akan diadopsi dan dipelihara di
organisasi formal. Premis dari teori ini adalah organisasi bergerak
melalui tahapan-tahapan, atau serangkaian langkah-langkah,
seiring dengan inisasi dan adopsi perubahannya.
Tahap perubahan pada Organizational Change Theory / Stage Theory:
T

Defining the
Initiating action:
problem:
merumuskan
mengetahui dan
kebijakan dan
menganalisis
pedoman/arahan.
masalah.

Implementing Institutionalizing
change: change:
mewujudkan kebijakan perubahan
perubahan ke dalam yang baru terintegrasi
tindakan. ke dalam organisasi.
Tabel berikut menjelaskan teori tahapan dari organizational change (Organizational Change / Stage
Theory).
Konsep
Definisi Aplikasi
Kaluzny & Hernandez (1998) Beyer & Trice (1978)
1. Merasakan tuntutan yang
tidak dipenuhi pada system. Melibatkan manajemen dan
1. Defining the 2. Mencari respon yang Masalah disadari dan
personil lain dalam aktivitas
problem (Awareness memungkinkan. dianalisis; solusi dicari
Stage) 3. Mengevaluasi alternatif. dan dievaluasi. peningkatan kesadaran
4. Memutuskan untuk (awareness-raising activities).
mengadopsi tindakan.
Kebijakan atau arahan Menyediakan konsultasi proses
2. Initiating action 5. Menginisiasi aksi di dalam diformulasikan; sumber untuk menginformasikan pembuat
(Adoption Stage) sistem. daya untuk memulai dan stake holders mengenai apa
perubahan dialokasikan. yang terlibat dalam adopsi.
Inovasi
Menyediakan bantuan pelatihan,
3. Institutionalizing 6. Mengimplementasikan diimplementasikan;
teknis, dan penyelesaian masalah
change perubahan. reaksi terjadi, dan
(problem-solving).
perubahan peran terjadi.
Mengidentifikasi high-level
Kebijakan atau program
champion; bekerja untuk
7. Menginstitusionalisasi berakar dalam
4. Implementing change mengatasi hambatan
perubahan. organisasi; tujuan dan
institusionalisasi, dan menciptakan
nilai baru diinternalisasi.
struktur untuk integrasi.
CONTOH Implementasi Organizational Change Theory / Stage Theory:
❖ Edukator kesgimul pada sebuah instalasi militer yang memberitahukan bahwa mayoritas sikat
gigi manual yang dijual di toko Post Exchange (PX) didesain dengan kurang baik, sikat gigi
kualitas rendah yang desainnya dapat merusak struktur oral.
❖ Edukator meminta kepada manajer PX untuk menyertakan sikat gigi dengan kualitas yang
telah diakui bersamaan dengan sikat gigi yang sudah dijual di pasaran dan dengan cepat
mempelajari bahwa menginisiasi perubahan pada operasi militer sebanding dengan “moving a
mountain.” Merek-merek sikat gigi yang spesifik dipilih, diberi harga, dan diiklankan untuk
dijual.
❖ Ketika sudah terdapat persediaan dan sudah ditawarkan di pasar, pembeli mulai memilih sikat
gigi dari stok baru tersebut. Alhasil, pembeli mulai meminta pilihan barang-barang kesgimul
dan alat self-care lainnya, seperti sikat gigi elektrik yang baru dijual di pasaran.
❖ Karena edukator kesgimul dan manajer PX berkolaborasi, dan konsumen memenuhi,
kebijakan toko baru untuk alat-alat kebutuhan kesgimul menjadi SOP dan sebuah institusi
telah diubah.
Pendekatan Ekologis

Mengacu pada saling keterkaitan antara organisme dan


lingkungannya.

Menurut pendekatan ini, intervensi yang efektif harus memengaruhi


berbagai tingkatan karena kesehatan dibentuk dari beberapa
subsistem lingkungan, meliputi keluarga, komunitas, tempat kerja,
kepercayaan dan tradisi, ekonomi, serta lingkungan fisik dan sosial.
Prinsip Pendekatan Ekologis
Faktor-faktor dalam
beberapa tingkatan,
seperti intrapersonal,
Pengaruh-pengaruh
interpersonal, Multiple levels of factors Influences interact across
influence health behaviors levels
berinteraksi antar
organisasi, komunitas,
dan kebijakan publik, tingkatan.
dapat memengaruhi
perilaku kesehatan.

Intervensi edukasi yang


didesain untuk mengubah Model ekologis tampak
kepercayaan dan paling berguna untuk
kemampuan perilaku Multilevel interventions Ecological models are most memandu penelitian dan
cenderung bekerja lebih should be most effective in powerful when they are intervensi ketika mereka
baik ketika kebijakan dan changing behavior behavior-specific disesuaikan dengan
lingkungan mendukung perilaku kesehatan
perubahan perilaku yang spesifik.
ditargetkan.
Summary
STRATEGI
PROMOSI
KESEHATAN
DENGAN
FOKUS
KOMUNITAS
Social Marketing Theory

PRECEED-PROCEED
Model
STRATEGI
PROMOSI
KESEHATAN
DENGAN
FOKUS
KOMUNITAS
Social Marketing Theory

PRECEED-PROCEED
Model
Model
Precede-
Proceed
Astien Amalia Hidayah
1506668952
• Model PRECEDE-PROCEED dikembangkan oleh Green
dan Kreuter
• Model ini merupakan model perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi program pendidikan dan promosi kesehatan Model Precede-P
roceed
• Pada model PRECEDE-PROCEED, terdapat format untuk
mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan
masalah, perilaku, serta implementasi program kesehatan

Mason J. Concepts in Dental Public Health. 2nd ed. Lippincott Williams & Wilkins; 2010.
Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
Tujuan Model Precede-Proceed

01 menyediakan sebuah struktur untuk menerapkan teori dan


konsep secara sistematis untuk merencanakan dan
mengevaluasi program perubahan perilaku kesehatan

02 menjelaskan perilaku kesehatan

mendesain serta mengevaluasi desain intervensi untuk


03 mempengaruhi perilaku dan kondisi hidup
yang mempengaruhi seseorang dan sekuele kesehatan
suatu kelompok / masyarakat

Mason J. Concepts in Dental Public Health. 2nd ed. Lippincott Williams & Wilkins; 2010.
Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
PRECEDE
Melihat beberapa faktor yang membentuk status
kesehatan dan membantu perencana memfokuskan
dalam membuat target untuk intervensi. (Membuat
rencana intervensi)

PROCEED
Menampilkan tahapan kebijakan, proses implementasi
serta evaluasi

Mason J. Concepts in Dental Public Health. 2nd ed. Lippincott Williams & Wilkins; 2010.
Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
Penilaian Sosial, Perencanaan
Partisipatif, dan Analisis Situasi

Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
• Penilaian sosial merupakan penerapan melalui partisipasi luas
dari berbagai sumber informasi, baik yang objektif maupun
subjektif, yang dirancang untuk memperluas pengertian
masyarakat mengenai aspirasi mereka demi kebaikan bersama

• Pada tahap ini, perencana memperluas pemahaman mereka


tentang masyarakat di tempat mereka bekerja dengan
melakukan beberapa kegiatan pengumpulan data, seperti
wawancara dengan pemimpin di masyarakat, fokus grup
dengan anggota masyarakat

• Mengembangkan sebuah komite perencanaan, mengadakan forum


komunitas, dan melakukan fokus grup atau survei merupakan contoh
kegiatan yang dapat membantu untuk melibatkan masyarakat dalam
perencanaan dan diperlukan

Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
Penilaian Epidemiologi, Perilaku,
dan Lingkungan

Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
A. Penilaian Epidemiologi
Penilaian epidemiologi mencakup:
• identifikasi masalah kesehatan, isu, atau aspirasi
yang menjadi fokus program;
• mengungkap faktor perilaku dan lingkungan yang
paling mungkin mempengaruhi prioritas masalah
kesehatan yang teridentifikasi;
• menerjemahkan prioritas tersebut menjadi tujuan
yang dapat diukur untuk program yang sedang
dikembangkan

Perencana dapat melakukan analisis data sekunder


menggunakan sumber data yang ada (misalnya
statistik vital, survei kesehatan negara bagian dan
nasional, serta catatan medis dan administratif)

Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
B. Penilaian Determinan Perilaku Kesehatan

DETERMINAN 1 DETERMINAN 2 DETERMINAN 3

perilaku orang lain yang tindakan pengambil keputusan


perilaku atau gaya hidup yang keputusannya
secara langsung dapat
yang berkontribusi untuk mempengaruhi lingkungan
mempengaruhi perilaku
terjadinya dan tingkat sosial atau fisik yang
individu yang berisiko mempengaruhi individu yang
keparahan masalah
(seperti orang tua berisiko (misalnya, tindakan oleh
kesehatan (misalnya,
perokok remaja yang polisi untuk menegakkan undang-
penggunaan rokok pada
tetap menyimpan rokok di undang yang membatasi akses
remaja) kaum muda terhadap rokok)
rumah)

Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
C. Penilaian Determinan Lingkungan

• Faktor lingkungan adalah faktor sosial dan faktor fisik eksternal


dari individu yang dapat dimodifikasi untuk mendukung perilaku
atau mempengaruhi hasil perilaku kesehatan

• Modifikasi faktor lingkungan biasanya membutuhkan strategi


khusus selain pendidikan

Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
Penilaian Pendidikan dan Ekologi

Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
• Setelah memilih faktor perilaku dan lingkungan yang relevan untuk
melakukan intervensi, kerangka kerja mengarahkan perencana untuk
mengidentifikasi faktor pendahulu dan faktor penguat untuk memulai
dan mempertahankan proses perubahan

Faktor-faktor ini diklasifikasikan sebagai predisposing, reinforcing,


dan enabling factor, dan secara kolektif mempengaruhi kemungkinan
perubahan perilaku dan lingkungan yang akan terjadi

Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
Mason J. Concepts in Dental Public Health. 2nd ed. Lippincott Williams & Wilkins; 2010.
Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.

Predisposing Enabling
(Faktor
REINFORCING
(Faktor
(Faktor Penguat)
Predisposisi) Pendukung)

Meliputi keterampilan pribadi dan


Merepresentasikan alasan di Memperkuat suatu perilaku
sumber daya yang dibutuhkan
balik perilaku kesehatan kesehatan agar dapat terus
untuk melakukan suatu perilaku
sesorang atau motivasi berjalan secara konsisten.
kesehatan.
dibaliknya. Faktor ini terdiri dari sikap dan
Hal-hal tersebut mendukung atau
Hal ini termasuk pengetahuan, perilaku tenaga kesehatan dan
memungkinkan suatu perilaku
kepercayaan, sikap, nilai-nilai, orang lain yang menjadi
kesehatan terjadi.
adat istiadat, budaya, panutan. Selain itu, pujian,
Contoh dari faktor pendukung
pendidikan, pekerjaan dan kepastian, peringanan gejala
adalah lingkungan fisik, ada atau
keterampilan yang dimiliki oleh penyakit, dan dukungan sosial
tidaknya sarana dan prasarana
seseorang juga merupakan contoh dari
kesehatan, serta ada atau tidaknya
faktor penguat
program kesehatan
Penilaian Administrasi dan Kebijakan
serta Deretan Intervensi

Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
• Pada fase 4, perencana memilih dan menyelaraskan komponen program (yaitu intervensi) d
engan faktor penentu prioritas perubahan yang telah diidentifikasi sebelumnya

Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi sumber daya, hambatan organisasi dan fasilitator,
dan kebijakan yang dibutuhkan untuk implementasi dan keberlanjutan program

 Pertama, pada tingkat makro, sistem organisasi dan lingkungan yang dapat
mempengaruhi hasil yang diinginkan harus dipertimbangkan

 Kedua, pada tingkat mikro, fokusnya adalah pada individu, rekan kerja, keluarga, dan
orang lain yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan individu atau masyarakat yang d
ituju secara langsung

Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
Implementasi dan Evaluasi

Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
• Pada tahap ini, program promosi kesehatan sudah siap untuk
diimplementasikan (Tahap 5).

• Rencana pengumpulan data diperlukan untuk mengevaluasi


proses, dampak, dan hasil dari program, yang merupakan tiga
tahap terakhir dalam model perencanaan PRECEDE-PROCEED
(Tahap 6-8).

• Biasanya, evaluasi proses menentukan sejauh mana program


dilaksanakan sesuai protokol. Selain itu, juga dilakukan evaluasi
terhadap perubahan faktor predisposing, reinforcing, dan
enabling, serta perilaku dan faktor lingkungan.

• Pada akkhirnya, evaluasi hasil menentukan dampak program


indikator kesehatan terhadap peningkatan kualitas hidup suatu
kelompok atau masyarakat

Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
CONTOH KASUS

Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior and Health Education Theory, Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass; 2008.
1. Mason J. Concepts in Dental Public Health.
2nd ed. Lippincott Williams & Wilkins;
2010.
Referensi 2. Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health
Behavior and Health Education Theory,
Research, and Practice. 4th ed. Jossey-Bass;
2008.
3. Green LW. Health Program Planning: An
Educational and Ecological Approach. 4th
ed. McGraw-Hill, 2004.
Oral Health Literacy

DESTRI SHOFURA G
1506669021
Health literacy
 derajat dimana setiap individu memiliki kemampuan untuk
memperoleh, memproses, dan mengerti informasi kesehatan dasar serta
pelayanan yang dibutuhkan untuk menentukan keputusan kesehatan
yang sesuai. (Health People, 2010)
 interaksi antara kemampuan individu & permintaan dari sistem
pelayanan kesehatan (IOM Report 2004)

Menurut WHO  health literacy menunjukan kemampuan kognitif dan


sosial yang menentukan motivasi dan kemampuan seseorang untuk
meningkatkan akses, mengerti, dan menggunakan informasi dalam
cara-cara yang mempromosikan dan mempertahankan kesehatan yang
baik.
Health literacy mencakup kemampuan
sebagai berikut:

Mengerti tentang instruksi pada botol obat yang diresepkan

Menggunakan obat-obatan secara aman

Bertanya mengenai pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan


dengan kesehatan personal/keluarga

Mengerti tentang rekomendasi medis dan dental yang dibicarakan

Menunjukkan respon komunikasi kepada tenaga kesehatan

Advokasi terhadap hak pasien dalam lingkungan kesehatan


Health literacy membangun konsep bahwa Semakin rendah health literacy
kedua aspek kesehatan & literacy seseorang maka seseorang akan
merupakan sumber yang penting untuk memiliki derajat kesehatan yang lebih
kehidupan sehari-hari. Tingkat literacy rendah pula
mempengaruhi kemampuan kita secara
langsung dalam bertindak ketika
mendapatkan informasi kesehatan dan Health literacy memungkinkan seorang dewasa untuk
mengontrol kesehatan masing-masing secara menggunakan sumber daya Health literacy membangun konsep
individu, keluarga, dan komunitas. bahwa kedua aspek kesehatan & literacy
merupakan sumber yang penting untuk kehidupan sehari-hari.
Tingkat literacy mempengaruhi kemampuan kita secara
langsung dalam bertindak ketika mendapatkan informasi
kesehatan dan mengontrol kesehatan masing-masing secara
individu, keluarga, dan komunitas.
dan mengambil keputusan serta tindakan untuk kesehatan
mereka sendiri
3 Level dalam Health Literacy:

Functional
• Kemampuan yang memungkinkan individu untuk membaca informed consent, medical
labels, dan informasi pelayanan kesehatan
• Memahami informasi yang diberikan secara lisan/tulisan oleh tenaga medis dan untuk
Literacy bertindak sesuai arahan
• Contoh: obat secara benar, self-care dirumah, mengikuti jadwal pertemuan

• keterampilan yang lebih luas, dan kompetensi yang dikembangkan oleh


Conceptual seseorang seiring siklus hidupnya untuk mencari, memahami,
mengevaluasi, dan menggunakan informasi kesehatan & konsep untuk
Literacy menentukan pilihan, mengurangi risiko kesehatan, dan meningkatkan
kualitas hidup berdasarkan: sains, budaya, pemerintah, komputer, media.

Health literacy • memperkuat kewarganegaraan aktif untuk kesehatan dengan menyatukan


as komitmen untuk kewarganegaran dengan promosi kesehatan & usaha
pencegahan

empowerment •
 serta melibatkan setiap individu dalam:
 Mengerti hak sebagai pasien & kemampuannya mengarahkannya melalui sistem
pelayanan kesehatan
 Bertindak sebagai consumer yang telah menerima informasi tentang risiko kesehatan
dari produk & service serta mengenai pilihan tenaga kesehatan
 Bertindak secara individu atau berkelompok untuk meningkatkan kesehatan melalui
sistem politik (voting, advokasi) atau keanggotaan gerakan sosial.
3 Level Menurut Nutbeam

1. Fungsional  kemampuan dasar dalam menulis & membaca untuk fungsi


yang efektif dalam konteks kesehatan

2. Interaktif  kemampuan kognitif yang lebih lanjut & kemampuan sosial yang
memungkinkan partisipasi aktif dalam layanan kesehatan

3. Kritis  kemampuan untuk menganalisis secara kritis & menggunakan informasi untuk
berpartisipasi dalam tindakan yang mengalahkan batasan struktural terhadap kesehatan
Faktor yang mempengaruhi

 Health literacy dipengaruhi oleh faktor individu dan sistemik:

1. Kemampuan berkomunikasi
 Health literacy bergantung pada kemampuan berkomunikasi antara
consumer dan provider (dalam hal ini: pasien dan tenaga medis)
 Kemampuan berkomunikasi termasuk literacy skills  membaca,
menulis, menghitung, berbicara, mendengar & memahami
 Bersifat spesifik terhadap situasi tertentu baik untuk pasien dan
tenaga medis
2. Pengetahuan tentang topic kesehatan

 Health literacy bergantung pada pengetahuan consumer dan provider (dalam hal ini: pasien
dan tenaga medis) mengenai topic kesehatan
 Tenaga medis yang tidak update dengan ilmu terkini mengenai kesehatan tidak bisa memberi
informasi & pengetahuan yang akurat serta layanan berbasis evidence based untuk pasiennya
 Pasien dengan pengetahuan yang terbatas/tidak akurat mengenai tubuhnya dan penyebab
penyakitnya bisa tidak:
o Mengerti tentang hubungan antara faktor lifestyle (diet & exercise atau oral hygiene &
kontrol diabetes)
o Menyadari ketika mereka butuh perawatan
o Memiliki informasi preventif yang mutakhir
3. Budaya dan sosial mempengaruhi individu dalam:

 Bagaimana seseorang berkomunikasi dan mengerti tentang informasi kesehatan


 Bagaimana seseorang berpikir & merasa tentang kesehatannya
 Jika & bagaimana seseorang menghargai kesehatannya
 Kapan dn dimana seseorang mencari pelayanan kesehatan
 Bagaimana seseorang merespon terhadap rekomendasi dari
perubahan gaya hidup & terapinya
 Budaya mempengaruhi tenaga kesehatan dalam konteks:
o Bagaimana tenaga kesehatan berkomunikasi & mengerti tentang informasi
kesehatan
o Bagaimana tenaga kesehatan berpikir & merasa tentang kelompok
ras/etnis/ekonomi daripada golongannya sendiri
o Bagaimana tenaga medis menghargai kesgilut
o Kapan & darimana seseorang mencari layanan kesehatan
o Jika & bagaimana tenaga medis merespon terhadap rekomendasi & panduan
berdasarkan evidence-based
4. Permintaan terhadap sistem layanan kesehatan
Seseorang perlu untuk:

 Mengetahui cara menemukan & mengatur fasilitas kesehatan


 Membaca, mengerti, dan menyelesaikan berbagai bentuk untuk menerima perawatan
& reimbursement dari perawatan
 Pandai mengutarakan tanda & gejala yang dialami
 Mengetahui tentang berbagai macam tenaga kesehatan & pelayanan apa yang mereka
berikan serta bagaimana untuk mengakses pelayanan2 tersebut
 Mengetahui bagaimana dan kapan untuk bertanya atau menanyakan klarifikasi ketika
mereka tidak mengerti
 5. Permintaan terhadap situasi/suasana

 Suasana kesehatan tidak biasa dibandingkan dengan konteks lain karena stress yang
mendasarinya atau faktor akibat rasa takut
 Suasana kesehatan dapat melibatkan kondisi-kondisi tertentu  cacat fisik/mental akibat
penyakit tertentu
 Situasi kesehatan kadang baru, tidak familiar, mengintimidasi dan melelahkan
 Beberapa fasilitas kesehatan memiliki staff tertentu yang kurang empati (not user friendly) dan
terkadang memiliki berbagai pembatas untuk pasien
Referensi

 1. Horowitz, A. and Kleinman, D. (2008). Oral Health Literacy: The New Imperative to Better Oral
Health. Dental Clinics of North America, 52(2), pp.333-344.
 2. WHO. http://www.who.int/healthpromotion/conferences/7gchp/Track1_Inner.pd
 3. Hongal S, Torwane NA, Goel P, Chandrashekar BR, Jain M, Saxena E, Assessing the oral health
literacy: A review, Int J Med Public Health 2013; 3: 219-24. Available at:
http://www.ijmedph.org/text.asp?2013/ 3/4/219/123406
ORAL HEALTH
LITERACY
DIMENSI ORAL HEALTH LITERACY

• Terdapat lima dimensi menurut Kickbush, Maag, dan Kris (2008)


yang menjadi kunci penting oral health literacy :
– Pengetahuan dan pemanfaatan sistem kesehatan lisan
– Pengetahuan kesehatan dasa oral
– Perilaku pasar dan konsumen
– Kompetensi kesehatan lisan di tempat kerja
– Partisipasi politik

Torwane N, Saxena E, Hongal S, Goel P, Chandrashekar B, Jain M. Assessing the oral health literacy: A review.
International Journal of Medicine and Public Health. 2013;3(4):219.L
FAKTOR & KONTEKS YANG MEMPENGARUHI
HEALTH KNOWLEDGE, DECISION DAN ACTIONS
Akses

Kemampuan

Pengetahuan

Disabilitas

Fitur dari penyedia layanan kesehatan & sistem kesmas

Karakterisitk penting lainnya


MODEL HEALTH LITERACY

US Institute of Medicine (2004)


Canadian
Public
Health
Association
Expert Panel
Model of
Health
Literacy
PENGUKURAN HEALTH LITERACY
• Health literacy diukur sebagai literacy fungsional –> kemampuan seseorang
untuk menerapkan keterampilan membaca pada tugas sehari-hari. Pengukuran
health literacy pada tingkat individu dikembangkan pada awal 1990:

• REALM (Rapid Estimate of Adult Literacy in Medicine)

• TOFHLA (Test Of Functional Health Literacy In Adults) dan S-TOFHLA


(reading comprehension)

• NVS (Newest Vital Sign)label nutrisi


• Literacy Assessment for Diabetes (LAD)

– Test of Functional Health Literacy in Dentistry (TOFHLiD)

– Health Activities Literacy Scale (HALS)

– Newest Vital Sign (NVS)

• Stieglitz Informal Reading Assessment of Cancer Text (SIRACT)

• Medical Achievement Reading Test (MART)

• Short Assessment of Health Literacy for Spanish speaking Adults (SAHLSA)


PENGUKURAN ORAL HEALTH LITERACY

• Rapid Estimate of Adult literacy in Mecine (REALM) adalah tes


pengenalan kata yang mengevalasi kemampuan individu membaca
dari daftar istilah medis dan mengahasilkan perkiraan range
kemampuan membaca individu
• Test of Functional Health Literacy in Adults (ToFHLA) digunakan untuk
menilai ketrampilan membaca dan berhitung

Dickson-Swift V, Kenny A, Farmer J, Gussy M, Larkins S. Measuring oral health literacy: a scoping review of
existing tools. BMC Oral Health. 2014;14(1).
Horowitz, A. M., and D.V. Kleinman. 2012. Creating a health literacy-based practice. Journal of the California
Dental Association 40(4):331-340
ADAPTASI UNTUK MENGUKUR ORAL
HEALTH LITERACY

Rapid estimate of Test of Functional


Adult Literacy in Health Literacy in
Dentistry Dentistry
(REALD) (ToFHLiD)
RAPID ESTIMATE OF ADULT LITERACY
IN DENTISTRY (REALD)
REALD diadaptasi dari REALM, terdiri dari REALD-99, REALD-30, REALM-D, dan yang terakhir
REALMD-20. REALD pada dasarnya adalah tes pengenalan kata yang terdiri dari istilah gigi dari
American Dental Association Glossary of Common Dental Terminology dan materi pendidikan
pasien. Instrumen tersebut n terbukti valid dan reliable dalam mengukur pengetahuan kata.
Meskipun bukan pengukuran yang efektif untuk oral health literacy, namun instrumen ini memberi
berguna sebagai alat skrining

Dickson-Swift V, Kenny A, Farmer J, Gussy M, Larkins S. Measuring oral health literacy: a scoping review of
existing tools. BMC Oral Health. 2014;14(1).
Horowitz, A. M., and D.V. Kleinman. 2012. Creating a health literacy-based practice. Journal of the California
Dental Association 40(4):331-340
TOFHLID (TEST OF FUNCTIONAL
HEALTH LITERACY IN DENTISTRY)
Merupakan adaptasi dari ToFHLA. Terdiri dari bagian pemahaman bacaan (68 item) dan bagian
angka-angka (12 item).Validasi awal ToFHLiD menunjukkan reliabilitas internal yang rendah namun
validitas konvergen yang kuat karena skor ToFHLiD sangat berkorelasi dengan nilai REALD-99.
Selain itu, ToFHLiD mampu membedakan antara dental dan health literacy. Karena keterbatasan
tersebut, maka instrumen ini sering digunakan dengan instrumen lain yang dirancang untuk
mengukur tingkat oral health literacy.

Dickson-Swift V, Kenny A, Farmer J, Gussy M, Larkins S. Measuring oral health literacy: a scoping review of
existing tools. BMC Oral Health. 2014;14(1).
Horowitz, A. M., and D.V. Kleinman. 2012. Creating a health literacy-based practice. Journal of the California
Dental Association 40(4):331-340
Dickson-Swift V, Kenny A, Farmer J, Gussy M, Larkins S. Measuring oral health literacy: a scoping review of
existing tools. BMC Oral Health. 2014;14(1).
Horowitz, A. M., and D.V. Kleinman. 2012. Creating a health literacy-based practice. Journal of the California
Dental Association 40(4):331-340
SEMENTARA ITU, UNTUK MENGETAHUI KINERJA TIM TENAGA KESEHATAN
DAL AM MENANGANI PASIEN, DAPAT DIGUNAK AN KUISIONER YANG
DIKEMUK AK AN OLEH MAKOUL DAN KOLEGA SEBAGAI BERIKUT

Membangun pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan dalam


mengambil keputusan terkait kesehatan

Dengarkan dan perhatikan perkataan pasien secara baik

Jabarkan informasi secara perlahan dan secara berurutan


dengan runtutan logika yang dapat dimengerti

Guanakan alat peraga jika dibutuhkan

Gunakan metode “teach back” dan hindari pertanyaan ya atau


tidak
Membuat action plan
berisikan tujuan, aksi Menentukan kapasitashealth
spesifik yang dapat literacy pasien dan
dilakukan, timetable, dan membuat penyesuaian
evaluasi dari proses

SELANJUTNYA …
Meninjau kembali apakah
Membuat update berkala
lingkungan klinik sudah
dan juga EBD dari prosedur
mendorong terciptanya
preventif untuk tim tenaga
komunikasi yang aktif antara
kesehatan
LANGKAH

pasien dan tim keseatan

Memeriksa kembali semua


bahan cetak untuk
Membuat pelatihan
keperluan pasien untuk
keterampilan komunikasi
mengetahui apakah sudah
untuk tim tenaga kesehatan
ditulis dengan bahasa yang
jelas atau belum
REFERENSI
• Torwane N, Saxena E, Hongal S, Goel P, Chandrashekar B, Jain M. Assessing the
oral health literacy: A review. International Journal of Medicine and Public
Health. 2013;3(4):219.
• Dickson-Swift V, Kenny A, Farmer J, Gussy M, Larkins S. Measuring oral health
literacy: a scoping review of existing tools. BMC Oral Health. 2014;14(1).
• Podschun G.D. National plan to improve health literacy in dentistry. J. Calif.
Dent. Assoc. 2012;40(4):317–320
• Horowitz, A. M., and D.V. Kleinman. 2012. Creating a health literacy-based
practice. Journal of the California Dental Association 40(4):331-340
• Health Literacy in Dentistry [Internet]. Ada.org. 2017 [cited 26 September
2017]. Available from: http://www.ada.org/en/public-programs/health-literacy-in-
dentistry
• https://www.aacdp.com/docs/2013Horowitz.pdf
Health Literacy in Dentistry [Internet]. Ada.org. 2017 [cited 26 September 2017]. Available from:
http://www.ada.org/en/public-programs/health-literacy-in-dentistry
https://www.aacdp.com/docs/2013Horowitz.pdf
MENURUT GAMBAR 1
• Seseorang dengan kemampuan umum  memahami informasi
kesehatan, dan kemampuan mengakses informasi kesehatan
• Pengetahuan dasar mengenai kesehatan meningkatkan minat
individu untuk menerima informasi kesehatan
• Pengetahuan dan kesehatan akan membantu individu untuk
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan bersama dalam
perawatan kesehatan
• Dengan demikian masyarakat dengan kesadaran kesehatan yang
tinggi akan memiliki perilaku yang sehat
Health Literacy in Dentistry [Internet]. Ada.org. 2017 [cited 26 September 2017]. Available from:
http://www.ada.org/en/public-programs/health-literacy-in-dentistry
https://www.aacdp.com/docs/2013Horowitz.pdf
aldri
Kevin Setijono – 1506739330
PBL 1

TEKNIK EVALUASI PERUBAHAN PERILAKU


TIPE EVALUASI

Outcome Process Patient


evaluation evaluation evaluation

Peer Self
evaluation evaluation
METODE EVALUASI

Ada beberapa variasi metode evaluasi yang dapat digunakan dan tidak ada
kriteria pemilihan evaluasi yang jelas, namun perlu diingat untuk
mengkorelasikan metode evaluasi yang dipilih dengan tujuan dan objektif,
serta dapat ditunjukkannya pencapaian studi.
QnA Session with patient

Patient demonstration of new skill

• visual evaluation

Records of behaviour change

• (e.g. plaque scores, indices, documented decrease in caries


rate). This will be evaluated on return visits, after the patient
has (hopefully) carried out your instructions over time. Help
from the dentist or hygienist may be required here

Questionaire

• get the patient to fill out a questionnaire after the session


SO WHAT IS A QUESTIONNAIRE?

Kuisioner adalah mekanisme yang tergolong murah dan cepat dalam


pengumpulan informasi atau data. Untuk menyusun sebuah kuisioner yang baik,
seorang OHE membutuhkan :
 Gambaran yang jelas mengenai tujuan

 Pengetahuan yang baik tentang subjek

 Informasi latar belakang mengenai pasien

 Untuk menentukan secara jelas informasi yang perlu dijawab (menggunakan


open and closed questions)
OPEN AND CLOSED QUESTIONS
 Open question – memberikan data kualitatif
Contoh : sekarang sikat gigi apa yang anda akan gunakan setelah mendengar
dari saya?

 Closed question – memberikan data kuantitatif


Contoh : apakah sekarang anda akan menggunakan sikat gigi dengan kepala
yang lebih kecil?

Open question memberikan jawaban lebih bervariatif dan lebih mendeskripsikan


pasien, namun lebih sulit dan lebih memakan waktu untuk dianalisis
DESAIN KUISIONER
 Decide how many questions are required (10 or less if possible – people
can get bored if there are too many questions, or may rush and give
inaccurate responses if they are pressed for time).
 Refer back to aims and objectives to clarify the direction.
 Write questions in easy-to-understand language.
 Give clear instructions on how to answer (e.g. ‘Please tick or circle either
Yes or No’).
 If using open questions, leave sufficient space for writing answers.
 Plan how and when questionnaires will be handed out.
 Think about how they will be collected. Easy if you are there when they
are completed, but notoriously difficult if people take them home – you
will be lucky to see them again!
 Consider costs (e.g. postage).
REFERENSI

 Wilson-Barnett, J. (2002) The theory of health promotion:


implications for nursing. Nursing Times 98, 43.
 Reece, I. & Walker, S. (1992) A Practical Guide to Teaching,
Training, Learning. Business Education Publishers Ltd,
Sunderland.
 Blinkhorn, A.S. (2001) Notes on Oral Health, 5th edn. Eden
Bianchi Press, Manchester.
Partisipasi dan
Pemberdayaan
Masyarakat dalam
Promosi
Kesehatan
Pemberdayaan adalah pemberian informasi
dan pendampingan dalam mencegah dan m
enanggulangi masalah kesehatan, guna mem
bantu individu, keluarga atau kelompok-kelom
pok masyarakat menjalani tahap-tahap tahu,
mau dan mampu mempraktikkan
Definisi

Pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk


menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat
dalam mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi, dan
meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmojo, 2007)

Masyarakat atau komunitas merupakan salah satu dari strategi global


promosi kesehatan pemberdayaan (empowerment) sehingga
pemberdayaan masyarakat sangat penting untuk dilakukan agar
masyarakat sebagai primary target memiliki kemauan dan kemamp
uan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka
Masyarakat Mandiri dalam Kesehatan
Mereka mampu mengenali masalah kesehatan dan
faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan
terutama di tempat tinggal mereka sendiri

Mereka mampu mengatasi masalah kesehatan


secara mandiri dengan menggali potensi-potensi
masyarakat setempat

Mampu memelihara dan melindungi diri mereka dari


berbagai ancaman kesehatan dengan melakukan
tindakan pencegahan

Mampu meningkatkan kesehatan secara dinamis dan


terus-menerus melalui berbagai macam kegiatan
Prinsip Pemberdayaan
Menumbuhkembangkan potensi masyarakat

Mengembangkan gotong-royong masyarakat

Menggali kontribusi masyarakat

Menjalin kemitraan

Desentralisasi
Ciri Pemberdayaan Masyarakat
Community Leader

• Petugas kesehatan melakukan pendekatan kepada


tokoh masyarakat atau pemimpin terlebih dahulu

Community Organization

• Organisasi seperti PKK, Karang Taruna, dan lainnya


merupakan potensi yang dapat dijadikan mitra kerja
dalam upaya pemberdayaan masyarakat

Community Fund

• Dana sehat atau Jaminan Pemeliharaan Kesehatan


Masyarakat (JPKM)
Ciri Pemberdayaan Masyarakat
Community Material

• Setiap daerah memiliki potensi tersendiri yang dapat


digunakan untuk memfasilitasi pelayanan kesehatan

Community Knowledge

• Pemberdayaan bertujuan meningkatkan pengetahuan


masyarakat dengan berbagai penyuluhan kesehatan

Community Techonology

• Teknologi sederhana di komunitas dapat digunakan


untuk pengembangan program kesehatan
Indikator hasil pemberdayaan masyarakat
Indikator Masukan (input):

• Ada/tidak ada forum kesehatan gigi masyarakat


• Ada/tidak ada pengobatan gigi yang terintegrasi dalam polindes/poskesdes
• Rasio kader kesehatan dibandingkan jumlah penduduk
• Rasio tenaga kesehatan dibandingkan jumlah penduduk

Indikator Proses (process):

• Frekuensi pertemuan forum kesehatan gigi masyarakat


• Frekuensi pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang terintegrasi di polindes/poskesdes
• Frekuensi kegiatan penyuluhan/promosi kesehatan gigi dan mulut (PHBS gigi dan mulut)

Indikator Keluaran (output):

• Ada/tidak dana sehat yang berkelanjutan


• Presentase pelayanan terintegrasi
• Frekuensi kunjungan tenaga kesehatan ke posyandu
• Jumlah masyarakat wilayah posyandu berkunjung ke puskesmas

Indikator Outcome

• Penurunan angka kesakitan


• Penurunan angka kematian
• Meningkatkan status gizi masyarakat
Thank you
• Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prin
sip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Ma
syarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Ri
neka Cipta. 2003.
• Notoatmodjo, Soekidjo. Promosi Kes
ehatan dan Perilaku Kesehatan. Jak
arta: Rineka Cipta. 2012.
ADVOKASI

SHAFA AHMAD BAWAZIER


1506668630
Kombinasi kegiatan individu dan sosial yang
dirancang untuk memperoleh komitmen politis,
dukungan kebijakan, penerimaan sosial dan sistem
yang mendukung tujuan atau program kesehatan
PENGERTIAN tertentu.

ADVOKASI Upaya atau proses yang strategis dan terencana


untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari
pihak-pihak yang terkait (stakeholders).
A Adanya Pemahaman /
TD Kesadaran
Adanya Komitmen dan
UV Adanya Kemauan /
Permintaan
Dukungan Upaya
Kesehatan:
JO Adanya
• Kebijakan
• Dana
UK Kemauan/Kepedulian • Sarana
• Kemudahan
AA Adanya Tindakan / • Keikutsertaan
• Dll
Kegiatan Nyata
NS Adanya Tindak Lanjut
I Kegiatan

Menurut Kemenkes RI 2007


TUJUAN UMUM
Diperolehnya komitmen dan dukungan dalam upaya kesehatan, baik berupa kebijakan,
tenaga, dana, sarana, kemudahan, keikutsertaan dalam kegiatan, maupun berbagai
bentuk lainnya sesuai keadaan dan usaha.

TUJUAN KHUSUS
Adanya pemahaman atau pengenalan atau kesadaran, adanya ketertarikan atau
peminatan atau tanpa penolakan, adanya kemauan atau kepedulian atau kesanggupan
untuk membantu dan menerima perubahan, adanya tindakan/perbuatan/kegiatan yang
nyata (yang diperlukan), dan adanya kelanjutan kegiatan (kesinambungan kegiatan).
SOCIAL ECOLOGICAL FRAME WORK
THE INDIVIDUAL LEVEL : INFORMING PATIENTS
1. Memilih rencana kesehatan atau penyedia layanan kesehatan
2. Mempelajari penyakit dan opsi perawatan
3. Mencegah medical error dan meningkatkan partisipasi dalam
membuat keputusan terkait perawatan
4. Memahami pengalaman pasien karena mereka menghadapi
penyakit tertentu
THE INTERPERSONAL LEVEL: SUPPORTING AND
EMPOWERING
• Fokus pada interaksi interpersonal yang mendukung kesehatan seperti
pemberian saran, dukungan emosional, dan ketersedian sumber daya
serta bantuan lain.
• Dalam kasus advokasi pasien, hubungan interpersonal yang paling
relevan berasal dari anggota keluarga dan teman, penyedia pelayanan
kesehatan, dan pasien lain yang memiliki keadaan yang sama.
• Usaha advokasi pada level ini dilakukan untuk menghubungkan pasien
dengan orang lain yang dapat sangat membantu mereka serta
meningkatkan kualitas komunikasi dan dukungan yang diberikan.
THE ORGANIZATIONAL AND COMMUNITY LEVELS:
TRANSFORMING CULTURE
• Memiliki sasaran intervensi pada level makro. Pada advokasi pasien,
organisasi yang menetapkan patient centeredness dan keamanan
pelayanan kesehatan adalah rumah sakit, asosiasi profesional, sekolah
medis atau ilmu kesehatan lain, dan organisasi komunitas terkait
advokasi.
• Organisasi-organisasi ini memiliki peran dalam memerintah bagaimana
dan dimana pelayanan kesehatan dilakukan termasuk siapa saja yang
berpartisipasi dalam proses pemberian dan penerimaan pelayanan.
• Secara umum, organisasi-organisasi ini bertanggungjawab dalam
membangun budaya yang dapat mendukung ataupun tidak dalam patient
centeredness, patient safety, dan patient involvement.
THE POLICY LEVEL: TRANSLATING CONSUMER VOICE
INTO POLICY AND LAW
• Dalam advokasi pasien, kebijakan penting adalah yang (1) mengkontrol akses pelayanan (2)
meregulasi organisasi pelayanan kesehatan dan (3) melindungi konsumen pelayanan
kesehatan.
TAMBAHAN:
ADVOKASI MENURUT KEMENKES
JENIS ADVOKASI KESEHATAN
• Advokasi Reaktif: apabila sasaran advokasi sudah merasakan
adanya masalah penting yang harus diatasi.

• Advokasi pro-aktif: apabila masalah telah terjadi, namun


sasaran advokasi belum memahami bahwa hal itu merupakan
suatu masalahnya dan belum ada kepedulian. Petugas advokasi
harus melakukan kegiatan advokasi secara pro-aktif.
SASARAN
• Pelaku Advokasi: individu atau kelompok/ tim kerja yang mempunyai kemampuan untuk
melakukan advokasi serta mempunyai hubungan atau pengaruh yang terdekat dan terkuat
dengan sasaran advokasi yaitu penentu/ pengambil kebijakan.
Yang termasuk dalam sasaran ini adalah: pakar, pejabat yang berwenang, lintas sektor,
perguruan tinggi, media massa, swasta, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan,
LSM, kelompok/ asosiasi peduli kesehatan, tokoh masyarakat / tokoh publik, dll

• Pejabat publik atau penentu/pembuat kebijakan publik: Merupakan sasaran


advokasi yang mempunyai kewenangan untuk memberikan dukungan kebijakan dan
sumberdaya dalam pengembangan program kesehatan masyarakat. Termasuk dalam
sasaran ini adalah penyusun draf kebijakan maupun sumber daya di bidang kesehatan.
Contohnya: pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan. desa/kelurahan,
DPR/DPRD, BPD, badan/organisasi yang potensial mendukung program kesehatan.
LANGKAH – LANGKAH POKOK DALAM ADVOKASI
1. Identifikasi dan analisis masalah atau isu yang memerlukan advokasi
2. Identifikasi dan analisis kelompok sasaran
3. Siapkan dan kemas bahan informasi
4. Rencanakan teknik atau cara atau kegiatan operasional
5. Laksanakan kegiatan, pantau, dan evaluasi serta lakukan tindakan lanjut
METODE DAN TEKNIK ADVOKASI KESEHATAN
1. Lobi
• Lobi adalah berbincang-bincang secara informal dengan para pengambil
keputusan dan pembuat kebijakan untuk menginformasikan isu-isu
strategis yang menjadi permasalahan di masyarakat.
• Menyampaikan seriusnya masalah kesehatan yang dihadapi di suatu
wilayah dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat
• Menyampaikan alternatif untuk mengendalikan masalaha tersebut
• Perlu disiapkan data dan argumen yang kuat untuk meyakinkan si pejabat
public tentang seriusnya permasalahan kesehatan dan betapa pentingnya
peranan si pejabat tersebut dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada.
Prinsip lobi : “Low profile, high pressure”
2. Petisi
• Petisi adalah cara formal dan tertulis untuk menyampaikan gagasan
advokator dan memberikan tekanan kolektif terhadap para pembuat
keputusan.
• Biasanya dalam petisi sudah jelas tertulis, yaitu pernyataan singkat dan
jelas tentang isu tertentu dan tindakan apa yang akan dilakukan. Di dalam
petisi tersebut tercantum nama dan tanda tangan individu atau organisasi
serta identitas lainnya sejumlah pihak yang mendukung petisi tersebut.
• Semakin banyak pendukung, semakin meningkat perhatian penerima petisi
3. Debat
• Debat pada dasarnya juga merupakan salah satu metode advokasi
kesehatan dalam kelompok. Ciri spesifiknya membahas isu kesehatan dari
pihak yang pro maupun kontra.
• Debat memberikan kesempatan bagi advocator untuk menelaah isu dari
berbagai perspektif dan pandangan.
• Dengan metode ini, keterlibatan sasaran (khalayak) akan lebih aktif dan
permasalahan kesehatan dapat dibahas dari berbagai sudut pandang
secara tajam serta bisa lebih mendalam
4. Dialog
• Hampir sama dengan debat, dialog lebih tepat digunakan sebagai metode
advokasi melalui pendekatan kelompok.
• Namun, pelaksanaan dialog sebaiknya didukung oleh media massa, khususnya TV
dan Radio, sehingga dialog ini bisa menjangkau kelompok yang sangat luas.
• Metode ini memberi peluang yang cukup baik untuk mengungkapkan
isu/aspirasi/pandangan khalayak sasaran terhadap program kesehatan.

5. Negosiasi
• Negosiasi merupakan metode advokasi yang bertujuan untuk menghasilkan
kesepakatan. Dalam hal ini pihak yang bernegosiasi menyadari bahwa masing-
masing pihak mempunyai kepentingan yang sama tentang upaya mengatasi
permasalahan kesehatan, sekaligus menyatukan upaya mencapai kepentingan
tersebut.
• Cara melakukan negosiasi adalah dengan jalan kompromi, akomodasi, dan
kolaborasi.
6. Paparan (Presentasi)
• Paparan atau presentasi merupakan metode advokasi yang sering
dipergunakan.
• Materi paparan adalah isu strategis tentang masalah kesehatan yang
disampaikan dalam bahasa yang baik, cukup menyentuh, efektif, tidak
berbelit-belit, dapat dimengerti dan dipahami dengan cepat dan jelas.
7. Seminar
• Seminar merupakan salah satu metode advokasi yang membahas isu
strategis secara ilmiah yang dilakukan bersama beberapa pejabat publik
sebagai sasaran advokasi.
• Seminar biasanya diikuti 20 sampai 30 orang peserta yang dipimpin oleh
seorang pakar dalam bidang yang dibahas/diseminarkan.
• Tujuan seminar untuk mendapatkan keputusan atau rekomendasi terhadap
upaya pemecahan masalah tertentu yang merupakan hasil kesepakatan
dalam pembahasan bersama semua peserta.
8. Studi Banding
• Mengajak sasaran advokasi mengunjungi suatu daerah yang baik maupun yang
kurang baik kondisinya. Melalui kegiatan ini, mereka dapat mempelajari secara
langsung permasalahan yang ada.
• Teknik ini diarahkan untuk dapat memberikan gambaran maupun informasi yang
kongkrit kepada sasaran advokasi, sehingga sasaran advokasi dapat melakukan
analisa dan menetapkan langkah – langkah untuk mengatasi permasalahan yang
ada serta mempunyai gambaran terhadap dukungan yang harus diberikan.

9. Pengembangan Kelompok Studi


• Menghimpun kekuatan baik secara peorangan maupun organisasi dalam suatu
jaringan kerjasama untuk menyuarakan/memperjuangkan isu yang
diadvokasikan. Kelompok ini bisa bernama “Koalisi” seperti Koalisi Indonesia
Sehat, Aliansi Pita Putih atau Forum Peduli Kesehatan lainnya yang memiliki
jaringan yang kuat dalam ide/gagasan meskipun secara organisasi tidak terlalu
ketat keterikatannya.
11. Penggunaan Media Massa
Peranan media massa sangat besar dan menentukan dalam keberhasilan
advokasi kesehatan, baik dalam membentuk opini, menyamakan persepsi
maupun dalam memberikan tekanan.
• Patient Advocacy for Healthcare Quality: Strategies for
Achieving Patient-Centered Care. Jo Anne L. Earp,
Elizabeth A. French, Melissa B. Gilkey.2008.
• Heri, D. J. Promosi Kesehatan. Penerbit Buku
REFERENSI Kedokteran EGC. 2007. Pg: 74-80
• Kementerian Kesehatan RI. Promosi Kesehatan Di
Daerah Bermasalah Kesehatan. Tahun 2011
• Kementerian Kesehatan RI. Kurikulum Dan Modul
Pelatihan Teknis Tentang Pengelolaan Advokasi
Kesehatan. Tahun 2013

Anda mungkin juga menyukai