Anda di halaman 1dari 16

KAFA’AH DAN KHITBAH

(MEMINANG)
HUKUM KELUARGA ISLAM
Kafa’ah‘ secara etimologi adalah sama, sesuai dan
sebanding. Sehingga yang dimaksud kafa’ah‘
dalam perkawinan adalah kesamaan antara calon
suami dan calon isteri dalam kedudukan, sosial,
akhlak dan kekayaan
ULAMA HANAFIAH
kafa’ah‘ adalah persamaan dalam hal :
1. nasab
2. Islam
3. pekerjaan
4. merdeka
5. nilai ketakwaan dan
6. harta
ulama Malikiyah
kafa’ah‘ adalah persamaan dalam hal :
1. agama dan
2. tdk cacat
ulama Syafi’iyah
kafa’ah‘ adalah persamaan dalam hal :
1. agama,
2. nasab,
3. merdeka,
4. pekerjaan dan
5. Tdk cacat
ulama Hanabilah
kafa’ah‘ adalah persamaan dalam hal:
1. Ketakwaan,
2. Pekerjaan,
3. Harta,
4. Merdeka, dan
5. Nasab.
Ibnu Hazm berpendapat bahwa kafa’ah‘ tidak
penting dalam sebuah perkawinan, menurutnya
antara orang Islam yang satu dengan orang Islam
yang lainnya adalah sama (sekufu’). asalkan dia
tidak pernah berzina
Dalil ttg sekufu
َ ُ‫ِإنَّ َما ۡٱل ُم ۡؤ ِمن‬
.....‫ون ِإ ۡخ َوة‬

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.


(al-hujurat:10)
Kafaah menurut fuqaha
1. Islam
2. Nasab
3. Merdeka
4. Harta
5. Pekerjaan
6. Tdk cacat (seimbang dari segi fisik)
KHITBAH (meminang)
Dr. Wahbah Az-Zuhaily menjelaskan
Khithbah adalah menampakan keinginan menikah
terhadap seorang perempuan tertentu dengan
memberitahu perempuan yang dimaksud atau
keluarganya (walinya).
Sayid Sabiq juga menyatakan bahwa yang
dikatakan seseorang sedang mengkhitbah berarti
ia memintanya untuk berkeluarga yaitu untuk
dinikahi dengan cara-cara (wasilah) yang ma’ruf.
dalil
‫ خطبت امرأة على عهد رسول هللا صلى هللا‬: ‫عن المغيرة بن شعبة قال‬
‫عليه و سلم فقال النبي صلى هللا عليه و سلم أنظرت إليها قلت ال قال‬
‫فانظر إليها فإنه أجدر أن يؤدم بينكما‬
Dari mughiroh bin syubah ia berkata aku
mengkhitbah seorang perempuan dan aku
mengabarkan kepada Rasulullah saw, kemudian
beliau bertanya apakah kamu sudah melihatnya?
Blm ya Rasul. Pergi dan lihatlah wanita tersebut,
karena dengan melihatnya dapat mengekalkan
kasih sayang diantara kalian berdua.(HR.Sunan
An-Nasai)
Hukum melihat calon suami dan istri
A. Jumhur Ulama : Sunnah (mandub) berdasarkan
hadis dari Mughirah bin syu’bah
B. Hanabilah : Boleh
Batasan-batasan dalam khitbah
Jumhur ulama yaitu mazhab Al-Hanafiyah, Al-
Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah sepakat bahwa
wajah dan kedua tangan hingga pergelangan
tangan termasuk bagian tubuh wanita yang boleh
dilihat oleh calon suaminya. Sebab kedua bagian
tubuh itu memang bukan termasuk aurat.
Mazhab Dhohiriyah boleh melihat seluruh tubuh
wanita yang akan nikahi.
،‫ض‬ ٍ ‫علَى بَ ْي ِع بَ ْع‬ َ ‫ض ُك ْم‬ُ ‫ أ َ ْن يَ ِبي َع بَ ْع‬- ‫ صلى هللا عليه وسلم‬- ‫نَ َهى النَّ ِب ُّى‬
‫ أ َ ْو‬، ُ‫ب قَ ْبلَه‬ ِ ‫ َحت َّى يَتْ ُر َك ا ْل َخ‬، ‫علَى ِخ ْطبَ ِة أ َ ِخي ِه‬
ُ ‫اط‬ َ ‫الر ُج ُل‬
َّ ‫ب‬ َ ‫ط‬ ُ ‫َوالَ يَ ْخ‬
‫ب‬
ُ ‫اط‬ ِ ‫يَأْذَ َن لَهُ ا ْل َخ‬
Nabi Saw melarang sebagian dari kalian membeli
sesuatu yang sedang dibeli oleh orang lain. Dan
janganlah seseorang melamar wanita yang
masih dilamar oleh saudaranya sampai orang
tersebut meninggalkannya atau
mengiizinkannya.