Anda di halaman 1dari 61

PEMANTAPAN MUTU

INTERNAL DAN EKSTERNAL


DI LABORATORIUM

SUSI SULISTYOWATI
PATOLOGI ANATOMI
MENGAPA MUTU PENTING ?

 Pengguna Jasa berhak menerima yang terbaik ( Pelanggan )


 Produk tidak bermutu berpotensi membahayakan ( User )
 Dukungan legalitas ( Company )
 Persaingan lokal dan global (Company,Marketing )
MANFAAT QC TEKNIS

 Mendeteksi adanya perubahan pada sistem operasional rutin


yang stabil
 Memberikan alarm sedini mungkin bila terjadi kesalahan yang
signifikan
 Menjamin hasil lab yang dilaporkan mendekati “true value”
untuk membantu klinisi membuat keputusan suatu diagnosa
MANFAAT QC NON TEKNIS

 Mutu hasil pemeriksaan meningkat


 Kepercayaan dokter terhadap laboratorium meningkat
 Pimpinan laboratorium lebih mudah melakukan pengawasan
 Meningkatkan kepercayaan dan moral petugas laboratorium
IQC & EQA

•IQC = Internal quality control


–Daily activity
–In each step
–To detect /prevent error / bias
–Done by techician

•EQA = external quality assessment


–Periodic
–To compare the test result w/ other /standard
–Done by external body
DEFINISI IQC VS EQA

MenurutISO 9000:2000 (QMS-Vocabulary Fundamentals and


Vocabulary).
 QC (section 3.2.10) ; part of quality management focused on
fulfilling quality requirements fokus pada pemenuhan
persyaratan mutu (produk/service)
 • QA (section 3.2.11) ; part of quality management focused
on providing confidence that quality requirements will be
fulfilled fokus pada pemberian jaminan/keyakinan bahwa
persyaratan mutu akan dapatdipenuhi.
IQC, EQA, ACCREDITATION

IQC EQA ACCRED


BY BPMPPI

BY ACCRED
BY LAB

BODY
Badan Penjamin Mutu Pelayanan
Patologi Indonesia ( BPMPPI)
berdiri sejak th 2009
KE IKUT -SERTAAN SENTRA DIAGNOSTIK

 Persentasi keikut - sertaan


 18 dari243 ( <10% ).

 Syarat keikut - sertaan:


 Berijin resmi
 Lab RS – ikut ijin RS
 Lab mandiri ber-ijin resmi
 Menyelesaikan administrasi

 Sebagai Kewajiban, merujuk dasar hukum permenkes.

 Dapat sebagai rekomendasi/syarat perpanjangan ijin sentra


diagnostik/ lab.
PEMANTAPAN MUTU INTERNAL

 Adalah kegiatan pencegahan dan pengawasan yang


dilaksanakan oleh masing-masing laboratorium secara terus
menerus agar tidak terjadi atau mengurangi kejadian
error/penyimpangan sehingga diperoleh hasil pemeriksaan yang
tepat.

 Cakupan objek pemantapan mutu internal di Laboratorium


Patologi Anatomi meliputi aktivitas:
a. Tahap pra-analitik
b. Tahap analitik
c. Tahap pasca-analitik
d. Turn Around Time (TAT)

 Tujuan
 Menjaga kualitas sediaan sehingga layak untuk dibaca dan diagnosis
dapat ditegakkan.
A. PRE- ANALY TIC

1. Fiksasi Spesimen
2. Pengiriman Spesimen
3. Identifikasi Spesimen
4. Data Klinik yang adekuat
5. Pencatatan
B. ANALITIK

 Intra-operative frozen section


 Final diagnosa
 Kualitas potongan histologi
 Spesimen hilang selama prosessing
 Blok dan Slide labeling
 IHK, TAT dan frekuensi pengulangannya
C. POST- ANALITIK

Kesalahan penulisan
Kesalahan verifikasi
Kesalahan pengiriman hasil
Laporan tidak lengkap
D. TURN AROUND TIME (TAT)

Frozen section
Biopsi
Spesimen besar
PEMANTAUAN MUTU INTERNAL
HISTOPATOLOGI
 Dilakukan pembuatan slide unstained (jaringan yang
digunakan yaitu appendik) yang akan digunakan sebagai
control mutu internal.
 Slaid diwarnai dengan Hematoksilin Eosin (HE).
 Sediaan diberi label QC (Quality Control) dan tanggal
 Sediaan diperiksa di bawah mikroskop, dinilai berdasarkan
kualitas warna, kontras warna, kontras lipatan dan ketebalan
potongan jaringan.
 Sediaan yang sudah sesuai dengan mutu dapat dijadikan
standart penilaian untuk sediaan rutin yang akan diwarnai
pada hari yang sama.
 Jika hasil pulasan slaid belum mencapai mutu yang
diharapkan, akan dilakukan perubahan – perubahan sampai
diperoleh hasil yang diharapkan.
HASIL STANDART MUTU YANG DIHARAPKAN
UNTUK SEDIAAN HISTOPATOLOGI

 Slaid dan kaca penutup bersih, bening, tanpa bercak – bercak


buram.
 Media “mounting” tidak berlebihan.
 Seluruh jaringan tertutup kaca penutup.
 Tidak dijumpai gelembung udara atau lipatan.
 Jaringan tidak pecah – pecah/ retak – retak.
 Orientasi jaringan benar (untuk organ berongga)
 Potongan tipis, menampilkan sel yang saling menutupi atau
bertumpuk.
 Potongan dengan ketebalan merata.
 Tidak ada kontaminasi jaringan lain.
 Pulasan inti dan sitoplasma jelas kontrasnya.
 Tidak dijumpai butir – butir udara/cairan di atas jaringan
(dehidrasi pasca pulasan sempurna).
BEBERAPA PEDOMAN UMUM YANG DAPAT
DIPAKAI UNTUK MENILAI KUALITAS H&E
1. Nukleus: zat warna dapat mewarnai nukleus menjadi biru
dan dapat menunjukkan membran nukleus, nukleoli,
kromatin, dan nukleus yang vakuolar dan hiperkromatis.
2. Sitoplasma dan subtansi dasar lainnya: dapat mewarnai dan
membedakan sitoplasma,kolagen, otot, eritrosit, sel darah
merah dan mucin dengan nuansa warna kemerahan.
3. Pada potongan usus, usus buntu dan paru-paru: dapat
mewarnai mucin pada sel epitel, apakah berwarna biru atau
terang tergantung pada pH dari Hematoxylin. Menurunkan
pH biasanya dapat dilakukan dengan menambahkan asam
asetat, hal ini secara signifikan dapat mengurangi warna
mucin.
4. Pewarnaan Hematoxylin yang terlalu teroksidasi akan
menimbulkan warna coklat pada elemen-elemen tertentu
pada jaringan.
Teknisi Laboratorium Patologi Anatomi harus bisa membedakan
antara serat otot dan kolagen, otot akan berwarna merah lebih tua dari
kolagen. Sel darah merah harus berwarna merah terang.

Penilaian nukleus akan tergantung pada jenis sel pada jaringan yang
diwarnai.

Adapun beberapa pedoman kontrol kualitas harian pewarnaan H&E


dapat dilakukan pada organ usus besar (kolon), kulit dan ginjal.
1. Kolon: dapat membedakan serat otot dan kolagen. Pewarnaan mucin yang tidak
tepat, jika mucin terwarnai biru maka langkah yang dapat dilakukan adalah
menurunkan pH Hematoxylin. Pewarnaan yang jelas terhadap nukleus sel epitel
vesikuler.

Gambar 9.5.sediaan kolon yang diwarnai H&E memperlihatkan mucin yang berwarna biru. Untuk
menghilangkan warna biru pada mucin dapat dilakukan dengan cara menurunkan pH pada
Hematoxylin.

(sumber: Henwood A. 2010. Microscopic Quality Control of Hematoxylin and Eosin – Know your
Histology.
DAKO)
2. Kulit: dapat menunjukan butiran keratohialin yang berwarna biru, dapat
membedakan keratin dari kolagen dan saraf, memperlihatkan batas papiler pada
dermis.

Gambar 9.6.sediaan kulit yang diwarnai H&E. gambar kiri menunjukkan pH Eosin
terlalu tinggi, gambar kanan menunjukkan Eosin yang sesuai dapat membedakan
serat kolagen dan jaringan saraf.

(sumber: Henwood A. 2010. Microscopic Quality Control of Hematoxylin and Eosin –


Know your Histology. DAKO)
3. Ginjal: mengidentifikasi membran basal dan tubulus kontortus. Ginjal mempunyai
keragaman sel yang luas dari mulai sel yang mempunyai kromatin padat
(glomerulus) hingga sel yang mempunyai kromatin seperti debu (sel kuboidal
ditubulus pengumpul)

Gambar 9.7 sediaan ginjal yang diwarnai H&E. Sel dengan kromatin padat
terdapat
pada glomerulus. Sel dengan kromatin halus terdapat pada tubulus
PEMANTAUAN MUTU INTERNAL SITOLOGI

MENGGUNAKAN SLAID SPESIMEN PASIEN


PADA HARI TERSEBUT DAN
DILAKSANAKAN PADA SAAT MELAKUKAN
PROSES PEWARNAAN PAPANICOLAOU
SETELAH PERENDAMAN DALAM LARUTAN
HEMATOKSILIN (EVALUASI INTENSITAS
HEMATOKSILIN DENGAN MENGGUNAKAN
MIKROSKOP).
HASIL STANDART MUTU YANG DIHARAPKAN
UNTUK SEDIAAN SITOPATOLOGI

Apusan cukup tipis.


Fiksasi adekuat, tidak ada sel yang
degeneratif akibat terlambat fiksasi.
Pewarnaan inti tidak terlalu pekat.
Kontras baik, metakhroharsia pada giemsa
baik.
Dehidarasi baik.
Tertutupoleh 1 kaca penutup.
Mounting tidak berlebihan, namun menutupi
seluruh permukaan sel.
PEMANTAPAN MUTU EKSTERNAL

 Adalah kegiatan yang diselenggarakan secara periodik oleh


pihak lain di luar laboratorium yang bersangkutan untuk
memantau dan menilai penampilan suatu laboratorium dalam
bidang pemeriksaan tertentu.

 Wajib dilakukan setiap satu tahun sekali melalui Badan


Penjamin Mutu Pelayanan Patologi Anatomi Indonesia (BPMPPI)
di bawah naungan Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi
Anatomi.

 Tujuan :
 Meningkatkan mutu pengolahan spesimen menjadi blok parafin dan
slaid dengan pewarnaan Hematoksilin – Eosin sesuai standart sehingga
gambaran morfologik jelas dan mudah dibaca dan dapat dilanjutkan
untuk pemeriksaan teknologi canggih lainnya, seperti imunohistokimia
dan tehnologi DNA.
MEKANISME KERJA

1. Penilaian dilakukan secara survei


2. Laboratorium peserta mengirimkan contoh blok
parafin dan slaid dengan pewarnaan Hematoksilin
– Eosin dari blok tersebut.
3. Laboratorium mengisi dan menyertakan lembaran
protokol pengolahan jaringan yang dilakukan untuk
membuat contoh blok parafin yang dikirim.
4. Contoh jaringan yang dikirim adalah: Jaringan otot
polos (leiomioma), kelenjar getah bening, dan
kulit/usus (organ berongga).
5. Parameter Penilaian
STANDART MUTU PEMOTONGAN BLOK PARAFIN DAN
PEWARNAAN HEMATOKSILIN EOSIN

PARAMETER PENILAIAN :
A. FIKSASI
Jaringan terfiksasi sempurna
Tidak tampak lisis

B. PENGOLAHAN SAMPAI MENJADI BLOK PARAFIN


Tidak tampak bercak – bercak putih dalam blok
Tidak tampak fragmentasi/kerapuhan
Tidak dijumpai efek termal/kering
Orientasi jaringan pada embeding, menampilkan semua
lapisan secara lengkap
C. PEMOTONGAN BLOK PARAFIN
~ Tipis, sel tidak bertumpuk (ketebalan 1 sel ---maksimal
5 mikron )
~ Ketebalan merata
~ Tanpa lipatan
~ Tidak ada goresan (venetian blind phenomeron ----
mata pisau yang tidak tajam)
~ Tidak ada kontaminan jaringan lain.
GAMBARAN LIPATAN PADA PREPARAT
GAMBARAN KETEBALAN PEMOTONGAN
BLOK PARAFIN
GAMBARAN KONTAMINASI PADA
PREPARAT
T h i s s e c t i o n o f k i d n ey i s s p o i l t b y a b l a c k
contaminant that was present on the slide
Kontaminasi jaringan tiroid prior to use. The deposit could be seen under
pada sampel jaringan jantung the section in otherparts of the slide
GAMBARAN GORESAN PADA PREPARAT

A section of spleen (H&E)


Poor microtomy technique will
showing many fine lines due to a
exacerbate the problem (H&E)
defectiveblade
GAMBARAN GORESAN PADA PREPARAT

I ni t i al ex p o s u r e o f t h e t i s s u e (ro ug hi ng ) i n Thi s H&E stained secti on of mucosal


t hi s b l o c k h as pul l ed f r ag m e nt s f ro m t h e tissue shows fine chatter due to
b l o c k s ur f ac e w hi c h h a s r e s ul ted i n cutting a ver y col d bl oc k ver y
n u m e r o us h o l e s i n t h e f i n a l s e c t i o n ( H & E ) . quickly
D. PULASAN DAN MOUNTING
~ Kontras warna hematoksilin dan eosin cukup jelas
~ Sediaan jernih/bersih, dehidrasi pasca eosin sempurna
~ Tidak ada sel udara pada mounting
~ Mounting media tidak berlebihan
~ Seluruh jaringan tertutup oleh kaca penutup
~ Tidak ada bercak/sidik jari/”mounting media pada
slide, terutama di atas kaca penutup.
GAMBARAN HASIL PEWARNAAN

Two slides from the same control block are shown. They were stained H&E
using identical protocols on an automated stainer but with an interval of seven
days between runs. Even macroscopically the variation in the level of staining
is obvious.
A S E C T I O N O F L U N G S TA I N E D H & E . T H E E O S I N S TA I N I S U N I F O R M LY V E R Y
W E A K A N D Q U I T E U N A C C E P TA B L E . N O T E T H AT T H E O N LY C O M P O N E N T S
S TA I N E D W I T H E O S I N A R E T H E R E D B L O O D C E L L S
T H I S S E C T I O N L AC K S C L A R I T Y ( I T A P P E A R S O PAQ U E T O T H E N A K E D
EYE).
C A R E F U L E X A M I N AT I O N R E V E A L S T I N Y WAT E R D R O P L E T S TO B E
P R E S E N T T H R O U G H O U T.
ADANYA GELEMBUNG UDARA PADA SAAT
MOUNTING
PENGELOLAAN ARSIP DI LABORATORIUM
PATOLOGI ANATOMI
 Pengertian :
 Pengarsipan patologi anatomi adalah melakukan peyimpanan secara
sistematik semua dokumen baik berupa formulir permintaan,
jawaban pemeriksaan, slaid mikroskopik, blok paraffin sampai sisa
jaringan basah, beserta pengelolaan waktu simpan, kondisi
penyimpanan sampai pemusnahan.

 Tujuan:
 Menyediakan informasi mengenai seluruh data pemeriksaan patologi
anatomik yang dapat diakses dengan mudah untuk berbagai
kepentingan beserta pengelolaannya
TABEL PENYIMPANAN
NO JENIS ARSIP KO N D I S I P E N Y I M PA N A N WA K T U P E N Y I M PA N A N

 H I S TO PATO L O G I
1. Spesimen basah Suhu ruang 4 m i n g g u s e te l a h
laporan hasil akhir
2. B l o k P a r a f fi n 24 o C d e n g a n ke l e m b a b a n r e n d a h
d a n b e b a s h awa 10 t a h u n
3. S l a i d m i k r o s ko p 24 o C d e n g a n ke l e m b a b a n
r e n d a h d a n b e b a s h awa 10 t a h u n
4. A r s i p l a p o r a n Ke r t a s
& Elektronik S u h u r u a n g d e n g a n ke l e m b a b a n
r e n d a h d a n b e b a s h awa 10 t a h u n

 S I TO PATO L O G I
1. Spesimen basah/cairan Suhu 2°C - 8°C 1 m i n g g u s e te l a h
laporan hasil akhir
2. S l a i d m i k r o s ko p S u h u r u a n g 24 o C d e n g a n ke l e m b a b a n
rendah G i n e ko l o g i : 5 t a h u n
N o n G i n e ko l o g i : 10 t h
3. Sel Blok S u h u r u a n g 24 o C d e n g a n ke l e m b a b a n
rendah 10 t a h u n
4. Arsip laporan
Ke r t a s & E l e k t r o n i k S u h u r u a n g 24 o C d e n g a n ke l e m b a b a n
rendah 10 t a h u n
 JA R I N G A N B A S A H Suhu ruang 4 minggu
PENYIMPANAN SLAID MIKROSKOPIK
PEMERIKSAAN HISTOPATOLOGI
 Tujuan :
 Menyimpan slaid dengan sistem tertentu agar mudah ditemukan dan dipergunaan
kembali jika diperlukan.

 Prosedur:
1. Mengambil dan mengumpulkan slaid-slaid yang sudah didiagnosa oleh
dokter SpPA .
2. Melakukan pengecekan slaid-slaid sesuai dengan yang ter tera dalam
formulir.
3. Apabila ditemukan ketidak sesuaian jumlah slaid, petugas
menginformasikan kepada dokter yang mendiagnosa agar dapat segera
dilengkapi dan diserahkan ke Unit Ar sip segera mungkin.
4. Menyusun slaid-slaid sesuai nomor urut pemeriksaan PA .
5. Mencatat nomor slaid ke dalam buku log ar sip .
6. Mengeringkan slaid sebelum dimasukkan ke lemari ar sip slaid
7. Memasukkan slaid ke dalam lemari ar sip slaid dimulai dari nomor urut
kecil di bagian depan, menyusul nomor urut besar .
5. Menyimpan slaid di Ruang Ar sip selama 10 tahun, setelah itu slaid akan
dikeluarkan dan dimusnahkan .
PENYIMPANAN BLOK PARAFIN

 Tujuan:
 Menyimpan parafin blok untuk kebutuhan pelayanan, penelitian dan
pendidikan

 Prosedur/teknis pelaksanaan:
1. Mengambil dan mengumpulkan blok parafin yang sudah
selesai pemrosesan oleh teknisi dan telah dilakukan pelapisan
ulang parafin.
2. Menghitung jumlah blok dari masing-masing nomor blok sesuai
dengan keterangan formulir makroskopik .
3. Memasukkan dan menyusun blok sesuai nomor urut.
4. Mencatatkan nomor-nomor blok ke dalam buku log arsip.
5. Menyimpan blok ke dalam lemari arsip blok parafin.
6. Memasukkan slaid ke dalam lemari arsip slaid dimulai dari
nomor urut kecil di bagian depan, menyusul nomor urut besar.
7. Menyimpan blok parafin di Ruang Arsip selama 10 tahun,
setelah itu parafin blok akan dikeluarkan dan dimusnahkan.
PENYIMPANAN FORMULIR ASLI
PERMINTAAN PEMERIKSAAN HISTOPATOLOGI

 Tujuan:
 Menyimpan formulir asli dalam satu sistem agar mudah ditemukan dan
dipergunakan kembali jika diperlukan.

 Prosedur/teknis pelaksanaan:
1. Mengumpulkan formulir permintaan asli yang sudah selesai
dilakukan didiagnosis oleh dokter SpPA.
2. Mengecek serta mencocokkan formulir asli dengan slaid
terkait.
3. Mencatat nomor formulir pada buku log arsip.
4. Menyusun formulir ke dalam map ordner sesuai nomor urut.
5. Meletakkan map ordner pada lemari arsip sesuai nomor urut.
6. Menyimpan formulir hingga 10 tahun setelah itu akan di
musnahkan
PENYIMPANAN FORMULIR DUPLIKAT
HASIL PEMERIKSAAN HISTOPATOLOGI
 Tujuan:
 Menyimpan formulir duplikat jawaban / hasil pemeriksaan dalam satu sistem agar
mudah ditemukan dan dipergunakan kembali jika diperlukan.

 Prosedur/teknis pelaksanaan :
1. Mengumpulkan formulir duplikat hasil pemeriksaan yang dijawab oleh
dokter SpPA .
2. Mencatat nomor formulir pada buku log ar sip.
3. Menyimpan formulir ke dalam map ordner yang sama dengan formulir
asli sesuai nomor urut.
4. Meletakan map ordner pada lemari ar sip sesuai nomor urut.
5. Melakukan penyimpanan data (back up) secara rutin setiap bulannya.
6. Menyimpan CD back up di ruang komputer ar sip dan di tempat lain diluar
lingkungan Rumah sakit .
7. Menyimpan harddisk eksternal back up di lemari yang ada di ruang
komputer ar sip.
8. Menyimpan formulir duplikat hingga 10 tahun di ruang ar sip setelah itu
akan dimusnahkan.