Anda di halaman 1dari 16

DIABETES JUVENILE

1. ANDI VIVI SRY ANDRIANI


2. APRILIYA MARSYA AGATHA
3. LILIS SAWALIA
4. SRI WAHYUNI
5. VIYOLHA SYAFALIKA MARAUF
DEFINISI

 Diabetes juvenile, lebih dikenal dengan nama diabetes tipe 1 atau


diabetes yang bergantung pada insulin, adalah penyakit yang
muncul karena pankreas berhenti memproduksi insulin.
 Insulin sangat penting karena merupakan hormon yang mengatur
jumlah gula (glukosa) dalam darah dan membantu mentransfer
glukosa ke sel-sel tubuh untuk menghasilkan energi. Jika tubuh
tidak memproduksi insulin, glukosa tetap berada dalam darah dan
kadar gula darah pun akan meningkat.
ETIOLOGI

 Faktor genetik
Faktor herediter, juga dipercaya berperan dalam munculnya
penyakit ini (Brunner & Suddart, 2002). Penderita diabetes tidak
mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu predisposisi
atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes tipe I.
Kecenderungan genetick ini ditentukan pada individu yang
memiliki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu.
HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas
antigen tranplantasi dan proses imun lainnya.
Lanjutan…

 Faktor lingkungan
Lingkungan merupakan faktor pencetus IDDM. Oleh karena itu insiden lebih tinggi
atau adanya infeksi virus (dari lingkungan).
Virus penyebab DM adalah rubela, mumps, dan human coxsackievirus B4.
Melalui mekanisme infeksi sitolitik dalam sel beta, virus ini mengakibatkan destruksi
atau perusakan sel. Bisa juga, virus ini menyerang melalui reaksi autoimunitas yang
menyebabkan hilangnya autoimun dalam sel beta. Virus atau mikroorganisme
akan menyerang pulau – pulau langerhans pankreas, yang membuat kehilangan
produksi insulin.
 Faktor imunologi
Respon autoimun, dimana antibody sendiri akan menyerang sel bata pankreas.
PATOFISIOLOGI

 Insulin dihasilkan oleh kelenjar pankreas yang dibutuhkan untuk


pemanfaatan glukosa sebagai bahan energi seluler dan diperlukan untuk
metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Pada Diabetes tipe I
terdapat ketidak mampuan pankreas menghasilkan insulin karena
hancurnya sel-sel beta pulau langerhans. Dalam hal ini menimbulkan
hiperglikemia puasa dan hiperglikemia post prandial.
 Apabila insulin tidak dihasilkan maka akan mengalami gangguan
metabolisme, karbohidrat, protein dan lemak yang mana bila tanpa
insulin Glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel dan tetap dalam
kompartemen vaskular yang kemudian terjadilah hiperglikemi dengan
demikian akan meningkatkan konsentrasi dalam darah. Dengan adanya
peningkatan glukosa dalam darah, glukosa tidak dapat difiltrasi oleh
glomerulus karena melebihi ambang renal sehingga menyebabkan lolos
dalam urine yang disebut glikosuria.
MANIFESTASI KLINIK

 Anak terlihat sakit dan memiliki kadar glukosa darah yang tinggi ( Kadar glukosa
darah plasma >14 mmol/L), glikosuria, serta ketonuria.
 Poliuria
 Poliuria nokturnal seharusnya menimbulkan kecurigaan adanya DM tipe 1 pada
anak.
 Polidipsia
 Poliphagia
 Penurunan berat badan , Malaise atau kelemahan
 Glikosuria (kehilangan glukosa dalam urine)
 Gejala-gejala lainnya dapat berupa muntah-muntah, nafas berbau aseton, nyeri
atau kekakuan abdomen dan gangguan kesadaran ( koma )
(Meadow and Newell, 2005).
PENATALAKSANAAN

Terdapat 5 pilar manajemen DM tipe 1, yaitu:


 Insulin
 Diet
 Aktivitas fisik/exercise
 Edukasi
 Monitoring kontrol glikemik
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas.
Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku/bangsa,dll.
2. Riwayat Keperawatan
Keluhan utama
Polifagi, Poliuria, Polidipsi, penurunan berat badan, penururan tingkat kesadaran, perubahan perilaku.
Riwayat penyakit sekarang.
Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa,
bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk
menanggulangi penyakitnya.
Riwayat penyakit dahulu.
Diduga diabetes tipe 1 disebabkan oleh infeksi atau toksin lingkungan seperti oleh virus penyakit gondok
(mumps) dan virus coxsackie B4, oleh agen kimia yang bersifat toksik, atau oleh sitotoksin perusak dan
antibodi.
Lanjutan…

 Riwayat kesehatan keluarga.


Terutama yang berkaitan dengan anggota keluarga lain yang menderita diabetes melitus.
Riwayat kehamilan karena stress saat kehamilan dapat mencetuskan timbulnya diabetes
melitus.
Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit diabetes melitus. Pengalaman keluarga
dalam menangani penyakit diabetes melitus. Kesiapan/kemauan keluarga untuk belajar
merawat ‘anaknya. Koping keluarga dan tingkat kecemasan.
 Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.
 Usia
 Tingkat perkembangan
 Toleransi / kemampuan memahami tindakan
 Koping
 Pengalaman berpisah dari keluarga / orang tua
 Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya
Lanjutan…
 Pemeriksaan fisik
 Aktivitas / istrahat
 Sirkulasi
 Pernapasan
 Neurosensori
 Nyeri / Kenyamanan
 Keamanan
 Eliminasi
 Integritas Ego
 Stress, ansietas
 Makanan / Cairan
 Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan
diuretik.
DIAGNOSA KEPERAWATAN

 Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis


osmotik.
 Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral.
 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan daya tahan tubuh
menurun.
 Perubahan sensori-perseptual berhubungan dengan
perubahan kimia endogen, ketidakseimbangan glukosa/insulin
dan elektrolit.
INTERVENSI KEPERAWATAN

 Diagnosa I
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.
Tujuan : klien akan menunjukan hydrasi adekuat dengan kriteria :
Turgor kulit baik,Dehidrasi hilang/berkurang,Volume cairan yang edekuat
Intervensi :
 Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik.
Rasional : hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia.
 Pantau suhu, warna kulit, atau kelembabannya
Rasional : demam dengan kulit yang kemerahan, kering mungkin sebagai cerminan
dari dehidrasi.
Lanjutan…
 Diagnosa 2
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin,
penurunan masukan oral.
 Tujuan : klien akan menunjukan perbaikan nutrisi dengan kriteria :
 Berat badan dalam batas normal
 Tidak Nampak mual, muntah
Intervensi:
 Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan
yang dapat dihabiskan oleh pasien.
Rasional : Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan
terapeutik.
 Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi.
Rasional : Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat (termasuk absorbsi dan
utilisasinya).
 Diagnosa 3
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan daya tahan tubuh menurun.
Tujuan : menghindarkan tubuh dari infeksi dan cedera yang dapat memperberat
penyakit.
Intervensi :
 Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam, kemerahan,
adanya pus pada luka.
Rasional : pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah
mencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nasokomial.
 Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasive.
Rasional : kadar glukosa yang tinggi dalam darah akan menjadi media terbaik
bagi pertumbuhan kuman. Berikan obat antibiotic yang sesuai
Rasional : penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis
 Diagnosa 4
Perubahan sensori-perseptual berhubungan dengan perubahan kimia endogen,
ketidakseimbangan glukosa/insulin dan elektrolit.
Tujuan : tidak terjadi perubahan sensori-perseptual dengan kriteria hasil :
Mengenali dan mengkompensasi adanya kerusakan sensori
Intervensi :
 Pantau tanda-tanda vital dan status mental.
Rasional : Sebagai dasar untuk membandingkan temuan abnormal, seperti suhu
yang meningkat dapat mempengaruhi fungsi mental.
 Panggil klien dengan nama, orientasikan kembali sesuai kebutuhannya. Berikan
penjelasan yang singkat dengan bicara perlahan dan jelas.
Rasional : Menurunkan kebingungan dan membantu untuk mempertahankan
kontak dengan realitas.
EVALUASI KEPERAWATAN

 Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi


keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa
keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah
berhasil dicapai. Hal ini biasa dilaksanakan dengan mengadakan
hubungan klien berdasarkan respon klien pada tindakan
keperawatan yang diberikan sehingga perawat dapat mengambil
keputusan