Anda di halaman 1dari 12

APLIKASI DAN STRATEGI

FARMAKOEKONOMI
Kelompok 3:

Egi evanda
Nadya hardi
emelda
Nuraina
Ria oktariani
Risa carnelis
Wike widia wati
Elsa yunita
Ramadhani safitri
Yose firdaus
APLIKASI DAN STRATEGI
FARMAKOEKONOMI

Biaya pelayanan kesehatan, khususnya biaya obat, telah meningkat tajam beberapa
dekade terakhir, dan kecenderungan ini tampaknya akan terus berlanjut. Hal ini
antara lain disebabkan populasi pasien usia lanjut yang semakin banyak dengan
konsekuensi meningkatnya penggunaan obat, adanya obat-obat baru yang lebih
mahal, dan perubahan pola pengobatan. Di sisi lain, sumber daya yang dapat
digunakan terbatas, sehingga harus dicari cara agar pelayanan kesehatan menjadi
lebih efisien dan ekonomis. Perkembangan farmakoepidemiologi saat ini tidak hanya
meneliti penggunaan dan efek obat dalam hal khasiat (efficacy) dan keamanan
(safety) saja, tetapi juga menganalisis dari segi ekonominya.
Farmakoekonomi adalah studi yang mengukur dan membandingkan antara biaya dan
hasil/konsekuensi dari suatu pengobatan. Tujuan farmakoekonomi adalah untuk memberikan
informasi yang dapat membantu para pembuat kebijakan dalam menentukan pilihan atas
alternatif-alternatif pengobatan yang tersedia agar pelayanan kesehatan menjadi lebih efisien
dan ekonomis.
Jika kita dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan seperti:
Apa kelebihan suatu obat dilihat dari segi cost-effectiveness-nya dibandingkan obat lain?
Apakah diperoleh hasil terapi yang baik dengan biaya yang wajar? Apakah suatu obat dapat
dimasukkan ke dalam formularium atau ke dalam daftar obat yang disubsidi?

Maka farmakoekonomi dapat berperan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.


Informasi farmakoekonomi saat ini dianggap sama pentingnya dengan informasi khasiat dan
keamanan obat dalam menentukan pilihan obat yang akan digunakan. Farmakoekonomi dapat
diaplikasikan baik dalam skala mikro -misalnya dalam menentukan pilihan terapi untuk seorang
pasien untuk suatu penyakit, maupun dalam skala makro -misalnya dalam menentukan obat
yang akan disubsidi atau yang akan dimasukkan ke dalam formularium.
STRATEGI FARMAKOEKONOMI

Metode-metode dalam farmakoekonomi


Metode-metode analisis yang digunakan dalam farmakoekonomi meliputi:
1. Cost-minimization analysis
2. Cost-effectiveness analysis
3. Cost-Utility analysis
4. Cost-benefit analysis
Metode Cost-minimization analysis (CMA)
membandingkan biaya total penggunaan 2 atau lebih
obat yang khasiat dan efek samping obatnya sama
(ekuivalen). Karena obat-obat yang dibandingkan
memberikan hasil yang sama, maka CMA
memfokuskan pada penentuan obat mana yang biaya
per-harinya paling rendah.
Metode yang paling sering dilakukan adalah Cost-effectiveness analysis
(CEA). Metode ini cocok jika terapi yang dibandingkan memiliki hasil terapi
(outcome) yang berbeda. Metode ini digunakan untuk membandingkan obat-
obat yang pengukuran hasil terapinya dapat dibandingkan.
Sebagai contoh, membandingkan dua obat yang digunakan untuk indikasi
yang sama tetapi biaya dan efektifitasnya berbeda. CEA mengubah biaya dan
efektifitas ke dalam bentuk ratio. Ratio ini meliputi cost per cure (contoh:
antibiotika) atau cost per year of life gained (contoh: obat yang digunakan
pada serangan jantung). Pada saat membandingkan dua macam obat, biasanya
digunakan pengukuran incremental cost-effectiveness yang menunjukkan
biaya tambahan (misalkan, per cure atau per life saved) akibat digunakannya
suatu obat ketimbang digunakannya obat lain. Jika biaya tambahan ini rendah,
berarti obat tersebut baik untuk dipilih, sebaliknya jika biaya tambahannya
sangat tinggi maka obat tersebut tidak baik untuk dipilih.
Cost-Utility analysis (CUA)
Metode ini dianggap sebagai subkelompok CEA karena CUA juga menggunakan ratio
cost-effectiveness, tetapi menyesuaikannya dengan skor kualitas hidup. Biasanya
diperlukan wawancara dan meminta pasien untuk memberi skor tentang kualitas
hidup mereka. Hal ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang sudah
dibakukan, sebagai contoh digunakan skala penilaian (0= kematian; 10= kesehatan
sempurna). Quality-adjusted life years (QALYs) merupakan pengukuran yang paling
banyak digunakan.
Cost-Benefit analysis (CBA)
 Mengukur dan membandingkan biaya penyelenggaraan 2 program kesehatan dimana
outcome dari kedua program tersebut berbeda (contoh: cost-benefit dari program
penggunaan vaksin dibandingkan dengan program penggunaan obat antihiperlipidemia).
 Pengukuran dapat dilakukan dengan menghitung jumlah episode penyakit yang dapat
dicegah, kemudian dibandingkan dengan biaya kalau program kesehatan dilakukan.
Makin tinggi ratio benefit:cost, maka program makin menguntungkan. Metode ini juga
digunakan untuk meneliti pengobatan tunggal. Jika rationya lebih dari 1, maka
pengobatan dianggap bermanfaat karena ini berarti manfaatnya lebih besar dari
biayanya. CBA merupakan analisis yang paling komprehensif dan sulit untuk dilakukan.
Berbeda dengan CEA yang menggunakan efek terapeutik sebagai outcome atau CUA
yang menggunakan kualitas hidup, maka CBA menggunakan nilai uang dalam mengukur
benefit, sehingga dapat menimbulkan perdebatan, sebagai contoh: berapa nilai uang
sebuah kualitas hidup seseorang?
APLIKASI HASIL STUDI
FARMAKOEKONOMI

Lisa Sanchez -seorang pakar farmakoekonomi dari Amerika Serikat- mengemukakan


suatu istilah yang disebut applied pharmacoeconomics dan mendefinisikannya
sebagai: Putting pharmacoeconomic principles, methods and theories into practice,
to quantify the "value" of pharmacy products and pharmaceutical care services
utilized in "real-world" environments". Jika kita mengacu pada definisi di atas, maka
farmakoekonomi dapat dimanfaatkan untuk menilai biaya-manfaat baik dari produk
obat maupun pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care).
STRATEGI DALAM MENGAPLIKASI HASIL STUDI FARMAKOEKONOMI

Sebelum mengaplikasikan data farmakoekonomi ke "dunia nyata", terlebih


dahulu harus dimiliki keterampilan dalam mengevaluasi secara kritis hasil
penelitian farmakoekonomi yang sudah dipublikasikan. Pedoman dalam melakukan
evaluasi penelitian farmakoekonomi telah banyak dipublikasikan.
Untuk menerapkan data farmakoekonomi dari literatur ke "dunia nyata" sesuai
situasi dan kondisi setempat, ada 3 strategi yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Menggunakan langsung data dari literatur;
2. Membuat data model ekonomi (economic modeling data);
3. Melakukan penelitian sendiri.
Pemilihan strategi yang dilakukan sebaiknya mempertimbangkan juga dampak
yang akan dihasilkan baik terhadap biaya maupun mutu pelayanan. Jika dampaknya
minimal, maka strategi menggunakan data langsung dari literatur dapat dijadikan
pilihan. Jika dampaknya lumayan, maka membuat data model ekonomi dapat
dipilih. Sedangkan jika dampaknya besar, maka perlu melakukan penelitian sendiri
agar data yang didapat benar-benar sesuia dengan situasi dan kondisi setempat.
Dengan keterbatasan sumber daya yang tersedia dalam memberikan pelayanan
kesehatan, maka sudah seharusnya farmakoekonomi dimanfaatkan dalam membuat
keputusan dan menentukan pilihan atas alternatif-alternatif pengobatan agar
pelayanan kesehatan menjadi lebih efesien dan ekonomis.
DAFTAR PUSTAKA

Terimakasih ……