Anda di halaman 1dari 30

Gejala

Nyeri kepala Nyeri sendi

Diare
Batuk ringan konstipasi

Abdomen
discomfort Muntah
Demam tifoid
 Penyakit endemik di Indonesia
 Termasuk penyakit menular yang tercantum dalam
UU No 6, tahun 1962 tentang Wabah

 KOMPLIKASI LANJUT Perdarahan intestinal,


perforasi intestinal, ilius paralitik, rejatan septic,
pielonefritif, kolesistisis, pneumonia, miokarditis,
peritonitis, meningitis, bronchitis kronis.
Major Surgical Complications
Definisi
 Penyakit sistemik akut yg disebabkan oleh kuman
Salmonella typhi dan kadang-kanga oleh Salmonella
paratyphi
Pengertian
Thypoid fever / demam typoid atau thypus
abdominalis merupakan penyakit infeksi akut pada
usus halus dengan demam satu minggu atau lebih
disertai gangguan pada saluran pencernaan dan
dengan atau tanpa gangguan kesadaran
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh infeksi kuman
Salmonella Thyposa/ Eberthela Thyposa yang
merupakan kuman negatif, motil dan tidak
menghasilkan spora, hidup baik sekali pada
suhu tubuh manusia maupun suhu yang
lebih rendah sedikit serta mati pada suhu
70˚C dan antiseptik
Salmonella typhi
ETIOLOGI
 mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen
yaitu: antigen O ( somatic, terdiri dari zat komplek
lipopolisakarida), antigen H ( flagella), dan antigen Vi
dan protein membrane hialin.
 Salmonella parathypi A
 Salmonella parathypi B
 Salmonella parathypi C
The Typhoid Bacillus
Spread of Typhoid
 Penularan Salmonella thypi dapat ditularkan melalui
berbagai cara yang dikenal dengan 5F yaitu:
Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku),
Fomitus(muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses
Patogenesis
PATOGENESIS
S. typhi/S. paratyphi (oral)  usus halus  plaks
peyer (multiplikasi)  mll aliran limfe  aliran
darah (bakteremia transient)  kuman masuk
organ  difagositosis oleh RES
persisten/multiplikasi  jumlah kuman  
aliran darah  bakteremia kontinyu  organ
terinfeksi (kandung empedu, usus halus, & organ
RES; hepar, limpa, kel limfe, sumsum tulang)
Patofisiologi
Etiologi individu sehat --- 5 F

Lambung lisis o/k HCL

usus halus bagian distal

jaringan limpoid berkembak biak

Sirkulasi

sel-sel retikuloendotelial.

melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah menimbulkan bakteremia,


kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus, dan kandung empedu.
Gambaran klasik demam Typhoid
. Tanda & Gejala
 Minggu pertama : deman, nyeri kepala, anoreksia, mual,
muntah, diare, konstipasi dan suhu badan meningkat (39 –
41˚C).
 Minggu kedua : deman remiten, lidah typoid kering, dilapisi
selapu tebal, dibagian belakang tampak lebih pucat, dibagian
ujung dan tepi lebih kemerahan. Pembesaran hati dan limpa,
perut kembung dan nyeri tekan pada perut kanan bawah dan
mungkin disertai gangguan kesadaran dari ringan sampai
berat seperti delirium.
 Roseola (rose spot), pada kulit dada atau perut terjadi pada
akhir minggu partama atau awal minggu kedua. Merupakan
emboli kuman dimana di dalamnya mengandung kuman
salmonella.
Diagnosis
 Klinis
 Laboratorium
 Kultur Gal
Diagnosis definitive : isolasi Salmonella typhi dari specimen darah penderita.
Pengambilan specimen
 pada minggu pertama timbulnya penyakit, karena kemungkinan untuk
positif mencapai 80-90%, khususnya pada pasien yang belum mendapat
terapi antibiotic.
 Pada minggu ke-3 kemungkinan untuk positif menjadi 20-25%
 minggu ke-4 hanya 10-15%.
 Widal
Penentuan kadar aglutinasi antibodi terhadap antigen O dan H dalam darah
(antigen O muncul pada hari ke 6-8, dan antibodi H muncul pada hari ke 10-
12).
Pemeriksaan Widal memberikan hasil negatif sampai 30% dari sampel biakan
positif penyakit tifus, sehingga hasil tes Widal negatif bukan berarti dapat
dipastikan tidak terjadi infeksi.
Pemeriksaan Diagnostik
a. Jumlah leukosit normal/leukopenia/leukositosis.
b. Anemia ringan, LED meningkat, SGOT, SGPT
meningkat.
c. Minggu pertama biakan darah S. Thypi positif,
dalam minggu berikutnya menurun.
d. Biakan tinja positif dalam minggu kedua dan
ketiga.
e. Kenaikan titer reksi widal 4 kali lipat pada
pemeriksaan ulang memastikan diagnostis. Pada
reaksi widal titer agglutinin O dan H meningkat
sejak minggu kedua. Titer reaksi widal diatas 1 : 20
menyokong diagnosis.
Penatalaksanaan
1. Tirah baring atau bed restKlien bedrest total selama 7 hari
sampai demam hilang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi
perdarahan usus, posisi tubuh harus diubah minimal selama 2
jam untuk mencegah adanya decubitus

2. Diet lunak atau diet padat rendah selulosa (pantang


sayur dan buahan), kecuali komplikasi pada intestinal.

3. Kolaborasi dengan ahli gizi pada pemberian diet seperti:


diet yang sesuai, cukup kalori dan tinggi protein
pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring
setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim
dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam
selama 7 hari
 Obat-obat :
 a. Antimikroba :
 Kloramfenikol 4 x 500 mg sehari /iv
 Tiampenikol 4x 500 mg sehari oral
 Kotrimoksaxol 2 x 2 tablet sehari oral (1 tablet =
 Ampicillin atau amoxixilin 100 mg / kg BB sehari
 oral/iv, dibagi dalam 3 atau 4 dosis.
 b. Antipiretik seperlunya
 c. Vitamin B komplek dan vitamin C
 4. Mobilisasi bertahap setelah 7 hari bebas deman.
8.Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
1). Riwayat penyakit sekarang
dikaji sudah berapa lama klien mengalami deman,
nyeri perut, nafsu makan menurun, minuman yang
terkontaminasi.
2). Riwayat penyakit masa lalu
dikaji apakah klien pernah menderita penyakit
yang sama,
3). Pemeriksaan fisik :
- gastrointestinal : awal mual dan muntah, nyeri
abdomen dan diare, distensi abdomen,
pembesaran limpa.
- suhu tubuh : pada fase akut deman 39 – 40˚ C,
meningkat 41˚C.
- Kulit : rose spot dimana hilang dengan tekanan,
9. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermi berhubungan dengan ketisak
seimbangan sistem termoregulator
sekunder akibat infesksi salmonela
typhosa
b. Diare berhubungan dengan infeksi
sekunder pada saluran intestinal
c. Konstipasi berhubungan dengan infeksi
sekunder pada saluran intestinal
d. Perubahan nutrisi : kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, mual, muntah sekunder akibat
infeksi salmonela typosa
e. PK: infeksi sekunder akibat perluasan
infeksi salmonela typosa
Tugas untuk pertemuan minggu
depan
 Bagi menjadi 3 kelompok
 Masing-masing kelompok menyususn renpra untuk
diagnosa masalah hipertermi, nutrisi kurang dari
kebutuhan dan PK: infeksi
 Di presentasikan
 Masuk 10 % nilai tugas