Anda di halaman 1dari 25

KOLESTEATOMA

Herly permadi agoeng


ANATOMI TELINGA

Terdiri dari :
 Auris eksterna
 Auris media
 Auris interna

Di dalam auris media :


 Ossicula auditoris
 M.stapedius dan m.
Tensor tympani
 Chorda tympani
 Plexus tympanicus
DEFINISI
 Kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel
 Dinamakan pertama kali oleh Johannes Mueller
(1838)
 Dipercaya sebagai suatu tumor dan salah satu
komponen utamanya adalah kolesterol
 “a pearly tumor of fat...among sheets of polyhedral
cells”
 Nama yang lebih sesuai diajukan oleh para ahli
yang lain adalah keratoma (Schucknecht)
PATOFISIOLOGI
 Terdiri dari :
 Deskuamasi epitel skuamosa (keratin)
 Jaringan granulasi yang mensekresi enzim
proteolitik
 Dapat memperluas diri dengan mengorbankan
struktur disekelilingnya
 Erosi tulang terjadi oleh dua mekanisme utama :
 Efek tekanan  remodelling tulang
 Aktivitas enzim  meningkatkan proses osteoklastik
pada tulang  meningkatkan resorpsi tulang
PATOFISIOLOGI
 Merupakan media yang baik untuk
pertumbuhan kuman  infeksi
 Infeksi pelepasan sitokin yang menstimulasi
sel-sel keratinosit matriks kolesteatoma menjadi
hiperproliferatif, destruktif, dan mampu
berangiogenesis
 Desakan massa + reaksi asam oleh pembusukan
bakteri  nekrosis tulang  komplikasi
PATOFISIOLOGI
EPIDEMIOLOGI
 Insiden tidak diketahui
 Indikasi yang relatif sering pada pembedahan
otologi
 Penyebab umum relatif tuli konduktif sedang
pada anak dan dewasa
PATOGENESIS DAN KLASIFIKASI
 Klasifikasi kolesteatoma
 Kongenital
 Akuisital
 Primer
 Sekunder

 Patogenesis kolesteatom
 Banyak teori yang berusaha menjelaskan
terbentuknya kolesteatoma :
 Teori Invaginasi
 Teori Migrasi

 Teori Metaplasi

 Teori Implantasi
KOLESTEATOMA KONGENITAL
 Definisi
 Epitel skuamosa yang terperangkap di dalam tulang
temporal selama embriogenesis
 Mebrana tympani normal (intak)
 Tidak ada riwayat infeksi
 Tidak ada riwayat tindakan operatif otologi
 Paling sering ditemukan pada mesotimpanum
anterior, petrosus mastoid, dan cerebellopontin angle
KOLESTEATOMA KONGENITAL
KOLESTEATOMA AKUISITAL
 Primer
 Terbentuk sebagai akibat
dari retraksi membran
tympani (teori Invaginasi)
 Berawal dari retraksi pras
flaksida membran tympani
yang mencapai epitimpanum
 Skutum terkikis  defek pada

dinding lateral epytimpanum


yang perlahan meluas
 Retraksi berlanjut  melewati

tulang-tulang pendengaran dan


epitimpanum posterior 
membentuk retraction pocket
KOLESTEATOMA AKUISITAL
 Sekunder
 Terbentuk setelah perforasi membrana tympani
 Teori Migrasi
masuknya epitel dari kulit liang telinga atau dari
pinggir perforasi ke telinga tengah
 Teori Metaplasi
metaplasi mukosa kavum tympani karena iritasi
yang lama
 Teori Implantasi
epitel skuamosa terimplantasi di auris media pasca
tindakan operatif
PRESENTASI KLINIS
 Anamnesis
 Otorrhea tanpa nyeri yang berulang/terus menerus
 Gangguan pendengaran
 Obstruksi nasal
 Tinnitus
 Vertigo
 Riwayat otitis media kronik
 Riwayat pembedahan otologi
PRESENTASI KLINIS
 Pemeriksaan Otologi
 Otorrhea dan jaringan granulasi yang tidak responsif
terhadap antimikroba
 Perforasi membran tympani (90%)
 CAE penuh berisi pus mukopurulen dan jaringan
granulasi
 Retraksi membran tympani pada pars flaksida

 Audiometri  tuli konduktif


 Tes Penala  dicocokkan dengan audiometri

 Timpanometri  compliance MT menurun atau


perforasi
PEMERIKSAAN PENCITRAAN
 Rontgen konvensional posisi Waters dan
Stenvers
 CT scan
 Densitas kolesteatoma hampir sama dengan LCS
(-2 sampai +10 HU)  efek dari massa itu sendiri
yang lebih berperan dalam diagnosis
 Defek yang dapat dideteksi :
 Erosi skutum
 Fistula labirin

 Erosi pada tegmen tympani

 Keterlibatan tulang-tulang pendengaran

 Anomali atau invasi ke saluran tuba


PEMERIKSAAN PENCITRAAN
PEMERIKSAAN PENCITRAAN
 MRI
 Digunakan apabila diperkirakan dapat melibatkan
jaringan lunak sekitarnya
 Dapat mendeteksi :
 Invasi duramater
 Abses epidural atau subdural

 Herniasi otak ke rongga mastoid

 Peradangan pada labirin membran atau saraf fasialis

 Trombosis sinus sigmoid


PENATALAKSANAAN
 Terapi Medis
 Pembersih telinga
 Hidrogen peroksida 3%, asam asetat 1-2%, povidon iodine 5%
 Antimikroba topikal
 Golongan quinolon  hati-hati pada anak usia kurang dari
12 tahun
 Antimikroba sistemik
 Disesuaikan dengan kuman penyebab
 Pseudomonas : ampisilin-sulbaktam, kotrimoksazol,

ciprofloxacin
 Kuman anaerob : metronidazol, klindamisin, kloramfenikol

 Sukar ditentukan : kotrimoksazol, amoksisilin-klavulanat


PENATALAKSANAAN
 Terapi Pembedahan
 Timpanoplasti dinding utuh
 Timpanoplasti dinding runtuh
KOMPLIKASI
 Komplikasi segera  Komplikasi lambat
 Parese nervus fasialis  Kolesteatoma rekuren
 Kerusakan korda  Reperforasi
timpani  Lateralisasi tandur
 Tuli saraf  Stenosis liang telinga
 Gangguan luar
keseimbangan  Displasia atau
 Fistula labirin lepasnya prostesis
 Trauma pada sinus tulang pendengaran
sigmoid
 Infeksi pasca-operasi
PROGNOSIS
 Hampir selalu dapat dieliminasi
 Timpanoplasti dinding runtuh menjanjikan
tingkat rekurensi yang sangat rendah (5% kasus)
 Merupakan penyebab umum relatif tuli
konduktif permanen
KESIMPULAN
 Bahwa meskipun banyak teori yang berusaha menjelaskan mengenai
terbentuknya kolesteatoma, patogenesis dari terbentuknya
kolesteatoma sebenarnya masih belum pasti hingga saat ini.
 Sangat penting untuk memiliki pengetahuan dasar yang memadai
mengenai karkteristik anatomi dan fungsional dari telinga tengah
untuk mencapai penatalaksanaan yang memuaskan untuk
kolesteatoma
 Kunci dari didapatkannya diagnosis dini dan penatalaksanaan
segera yang tepat untuk kolestatoma adalah evaluai yang hati-hati
dan menyeluruh mengenai presentasi klinis hingga ke
pencitraannya.
 Penatalaksanaan yang paling sesuai adalah pembedahan dengan
tujuan untuk mengeradikasi penyakit dan untuk mencapai kondisi
telinga yang kering dan aman dari infeksi berulang.
 Pendekatan secara bedah harus disesuaikan pada masing-masing
pasien sesuai dengan keadaan umum dan luasnya penyebaran
kolesteatoma itu sendiri.
 Ahli bedah harus sangat waspada terhadap komplikasi pasca-
pembedahan yang mengancam nyawa ataupun menyebabkan kondisi
serius terhadap pasien seperti cedera nervus fasialis.
REFERENSI
 Roland PS. Middle Ear, Cholesteatoma. Emedicine. June 29, 2009 (cited
August 25, 2009). Available at http://emedicine.medscape.com/article/860080-
overview.
 Moore K, Agur AMR. Anatomi Klinis Dasar. Edisi Pertama. Jakarta : Penerbit
Hipokrates; 2002
 Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-6. Jakarta :
Balai Penerbit FKUI; 2008
 Waizel S. Temporal Bone, Aquired Cholesteatoma. Emedicine. May 1, 2007
(cited August 27, 2009). Available at
http://emedicine.medscape.com/article/384879-overview
 Helmi. Otitis Media Supuratif Kronis. Edisi Pertama. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI; 2005
 Adams GL, Boies LR, Higler PA. BOIES Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke-6.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1997
 DeSouza CE, Menezes CO, DeSouza RA, Ogale SB, Morris MM, Desai AP.
Profile of congenital cholesteatomas of the petrous apex. J Postgrad Med [serial
online] 1989 [cited 2009 Sep 5];35:93. Available from:
http://www.jpgmonline.com/text.asp?1989/35/2/93/5702
 Makishima T, Hauptman G. Cholesteatoma. University of Texas Medical
Branch Department of Otolaryngology. January 25, 2006 (cited August 25,
2009). Available at www.utmb.edu/otoref/grnds/Cholest.../Cholest-slides-
060125.pdf
TERIMAKASIH!!!