Anda di halaman 1dari 16

Kelompok 3

Saraswati 17304241005

PERKEMBANGAN EMBRIOGENESIS ZIGOTIK Ezatama Triskasari


Soleh Saputra
17304241033
17304241039
Pendidikan Biologi I 2017
PENGANTAR
• Embriogenesis adalah proes perkembangan embrio menjadi tumbuhan baru.
• Embryogenesis dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
a. Embryogenesis Zigotik yaitu perkembangan embrio yang berasal dari peleburan
gamet jantan dan gamet betina.
b. Embryogenesis somatik yaitu perkembangan embrio tanpa melalui peleburan
gamet jantan (sperma) dan gamet betina (ovum) tetapi embrio berasal
dari perkembangan sel-sel somatik.
Setelah terjadi fertilisasi sperma dan ovum terbentuklah zigot.
Zigot akan berkembang menjadi embrio sampai tumbuh menjadi
tumbuhan baru. Zigot satu sel yang diploid mengalami
pembelahan menghasilkan proembrio (sel seperti pada
embryogenesis somatik) kemudian membelah lagi menjadi 4 sel
yang berasal dari pembelahan bagian. apikal dan basal.
Kemudian membelah lagi menjadi 8 sel (fase oktan). Pembelahan
tersebut mulai hari pertama sampai hari ke 20. Setelah itu sel-sel
tersebut akan mengalami pembelahan lagi dan bertambah
massanya sampai berbentuk bulat atau disebut fase globular.
Selanjutnya akan terbentuk takik diantara dua penonjolan, fase
ini disebut fase awal hati, dimana takik yang terbentuk belum
terlalu dalam. Dalam perkembangannya takik akan menjadi
lebih dalam sehingga berbentuk seperti hati sempurna. Fase ini
disebut fase hati. Setelah itu dua penonjolan yang mengapit takik
akan memanjang lagi yang termasuk fase torpedo.
Pada penonjolan apikal itu merupakan bagian plumula yaitu
akan tumbuh primordial daun, sedangkan pada bagian basal
akan menjadi primordial akar. Selanjutnya akan berkembang
terus sampai menjadi tanaman dewasa.
EMBRIOGENESIS LILIOPSIDA (MONOKOTIL)
1. Zigot membelah melintang asimetris membentuk sel apikal yang
kecil dan sel basal yang besar. Sel basal membesar tanpa
membelah membentuk haustorium sel tunggal. Seluruh embrio
berasal dari sel apikal. Sel apikal membelah melintang menjadi 2.
2. Sel membelah berkali-kali membentuk proembrio tahap globular.
3. Proembrio menjadi berbentuk oval , bagian tengah membentuk
plumula.
4. Tahap kotiledon, terbentuk kotiledon tunggalyang kemudian menjadi
skutelum, pada sisi ini pembelahan sel lebih cepat dari sisi lain
sehingga kesimetrisan embrio berubah, sel-sel pada sisi yang
pertumbuhanya lambat menjadi plumula dan epikotil.
EMBRIOGENESIS PADA ZEA MAYS
1. Zigot membelah asimetris membentuk sel apical yang kecil dan sel
basal yang besar.
Perkembangan Dikotil 2. Sel apical berkembang menjadi embrio, sel basal selanjutnya
membelah melintang membentuk suspensor.
3. Sel apical membelah memanjang membentuk proembriotetrad.
Suspensor membelah melintang beberapa kali.
4. Sel apical membelah vertical dengan bidang pembelahan tegak lurus
bidang pertama, pada tahap ini proembrio berada pada tahap 8
sel, setiap sel membelah melintang menghasilkan stadium 16 sel,
setiap sel akan membelah secara periklinal menghasilkan protoderma
disebelah luar yang akan berdiferensiasi menjadi epidermis.
5. Sel sebelah dalam akan membentuk meristem dasar, system
prokambrium, hipokotil. Pada tahap ini embrio berada pada tahap
globular.
6. Embrio tahap globular mengalami pendataran dibagian apeks, pada
tahap ini embrio pada tahap hati.
7. Embrio tahap torpedo.
8. Pemanjangan terus terjadi membentuk embrio tahap kotiledon.
9. Suspensor membentuk embrio masuk dalam endosperma untuk
mendapatkan makanan.
10. Embrio tahap kotiledon tumbuh dan melengkung didalam biji.
Suspensor sudah mengecil
5 TIPE EMBRIO PADA TUMBUHAN DIKOTIL
Tipe pertama yaitu tipe onagrad atau tipe crucifer
misalnya pada spesies
Capsellabursa-pastoris. Tipe ini dimulai dari
pembentukan zigot hasil peleburan gamet jantan
dan betina yang membelah menjadi proembrio 2 sel
yaitu pada bagian apikal dan bagian basal.
Tipe kedua adalah tipe asterad. Tipe ini dapat terjadi pada Urtica) , Penaea. Pada
tipe ini zigot mengalami pembelahan satu dan dua sama sepeti pada tipe onagrad
yang membedakan adalah pembelahan ketiga. Pada pembelahan ketiga pada
bagain apical terjadi pembelahan terakhir secara longitudinal. Pada tipe ini bagian
apikal dan basal berperan dalam pembentukan embrio.
Tipe ketiga adalah tipe solanad. Tipe solanad ini terjadi pada Daucus carota.
Pada pembelahan pertama zigot membentuk proembrio 2 sel. Lalu pada pembelahan kedua
terjadi secara transversal pada bagian apikal dan basal. Selanjutnya pada pembelahan
ketiga terjadi secara transversal dan diikuti pembelahan longitudinal pada semua
bagian pembelahan. Bagian apikal tipe ini berperan dalam pembentukan embrio selanjutnya
yang dalam masing-masing sel hasil pembelahan terdapat dua inti) tetapi pada bagian
apikal paling bawah hanya terdapat satu inti. Sedangkan pada bagian basal
membentuk suspensor yang merupakan hasil samping dari pembelahan sel basal.
Dalam perkembangannya suspensor ini akan mengecil. Pada bagian api'al membentuk
globular dan berkembang terus hingga membentuk fase hati Lalu terbentuk embrio torpedo.
Tipe solanad dalam perkembangan embrio torpedonya kotiledon yang terbentuk pendek
tidak sepanjang pada tipe onagrad
Tipe keempat adalah tipe chenopodiat. Tipe ini dapat terjadi pada spesies
Chenopodium bonus-henricus. Pada tipe ini pembelahan zigot pertama menghasilkan
proembrio 2 sel. Selanjutnya mengalami pembelahan kedua secara transversal
menghasilkan proembrio 4 sel yaitu dua sel pada bagian apical dan dua sel pada
bgian basal. Pada pembelahan ketiga, pada bagian apical membelah secara
longitudinal menghasilkan empat sel yang masing-masing dalam satu sel terdapat
dua inti. Pembelahan longitudinal mencapai satu sel bagian basal sehingga satu sel
bagian basal ikut terbelah menjadi dua sel. Sebelum ikut membelah secara
longitudinal, bagian basal telah membelah secara transversal pada kedua sel hasil
pembelahan kedua. Dua sel bagian basal dekat apikal memiliki dua inti dalam satu
selnya, tetapi sel lain hanya memiliki satu inti. Pada tipe ini sel apical dan basal ikut
berperan dalam pembentukan embrio selanjutnya.
Tipe kelima adalah tipe caryophyllad. Tipe ini terjadi pada Saginaprocumbens. Pada
tipe ini setelah pembelahan pertama zigot yang menghasilkan proembrio 2 sel,
mengalami pembelahan lagi secara transversal pada bagian apical saja, sedangkan
pada bagian basal tidak membelah sama sekali tetapi terjadi perbesaran massa.
Pada pembelahan ketiga, apical membelah beberapa kali secara transversal dan
dilanjutkan pembelahan longitudinal tetapi tidak pada semua sel apical. Sedangkan
bagian basal tidak mengalami pembelahan. Suspensor dihasilkan oleh sel apical.
Perkembangan embrio awal (kecuali Tipe Piperaceae) dapat digambarkan dengan
formulasi embrionik sebagai berikut.
Asteraceae : ca = pco + pvt
cb = phy+ icc + iec + co + s
Chenopodiaceae : ca = pco + pvt + l/2 phy
cb = ½ phy + icc + iec + co + s
Onagraceae: ca = pco + pvt + phy + icc
cb = iec + co + s
Solanaceae: ca = pco + pvt + phy + icc + iec
cb = co + s
Caryophyllaceae: ca = pco + pvt + phy + icc + iec + s (sebagian)
cb = s (sebagian)
(Johansen, l950)
TIPE PERKEMBANGAN ENDOSPERM
1. Endosperm selular
Tipe ini pembelahan pertamanya tidak diikuti dengan pembentukan dinding.
Pembentukan dinding biasanya terjadi secara sentripetal yaitu dari tepi ke
tengah, diawali di sekitar proembrio dan secara bertahap meluas ke daerah
kalazal kantung embrio. Tingkat selularisasi bervariasi.

2. Endosperm nuklear
Endosperm tipe ini mempunyai ciri yaitu tidak pernah dijumpai adanya stadium
inti bebas. Pembelahan pertama inti endosperm disertai dengan pembentukan
dinding yang biasanya transversal (horizontal), tetapi kadang-kadang dapat
longitudinal atau diagonal. Adanya haustoria merupakan hal yang umum pada
endosperm tipe ini. Haustoria mungkin muncul di bagian mikropil atau kalaza.

3. Endosperm helobiae
Tipe endosperm ini merupakan bentuk peralihan antara tipe endosperm nuklear
dan tipe endosperm seluler. Pembelahan pertama inti endosperm disertai dengan
pembentukan dinding transversal yang membagi kantung embrio menjadi dua
bagian, biasanya tidak sama besar, rongga untuk mikropil adalah yang besar,
sedang yang kecil untuk kalaza. Proses ini selanjutnya diikuti dengan beberapa
rangkaian pembelahan inti pada rongga mikropil. Di sini inti yang dihasilkannya
tetap tinggal bebas, sementara itu pada rongga kalaza tadi intinya tetap tidak
membelah atau hanya mengalami sedikit pembelahan
CONTOH PERKEMBANGAN EMBRIO ZIGOTIK KEMBANG
SEPATU