Anda di halaman 1dari 37

PENANGANAN TANAH TAMBAK BERPIRIT

DAN
CARA BUDIDAYA YANG BAIK

OLEH
RUSTAM PANCE
ASPEK BIOLOGI
1. Tingkah Laku
 Udang windu hidup di dasar (benthic) perairan,
 Tidak menyukai cahaya terang dan bersembunyi
di lumpur pada siang hari,
 Aktif dalam kondisi gelap (nocturnal), baik untuk
mencari makanan dan reproduksi.
 Dalam keadaan lapar dan tidak ada makanan
bersifat kanibal,
 Mengekskresi ammonia (NH3) yang cukup tinggi,
 Untuk pertumbuhan diperlukan moulting,
 Dalam mencari makanan lebih mengandalkan
chemoreseptor daripada indera penglihatan.
2. Morfologi Udang Windu
3. Siklus Hidup
 Siklus hidup udang windu dapat dibagi menjadi
beberapa tahap, yaitu:
1. Tahap embrio,
2. Tahap larva,
3. Juvenil,
4. Udang muda,
5. Sub adult/ Dewasa
Siklus Hidup
ESTUARY COASTAL WATERS OPEN SEA
4. Food habits dan Makanan udang windu
 Pemakan campuran (omnivora) dan scavenger,
 Taha larva sampai juvenil, memakan plankton.
 Udang muda, sub adult dan dewasa memakan
berbagai jenis makanan antara lain:
 Krustacea,
 Moluska,
 Ikan-ikan kecil,
 Cacing,
 Larva serangga,
 Bahan organik relative masih segar,
 Dan lain-lain.
 Dalam budidaya, udang windu efektif memakan
pakan formulasi (pellet)
5. Factors in disease expression

Shrimp Pathogen

Penyakit
muncul
(udang mati)

Environment
Snieszko (1974)

PM = I + Pt + S2

PM = Penyakit muncul (Udang mati)


I = Inang (Udang)
Pt = PatHogen

S2 = Stressor
TANAH SULFAT MASAM
(PIRIT)
1. Indikator pirit pada lahan tambak

1. Rumput purun, teki, pakis


laut dan udang tanah.
2. Bercak kuning pada bongka
tanah.
3. Sisa-sisa ranting kayu yang
tertanam dalam tanah
berwarna hitam dan terdapat
becak kuning.
4. Lumpur berbau busuk
dengan aroma sulfat yang
menyengat.
Thalasina sp.
2. Potensi dan dampak
 Potensi tanah sulfat masam
(TSM) yang mengandung
pirit (FeS2) terdapat pada
lapisan tanah bagian bawah
(subsoil),
 Jika terangkat atau
mengalami kekeringan maka
FeS2 teroksidasi dan
menghasilkan pH 2,0-3,0
(sangat asam).
3. Kendala Pemanfaatan TSM
1. Rendahnya pH tanah (< 3,0),
2. Daya racun dari Al3+, Fe3+ dan Mn2+ tinggi,
3. Defisiensi fosfat terlarut yaitu:
 Ortofosfat primer (H2PO41-),
 Ortofosfat sekunder (HPO42-),
 Ortofosfat tersier (PO43-),
4. Fosfat tersebut terikat oleh kation Al3+ dan Fe3+
menjadi:
 Aluminium fosfat Al(PO4),
 Besi fosfat Fe(PO4),
 Dan mengendap pada sedimen tambak,
5. Produktivitas tambak rendah,
6. pH dapat menyebabkan kematian udang.
3. Masalah Budidaya pada Tanah Pirit
TANAH PYRIT Dibuka Tambak

Tanah dan Air pH-nya rendah (asam)

Kemasaman dapat menyebabkan :


• Iritasi insang
• Pertukaran ion pada insang terganggu
• Pengambilan O2 terganggu
• Gagal ginjal Mn, Fe, Al (Iritasdi)
• Kulit udang lunak
• Mudah terserang penyakit NH3
• Kematian

Na, Cl, Ca, Mg,


SUMBER KOTORAN (BAHAN ORGANIK) TAMBAK

1. Dari bahan organik (sisa tanaman/hewan mati)


2. Sisa pakan & kotoran ikan/udang:
 Protein (Asam Amino/ Amina (NH2) menyumbang
30-50% Amoniak (NH3).

 Limbah N = Protein Pakan


6,25
3. Sisa hasil metabolisme menyumbang 80 – 90 %
limbah nitrogen (N)
The fate of feeds released into intensive shrimp ponds. The figures are
estimated from dieat digestibility and food conversion values. Data
from Primavera, 1994.
Peningkatan Produksi Budidaya

TEKANAN LINGKUNGAN

KUALITAS SEDIMEN KUALITAS AIR


Perombakan Sisa Pakan dan
Bahan Organik Lainnya
Unsur Oksidatif Reduktif
Protein NH4+ N2
NO2- NH3
NO3- NO2-
SO42- H2S

Karbohidrat CO2 CH4


Lipid H2O -
Besi Fe3+ Fe2+
pH KEMATIAN UDANG KARENA
Suhu AMONIAK DAN NITRIT
TSS
• Ketidak-seimbangan osmoregulasi
NH3 menyebabkan kegagalan ginjal
NO2- • Ekskresi ammonia darah terhambat
H2S menyebabkan kegagalan neurologis
O2 dan cytologis
• Meningkatkan konsumsi O2 jaringan
Hg tubuh
• Kerusakan epithel insang
Pb
• Menurunkan kemampuan darah untuk
Cu transport O2 ke seluruh jaringan tubuh
Cd • Mengakibatkan mati kekurangan O2
pH KEMATIAN UDANG KARENA
Suhu KARBON DIOKSIDA (CO2)
TSS
• Kadar CO2 dalam darah meningkat
NH3
Nitrit Hypercapnia

H2S Kemampuan hemoglobin darah untuk membawa


O2 ke jaringan tubuh mulai menurun
CO2
• Hypoxia jaringan
- udang/ikan berenang di dekat permukaan air
Hg
Pb • Pingsan

Cu • Rentan thd penyakit


Cd • Mati
pH KEMATIAN UDANG KARENA
Suhu ASAM SULFIDA (H2S)
TSS
• Memblok kemampuan sel insang
NH3
mengambil O2
Nitrit
• Hypoxia
H2S • Laju ventilasi meningkat
O2
• Laju ventilasi berhenti
• Kematian menyusul dalam hitungan
Hg
menit
Pb
Cu
Cd
The effect of pH on equilibrium of H S and HS-
2

H2S HS- + H+
HS- S2- + H+
MANAJEMEN BUDIDAYA UDANG WINDU
(Ekstensif dan Semi Intensif)
1. Persiapan petakan tambak
a. Pengeringan tanah dasar (sedimen) tambak
b. Pembilasan (pencucian) sedimen
2. Pengolahan sedimen tambak (reklamasi tanah)
a. Pengeringan tanah dasar (sedimen) tambak
b. Pembilasan (pencucian) sedimen
3. Pengendalian hama ???
4. Pengapuran
5. Pemupukan (Organik dan In-organik)
6. Penumbuhan pakan alami
7. Penebaran benih urang (benur) windu
8. Pakan dan pemberian pakan formulasi
9. Pengelolaan kualitas air
PENGERINGAN PETAKAN TAMBAK
1. Pengeringan Sedimen Tambak
Tujuan Pengeringan:
1. Menguapkan air dan memasukkan
udara (oksigen),
2. Mengoksidasi produk anaerob.
3. Dapat menaikkan pH tanah
(mendekati netral).
4. Memperbaiki struktur tanah.
5. Meningkatkan kesuburan tanah,
6. Membunuh ikan-ikan liar.
2. Tahapan Kegiatan Pengeringan
 Keringkan tanah dasar (sedimen) tambak retak-
retak (kadar air ± 20%),
 Masukkan air hingga sedimen tambak tergenang,
 Biarkan genang air selama ± 24 jam,
 Buang air genangan sampai habis (membilas/
mencuci) sedimen tambak.
 Lakukan kegiatan pembilasan/ pencucian sedimen
tambak lebih dari 1 kali,
 Setelah pembilasan maka pH tanah naik menjadi
netral (7,0)
 Jika perlu tambahkan kapur untuk memastikan pH
tanah menjadi netral (7,0). ,
3. Reklamasi Sedimen Tambak
 Reklamasi adalah rangkaian kegiatan meliputi:
Tahap I : Pengeringan sedimen tambak dan pembilasan
(pencucian) setelah panen,
Tahap II :  Pengeringan dan pengolahan (pembalikan)
sedimen tambak,
 Masukkan air hingga sedimen terendam,
 Buang air (pembilasan) sedimen tambak.
Tahap III :  Ratakan sedimen tambak,
 Bilas lagi sedimen tambak,
 Biarkan sedimen tambak tetap basah (macak-
macak).
Tahap IV : Aplikasikan Teknologi (kapur dan pupuk) dalam
kondisi tanah tambak tetap dalam kondisi macak-
macak (ada genangan air sedikit di atas sedimen)
tambak
Potensial Oksidasi Beberapa Desinfektan
Potensiak Oksidasi Potensiak Oksidasi
No Jenis Desinfektan
(Volt) Relatif*
1 Fluorin 3,06 2,25

2 Radikal Hidroksil 2,80 2,05

3 Atom Oksigen 2,42 1,78

4 Ozon 2,07 1,52

5 Hidrogen Peroksida 1,77 1,30

6 Asam Hipokhlorida 1,49 1,10

7 Khlorin 1,36 1,00


* Berdasarkan pada khlorin = 1,00, Sumber, Rice, (1989)
Oksidasi Produk Tereduksi

 Oksidasi H2S

H2S + 2O2 2H+ + SO4-

 Oksidasi Pirit

FeS2 + 31/2O2 Fe3+ + 2SO4_ + 2H+

 Hasil oksidasi akan bereaksi menjadi

2H+ + SO4- H2SO4


MENGAPA PERLU PENGGENANGAN DAN
PENCUCIAN SETELAH PENGERINGAN
 Untuk membuang hasil-hasil oksidasi pada
saat pengeringan tanah dasar seperti ion
Hidrogen (H+) dan ion Sulfat (SO42- ).
 Jika tidak dilakukan pencucian akibatnya ion
H+ dan SO42- akan membentuk asam sulfat
(H2SO4).
 2 H+ + SO42- H2SO4
Mengapa Perlu Kapur
1. CaCO3 + 2H2O Ca2+ + 2OH- + H2CO3

2. OH- + H+ H2O

3. Pada tanah sulfat masam, kapur


mencegah pembentukan asam
sulfat (H2SO4) dengan reaksi
sebagai berikut:
1. Pupuk Dasar
 Tujuan untuk:
 Menambah unsur hara (nutrien) pada tanah dasar,
 Merangsang pertumbuhan alga benthic (klekap),
 Jenis pupuk:
 Pupuk organik (pupuk kendang, kompos dll)
 Pupuk in-organik (urea dan SP-36).
 Dosis
 Organik: = 1000 -2000 kg/Ha
 Urea: = 200 kg/Ha dan Sp-36: = 100 kg/Ha
 Cara pemupukan dasar:
 Pupuk organik ditebar lebih awal,
 Pupuk SP-36, kemudian pupuk urea,
 Atau urea dan SP-36 dicampur lalu.
2. Pupuk Susulan
 Tujuan untuk:
 Menambah kelarutan nutrien di dalam air,
 Mempertahankan keberadaan pakan alami:
1. Fitoplankton
2. Lumut,
3. Klekap
 Jenis pupuk:
 Campuran urea denga SP-36,
 Dosis:
 7-10% dari pupuk dasar,
 C aranya:
 Pupuk dilarutkan, kemudian larutan pupuk disiramkan
ke permukaan air pada waktu pagi hari
 Pupuk dimasukkan ke dalam kantongan kemudian
digantung di bawah permukaan air tambak
Reaksi Pupuk Urea

CO(NH2)2 + 2H2O 2 NH3 + CO2 + H2O

2 NH3 + H2O 2 NH4+ + 2 OH-

2 NH4+ + 3O2 2NO2- + 2H2O + 4H+


Nitrosomonas

2 NO2- + 2O2 2NO3- + Energi


Nitrobakter
Reaksi Pupuk Fosfat (TSP) atau SP-36

Ca(H2PO4)2 + H2O (H3PO4)2 + Ca(OH)2

H3PO4 H+ + H2PO4-

H2PO4- H+ + HPO42-

HPO42- H+ + PO43-
PENUMBUHAN PAKAN ALAMI
a. Klekap, penambahan ke-
tinggian air secara bertahap
Klekap (20 cm, 30 cm, 40 cm)
b. Plankton, penambahan
ketinggian air 60-80 cm
kemudian dipupuk.
Plankton
c. Lumut, setelah pemupukan
dasar, masukkan air dgn
ketinggian 40 – 60 cm

Lumut
PENEBARAN BIBIT
1. Ukuran benih
 Benur : (PL 10-20), ukuran (10,70-16,00 mm)
 Tokolan : (PL 21-40), ukuran (16,53-34,00 mm)
2. Ciri benur sehat:
 Aktif berenang menentang arus,
 Menempel di dasar atau didinding bak,
 Anggota tubuh lengkap,
 Bersih dari pathogen.
3. Aklimatisasi
 Aklimatisasi suhu
 Aklimatisasi salinitas
4. Waktu penebaran
• Pagi hari (suhu air ± 28 C)
• Sore hari (suhu air ± 30 C)
Tabel-1. Program pemberian pakan pada tambak udang
semi-intensif
Umur Udang Berat Udang Nomor Dosis Kontrol
No Anco
(hari) (g) Pakan (%) (jam)

1 0 – 13 0,1 – 1,0 581 15 – 10 - -


2 14 – 27 1,0 – 3,0 582-583 10 – 8,0 1/240 -
3 28 – 37 3,0 – 5,0 584 8,0 1/220 2,0
4 38 – 57 5,0 – 10 584 8,0 – 4,5 1/220 2,0-1,5
5 58 – 74 10 – 15 584 4,5 1/160 1,5
6 75 – 87 15 – 20 585 4,5 – 3,0 1/160 1,5-1,0
7 88 – 99 20 – 25 585 3,0 1/140 1,5-1,0
8 100 – 110 25 – 30 586 3,0 – 2,5 1/120 1,0
9 111 – 119 30 – 35 586 2,5 1/120 1,0
10 120 35 – 40 586 2,5 – 2,0 1/120 1,0
TERIMA KASIH
HP: 085 255 332 655

Anda mungkin juga menyukai