Anda di halaman 1dari 42

VERTIGO PERIFER

Rashellya Rasyida Rahma


1261050293

CASE REPORT
PENDAHULUAN

• Dizziness  Istilah non spesifik yang dapat dikategorikan ke dalan 4 subtipe


tergantung gejala yang digambarkan oleh pasien :
• Vertigo  54% dari dizziness primary care
• Lightheadedness
• Presyncope
• Disequilibrium
• DD
• Penyebab perifer vestibular (berasal dari system saraf perifer)
• Penyebab perifer sentral (berasal dari system saraf pusat)
• Kondisi lain

Pendekatan dgn
Pasien suliit Dokter sulit Member
pengetahuan dari kunci Menegakkan
menggambarkan menetukan terapi yang
anamnesis, pem. fisik, dan diagnosis
gejala penyebab tepat
pem. penunjang
DEFINISI

Vertigo  bahasa Latin vertere  Memutar – merujuk pada sensasi berputar


sehingga meng- ganggu rasa keseimbangan seseorang, umumnya disebabkan
oleh gangguan pada sistim keseimbangan
Vertigo  Halusinasi gerakan lingkungan sekitar  Berputar mengelilingi
pasien / pasien serasa berputar mengelilingi lingkungan sekitar
EPIDEMIOLOGI

Dizziness Vertigo Episode rekuren


• 20-30% dr populasi • 54% • 88 %
umum • Wanita : Pria ( 2 : 1 )
PATOFISIOLOGI

Gangguan alat keseimbangan tubuh  Ketidakcocokan posisi tubuh yang


sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat

Teori rangsang berlebihan (overstimulation)


Teori konflik sensorik
Teori neural mismatch
TEORI

Teori otonomik
Teori neurohumoral
Teori sinap
TEORI

Te o r i r a n g s a n g b e r l eb i h a n
Teori konflik sensorik
( ove r s t i m u l a t i o n )

Rangsang berlebihan Terjadi ketidakcocokan


masukan sensorik dari berbagai
reseptor sensorik perifer

Hiperemi kanalis
semisirkularis
Kebingungan sensorik di sentral

Fungsi terganggu

Timbul respons  Nistagmus,


Timbul vertigo, nistagmus, ataksia atau rasa melayang,
mual & muntah berputar
TEORI

Teori neural mismatch Teori otonomik

Pengembangan teori konflik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf
sensorik  Otak otonom sebagai usaha adaptasi gerakan/perubahan
mempunyai memori/ingatan posisi
tentang pola gerakan Berangsur-angsur gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan,
tertentu tidak lagi timbul sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan
gejala.

Gerakan yang aneh/tidak


sesuai dengan pola gerakan Mekanisme
yang telah tersimpan adaptasi

Reaksi dari
Jika gerakan baru
susunan saraf
berulang-ulang
otonom
TEORI

Te o r i n e u r o h u m o r a l Teori sinap

Pengembangan teori neurohumoral  meninjau


peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan
Teori biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi, belajar
Histamin dan daya ingat
Teori (Takeda)
Dopamin
(Kohl)
Rangsang gerakan
Terori
Serotonin
(Lucat) Stres

Memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor

Susunan saraf simpatik aktif  Pucat, berkeringat


Menekankan peranan neurotransmiter yg
mempengaruhi sistim saraf otonom  Meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik (Mekanisme
adaptasi)  Mual, muntah dan hipersalivasi
Gejala vertigo
ETIOLOGI

Anatomi

Vertigo non-sistematis Vertigo yang sistematis


kelainan sistem
Vertigo non-sistematis saraf pusat

Paresis otot mata, Kelainan


Mata
refraksI, Glaukoma

Pelagra, Anemia Pernisiosa,


Proprioseptik
Alkoholisme, Tabes Dorsalis

Hipoksia serebri, Infeksi, Trauma,


Sistem saraf pusat Tumor, Migren, Epilepsi, Kelainan
endokrin, Kelainan psikoneurosis
kelainan sistem
vestibular (n. VIII / inti Bagian luar : Serumen, Benda asing
vestibularis
Bagian tengah : Retraksi membran timpani,
Otitis media purulenta akuta, Otitis media
Vertigo Sistematis
dengan efusi, Labirintitis, Kolesteatoma,
Telinga Rudapaksa dengan perdarahan

Bagian dalam : Labirintitis akuta toksika,


Trauma, Serangan vaskular, Alergi,
Hidrops labirin (morbus meniere), Mabuk
gerakan, Vertigo postural

Infeksi : Meningitis akut, Meningitis TB,


Meningitis basilaris luetika

Nervus VIII Trauma

Tumor

Inti Vestibulum Infeksi, Trauma, Perdarahan, Trombosis


arteria serebeli pstero-inferior, Tumor,
(Batang Otak) Sklerosis multipleks
KLASIFIKASI

Migraine

Dari inti nervus VIII Vertebrobasilar


sampai ke korteks insufficiency

Sentral Gejala khas gang. Tumor Intrakranial


Batang otak  diplopia,
Lesi / Kerusakan

parestesia, perubahan
sensibilitas dan fungsi
motorik, rasa lemah

Benign Paroxysmal
Positional Vertigo (BPPV)
Dari organ vestibuler
Perifer sampai ke inti nervus
VIII Ménière’s disease

Vestibular Neuritis
VERTIGO PERIFER

Episode vertigo yang Serangan vertigo yang


Episode vertigo yang
berlangsung beberapa berlangsung beberapa hari
berlangsung beberapa detik
menit atau jam sampai beberapa minggu
• Paling sering  vertigo • Dijumpai pada penyakit • Neuronitis vestibular 
posisional benigna meniere atau vestibulopati Vertigo, nausea, & muntah
• Pencetus  perubahan berulang secara mendadak 
posisi kepala • Penyakit meniere  trias Berlangsung beberapa hari
• Berlangsung beberapa detik gejala : ketajaman sampai minggu
 kemudian mereda pendengaran menurun (tuli), • Fungsi pendengaran baik
• Idiopatik (dapat diakibatkan vertigo & tinitus • Pemeriksaan fisik mungkin
trauma kepala, pembedahan dijumpai nistagmus
telinga/neuronitis
vestibular)
• Prognosis umumnya baik,
gejala menghilang secara
spontan
Ciri-ciri Vertigo perifer Vertigo sentral
Bangkitan vertigo Mendadak Lambat
Lesi Sistem vestibuler (telinga dalam, Sistem vertebrobasiler dan
saraf perifer) gangguan vaskular (otak, batang
otak, serebelum)
Penyebab Vertigo posisional paroksismal Iskemik batang otak,
jinak (BPPV), penyakit maniere, vertebrobasiler insufisiensi,
neuronitis vestibuler, labirintis, neoplasma, migren basiler
neuroma akustik, trauma
Gejala gangguan SSP Tidak ada Diantaranya : diplopia, parestesi,
gangguan sensibilitas dan fungsi
motorik, disartria, gangguan
serebelar
Masa laten 3-40 detik Tidak ada
Habituasi Ya Tidak
Jadi cape Ya Tidak
Intensitas vertigo Berat Ringan
Telinga berdenging dan atau tuli Kadang-kadang Tidak ada
Nistagmus spontan + -
BENIGN PAROXYSMAL
POSITIONAL VERTIGO (BPPV)

 Penyebab utama vertigo

Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) biasanya idiopatik tapi dapat juga diikuti
trauma kepala, infeksi kronik telinga, operasi dan neuritis vestibular sebelumnya,
meskipun gejala benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) tidak terjadi bertahun-
tahun setelah episode.

Mempengaruhi
Pergerakan otolit
kanalis posterior
dalan kanalis Manifestasi klinis
& juga dapat
Perubahan posisi semisirkularis vertigo &
mengenai kanalis
pada telinga nistagmus
anterior dan
dalam
horizontal
MÉNIÈRE’S DISEASE

• Adanya hidrops endolimfa pada koklea dan vestibulum


• Hidrops yang terjadi mendadak dan hilang timbul disuga disebabkan oleh :
1. Meningkatnya tekanan hidrostatik pada hujung arteri,
2. Berkurangnya tekanan osmtik dalam kapiler,
3. Meningkatnya tekanan osmotic ruang ekstrakapiler,
4. Jalan keluar sakus endolimfatikus tersumbat  Terjadi penimbunan
cairan endolimfa.
Trias Meniere  vertigo, tinnitus dan tuli sensorineural terutama nada rendah.
VESTIBULAR NEURITIS

Vestibular neuritis  Vertigo, mual, ataxia, dan nistagmus

Etiologi  Infeksi virus pada nervus vestibularis

Labirintis terjadi dengan komplek gejala yang sama disertai dengan tinnitus
atau penurunan pendengaran
DIAGNOSIS

Anamnesis
Pemeriksaaan
Fisik

Pemeriksaan
Penunjang

DIAGNOSIS
ANAMNESIS

1. Karekteristk dizziness
 Sensasi berputar, atau sensasi non spesifik seperti giddiness atau liht headness, atau
hanya suatu perasaan yang berbeda (kebingungan)
2. Keparahan
 Acute vestibular neuritis , Ménière’s disease  Gejala awal parah lalu berkurang
dalam beberapa hari
 Vertigo ynag menetap dan konstan  Mungkin penyebab psikologis
3. Onset dan durasi vertigo
4. aktor pencetus
5. Gejala penyerta
6. Riwayat keluarga
7. Riwayat pengobatan
PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan
Fisik Umum
Pemeriksaan Uji Romberg
Neurologis Tandem Gait
 Fungsi Uji Unterberger
vestibuler/se Past-pointing test
rebeler
Uji Babinsky-Weil

Pemeriksaan Fungsi Vestibuler Uji Dix Hallpike


Khusus Oto- Tes Kalori
Neurologis
Fungsi Pendengaran Tes garpu tala
Audiometri
PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin, dan pemeriksaan


lain sesuai indikasi.
2. Foto Rontgen tengkorak, leher, Stenvers (pada neurinoma akustik).
3. Neurofisiologi  Elektroensefalografi (EEG), Elektromiografi
(EMG), Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP).
4. Pencitraan  CT Scan, Arteriografi, Magnetic Resonance Imaging
(MRI).
TERAPI MEDIKAMENTOSA

Antagonis
Antihistamin Fenotiazine
Kalsium

Betahistin Senyawa
•Betahistin Mesylate Cinnarizine Promethazine
(Merislon) 3 x 6-12mg (Stugerone) 3 x 15- (Phenergan) 4 x 12,5-
•Betahistin di Hcl (Betaserc) 30mg atau 1 x 75mg 25mg
3 x 8 mg

Dimenhidrinat Khlorpromazine
(Dramamine) 4 x 25- (Largactil) 3-4 x 25-
50mg 50mg

Difhenhidramin Hcl
(Benadryl) 4 x 25-
50mg
TERAPI MEDIKAMENTOSA

Obat Obat Penenang Obat Anti


Simpatomimetik Minor Kholinergik

Lorazepam 
Efedrin 4 x 10- Skopolamin 3-4 x
25mg Dosis dapat 0,3-0,6mg
diberikan 0,5-1mg

Diazepam 
Dosis dapat
diberikan 2-5 mg
TERAPI NON-MEDIKAMENTOSA

Te r a p i F i s i k Brand-Dar rof
Tujuan :
1. Melatih gerakan kepala yang mencetuskan vertigo atau
disekuilibrium untuk meningkatkan kemampuan
mengatasinya secara lambat laun.
2. Melatih gerakan bola mata, latihan fiksasi pandangan
mata.
3. Melatih meningkatkan kemampuan keseimbangan
Contoh latihan :
1. Berdiri tegak dengan mata dibuka, kemudian dengan mata
ditutup.
2. Olahraga yang menggerakkan kepala (gerakan rotasi,
fleksi, ekstensi, gerak miring).
3. Dari sikap duduk disuruh berdiri dengan mata terbuka,
kemudian dengan mata tertutup.
4. Jalan di kamar atau ruangan dengan mata terbuka
kemudian dengan mata tertutup.
5. Berjalan “tandem” (kaki dalam posisi garis lurus, tumit
kaki yang satu menyentuh jari kaki lainnya dalam
melangkah).
6. Jalan menaiki dan menuruni lereng.
7. Melirikkan mata kearah horizontal dan vertikal.
8. Melatih gerakan mata dengan mengikuti objek yang
bergerak dan juga memfiksasi pada objek yang diam
CASE REPORT
STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. H
Jenis Kelamin : Wanita
Usia : 20 tahun
Pekerjaan : Belum bekerja
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Alamat : Jalan Usan Harun RT 02/05 Kebon Pala
Masuk Tanggal : 19 Maret 2017
Keluar Tanggal : 21 Maret 2017
Dokter : dr. Viola Maharani, Sp.S
Anamnesis
Alloanamnesis tanggal : 19 Maret 2017
Keluhan utama : Pusing berputar
Keluhan tambahan : Mual, dengung telinga kiri, berkurangnya pendengaran
pada telinga kiri
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien wanita, 20 tahun datang ke IGD RS UKI dengan keluhan pusing


berputar yang hebat sejak 3 hari SMRS. Saat pasien membuka mata pasien
merasa lingkungan sekitarnya yang berputar. Keluhan dirasakan pasien
semakin lama semakin berat sampai pasien tidak berani duduk, berdiri, bahkan
membuka mata. Pusing dialami pasien selama kurang lebih 30 menit dan
hilang selama kurang lebih 15 menit, kemudian pusing dirasakan kembali. 1
minggu SMRS pasien merasa sakit kepala, lemas, dan sakit perut disertai
demam kemudian pasien berobat ke puskesmas, keluhan pasien berkurang
namun 3 hari SMRS saat sedang beristirahat pasien tiba-tiba merasa pusing
berputar yang hebat disertai kuping yang berdenging dan pendengaran
berkurang pada telinga kiri serta mual namun tidak sampai muntah.

Riwayat Penyakit Terdahulu  Disangkal


PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang


GCS : E4M6V5
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Nadi : 85x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36o C
STATUS NEUROLOGIS

Kaku
kuduk : -

Laseque :
Brudzinski
>70º /
I : -/-
>70º
Rangsang
meningeal

Kerniq : - Brudzinski
/- II : -/-
NERVUS KRANIALIS

N.III, IV, VI (okulomotorius,


N.I (olfaktorius) N.II (optikus)
trochlearis, abdusen)
• Cavum nasi : Lapang • Visus kasar : >3/60 / >3/60 • Sikap bola mata : Simetris,
• Tes penghidu : Baik • Lihat warna : Tidak buta warna ditengah
• Lapang pandang : sama dengan • Ptosis : -/-
pemeriksa • Strabismus : -/-
• Funduscopy : tidak dilakukan • Enoptalmus : -/-
• Eksoptalmus : -/-
• Diplopia : -/-
• Deviasi konjugee : -/-
• Pergerakan bola mata : Dapat
bergerak ke segala arah
• Pupil : Bulat, isokor
3mm/3mm, letak di tengah,
tepi rata
• Refleks cahaya langsung : +/+
• Refleks cahaya tidak langsung :
+/+
NERVUS KRANIALIS

N. VIII (vestibulo
N.V (trigeminus) N.VII (fasialis)
kokhlearis)
• Motorik • Sikap wajah : Simetris • Nistagmus : -/-
• Buka tutup mulut : • Mimik : Biasa • Vertigo : +
Baik • Angkat alis : +/+ • Suara berbisik : +/+
• Gerakan rahang : Baik • Kerut dahi : +/+ • Gesekan jari : +/+
/ Baik • Kembung pipi : +/+ • Tes rinne : + / +
• Sensorik • Lagoftalmus : +/+ • Tes weber : tidak ada
• Rasa nyeri : +/+ • Menyeringai: Sulcus lateralisasi
• Rasa raba : +/+ nasolabialis simetris • Tes swabach : swabach
• Rasa suhu : +/+ kanan kiri pada telinga kiri
• Refleks • Chovstek : + memanjang
• Refleks kornea : +/+
• Refleks maseter : +
NERVUS KRANIALIS

N. IX, X
N. XI (aksesorius) N. XII (hipoglosus)
(glossofaringeus, vagus)
• Arkus faring : Simetris • Angkat bahu : +/+ • Sikap lidah : Ditengah
kanan kiri • Menoleh : +/+ • Atrofi : -
• Palatum molle : Intak • Fasikulasi : -
• Uvula : Ditengah • Tremor : -
• Disartria : - • Julur lidah : Ditengah,
• Disfagia : - tidak ada deviasi
• Disfonia : - • Tenaga otot lidah : Baik
• Refleks okulokardiak : / Baik
tidak dilakukan
• Refleks sinus caroticus :
tidak dilakukan
Derajat kekuatan otot :
Kanan Kiri Tonus otot :
5555 5555 Normotonus
5555 5555

Motorik

Trofi otot : Gerakan spontan


Eutrofi abnormal : -
REFLEKS

Fisiologis Patologis

• Biceps ++/++ • Babinski -/-


• Triceps ++/++ • Chaddock -/-
• KPR ++/++ • Gordon -/-
• APR ++/++ • Gonda -/-
• radialis ++/++ • Oppenheim -/-
• ulnaris ++/++ • Schaefer -/-
• plantaris ++/++ • Rossolimo -/-
• Mendel bechtrew -/-
• Hoffman trommer -/-
• Klonus lutut -/-
• Klonus kaki -/-
Koordinasi Sensibilitas Vegetatif Fungsi Luhur

• Statis • Eksteroseptif • Miksi : baik • Memori : baik


• Duduk : tidak • Rasa Raba : • Defekasi : baik • Bahasa : dapat
dilakukan +/+ dimengerti
• Berdiri : tidak • Rasa Nyeri : • Kognitif : baik
dilakukan +/+ • Afek dan Emosi :
• Berjalan : tidak • Rasa Suhu : serasi
dilakukan +/+ • Visuospasial :
• Test Romberg : • Propioseptif baik
tidak dilakukan • Rasa Getar :
• Test Romberg +/+
Dipertajam : • Rasa Sikap :
tidak dilakukan +/+
• Dinamis
• Telunjuk
telunjuk : Baik
• Telunjuk
hidung : Baik
• Tumit lutut :
Baik
Pemeriksaan Penunjang
Kesan : Vertigo
: Pemeriksaan H2TL
vestibularis tipe perifer
dan GDS

Hasil Laboratorium Terapi


• Hemoglobin 13,3 • IVFD NS 0,9% 1 kolf/24
• Leukosit 4,3 ribu jam
• Hematokrit 39,2% • Diet biasa
• Trombosit 371 ribu • Mm/
• Gula darah sewaktu 76 • Ondancentron inj 2x8mg
(IV)
• Stugeron tab 2x25mg (PO)
• Betaserc 2x24mg (PO)
FOLLOW UP
Follow Up Tanggal 20 Maret 2017 (PH 1)

S O A P
Pusing KU : TSS GCS : E4M6V5 Nadi : 80x/menit Suhu : 36,6o C Dx Klinis : IIVFD NS 0,9% 1
Kes : CM TD : 90/60mmHg RR : 19x/menit
berputar sudah Vertigo kolf/24 jam
berkurang, N. Cranialis Perifer Diet biasa
N. VIII (Vestibulo-kokhlearis)
mual (+) -Nistagmus : -/-
Terapi Brand-Darrof
berkurang, -Vertigo : + Dx Topis : 1 kali kiri-kanan
muntah (-), -Suara berbisik : +/+ Sistem Mm/
-Gesekan jari : +/+
kuping -Tes rinne : +/+ Vestibular Ondancentron inj
berdenging (+) -Tes weber : tidak ada lateralisasi Sinistra 2x8mg (IV)
-Tes swabach : swabach pada telinga kiri memanjang
Stugeron tab 2x25mg
Motorik Dx Etiologi : (PO)
Derajat kekuatan otot : Kanan Kiri Tonus : Normotonus Vertigo Betaserc 2x24mg
5555 5555 Trofi : Eutrofi
5555 5555 Gerakan spontan abnormal : - Vestibularis (PO)
Tipe Perifer
Refleks
Fisiologis :
ec BPPV
Biceps ++/++ Triceps ++/++ DD/
KPR ++/++ APR ++/++ Meniere
Patologis
Babinski -/- Chaddock -/- Gordon -/- Gonda -/- Disease
Oppenheim -/- Schaefer -/- Rossolimo -/- Mendel bechtrew -/-
Hoffman trommer -/-- Klonus lutut -/- Klonus kaki -/-

Koordinasi :
Statis
Duduk : + Dinamis
Berdiri : + Telunjuk telunjuk : +
Test Romberg : - Tumit lutut : +
Test Romberg Dipertajam : - Telunjuk hidung : +
Steping test : tidak dpt dilakukan
Follow Up Tanggal 20 Maret 2017 (PH 2)

S O A P
Pusing KU : TSS GCS : E4M6V5 Nadi : 80x/menit Suhu : 36,6o C Dx Klinis : IVFD NS 0,9% 1
Kes : CM TD : 90/60mmHg RR : 19x/menit
berputar (-), - kolf/24 jam
mual (-), N. Cranialis Diet biasa
N. VIII (Vestibulo-kokhlearis)
muntah (-), -Nistagmus : -/-
Dx Topis : Edukasi Brand-
kuping -Vertigo : - - Darrof
berdenging (-) -Suara berbisik : +/+ Mm/
-Gesekan jari : +/+
-Tes rinne : +/+ Dx Etiologi : Stugeron tab 2x25mg
-Tes weber : tidak ada lateralisasi BPPV (PO)
-Tes swabach : swabach pada telinga kiri memanjang
Betaserc 2x24mg
Motorik (PO)
Derajat kekuatan otot : Kanan Kiri Tonus : Normotonus
5555 5555 Trofi : Eutrofi
5555 5555 Gerakan spontan abnormal : -

Refleks
Fisiologis :
Biceps ++/++ Triceps ++/++
KPR ++/++ APR ++/++
Patologis
Babinski -/- Chaddock -/- Gordon -/- Gonda -/-
Oppenheim -/- Schaefer -/- Rossolimo -/- Mendel bechtrew -/-
Hoffman trommer -/-- Klonus lutut -/- Klonus kaki -/-

Koordinasi :
Statis
Duduk : + Dinamis
Berdiri : + Telunjuk telunjuk : +
Test Romberg : - Tumit lutut : +
Test Romberg Dipertajam : - Telunjuk hidung : +
Steping test : baik