Anda di halaman 1dari 69

ASUHAN KEPERAWATAN RESIKO

BUNUH DIRI

Shania Hasina Sidiki 1710711023


Fiqih Nuraida 1710711033
Nurul Fatihah Auliani 1710711076
Niasa Lora Rimar 1710711130
2

Pengertian Bunuh Diri


• Perilaku merusak diri yang langsung dan disengaja untuk mengakhiri kehidupan
(Herdman, 2012).
• Bunuh diri sebagai tindakan membunuh diri sendiri (WHO).
• Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terakhir untuk dari individu untuk memecahkan
masalah yang sedang dihadapinya (Captain, 2008). ── Keliat 1991:4

Tindakan yang sengaja dilakukan untuk mengakhiri kehidupan sebagai keputusan terakhir
dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.”

Pengertian Resiko Bunuh Diri


 Risiko individu untuk menyakiti diri sendiri, mencederai diri, serta
mengancam jiwa. (Nanda, 2012)
 Resiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat
mengancam kehidupan. (Stuart, 2006)

“Resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat mengancam kehidupan.”


3

Etiologi

Faktor Genetik

Faktor Biologis

Stressor Lingkungan
Faktor Psikososial dan Lingkungan

Sifat Kepribadian
4

Rentang Respon Protektif Diri


5

“ Peningkatan Diri

Seseorang yang mempunyai pengharapan, keyakinan dan kesadaran diri


meningkat.
6

“ Pengambilan Risiko

Posisi pada rentang yang masih normal dialami oleh seseorang yang sedang
dalam perkembangan perilaku.
7

“ Destruktif diri tak langsung

Pengambilan sikap yang kurang tepat terhadap pemertahanan diri. Perilaku


ini dapat mengarah kepada kematian (merusak, mengebut, berjudi, tindakan
kriminal, penyalahgunaan zat dan perilaku menyimpang sosial lainnya.
8

“ Pencederaan Diri

Tindakan yang membahayakan diri sendiri dan dilakukan dengan sengaja tanpa
bantuan orang lain dan cedera tersebut cukup parah untuk melukai tubuh.
9

“ Bunuh Diri

Tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri untuk mengakhiri


kehidupan
Faktor Risiko
Menurut SIRS (Suicidal Intention Rating Scale)

• Skor 0 : Tidak ada ide bunuh diri yang lalu dan


sekarang.
• Skor 1 : Ada ide bunuh diri, tidak ada percobaan
bunuh diri, tidak mengancam bunuh diri.
• Skor 2 : Memikirkan bunuh diri dengan aktif,
tidak ada percobaan bunuh diri.
• Skor 3 : Mengancam bunuh diri, misalnya,
“Tinggalkan saya sendiri atau saya bunuh diri”.
Menurut Stuart dan Sundeen
Faktor Perilaku
1. Ketidakpatuhan
2. Pencederaan diri
3. Perilaku bunuh diri
• Ancaman bunuh diri
• Upaya bunuh diri
• Bunuh diri
Faktor lain
(Stuart dan Sundeen, 1995).
• Pengkajian lingkungan upaya bunuh diri.
• Presipitasi peristiwa kehidupan yang
menghina/menyakitkan.
• Tindakan persiapan/metode yang dibutuhkan, mengatur
rencana, membicarakan tentang bunuh diri, memberikan
barang berharga sebagai hadiah, catatan untuk bunuh
diri.
• Penggunaan cara kekerasan atau obat/racun yang lebih
mematikan.
Petunjuk gejala

• Keputusasaan
• Celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal, dan
tidak berharga.
• Alam perasaan depresi.
• Agitasi dan gelisah.
• Insomnia yang menetap.
• Penurunan berat badan.
Penyakit psikiatrik

• Upaya bunuh diri sebelumnya.


• Kelainan afektif.
• Alkoholisme dan atau penyalahgunaan obat.
• Kelainan tindakan dan depresi pada remaja.
• Demensia dini dan status kekacauan mental pada
lansia.
• Kombinasi dari kondisi di atas.
Riwayat psikososial

• Baru berpisah, bercerai, atau kehilangan.


• Hidup sendiri.
• Tidak bekerja, perubahan, atau kehilangan
pekerjaan yang baru dialami.
• Stres kehidupan ganda (pindah, kehilangan,
putus hubungan yang berarti, masalah sekolah,
ancaman terhadap krisis disiplin).
• Penyakit medis kronis.
Faktor-faktor kepribadian

• Impulsif, agresif, rasa bermusuhan.


• Kekakuan kognitif dan negatif.
• Keputusasaan.
• Harga diri rendah.
• Batasan atau gangguan kepribadian antisosial.
Riwayat keluarga

• Riwayat keluarga berperilaku bunuh diri.


• Riwayat keluarga gangguan afektif, alkoholisme,
atau keduanya
Faktor Predisposisi
(Townsend, 2009)
o Faktor Biologis
• Meliputi faktor genetik dan faktor neurokimia.
o Faktor psikologis
• Kemarahan
• Keputusasaan dan rasa bersalah
• Riwayat agresi dan kekerasan
• Rasa malu dan terhina
• Stressor
o Faktor Sosial Budaya
Faktor Presipitasi

• Kehilangan hubungan interpersonal atau gagal


melakukan hubungan yang berarti
• Kegagalan beradaptasi, sehingga tidak dapat
menghadapi stress
• Perasaan marah atau bermusuhan di mana bunuh
diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri
• Cara untuk mengahkiri keputusasaan
Penilaian stressor / tanda dan
gejala
Data subjektif
• Klien mengungkapkan tentang:
• Merasa hidupnya tak berguna lagi
• Ingin mati
• Pernah mencoba bunuh diri
• Mengancam bunuh diri
• Merasa bersalah, sedih, marah, putus asa, tidak berdaya
Data Objektif
• Ekspresi murung
• Tak bergairah
• Banyak diam
• Ada bekas percobaan bunuh diri
Tandagejala risiko bunuh diridapatditemukanmelaluiwawancaradengan
pertanyaansebagaiberikut:
• Tanda gejala risiko bunuh diri dapat ditemukan melalui wawancara
dengan pertanyaan sebagai berikut:
• Bagaimana perasaan klien saat ini?
• Bagaimana penilaian klien terhadap dirinya?
• Apakah klien mempunyai pikiran ingin mati?
• Berapa sering muncul pikiran ingin mati?
• Kapan terakhir berpikir ingin mati?
• Apakah klien pernah mncoba melakukan percobaan bunuh diri? Sudah
berapa kali? Kapan terakhir melakukannya? Dengan apa klien
melakukan percobaan bunuh diri? Apa yang menyebabkan klien ingin
melakukan percobaan bunuh diri?
• Apakah saat ini masih terpikir untuk melakukan perilaku bunuh diri?
Sumber koping
• Tingkah laku bunuh diri biasanya berhubungan dengan faktor
sosial dan kultural. Durkheim membuat urutan tentang
tingkah laku bunuh diri. Ada tiga subkategori bunuh diri
berdasarkan motivasi seseorang, yaitu sebagai berikut.
• Bunuh diri egoistik Akibat seseorang yang mempunyai
hubungan sosial yang buruk.
• Bunuh diri altruistik Akibat kepatuhan pada adat dan
kebiasaan.
• Bunuh diri anomik Akibat lingkungan tidak dapat memberikan
kenyamanan bagi individu.
Mekanisme koping

• Mekanisme pertahanan ego yang berhubungan


dengan perilaku pengerusakan diri tak langsung
adalah pengingkaran (denial). Sementara,
mekanisme koping yang paling menonjol adalah
rasionalisasi, intelektualisasi, dan regresi.
Analisis Kasus
Kasus Resiko Bunuh Diri
seorang laki-laki usia 37 tahun dibawa keluarganya ke poli psikiatri RSJ.
Keluarga mengatakan pasien pernah melakukan upaya bunuh diri, pasien cerai dengan
istrinya 1 tahun lalu dan berpisah dengan anaknya, anak dan semua harta miliknya dibawa
oleh istrinya, keluarga mengatakan salah satu kakaknya ada yang mengalami gangguan
jiwa serta 1 bulan yang lalu klien di PHK dan keluarga tidak ada yang peduli. Setelah di-
PHK, teman kerja klien banyak yang menjauhinya serta tetangga banyak yang mencibirnya.
Pasien mengatakan bahwa kini hidupnya sudah tidak berguna lagi, ia merasa malu dan
putus asa dengan keluarganya dan para tetangga yang suka mencibirnya, sehingga ia
berfikir ingin mati saja agar semua masalah dapat terselesaikan. Saat dilakukan
pengkajian, pasien terlihat murung, gelisah, banyak diam dan ditemukan bekas goresan
luka pada pergelangan kiri klien. Pasien dirawat menggunakan BPJS.
• TD : 140/100 mmHg
• Nadi : 108 kali/mnt
• Suhu : 37 derajat
• RR : 27 kali/mnt
Faktor risiko
Menurut Stuart dan Sundeen (1987)
Faktor risiko Berdasarkan kasus
Umur 37 tahun
Jenis kelamin Laki-laki
Status perkawinan Cerai
pekerjaan Di PHK
Penyakit kronis -
Gangguan mental salah satu kakaknya ada yang
mengalami gangguan jiwa dann pernah
melakukan upaya bunuh diri
• Menurut SIRS (Suicidal Intention Rating Scale)
Pasien berada pada skor 3 karena pernah
melakukan percobaan bunuh diri
Faktor Perilaku
Kategori Bunuh Diri Penyakit Riwayat psikososial Riwayat keluarga
psikiatrik

• upaya bunuh diri • Upaya bunuh • Baru berpisah, bercerai, atau • Riwayat keluarga
diri kehilangan. berperilaku bunuh
sebelumnya. • Hidup sendiri. diri.
• Tidak bekerja, perubahan,
atau kehilangan pekerjaan
yang baru dialami.
• Stres kehidupan ganda
(pindah, kehilangan, putus
hubungan yang berarti,
masalah sekolah, ancaman
terhadap krisis disiplin).
• Keputusasaan.
• Harga diri rendah.
Pengkajian Keperawatan
o Faktor Predisposisi
a. Faktor Biologis
• Salah satu kakaknya mengalami gangguan jiwa
b. Faktor Psikologis
• Stressor: 1 tahun lalu klien bercerai dengan istrinya
lalu anak dan seluruh hartanya dibawa oleh istrinya
c. Faktor Sosial Budaya
• Bunuh diri anomik: perceraian
o Faktor Presipitasi
• Satu bulan yang lalu klien di PHK
• Klien dijauhi oleh teman kerjanya setelah
di PHK
• Keluarganya tidak ada yang
memperdulikannya
• Klien dicibir oleh tetangganya
o Penilaian stressor/tanda
gejala
• Kognitif : Klien berpikir ingin bunuh diri saja
• Afektif : pasien merasa bersalah, tidak berdaya,
gelisah dan putus asa
• Fisiologis : TD 140/100 mmHg, Nadi 108 kali/mnt,
Suhu 37 derajat, RR 27 kali/mnt
• Perilaku : Banyak diam, murung, gelisah dan tidak
bergairah untuk bicara
• Sosial : klien tidak mau berkomunikasi dengan
orang lain
o Sumber Koping
• Personal Ability : -
• Sosial Support : pasien dibawa
keluarganya ke poli psikiatri RSJ
• Material Asset : klien berobat
menggunakan BPJS
• Positif Belief : -
o Mekanisme Koping
• Berdasarkan kasus tersebut klien
menggunakan mekanisme koping berfokus
pada ego dikarenakan klien pernah
melakukan upaya bunuh diri
Asuhan Keperawatan
Risiko Bunuh Diri
SHANIA HASINA SIDIKI
1710711023
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan utama Nanda Internasional berhubungan dengan respon
maladaptif dalam melindungi diri yaitu :
risiko bunuh diri
mutilasi diri
Ketidakpatuhan
risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri.
Pohon Masalah
Resiko Cedera

Resiko Bunuh Diri

HDR
Analisa Data
Data fokus Masalah Etiologi
DS : Risiko bunuh diri
 Keluarga mengatakan pasien pernah melakukan upaya bunuh
diri
 Keluarga mengatakan pasien cerai dengan istrinya 1 tahun lalu
dan berpisah dengan anaknya
 Keluarga mengatakan anak dan semua hartanya dibawa oleh
istrinya
 Keluarga mengatakan salah satu kakaknya ada yang
mengalami gangguan jiwa
 Klien mengatakan 1 bulan lalu pasien di PHK
 Pasien mengatakan teman kerjanya menjauhinya setelah di
PHK dan tetangga banyak yang mencibirnya
 Pasien mengatakan bahwa kini hidupnya sudah tidak berguna
lagi
 Pasien mengatakan malu dan putus asa dengan keluarganya
 Pasien mengatakan ingin mati saja agar semua masalah dapat
terselesaikan

DO :
 Keluarga pasien tidak peduli
 Pasien terlihat murung
 Pasien terlihat gelisah
 Ada goresan luka pada pergelangan tangan kiri pasien
DS : Harga Diri Rendah
 Klien mengatakan 1 bulan lalu pasien di PHK
 Pasien mengatakan teman kerjanya menjauhinya setelah di PHK
dan tetangga banyak yang mencibirnya
 Pasien mengatakan bahwa kini hidupnya sudah tidak berguna lagi
 Pasien mengatakan malu dan putus asa dengan keluarganya
DO :
 Pasien terlihat murung
 Pasien terlihat gelisah
DS : Keputusasaan
 Pasien mengatakan bahwa kini hidupnya sudah tidak berguna lagi
 Pasien mengatakan malu dan putus asa dengan keluarganya
 Pasien mengatakan ingin mati saja agar semua masalah dapat
terselesaikan
DO :
 Pasien terlihat murung
 Pasien terlihat gelisah
 Ada goresan luka pada pergelangan tangan kiri pasien
Pohon Masalah
Resiko Cedera

Resiko Bunuh Diri

Keputusasaan

HDR
Intervensi
Dx Perencanaan
Keperawata Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional
n
Risiko TUM: Pasien menunjukan 1. Bina hubungan saling percaya Kepercayaan
bunuh diri : tanda-tanda percaya dengan menggunakan prinsip dari pasien
Pasien tidak
ancaman/p kepada perawat melalui : komunikasi terapeutik : merupakan hal
mencederai
ercobaan a. Ekspresi wajah a. Mengucapkan salam terapetik. yang akan
dirinya sendiri
bunuh diri cerah, tersenyum Sapa pasien dengan ramah, memudahkan
atau tidak
b. Mau berkenalan baik verbal ataupun non verbal perawat dalam
melakukan bunuh
c. Ada kontak mata b. Berjabat tangan dengan pasien melakukan
diri.
d. Bersedia c. Perkenalkan diri dengan sopan pendekatan
Tuk 1 : menceritakan d. Tanyakan nama lengkap pasien keperawatan
Pasien dapat perasaannya dan nama panggilan yang atau intervensi
membina e. Bersedia disukai pasien selanjutnya
hubungan saling mengungkapkan e. Jelaskan tujuan pertemuan terhadap
percaya masalah f. Membuat kontrak topik, waktu pasien
dan tempat setiap bertemu
pasien
g. Tunjukkan sikap empati dan
menerima pasien apa adanya
h. Beri perhatian kepada pasien
dan perhatan kebutuhan dasar
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi

TUK 2 : Kriteria Evaluasi :  Menemani pasien terus-menerus sampai dia dapat


Pasien tetap aman Pasien tetap aman, dipindahkan ke tempat yang aman
dan terlindungi terlindungi, dan selamat  Menjauhkan semua benda-benda yang berbahaya atau
berpotensi membahayakan pasien (misalnya : pisau,
silet,kaca,gelas,ikat pinggang)
 Mendapatkan orang yang dapat segera membawa pasien ke
rumah sakit untuk pengkajian lebih lanjut dan kemungkinan
dirawat
 Memeriksa apakah pasien benar-benar telah meminum
obatnya, jika pasien mendapatkan obat
 Dengan lembut menjelaskan kepada pasien bahwa anda
(perawat) akan melindungi pasien sampai tidak ada keinginan
bunuh diri
Pasien Keluarga
Resiko Bunuh diri SP I SP I
1. Mengidentifikasi benda-benda yang 1. Mendiskusikan masalah yang
dapat membahayakan pasien dirasakan keluarga dalam
2. Mengamankan benda-benda yang merawat pasien
dapat membahayakan pasien 2. Menjelaskan pengertian, tanda
3. Melakukan kontrak treatment dan gejala risiko bunuh diri dan
4. Mengajarkan cara mengendalikan jenis perilaku bunuh diri yang
dorongan bunuh diri dialami pasien beserta proses
5. Melatih cara mengendalikan terjadinya
dorongan bunuh diri 3. Menjelaskan cara-cara merawat
pasien risiko bunuh diri
SP II
1. Mengidentifikasi aspek positif klien SP II
2. Mendorong pasien untuk berfikir 1. Melatih keluarga
positif terhadap diri mempraktekan cara merawat
3. Mendorong pasien untuk pasien dengan risiko bunuh diri
menghargai diri sebagai individu 2. Melatih keluarga melakukan
yang berharga cara merawat langsung kepada
pasien risiko bunuh diri
Pasien Keluarga
Resiko Bunuh diri SP III SP III
1. Mengidentifikasi pola koping yang 1. Membantu keluarga membuat
biasa diterapkan pasien jadwal aktivitas di rumah
2. Menilai pola koping yang biasa termasuk minum obat
dilakukan 2. Mendiskusikan sumber rujukan
3. Mengidentifikasi pola koping yang yang bisa dijangkau keluarga
konstruktif
4. Mendorong pasien memilih pola
koping yang konstruktif
5. Menganjurkan pasien menerapkan
pola koping konstruktif dalam
kegiatan harian

SP IV
1. Membuat rencana masa depan
yang realistis bersama pasien
2. Mengidentifikasi cara mencapai
rencana masa depan yang realistis
3. Memberi dorongan pasien
melakukan kegiatan dalam rangka
meraih masa depan yang realistis
Terapi Aktivitas
Kelompok
Resiko Bunuh Diri

Niasa Lora Rimar 1710711130


– Kelompok adalam kumpulan individu yang memiliki hubungan satu
dengan yang lain, saling bergantung dan memiliki norma yang sama
(Stuart & Laraia, 2001)
– Anggota kelompok mungkin dating dari berbagai latar belakang yang
harus ditangani sesuai dengan keadaannya, seperti agresif,
ketakutan, kebencian, memiliki kesamaan, memiliki perbedaan
(Yalom, 1995 dalam Stuart & Laraia, 2001)
Tujuan dan Fungsi Kelompok
– Tujuan kelompok adalah membantu anggotanya berhubungan
dengan orang lain serta mengubah perilaku yang destruktif dan
maladaptive.
– Kelompok berfungsi sebagai tempat berbagi pengalaman dan
saling membantu satu sama lain, untuk menemukan cara
menyelesaikan masalah.
Strukturkelompok Komponen
Besarkelompok
Kelompok
Kecil
Lamanyasesi

Komunikasi

Perankelompok

Kekuatankelompok

Normakelompok

Kohesi
Fase - Fase Perkembangan Kelompok Kecil
Fase Fase Pengertian Aktivitas Tugas Aktivitas Interpersonal
Yalom Tuckman
Orientasi Pembentukan Anggota kelompok Mengidentifikasi tugas & Hubungan diuji, batas
(Forming) memerhatikan orientasi. batas-batas yang berkaitan interpersonal; hubungan
dengan tugas. tergantung dengan
pemimpin
Konflik Kekacauan Anggota kelompok menolak Merespons secara Konflik antara kelompok.
(Storming) tugas dan berpengaruh pada emosional terhadap tugas.
kelompok.
Kohesif Penentuan Resistensi terhadap Mengekspresikan Peran baru diadopsi;
norma/aturan kelompok diatasi oleh pendapat pribadi tentang standar baru berkembang
(norming) anggota tugas. dalam kelompok
Kerja Pelaksanaan Pemecah masalah secara Mengarahkan energi Struktur interpersonal
(performing) kreatif; solusi mulai muncul kelompok terhadap kelompok menjadi alat
penyelesaian tugas. untuk mencapai tugasnya;
peran menjadi fleksibel dan
fungsional.
Terapi aktivitas kelompok dibagi sesuai dengan kebutuhan yaitu,
stimulasi persepsi, stimulasi sensori, orientasi realita, dan sosialisasi.
Lancaster mengemukan beberapa aktivitas yang digunakan pada TAK
yaitu menggambar, membaca puisi, mendengarkan musik,
mempersiapkan meja makan dan kegiatan sehari-hari yang lain. Wilson
dan Kneils (1992) menyatakan bahwa TAK adalah manual, rekreasi, dan
teknik kreatif untuk memfasilitasi pengalaman seorang serta
meningkatkan respons sosial dan harga diri. Aktivitas yang digunakan
sebagai terapi di dalam kelompok yaitu membaca puisi, seni, musik,
menari, dan literatur. Oleh sebab itu, akan diuraikan kombinasi
keduanya menjadi terapi aktivitas kelompok.

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK


No. Tujuan Tipe Aktivitas
1. Mengembangkan Bibliotherapy Menggunakan artikel, buku, sajak, puisi, surat kabar untuk
stimulasi persepsi. merangsang atau menstimulasi berpikir dan mengembangkan
hubungan dengan orang lain.
Stimulus dapat berbagai hal yang tujuannya melatih persepsi.
2. Mengembangkan Musik, seni, Menyediakan kegiatan mengekspresikan perasaan.
stimulasi sensoris. menari. Belajar teknik relaksasi dengan cara napas dalam, relaksasi otot,
Relaksasi imajinasi.
3. Mengembangkan Kelompok Fokus pada orientasi waktu, tempat, dan orang; benar dan salah;
orientasi realitas. orientasi realitas, bantu memenuhi kebutuhan.
kelompok validasi.
4. Mengembangkan Kelompok Mengorientasikan diri dan regresi pada klien menarik realitas dalam
sosialisasi. remotivasi berinteraksi atau sosialisasi.
Kelompok Fokus pada mengingat.
mengingatkan

TUJUAN, TIPE, DAN AKTIVITAS DARI


TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
TAK 1
Stimulasi persepsi : Pencegahan Bunuh Diri
Mencegah Keinginan untuk Bunuh Diri

Tujuan :
i. Klien dapat mengendalikan saat ada keinginan
atau dorongan untuk bunuh diri.
ii. Klien dapat mengekspresikan perasaannya

No. Aspek yang Dinilai Tanggal


1. Menyebutkan cara mengamankan
benda- benda berbahaya.
2. Menyebutkan cara mengendalikan
dorongan bunuh diri.
3. Menyebutkan koping konstruktif
untuk mengatasi masalah

56
TAK 2
Stimulasi persepsi : Pencegahan Bunuh Diri
Meningkatkan Harga Diri Klien

Tujuan.
i. Klien dapat mengidentifikasi pengalaman yang tidak
menyenangkan.
ii. Klien dapat mengidentifikasi hal positif pada dirinya

No. Kemampuan Tanggal


1 Menyebutkan aspek positif diri
2 Menulis hal positif diri sendiri

57
TAK 3
Stimulasi persepsi : Pencegahan Bunuh Diri
Menggunakan mekanisme koping yang adaptif
Tujuan :
i. Klien dapat mengenali hal-hal yang ia sayangi.
ii. Klien dapat menggunakan mekanisme koping yang adaptif.
iii. Klien dapat merencanakan dan menetapkan masa depan yang realistis
No. Aspek yang Dinilai Nama Peserta
1. Menyebutkan orang yang paling dicintai dan disayangi.

2. Memilih orang yang paling dekat dan dipercaya.


3. Menyebutkan cara menggunakan koping yang adaptif
4. Menuliskan tujuan hidup (masa depan).
5. Membaca tujuan hidup (masa depan)
6. Memilih tujuan hidup (masa depan) yang realistis. 58
59

Lampiran Jurnal
Judul : Peran Spiritualitas dalam Mempengaruhi Resiko Perilaku Bunuh Diri; A Literature Review
Penulis : Wulida Litaqia & Iman Permana
Tahun : 2019
Metode : Mengumpulkan data pustaka, membaca, mencatat dan mengelola sumber yang didapat
menjadi sebuah tulisan. Penggunaan data dalam penulisan literature review ini berasal
dari konsep-konsep teori penelitian yang diteliti. Pengumpulan data dilakukan dengan
menyaring 159.320 sumber literatur menjadi 14 literatur terkait yang menjadi
pembahasan dalam penulisan literature review.

Hasil dan Pembahasan :


Ditemukan beberapa ide yang terkait dengan perilaku bunuh diri.
Beberapa ide/ tema tersebut diantaranya adalah faktor-faktor yang
menyebabkan ide bunuh diri, pengalaman bunuh diri dari orang terdekat,
dukungan ahli agama terhadap resiko bunuh diri, serta intervensi psiko-
religius.
60

× “ Simpulan
Dukungan agama dapat menghambat individu yang memiliki ide
bunuh diri dan meningkatkan harapan hidup mereka yang
kompleks antara agama dan depresi ini.
× Aspek keagamaan ini dimaksudkan juga untuk menanggulagi
masalah kesehatan mental lain yang tidak diinginkan.
× Analisis ini menunjukkan bahwa aspek keagamaan adalah salah
satu aspek yang sangat perlu diperhatikan dan diperlukan
implementasi khusus terkait hal ini dalam mengatasi depresi yang
berakibat resiko perilaku bunuh diri pada individu.
Judul Jurnal :
Penyuluhan dan Pendampingan pada Korban Selamat Percoban
Bunuh Diri di Gunung Kidul
Nama Penulis :
Fatwa Tentama, Surahma Asti Mulasari, Tri Wahyuni Sukesi,
Sulistyawati
Tempat :
Desa Karangwungu Kecamatan Tepus, Gunung Kidul
Metode Penelitian:
Metode yang diterapkan dalam program kegiatan pengabdian
masyarakat ini adalah penyuluhan dan pendampingan. Penyuluhan
dilakukan dengan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab.
Pendampingan dilakukan dengan metode konseling dan wawancara
mendalam pada korban..
Hasil & Pembahasan:
Salah satu solusi peredaman bunuh diri adalah dengan menggunakan terapi
pendampingan psikososial atau terapi pendampingan berbasis keluarga (Firestone,
2007). Sehingga selain memberikan penyuluhan kesehatan, pengabdi juga melakukan
pendampingan kepada korban selamat bunuh diri. Kegiatan pendampingan dilakukan
untuk meyakinkan korban agar dapat menyadari keberadaan diri dan makna hidupnya,
mengetahui peran dan fungsinya di tengah lingkungan sosial, serta menyadari
potensipotensi diri yang dimilikinya untuk dikembangkan. Pendampingan tidak hanya
untuk memulihkan kesehatan jiwa namun juga kesehatan rohani korban. Terapi yang
terbaik bagi keresahan adalah keimanan kepada Tuhan (Razak et.al, 2013). Sebuah
penelitian menyebutkan bahwa terapi spiritual dan religius efektif mengatasi persoalan
persoalan gangguan mental seperti kecemasan schizophrenia, dan depresi (Hook et.al,
2010). Pada kegiatan pendampingan, korban diajarkan untuk mengambil hikmah dari
setiap kejadian, meningkatkan iman dan berserah diri kepada yang Maha Kuasa.
Sehingga korban akan mendapatkan keikhlasan dan kesabaran dalam menghadapi
cobaan serta semangat dalam menjalankan kehidupan.
Kesimpulan:
Melalui kegiatan penyuluhan telah diberikan edukasi kepada
korban, keluarga dan masyarakat di gunung kidul tentang upaya-
upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan jiwa
bagi korban, keluarga dan masyarakat. Hal yang dapat dilakukan
untuk mencegah terjadinya kasus bunuh diri yaitu membantu orang
orang yang mengalami depresi untuk sembuh dan keluar dari
depresinya. Penguatan dari sisi religi sangat diperlukan untuk
menguatkan penderita depresi agar segera keluar dari depresinya
Lampiran Jurnal
Judul : Dinamika Psikologis Pada Pelaku Percobaan Bunuh diri
Penulis : Luluk Mukarromah,Fathul Lubabin Nuqul
Tahun : 2014
Metode :
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari
dua orang perempuan berusia 22 tahun dengan kriteria pernah melakukan percobaan bunuh.
Hasil dan Pembahasan :
Berdasarkan hasil wawancara dan asesmen psikologis menunjukkan bahwa pelaku percobaan bunuh diri
melakukan tindakannya disebabkan adanya rasa kehilangan, selain itu juga dilakukan sebagai sarana untuk
mengungkapkan emosi-emosi negatif pada orang lain yang dirasakannya.Hal ini terjadi karena ego yang lemah,
sehingga pelaku cenderung tidak bisa membentengi diri dan gagal membelokkan agresi pada objek di luar dirinya.
Ego ini dibentuk oleh keluarga dan lingkungan sosialnya.
Kesimpulan :
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa percobaan bunuh diri ditakukan
karena adanya emosi negatif karena emosi-emosi negatif yang dirasakannya. Hal ini terjadi
karena ego yang lemah, gagal membelokkan agresi pada objek diluar dirinya. Ego ini dibentuk
oleh keluarga dan lingkungan sosialnya, percobaan bunuh diri merupakan jalan keluar dari
masalah yang dihadapi, percobaan bunuh diri juga dianggap sebagai suatu cara untuk mengubah
realitas yang terjadi, Pengambilan keputusan dalam bunuh diri cenderung menggunakan
pendekatan heuristis, yang bersifat tidak sistematis dan cepat, hal ini juga dipengaruhi oleh
depresi yang dialami, depresi disini ditandai oleh tiga hal yang kemudian membentuk skema
kongnitif yang bersifat negatif. Tiga hal ini meliputi pandangan negatif pada diri dan masa depan,
adanya pengulangan ide bunuh diri dan pikiran ambivalen, dan distorsi kognitif yang membuat
seseorang tidak bisa berpikir mengenai solusi lain yang lebih baik.
Judul : Perilaku Bunuh Diri pada Klien Terapi Metadon Di PTPM Sandat
RSUP Sanglah
Penulis : Cok Istri Sadwitri Pemayun, Ni Ketut Sri Diniari
Tahun : 2017
Tujuan : Mengetahui jumlah perilaku bunuh diri serta distribusinya
berdasarkan waktu kejadian dan lama terapi yang dijalani.
Desain Penelitian : cross-sectional descriptive
Hasil dan Pembahasan
1. Perilaku bunuh diri pada klien PTRM Sandat RSUP Sanglah hanya berkisar 40% yang
mana 28,6% untuk ide atau pikiran bunuh diri dan 11,4% untuk yang telah melakukan
percobaan bunuh diri.
2. Perilaku bunuh diri yang paling banyak terjadi saat sebelum terapi dibandingkan setelah
mendapatkan terapi. Selain itu sebagian besar (60%) tidak ada perilaku bunuh diri.
3. Distribusi perilaku bunuh diri sebagian besar terdapat pada kelompok umur 31-40 tahun,
yang telah menikah maupun belum menikah, memiliki pekerjaan, pendidikan terakhir
SMA, dan telah menjalani terapi metadon lebih dari setahun.
4. Sisanya merupakan distribusi subjek yang tidak memiliki perilaku bunuh diri.
69

Referensi

Keliat, Budi Anna., Pawirowiyono, Akemat. 2014. Model Praktik


Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Gail W. Stuart. 2016. Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan
Jiwa Stuart. Singapore: ElSevier
Sutejo. 2019. Konsep dan Praktik Asuhan Keperswatan Jiwa:
Gangguan Jiwa dan Psikososial. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.