Anda di halaman 1dari 37

Abortus Inkomplit

dr. Yuritsa Sasti Pradita


IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. S
Usia : 50 thn
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Tamansari
persada 3/15
cibadak
Tanggal masuk : 16 Oktober 2019
Tanggal periksa : 17 Oktober 2019

2
ANAMNESIS
Keluhan Utama
Perdarahan dari jalan
RPS
lahir RPS
Pasien datang dengan
keluhan perdarahan dari
jalan lahir sejak 6 hari Pasien mengaku sudah
yang lalu hingga saat ini, tidak haid selama 2 bulan,
keluar flek dari 2 hri yang namun pasien tidak
lalu disertai gumpalan mengetahui dirinya hamil
darah, seperti jaringan. atau tidak.
selain itu pasien juga
mengeluh perut terasa
mulas.

3
ANAMNESIS
RPD
Riwayat Ginekologi :
Pasien mengaku pernah mengalami
keguguran sebanyak 1x. Pasien Menarche : 14 tahun
menyangkal adanya riwayat hipertensi, Lama Haid : 6-7 hari
asma, jantung dan alergi baik sebelum
maupun setelah kehamilan. Pasien juga Siklus Haid : 28 hari
menyangkal adanya riwayat operasi HPHT : 25-7-2019
sebelumnya.

Riwayat penggunaan kontrasepsi


Pernikahan pertama tahun 1995 sampai
Pasien menggunakan KB kondom ±1/2 saat ini.
tahun, berhenti bulan agustus dan ganti
dengan pil KB mulai bulan september.

4
ANAMNESIS
RIWAYAT OBSTETRI

No Tahun Partus Tempat Umur Jenis Penolong Penyulit Keadaan


Partus Kehamilan Persalinan Persalinan Anak Sek.

1 1998 BPM Aterm Spontan Bidan - Sehat

2 2000 Abortus

3 2001 RS Aterm Spontan Dokter - Sehat

4 2008 Rumah Aterm Spontan Bidan - Sehat

5 Hamil saat ini

5
ANAMNESIS

Riwayat penyakit
hipertensi,
Jantung, Diabetes
Pasien dan asma dalam
menyangkal keluarga
memiliki riwayat disangkal.
Pasien tidak konsumsi obat
menyadari bahwa selama kehamilan.
dirinya hamil,
sehingga pasien
belum pernah
melakukan
pemeriksaan

6
PEMERIKSAAN
FISIK
▫ Keadaan umum: Sakit ▫ Nadi : 90 x /menit
sedang ▫ Respirasi : 20 x/menit
▫ Kesadaran : ▫ Suhu : 36oC
CM(GCS: 15 E4M6V5)
▫ Saturasi : 99 %
▫ BB : 60 kg
▫ TB : 160 cm
▫ Status Gizi : IMT
23,43 (normal)
▫ Tanda Vital
▫ Tekanan Darah : 110/80
mmHg

7
PEMERIKSAAN FISIK
Kepala
Mata Konjungtiva anemis -/-, Sklera Ikterik -
/-, Mata Cekung -/-
Telinga Dalam batas normal
Hidung Dalam batas normal
Mulut Mukosa bibir kering (-), coated tongue
(-)
Leher Pembesaran KGB (-)

Thorax
Paru – paru Vesicular Breathing Sound
normal/normal, Rhonki-/-, Wheezing -/-

Jantung Bunyi jantung I, II normal regular,


murmur (-), gallop (-) 8
PEMERIKSAAN FISIK
Abdomen
Inspeksi Datar
Palpasi Supel, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-)
Perkusi Timpani
Auskultasi Bising Usus (+), normal
Ekstremitas Akral Hangat (+), Pitting edema
pretibial -/-, CRT <2”

Pemeriksaan Obstetri
TFU TFU ball (+) belum teraba jelas
DJJ Sulit dinilai
Leopold Tidak dapat dinilai
VT Tidak dilakukan

9
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hematologi 16 Oktober 2019

Hemoglobin 12,3 13-17

Hematokrit 39 40-48

Lekosit 7400 4-10 ribu

Trombosit 245.000 150-440 ribu

Koagulasi 16 Oktober 2019


Waktu Perdarahan 1’ 1-3
Waktu Pembekuan 3’ 1-6

10
PEMERIKSAAN PENUNJANG

11
DIAGNOSIS KERJA

Abortus
Inkomplit

12
TATALAKSANA

Tatalaksana yang diberikan di IGD


▫ Konsul dr. Gharini, SpOG : Acc
rawat inap
▫ IVFD RL 20 tpm
▫ Rencana pasang laminaria
▫ Misoprostol tab/4 jam
▫ Rencana usg
▫ Rencana kuretase

13
FOLLOW UP
Tanggal 17 Oktober 2019 (Post Kuretase)

S Tidak ada keluhan

O Keadaan umum : Sakit Sedang


Kesadaran : Compos Mentis
TD : 110/80 mmHg
HR : 78x/menit
RR : 20x/menit
S : 36.5 oC

A Post kuretase

P - Cefixime 2x200 mg
- Asam mefenamat 3x1 tab
- Plasminex 3x1 tab
- Rawat jalan
14
PROGNOSIS
Dubia ad bonam

▫ Ad Vitam

Dubia ad bonam

Ad Functionam Dubia ad bonam

Ad Sanationam

15
1 TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI

WHO Ilmu Kebidanan Sarwono


Abortus adalah penghentian kehamilan sebelum Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan
gestasi 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 20
gram minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk
hidup di luar kandungan. Abortus dini terjadi pada
kehamilan selama 12 minggu, sedangkan abortus
tahap akhir (late abortion) terjadi antara 12-20
minggu

17
EPIDEMIOLOGI
▫ Angka abortus di seluruh dunia adalah sekitar 35 per 1000
wanita yang berusia 15-44 tahun
▫ abortus merupakan salah satu penyebab tingginya angka
kematian ibu di Indonesia dari seluruh kehamilan (selain
keguguran dan lahir mati), 26% diantaranya berakhir dengan
abortus
▫ sekitar 25% kematian ibu di Asia yang disebabkan karena
abortus masih tinggi. Abortus yang tidak aman bertanggung
jawab terhadap 11% kematian ibu di Indonesia (rata-rata
dunia 13%).
18
FAKTOR RESIKO
JANIN MATERNAL PATERNAL

• Perkembangan • Usia • Infeksi


zigot abnormal • Paritas
• Abortus aneuploidi • Infeksi
(ex: trisomi • Anemia
autosom)
• Aloimun • Adenovirus atau virus
• Abortus euploid herpes simpleks
• Hormonal ditemukan pada hampir
• Gamet yang 40% sampel semen
yang diperoleh dari pria
menua steril.
• Kelainan anatomi • translokasi kromosom
pada sperma dapat
uterus menyebabkan abortus
• Trauma fisik
19
FAKTOR RESIKO
• Usia yang tergolong risiko tinggi untuk
terjadinya abortus adalah usia dibawah 20
tahun dan usia diatas 35 tahun
▫ Usia • Makin lanjut usia wanita, maka risiko
terjadi abortus, makin meningkat karena
menurunnya kualitas sel telur atau ovum
dan meningkatnya risiko kejadian kelainan
kromosom

• Risiko abortus semakin tinggi dengan ▫


bertambahnya paritas ibu, hal ini mungkin ▫ Paritas infeksi akut dapat menimbulkan
gugurnya kehamilan hingga terjadi

karena adanya faktor dari jaringan parut
(perdarahan keplasenta tidak adekuat) I n f e k si abortus atau partus prematurus
pada uterus akibat kehamilan berulang. ▫ Sebabnya ialah karena janin mati oleh
suhu tinggi, oleh toksin-toksin atau
kumannya sendiri yang menyerbu ke
dalam badan janin dan kadang-
kadang karena perdarahan dalam
decidua.
20
FAKTOR RESIKO

▫ Anemia
▫ Anemia dapat mengurangi suplai
oksigen pada metabolisme ibu dan
janin karena dengan kurangnya kadar
hemoglobin maka berkurang pula
kadar oksigen dalam darah

▫ Pada DMG akan terjadi suatu


Diabetes
keadaan dimana jumlah atau fungsi
insulin menjadi tidak normal, yang
Mellitus Kelainan • Septum uterus (40-80%),
mengakibatkan sumber energi dalam
plasma ibu bertambah  komposisi
A n a t o mi
Uterus
• Uterus bikornis atau uterus didelfis atau
unikornis (10-30%).
sumber energi abnormal pada janin
• Serviks inkompeten  pembukaan
serviks disertai menggembungnya
selaput ketuban dalam vagina

21
FAKTOR RESIKO

▫ Faktor Aloimun
• Kematian janin berulang pada sejumlah
wanita didiagnosis sebagai akibat faktor-


faktor aloimun.
Diagnosis faktor aloimun berpusat pada
beberapa pemeriksaan yaitu
Trauma Fisik perbandingan HLA ibu dan ayah 
▫ Trauma fisik  kematian antibodi sitotoksik ibu terhadap ayah
mudigah atau janin 
abortus

▫ Gamet yang Menua


• Didapatkan peningkatan insidensi abortus
yang relatif terhadap kehamilan normal
apabila inseminasi terjadi 4 hari sebelum
atau 3 hari sesudah saat pergeseran suhu
tubuh basal.

22
KLASIFIKASI

▫ Berdasarkan
Kejadiannya ▫ Berdasarkan Jenisnya
Abortus spontan Abortus Iminen
Abortus buatan Abortus Insipien
Abortus Inkomplit
Abortus Komplit
Missed Abortion
Abortus Habitualis

23
Abortus yang terjadi tanpa intervensi dari luar dan berlangsung
tanpa sebab yang jelas

ABORTUS Abortus spontan 80% terjadi kehamilan 12 minggu pertama


Paling tidak separuhnya disebabkan oleh anomali kromosom
SPONTAN Keguguran simtomatik meningkat seiring dengan paritas serta
usia ibu dan ayah

24
KLASIFIKASI
Iminens Insipiens Inkomplit
Ditandai perdarahan pervaginam, Abortus yang mengancam yang Sebagian hasil konsepsi telah
ostium uteri masih tertutup dan ditandai dengan serviks telah keluar dari kavum uteri dan masih
hasil konsepsi masih baik dalam mendatar dan ostium uteri telah ada yang tertinggal.
kandungan. membuka, akan tetapi hasil
konsepsi masih dalam kavum uteri
dan dalam proses pengeluaran

Komplit Missed abortion Habitualis

Seluruh hasil konsepsi telah Is the colour of the clear sky Abortus spontan yang terjadi
keluar dari kavum uteri pada and the deep sea. It is located tiga kali atau lebih berturut-
kehamilan kurang dari 20 between violet and green on turut
minggu atau berat janin the optical spectrum.
kurang dari 500 gram
25
KLASIFIKASI ABORTUS

26
27
DIAGNOSIS
ANAMNESIS

• Gejala klasik abortus :kontraksi uterus


(dengan atau tanpa nyeri suprapubik) dan
perdarahan vagina pada kehamilan
dengan janin yang belum viabel

PEMERKSAAN PENUNJANG

• Pemeriksaan darah lengkap


• USG
• Beta Human Chorionic Gonadotropin
28
TATALAKSANA

▫ Prinsip
• Ada tiga pilihan untuk wanita dengan abortus yaitu hamil, manajemen medis, dan manajemen bedah.
• Keberhasilan masing-masing pilihan manajemen bergantung beberapa faktor, misalnya jenis aborsinya (dengan
atau tanpa gejala).
• Kegagalan manajemen medis membutuhkan untuk dilakukannya evakuasi bedah

29
TATALAKSANA UMUM

▫ 1▫ Penilaian KU ▫ 4▫ Rujuk Ibu


▫ Lakukan penilaian secara cepat mengenai keadaan umum
ibu (nadi, TD, RR, suhu)

▫ 2▫ Tanda syok ▫ 5▫ Dukungan&Konseling


▫ akral dingin, pucat, takikardi, tekanan sistolik <90 mmHg ▫ Dukungan emosional dan konseling kontrasepsi pasca
keguguran.

▫ 3▫ Antibiotik ▫ 6▫ Talak lanjutan


• Ampicillin 2 g IV/IM kemudian 1 g diberikan setiap 6 jam ▫ Lakukan tatalaksana selanjutnya sesuai jenis abortus
• Gentamicin 5 mg/kgBB IV setiap 24 jam
• Metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam
30
TATALAKSANA ABORTUS
• Tirang baring minimal 2x24 jam
• Spasmolitik
Abortus • Tidak boleh berhubungan seksual sampai kurang lebih 2 minggu
Iminens

• Pengeluaran hasil konsepsi disusul dengan tindakan kuretase


• Uterotonika (oksitosin bila kehamilan >12 minggu, Metilergometrin maleat 3x5 tab
Abortus • Antibiotik
Insipiens

• Kuretase
Abortus • Mencegah infeksi dengan antibiotik
Inkomplit

• Tidak memerlukan tindakan khusus ataupun pengobatan


Abortus • Bisa ditambahkan metyl ergometrin 3x1 tab
komplit

• Dilatasi serviks
• Bila kehamilan ≤ 12 minggu kuretase
Miss • Bila kehamilan ≥ 12 minggu diberikan oksitosin 20-30u dalam 500 cc dextrose 5% mulai 20 tetes/menit bila tidak ada kontraksi, dosis dinaikkan
Abortion 10u 30 menit, dosis tertinggi 140u
31
A b o r t u s ▫▫ Penyebabnya: reaksi imunologik dan inkompetensia serviks
Penanganan inkompetensia serviks dengan memberikan fiksasi

Habitualis pada serviks pada umur 12-14 minggu dan jika kehamilan aterm
dan bayi siap dilahirkan

32
• Dilatasi serviks tanpa nyeri pada trimester kedua
Serviks • Penyebab serviks inkompeten, adanya riwayat trauma pada serviks
I n k o m p e t e n • Inkompetensi serviks klasik diterapi dengan cerclage
(kuretase, kauterisasi)

33
MANAJEMEN BEDAH
▫ Prinsip
• Prosedur: manajemen bedah abortus dapat dilakukan melalui aspirasi vakum atau
kuretase tajam
• Aspirasi vakum lebih disukai karena dikaitkan dengan:
▫ Kehilangan darah yang sedikit
▫ Nyeri yang sedikit saat prosedur
▫ Durasi prosedur yang lebih pendek
▫ Sedikitnya komplikasi seperti perforasi uterus dan morbiditas lainnya.
• Aspirasi vakum bisa dilakukan dengan vakum listrik Aspirasi (EVA) atau Vakum
Manual Aspirasi (MVA)

34
KOMPLIKASI

▫ Abortus iminens ▫ Abortus Komplit


▫ Setengah dari kasus abortus imminens akan menjadi ▫ Apabila perdarahan yang terjadi sangat lama (> 10 hari) dan
abortus komplet atau inkomplet, sedangkan pada sisanya banyak maka perlu dipikrkan mencari penyebab lain. Hal ini
kehamilan akan terus berlangsung. dapat menyebabkan kematian pada ibu

▫ Abortus insipiens ▫ Komplikasi pasca bedah


▫ Terkadang perdarahan dapat menyebabkan kematian bagi ▫ Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada
ibu dan jaringan yang tertinggal dapat menyebabkan infeksi uterus dalam posisi hiperretrofleksi
sehingga evakuasi harus segera dilakukan

▫ Abortus Inkomplit
▫ Perdarahan biasanya terus berlangsung, banyak dan
membahayakan ibu. Bila jaringan yang tertinggal dalam
rahim tidak segera dibersihkan maka dapat menyebabkan
abortus sepsis dan dapat menyebabkan kemaitian ibu

35
DISKUSI KASUS
Ny. S / 50 tahun Temuan pada kasus

S - Usia 50 thn
- Kehamilan ke 5
- Perdarahan pervaginam
- Keluar gumpalan darah seperti jaringan
- Perut terasa mulas

O - Tanda vital dalam batas normal


- Pemeriksaan obstetrik : TFU ball (+) belum terba jelas
- USG Abdomen : Sisa hasil konsepsi

A Abortus inkomplit

P - Kuretase
- Cefixime 2x200 mg
- Asam mefenamat 3x1 tab

36
37