Anda di halaman 1dari 18

DISUSUN OLEH:

Alvin Joshua 20160710008


Baiq Nadia RisnaWahyuning 20160710017
Cindrawati Aprilia Susanto 20160710027
Eka Ayu Fitria Febriani 20160710036
Gigi BagusRochmanu 20160710045
Irene MeliknaWati 20160710054
Melani Wijaya 20160710063
PrinandaPrasanasari 20160710073
Ririn Eva Nurjanah 20160710082
Vania Dealaura C 20160710091
ZhafirahMaulidyaSardi 20160710100
Senyawa Oksigen Reaktif sangat berbahaya, yang akan merusak sel apabila
tak diredam, hal keadaan ini yang dikenal dengan stress oksidatif. Salah
satu senyawa oksigen reaktif yang paling berbahaya adalah radikal
hidroksil, yang akan memberikan dampak negatif terhadap membran sel.
Radikal hidroksil dapat menimbulkan reaksi rantai yang dikenal dengan
perokidasi lipid. Radikal bebas tersebut tidak menimbulkan efek negatif
dalam tubuh bila terdapat dalam jumlah yang seimbang karena tubuh
memiliki sistem antioksidan yang mampu menetralisirnya, tetapi apabila
terjadi ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan dalam
tubuh, dimana jumlah radikal bebas lebih banyak dari pada antioksidan,
maka akan timbul suatu keadaan yang disebut oxidative stress (Sy et. al.,
2015).
Senyawa oksigen reaktif biasanya dalam bentuk radikal bebas,
akan diubah oleh antioksidan enzimatik SOD menjadi H2O2 dan
selanjutnya enzim katalase akan mengubah H2O2 menjadi H2O
dan O2 (Sy et. al., 2015). Aktivitas katalase merupakan
aktivitas katalase untuk mengkatalis reaksi penguraian
hidrogen peroksida (H2O2) menjadi H2O dan O2. Enzim katalase
yang bersifat antioksidan ditemukan pada hampir sebagian
besar sel. Setiap individu mempunyai tingkat antioksidan yang
berbeda-beda. Maka melalui praktikum kali ini dilakukan
pemeriksaan aktivitas antioksidan dengan menggunakan
pemeriksaan aktivitas katalase pada saliva.
Untuk mengetahui tingkat aktivitas enzim
katalase pada pasien sehat dan perokok.
Alat untuk mengetahui kadar MDA
Bahan yang digunakan untuk
dan aktivitas katalase:
pemeriksaan aktivitas
-tabung reaksi katalase:
- epperdorf tube
- waterbath -buffer phosphate
-Microcentrifuge
- H2O2.
-Vortex
-Transpipet
- tip
-kertas saring whatman 42
-Pektrofotometer
- glass wool.
Pengukuran aktivitas katalase saliva dilakukan dengan
menggunakan metode Colourimetry dengan menggunakan warna
sebagai indikator. Satu unit aktivitas katalase dinyatakan
sebagai banyaknya H2O2 (dalam mikromol) yang dikatalisis oleh
katalase per menit dalam tiap 1 mg/ml protein. Pengukuran
aktivitas enzim katalase dilakukan dengan bantuan alat
spektofotometer (Leite et.al, 2014).
Pengukuran aktivitas katalase saliva adalah sebagai berikut :
1. Tambahkan sampel saliva 100µl (0,1 ml) pada masing-masing tabung
reaksi, tabung A berisi sampel saliva orang coba sehat dan tabung B
berisi sampel saliva orang coba perokok.
2. Kemudian tambahkan buffer phosphate (PBS) 0,05 M 900µl pada tiap
tabung reaksi.
3. Homogenkan larutan pada tiap tabung reaksi dengan vortex.
4. Ambil 50µl dan tambahkan 950µl H2O2 27,2 µM pada tiap tabung
reaksi.
5. Baca absorban masing-masing tabung reaksi dengan
spektofotometer λ 210 nm.
6. Baca absorban per menit.
Aktivitas katalase (unit/ml) = (Absorban/menit) × FP

27,2 × 0,05

FP=10
SAMPEL

KELOMPOK
A / INDIVIDU SEHAT
B / INDIVIDU PEROKOK (U/ml)
(U/ml)

1 0.01225 0.00127

2 0.0661 0.0784

3 0.0098 0.0049

4 0.01225 0.0024

5 0.00735 0.0049

6 0.0441 0.0661

7 0.0123 0.00245

8 0.0245 0.0122

9 0.0123 0.0049

RATA-RATA 0.0223 0.0197


Stres oksidatif dapat menyebabkan kerusakan sel dan merupakan
dasar pathogenesis bagi proses penyakit kardiovaskuler, penyakit
pulmoner, penyakit autoimmun, keganasan, gangguan metabolik dan
penuaan (Halliwell & Gutteridge, 2015; Kevin dkk, 2006; Valko dkk,
2007). Stress oksidatif menggambarkan banyaknya Reactive Oxygen
Species (ROS) pada proses oksidasi, sehingga menyebabkan gagalnya
pertahanan kapasitas antioksidan tubuh terhadap produksi ROS yang
berlebih. Adannya peningkatan stress oksidatif berdampak negative
pada beberapa komponen penyusun membran sel, yaitu kerusakan pada
lipid membran membentuk malondialdehida (MDA), kerusakan protein,
karbohodrat, dan DNA (Alatas,2010; Kevin, 2006).
Antioksidan sebagai pelindung terhadap stress oksidatif dapat
digolongkan menjadi golongan enzimatik dan non enzimatik. Salah satu
yang termasuk antioksidan enzimatik adalah enzim katalase. Enzim
katalase merupakan antioksidan endogen yang bekerja secara langung
dengan cara menangkap dan menguraikan radikal bebas di dalam sel
menjadi zat yang kurang reaktif yaitu mengkatalis substrat hydrogen
peroksida (H2O2) dan peroksida organik sehingga dapat mencegah
terjadinya peroksidasi lipid pada membran sel (Agnes et al, 2017).

H2o2 H2O + O 2
Semakin tinggi terbentuknya hydrogen peroksida (H2O2), kerja enzim katalase
untuk mengkatalisnya makin berat dan menekan aktivitasnya. Kondisi ini
menyebabkan ketidakseimbangan Reactive Oxygen Species (ROS) dan status
antioksidan endogenous yang disebut dengan stress oksidatif. Enzim katalase di
produksi dalam sel berfungsi sebagai katalisator dismutase hydrogen peroksida
menjadi air dan oksigen pada mekanisme pertahanan terhadap paparan radikal
bebas (Kohen 2002; Hidayat, 2014). Selain itu enzim katalase digunakan
sebagai salah satu parameter peningkatan ROS (Reactive Oxygen Species),
semakain rendah aktivitas katalase maka semakin tinggi aktivitas ROS (Yustini
dkk, 2009).
Pada saat peningkatan aktivitas radikal bebas, maka tubuh
melakukan mekanisme homeostatis dengan memproduksi
antioksidan endogen untuk mencegah terjadinya stress
oksidatif , namun tubuh terkadang juga memerlukan bantuan
dari asupan senyawa antioksidan eksogen ( berasal dari
makanan yang di konsumsi) dalam jumlah yang lebih banyak
untuk mengeliminir dan menetralisir efek radikal bebas
Katalase adalah salah satu antioksidan endogen yang termasuk dalam
golongan enzim hidroperoksidase karena dapat mengkatalisis substrat
hidrogen peroksida atau peroksida organic yang berperan mencegah
kerusakan oksidatif. Enzim ini dapat ditemui dalam darah, sumsum tulang,
membran mukosa, ginjal dan hati. Mekanisme enzim katalase sebagai
antioksidan melalui proses katalitik terjadi bila enzim katalase
menggunakan molekul H2O2 sebagai substrat atau donor elektron dan
molekul H2O2 yang lain sebagai oksidan atau akseptor elektron. Hal ini
menunjukkan bahwa substrat dari enzim katalase tersebut adalah H2O2.
Jika H2O2 tidak dirombak dengan enzim katalase, maka dapat
menyebabkan kematian pada sel. Oleh karena itu enzim katalase berperan
penting merombak hydrogen peroksida menjadi air dan oksigen. Enzim
katalase akan mengkatalis dekomposisi salah satu spesies oksigen reaktif (
ROS ) yakni hydrogen peroksida menjadi air dan oksigen sehingga dapat
melindungi sel dari kerusakan oksidatif. Menurut Haliwell dan Gutteridge
(2000), aktivitas CAT (katalase) optimal pada pH 7 dan meningkat dengan
meningkatnya akumulasi H2O2. Enzim CAT mampu mengkonversi 40 juta
molekul hidrogen peroksida menjadi molekul air dan oksigen setiap detiknya.
Disamping itu, enzim CAT juga mampu mendetoksifikasi senyawa
formaldehid, fenol dan alkohol (Ardo et al, 2017) Identifikasi adanya enzim
katalase didasarkan pada terbentuknya gelembung oksigen pada waktu
reaksi terjadi (tim biokimia, 2017).
Pada praktikum digunakan 2 subjek, dimana subjek 1
menggunakan saliva individu sehat dan subjek 2 menggunakan
saliva individu sakit. Pada hasil percobaan di dapatkan hasil
rata-rata aktivitas katalase pada individu sehat (subjek 1)
yaitu 0,0223 dan pada individu sakit (subjek2) yaitu 0.0197.
Hasil praktikum sesuai dengan teori, dimana aktivitas katalase
pada individu sehat lebih tinggi dibandingkan aktivitas katalase
pada individu sakit. Ini membuktikan bahwa kapasitas
antioksidan pada individu sehat mampu mengatasi aktivitas
radikal bebas berlebih di dalam tubuh.
Stres oksidatif dapat menyebabkan kerusakan sel dan merupakan
dasar pathogenesis bagi proses penyakit kardiovaskuler, penyakit
pulmoner, penyakit autoimmun, keganasan, gangguan metabolik dan
penuaan (Halliwell & Gutteridge, 2015; Kevin dkk, 2006; Valko dkk,
2007). Antioksidan sebagai pelindung terhadap stress oksidatif
dapat digolongkan menjadi golongan enzimatik dan non enzimatik.
Katalase adalah salah satu antioksidan endogen yang termasuk dalam
golongan enzim hidroperoksidase karena dapat mengkatalisis
substrat hidrogen peroksida atau peroksida organic yang berperan
mencegah kerusakan oksidatif. Hasil praktikum menunjukkan dimana
aktivitas katalase pada individu sehat lebih tinggi dibandingkan
aktivitas katalase pada individu sakit. Ini membuktikan bahwa
kapasitas antioksidan pada individu sehat mampu mengatasi aktivitas
radikal bebas berlebih di dalam tubuh.
Sy, E., Kadri, H. and Yerizel, E. 2015. Efek Pemberian Vitamin C Terhadap
Aktifitas Katalase Hati Tikus Galur Wistar yang Terpapar Ion Pb. Jurnal
Kesehatan Andalas, 4(1).
Agnes, D. et al., 2017. Laporan Hasil Penelitian PENGARUH PEMBERIAN ALGA
COKLAT ( Sargassum sp .) TERHADAP ENZIM KATALASE KELENJAR
SUBMANDIBULARIS TIKUS RATTUS NOVERGICUS STRAIN WISTAR
AKIBAT IRADIASI LINEAR ENERGY. Qanun Medika, 1(2), pp.1–10.
Ardo, M.H. et al., 2017. PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK AIR SARANG
BURUNG WALET PUTIH (Collocalia fuchipaga thunberg.) TERHADAP
AKTIVITAS ENZIM KATALASE PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR
Sprague Dawley. FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH, pp.1–88.
tim biokimia, 2017. PETUNJUK-PRAKTIKUM-Biokimia-IIGENAP-2016-2017.