Anda di halaman 1dari 38

ETIKA KEFARMASIAN DAN

PERATURAN KEFARMASIAN
Oleh:
Nurdani
Sahrita
Umi arianti
Roy alpian
ETIKA FARMASI
A.Pengertian
1. Etika, adalah nilai-nilai dan norma-norma moral
yang menjadi pegangan bagi seseorang atau
sekelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Sedangkan kumpulan asas atau nilai moralnya
disebut kode etik.
2. Etika Farmasi, adalah nilai-nilai dan norma-
norma moral yang menjadi pegangan bagi
seorang Farmasis atau organisasi Farmasi
dalam mengatur tingkah lakunya.
3. Kode Etik Profesi, merupakan norma yang
ditetapkan dan diterima oleh kelompok profesi,
yang mengarahkan atau memberi petunjuk kepada
anggotanya bagaimana seharusnya berbuat dan
sekaligus menjamin mutu moral profesi itu di mata
masyarakat. Kode etik profesi menjadi tolok ukur
perbuatan anggota kelompok profesi. Kode etik
profesi merupakan upaya pencegahan berbuat
yang tidak etis bagi anggotanya.
4. Profesi, adalah orang atau kelompok orang
yang memiliki keahlian khusus dan dengan
keahlian itu mereka dapat berfungsi di dalam
masyarakat dengan lebih baik bila dibandingkan
dengan warga masyarakat lain pada umumnya.
B. Implementasi Kode Etik dalam Pekerjaan
Kefarmasian
1. Pendahuluan
a. Setiap tenaga kefarmasian dalam melakukan
pengabdian dan pengamalan ilmunya harus
didasari oleh sebuah niat luhur untuk kepentingan
makhluk lain sesuai tuntunan Tuhan Yang Maha
Esa.
b. Sumpah dan janji Tenaga Kefarmasian adalah
komitmen seorang Tenaga Kefarmasian yang
harus dijadikan landasan moral dalam
pengabdian profesinya.
c. Kode Etik sebagai kumpulan nilai-nilai atau
prinsip harus diikuti oleh setiap Tenaga
Kefarmasian sebagai pedoman dan petunjuk serta
standar perilaku dalam bertindak dan mengambil
keputusan.

2. Kewajiban Umum
a. Setiap Tenaga Kefarmasian harus
menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan
Sumpah / Janji Tenaga Kefarmasian. Dlm Sumpah
tersebut ada beberapa poin yg harus diperhatikan,
yaitu : (1). Melaksanakan asuhan kefarmasian; (2).
Merahasiakan kondisi pasien, resep dan PMR; (3).
Melaksanakan praktik profesi sesuai landasan
praktik profesi, yaitu Ilmu, Hukum dan Etika.
b. Bila menemui hal-hal kurang tepat dari
pelayanan kesehatan lainnya, maka harus mampu
mengkomunikasikan dengan baik kepada tenaga
profesi tsb.
c. Bersungguh-sungguh menghayati dan
mengamalkan Kode Etik Profesi dalam
menjalankan tugas kefarmasiannya sehari-hari.
Jika sengaja maupun tidak sengaja melanggar
atau tidak mematuhi Kode Etik Profesi, maka
Tenaga Kefarmasian tersebut wajib mengakui dan
menerima sanksi dari pemerintah, Ikatan /
Organisasi Profesi Farmasi dan mempertanggung
jawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
3. Kewajiban terhadap penderita
Seorang Tenaga Kefarmasian dalam
melakukan pekerjaan kefarmasian harus
mengutamakan kepentingan masyarakat dan
menghormati hak asasi dan melindungi penderita;
harus mengambil langkah-langkah untuk menjaga
kesehatan pasien dan yakin bahwa obat yang
diserahkan kepada pasien adalah obat yang
terjamin kualitas, kuantitas, efikasinya, serta cara
pakai obat yang tepat.
4. Kewajiban terhadap teman sejawat
a. Harus menghargai teman sejawatnya dan
berkoordinasi dengan organisasi profesinya
ataupun Majelis Pertimbangan Etik dalam
menyelesaikan permasalahan dengan teman
sejawat.
b. Saling mengingatkan dan saling menasehati
untuk mamatuhi ketentuan kode etik.

5. Kewajiban terhadap sejawat petugas


kesehatan lainnya
a. Setiap Tenaga Kefarmasian harus dapat
membangun dan meningkatkan hubungan profesi
dan saling menghormati dg sejawat petugas
lainnya.
b. Setiap Tenaga Kefarmasian harus
bersungguh-sungguh dalam mengamalkan Kode
Etik Profesinya, dinilai dari : ada tidaknya laporan
dari masyarakat, dari sejawat Tenaga
Kefarmasian atau sejawat Tenaga Kesehatan
lain serta dari Dinas Kesehatan.
c. Setiap Tenaga Kefarmasian harus (1).
senantiasa menjalankan profesinya sesuai
Standar Kompetensinya serta selalu
mengutamakan dan berpegang teguh pada
prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan
kewajibannya. Ukuran Kompetensi Tenaga
Kefarmasian dinilai lewat Uji Kompetensi.
(2). aktif mengikuti perkembangan di bidang
kesehatan terutama bidang kefarmasian
(aktifitasnya diukur dari Nilai SKP. (3).
menjauhkan diri dari usaha mencari keuntungan
pribadi yang bertentangan dengan martabat dan
jabatan kefarmasian. (4). menjadi sumber
informasi bidang kefarmasian sesuai dengan
profesinya. (5). aktif mengikuti perkembangan
peraturan perundang-undangan dibidang
kesehatan terutama di bidang farmasi sehingga
setiap tenaga kefarmasian dapat menjalankan
profesinya dengan tetap berada dalam koridor
Undang - Undang.
Peraturan Perundangan Tenaga Kefarmasian
(PP. No.51/2009)

1. Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang


melakukan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri
atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian.
2. Apoteker adalah Sarjana Farmasi yang
telah lulus sebagai Apoteker dan telah
mengucapkan sumpah jabatan Apoteker.
3. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah
tenaga yang membantu Apoteker dalam
menjalankan pekerjaan kefarmasian, yang
terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya
Farmasi, Analis Farmasi dan Tenaga Menengah
Farmasi / Asisten Apoteker.
Ketentuan Umum (PP. No.51/2009 dan
Permenkes No.889/2011)

1. PP. No.51/2009 tentang Pekerjaan


Kefarmasian;
2. Permenkes No.889/2011 tentang Registrasi,
Izin Praktik dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian;
3. Sertifikat Kompetensi Profesi : surat tanda
pengakuan thd komptnsi seorang apoteker utk
dpt menjalankan pekerjaan/praktik profesinya di
seluruh Indonesia setelah lulus uji kompetensi.
4. Registrasi : pencatatan resmi thd tenaga
kefarmasian yg tlh memiliki sertifikat komptnsi
dan tlh memp kualifikasi tertentu serta diakui scr
hukum utk menjlnkan pekerj/praktik oprofesinya.
5. Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA),
adalah bukti tertulis yg diberikan oleh Men.Kes kpd
Apoteker yang telah diregistrasi.
6. STRA Khusus, adalah STRA yang diberikan
oleh Men.Kes kepada Apoteker warga negara asing
lulusan luar negeri yang akan melakukan pekerjaan
kefarmasian di Indonesia.
7. Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis
Kefarmasian (STRTTK), adalah bukti tertulis yang
diberikan oleh Men.Kes kepada Tenaga Teknis
Kefarmasian yang diregistrasi.
8. Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA), adlh surat
izin yang diberikan kepada Apoteker untuk dapat
melaksanakan praktik kefarmasian pada fasilitas
pelayanan kefarmasian.
9. Surat Izin Kerja Apoteker (SIKA), adlh surat
izin praktik yg diberikan kpd Apoteker utk dpt
melaksanakan pekerjaan kefarmasian pd fasilitas
produksi atau fasilitas distribusi atau penyaluran.
10. Surat Izin Kerja Tenaga Teknis Kefarmasian
(SIKTTK), adlh surat izin praktik yg diberikan kpd
TTK utk dpt melaksanakan pekerjaan kefarmasian
pd fasilitas kefarmasian.
11. Komite Farmasi Nasional (KFN), adlh
lembaga yg dibtk Men.Kes, berfungsi utk
meningkatkan mutu Apoteker dan TTK dlm melaks
pekerjaan kefarmasian pd fasilitas kefarmasian.
Syarat Tenaga Kefarmasian (PP.51/2009 dan
PERMENKES 889/2011)
A. REGISTRASI
1. Setiap tenaga kefarmasian yg menjalankan
pekerjaan kefarmasian di Indonesia wajib memiliki
surat tanda registrasi.
2. Surat tanda registrasi diperuntukkan bagi :
a. Apoteker, berupa STRA, dan
b. Tenaga Teknis Kefarmasian, berupa STRTTK
3. STRA dan STRTTK dikeluarkan oleh Men.Kes
yang mendelegasikan pemberian :
a. STRA kepada KFN; dan
b. STRTTK kepada Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi.
STRA dan STRTTK berlaku 5 (lima) tahun dan
dapat diregistrasi ulang selama memenuhi
persyaratan.
Persyaratan Registrasi
1. Untuk memperoleh STRA, Apoteker mengajukan
permohonan kpd KFN (Form.6) dg melampirkan
a. Fc. Ijazah Apoteker;
b. Fc. Surat sumpah/janji Apoteker;
c. Fc. Sertifikat Kompetensi profesi yg berlaku;
d. Surat keterangan sehat fisik dan mental dari
dokter yg memiliki SIP;
e. Surat pernyataan akan mematuhi dan
melaksanakan ketentuan etika profesi, dan
f. Pas foto terbaru berwarna ukuran 4 x 6 cm dan
2 x 3 cm masing-masing 2 lembar.
Permohonan STRA dpt secara online melalui
website KFN.
2. Untuk memperoleh STRTTK, Tenaga Teknis
Kefarmasian mengajukan permohonan kepada
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi (Form.4)
a. fc. Ijazah sesuai dengan pendidikannya;
b. Surat keterangan sehat fisik dan mental dari
dokter yang memiliki SIP;
c. Surat pernyataan akan mematuhi dan
melaksanakan ketentuan etika kefarmasian;
d. Surat rekomendasi kemampuan dari Apoteker
yg telah memiliki STRA, atau pimpinan institusi
pendidikan lulusan, atau organisasi yg
menghimpun TTK;
e. Pas foto terbaru berwarna ukuran 4 x 6 cm dan
2 x 3 cm masing-masing 2 lembar.
Registrasi Ulang
Registrasi ulang dilakukan dengan melampirkan
STRA / STRTTK yang lama dan harus dilakukan
minimal 6 (enam) bulan sebelum STR / STRTTK
habis masa berlakunya.
Pencabutan STRA atau STRTTK
STRA atau STRTTK dapat dicabut karena :
a. Permohonan yang bersangkutan;
b. Pemilik STRA /STRTTK tidak lagi memenuhi
persyaratan fisik dan mental utk menjalankan
pekerjaan kefarmasian berdasarkan surat
keterangan dokter;
c. Melakukan pelanggaran disiplin tenaga
kefarmasian; atau
d. Melakukan pelanggaran hukum di bidang
kefarmasian yang dibuktikan dengan keputusan
pengadilan;
Pencabutan STRA disampaikan kpd pemilik
STRA dengan tembusan kpd Dir.Jen, Ka.Dinkes
Prop, Ka.Dinkes Kab/Kota dan Organisasi Profesi.
Pencabutan STRTTK disampaikan kpd pemilik
STRTTK, dengan tembusan kpd Dir.Jen, Ka.Dikes
Kab/Kota dan organisasi yang memnghimpun
TTK.
B. IZIN PRAKTIK dan IZIN KERJA
1. Setiap tenaga kefarmasian yg akan
menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib
memiliki surat izin sesuai tempat tenaga
kefarmasian bekerja.
2. Surat izin tersebut berupa :
a. SIPA bagi Apoteker penanggungjawab
atau Apoteker pendamping di fasilitas
pelayanan kefarmasian;
b. SIKA bagi Apoteker yg melakukan
pekerjaan kefarmasian di fasilitas produksi
atau fasilitas distribusi/penyaluran; atau
c. SIKTTK bagi Tenaga Teknis Kefarmasian
yang melakukan pekerjaan kefarmasian pada
fasilitas kefarmasian.
3. SIPA bagi Apoteker penanggungjawab di
fasilitas pelayanan kefarmasian atau SIKA hanya
diberikan utk 1 (satu) tempat fasilitas kefarmasian;
4. Apoteker penanggung jawab di fasilitas
pelayanan kefarmasian berupa Puskesmas dapat
menjadi Apoteker Pendamping di luar jam kerja.
5. SIPA bagi Aping dapat diberikan utk paling
banyak 3 (tiga) tempat fasilitas pelayanan
kefarmasian
4. SIKTTK dapat diberikan untuk paling banyak 3
tempat fasilitas kefarmasian.
5. SIPA, SIKA atau SIKTTK tersebut dikeluarkan
oleh Ka. Din,Kes Kota tempat pekerjaan
kefarmasian dilakukan.
6. SIPA, SIKA, atau SIKTTK masih tetap berlaku ;
7. Tempat praktik/ bekerja masih sesuai dg yang
tercantum dalam SIPA, SIKA atau SIKTTK
8. Persyaratan SIPA, SIKA :
a, Mengajukan permohonan kpd Kepala Dinas
Kesehatan Kab./ kota tempat pekerjaan
kefarmasian dilaksanakan.
b. fc. STRA yang dilegalisir oleh KFN;
c. Surat pernyataan mempunyai tempt praktik
profesi atau surat keterangan dari pimpinan
fasilitas pelayanan kefarmasian atau dari
pimpinan fasilitas produksi atau distribusi
d. Surat rekomendasi dari organisasi profesi,
e. Pas foto berwarna ukuran 4x6 sebanyak 2
lembar dan 3 x 4 sebanyak 2 lembar.
f. Dalam mengajukan SIPA sbg Aping harus
dinyatakan secara tegas permintaan SIPA untuk
tempat pekerjaan kefarmasian pertama, kedua
atau ketiga
9. Persyaratan SIKTTK
a. TTK mengajukan permohonan kpd
Ka.DinasKesehatan Kab / Kota tempat pekerjaan
kefarmasian dilaksanakan.
b. fc. STRTTK;
c. Surat pernyataan Apoteker atau pimpinan
tempat pemohon melaksanakan pekerjaan
kefarmasian;
d. Surat rekomendasi dari organisasi yang
menghimpun TTK;
e. pas foto berwarna 4 x 6 dan 3 x 4 masing-
masing lembar.
Syarat Tenaga Kefarmasian
(PP. 51/2009)
Setiap Tenaga Kefarmasian yang melakukan
Pekerjaan Kefarmasian di Indonesia wajib
memiliki surat tanda registrasi.
Surat tanda registrasi diperuntukkan bagi :
a. Apoteker berupa STRA; dan
b. Tenaga Teknis Kefarmasian berupa STRTTK
Apoteker yg telah memiliki STRA dan TTK yg
telah memiliki STRTTK harus melakukan
Pekerjaan Kefarmasian sesuai dg pendidikan
dan kompetensi yg dimiliki.
Syarat STRA :
Apoteker harus memenuhi persyaratan :
a. Memiliki ijazah Apoteker;
b. Memiliki sertifikat kompetensi profesi;
c. Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan
sumpah / janji Apoteker;
d. Mempunyai surat keterangan sehat fisik dan
mental dari dokter yang memiliki SIP; dan
e. Membuat pernyataan akan mematuhi dan
melaksanakan ketentuan etika profesi
STRA berlaku 5 tahun dan dapat diperpanjang.
Syarat STRTTK :
Untuk memperoleh STRTTK bagi TTK wajib
memenuhi persyaratan :
a. Memiliki ijazah sesuai dengan pendidikannya;
b. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental
dari dokter yang ber SIP;
c. Memiliki rekomendasi tentang kemampuan dari
Apoteker yang telah memiliki STRA di tempat
TTK bekerja; dan
d. Membuat pernyataan akan memenuhi dan
melaksanakan ketentuan etika kefarmasian
E. Izin Kerja Asisten Apoteker
Setiap AA untuk menjalankan pekerjaan
kefarmasian pada sarana kefarmasian pemerintah
maupun swasta harus memiliki SIKAA.
Pekerjaan kefarmasian yang dimaksud adalah
pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan
farmasi, pengamanan pengadaan, penyimpanan
dan distribusi obat atas resep dokter, pelayanan
informasi obat, serta pengembangan obat, bahan
obat dan obat tradisional. Pekerjaan kefarmasian
dilakukan oleh AA di bawah pengawasan
Apoteker, tenaga kesehatan atau mandiri sesuai
undang-undang yang berlaku.
Keputusan pencabutan SIKAA disampaikan kpd
AA ybs dlm waktu selambat-lambatnya 14
(empat belas) hari terhitung sejak keputusan
ditetapkan dan dalam SK tersebut disebutkan
lama pencabutan SIKAA.

F. Ketentuan Pidana

Asisten Apoteker yg dengan sengaja :


Melakukan pekerjaan kefarmasian tanpa
mendapat pengakuan / adaptasi sesuai
peraturan ini;
Melakukan pekerjaan kefarmasian tanpa izin
sebagaimana diataur dalam peraturan ini;
Dipidana sesuai ketentuan Ps 86 UU No. 23 Tahun
1992 tentang Kesehatan yaitu denda paling
banyak 10 jt rupiah.
Demikian juga denda ini berlaku bagi pimpinan
sarana kefarmasian yg tidak melaporkan AA yg
melakukan pekerjaan kefarmasian dan yg
berhenti kpd Ka. DKK dg tembusan kepada
organisasi profesi dan / atau mempekerjakan
Asisten Apoteker yg tidak mempunyai SIKAA.

G. Ikatan Profesi.

Tenaga Kesehatan dpt membentuk ikatan


profesi sesuai peraturan yg berlaku sbg wadah
untuk meningkatkan dan / atau mengembangkan
pengetahuan dan ketrampilan, martabat dan
kesejahteraan tenaga kesehatan.
H. Pembinaan dan Pengawasan.
Menteri melakukan pembinaan teknis profesi
dan pengawasan thd tenaga kesehatan.
Pembinaan dilaksanakan melalui : bimbingan;
pelatihan di bidang kesehatan; dan penetapan
standar profesi tenaga kesehatan.
Dalam rangka pengawasan, Menteri dpt mengambil
tindakan disiplin thd nakes yg tdk melaks. tugas
sesuai standar profesi, berupa : teguran; dan
pencabutan izin utk melakukan upaya kesehatan.
B. APOTIK

1. Menurut PP. No 51/2009, Apotik adalah sarana


pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek
kefarmasian oleh Apoteker.
2. Kep.MenKes No. 1332/Menkes/SK/X/2002
tentang Perubahan Atas Permenkes No.
922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan
Tata Cara Pemberian Izin Apotik, yang dimaksud :

a. Apotik adalah suatu tempat tertentu, tempat


dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran
Sediaan Farmasi, Perbekalan Kesehatan lainnya
kpd masyarakat.
b. Apoteker adalah Sarjana Farmasi yg telah
lulus dan telah mengucapkan sumpah jabatan
apoteker mereka yg berdasarkan peraturan
perundang-undangan yg berlaku berhak
melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia
sbg Apoteker.

c. Surat Izin Apotik (SIA) adalah surat izin yg


diberikan oleh Menteri kepada Apoteker atau
Apoteker yg bekerjasama dg PSA utk
menyelenggarakan Apotik.

d. Apoteker Pengelola Apotik (APA) adalah


Apoteker yang telah memiliki SIPA dan diberi SIA
e. Apoteker Pendamping adalah Apoteker yang
bekerja di apotik disamping APA dan/atau
menggantikannya pada jam-jam tertentu pada
hari buka apotik.
f. Apoteker Pengganti adalah Apoteker yang
menggantikan APA selama APA tsb tidak berada
ditempat selama 3 (tiga) bulan secara terus
menerus, telah memiliki SIPA dan tidak bertindak
sebagai APA di Apotik lain.
Ijin Apotik.
Ijin Apotik diberikan oleh Menkes yang
melimpahkan wewenangnya kepada Kepala
Dinas Kesehatan Kab / Kota.
3. Kep.Men.Kes. No.1027/MENKES/SK/IX/2004
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di
Apotik.
Peraturan ini mengatur tentang :
a). Pengelolaan Sumber Daya yg meliputi : SDM;
Sarana dan Prasaran (al. apotik harus memiliki
ruang konseling, tempat utk mendisplai informasi
bagi pasien); Pengelolaan Sediaan Farmasi dan
Perbekalan Kes. Lainnya (Perencanaan,
Pengadaan, Penyimpanan); Administrasi;
b). Pelayanan yang meliputi Pelayanan Resep,
Promosi dan Edukasi, Pelayanan Residensial
(home care).
c). Evaluasi Mutu Pelayanan, indikator yang
digunakan : Tingkat kepuasan konsumen; Dimensi
waktu (lama pelayanan); Protap (ada/tidak).
C. Toko Obat / Pedagang Eceran Obat
Berdasarkan atas Keputusan Menteri Kesehatan
No.1331/Menkes/SK/IX/2002 tentang Perubahan
atas Per.Men.Kes. No.167/Kab/B.VIII/1972
tentang Pedagang Eceran Obat.
Pedagang Eceran Obat (Toko Obat) adalah orang
atau badan hukum yang memiliki ijin untuk
menjual obat-obat bebas dan obat-obat bebas
terbatas dalam bungkusan dari pabrik yang
membuatnya secara eceran.
A. Pedagang Besar Farmasi / PBF (Kep.Men.Kes
No.1191/Menkes/SK/IX/2002 tentang Perubahan
Atas Per.Men.Kes No.918/Menkes/Per/X/1993
tentang PBF).
PBF adalah perusahaan berbentuk badan hukum yg
memiliki ijin utk pengadaan, penyimpanan,
penyaluran perbekalan farmasi dlm jumlah besar
sesuai ketentuan per UU yg berlaku.
Ijin usaha PBF diberikan oleh Menkes dan berlaku
selamanya selama PBF tersebut masih aktif.
Penanggung jawab teknis adalah seorang Apoteker
dan dapat dibantu oleh APING dan/atau Tenaga
Teknis Kefarmasian. (PP. No.51/2009).

Anda mungkin juga menyukai