Anda di halaman 1dari 41

Clinical Science Session

Sindrom Koroner Akut


Pembimbing :dr. Evi Supriadi, Sp.JP (K) - FIHA
Rima Artika Mayanda (G1A218030)

The Power of PowerPoint | thepopp.com 1


01 Pendahuluan
Pendahuluan
Klasifikasi
• UAP
(Unstable Angina Pectoris)
Penyakit • NSTEMI
Kardiovaskular (Non ST-Elevation Miokard Infark)
salah satu penyebab • STEMI
kematian utama di Indonesia (ST-Elevation Miokard Infark)
 menegakkan diagnosis
dini serta memberi SKA
tatalaksana awal yang tepat
menurunkan angka Diagnosis
mortalitas pasien SKA Nyeri Tipikal
Evolusi EKG
Biomarka Jantung
02 Tinjauan Pustaka
Definisi
Sindrom Koroner Akut (SKA) / Acute Coronary
Syndrom (ACS)
sindrom klinis yang terdiri dari infark mioard akut dengan atau tanpa
elevasi segmen ST serta angina pektoris tidak stabil

Infark Miokard Akut dengan Elevasi segmen ST (IMA-EST)


/ ST-Elevation Miokard Infark (STEMI)
kejadian oklusi mendadak di arteri koroner epikardial dengan gambaran
EKG elevasi segmen ST.

Angina Pectoris Tidak Stabil (APTS) / Unstable Angina


Pectoris (UAP) & Infark Miokard Akut non-Elevasi
segmen ST (IMA-NEST) / Non ST-Elevation Miokard
Infark (NSTEMI)
suatu kesinambungan dengan kemiripan patofisiologi dan gejala klinis
sehingga pada prinsipnya penatalaksanaan keduanya tidak berbeda.

Pembedanya : Biomarka Jantung.


Faktor Resiko
Etiologi & Patofisiologi
Klasifikasi Unstable Angina Pektoris menurut Braunwald
Berdasarkan Serangan Angina :

Kelas I angina yang berat untuk pertama kali, atau makin bertambah beratnya nyeri dada.
Kelas II angina pada waktu istirahat dan terjadi subakut dalam 1 bulan, tidak ada serangan angina dalam
48 jam terakhir.
Kelas III angina pada waktu istirahat dan terjadinya secara akut 1x / lebih, dalam waktu 48 jam terakhir.

Berdasarkan Keadaan Klinis :


Kelas A angina tak stabil sekunder. Berasal dari ekstra kardiak yang dapat memperberat iskemia miokard.

Kelas B angina tak stabil primer, tak ada faktor ekstrakardiak.


Kelas C angina yang timbul 2 minggu setelah serangan infark jantung
Berdasarkan Pengobatan
Tidak Ada Pengobatan pengobatan minimal untuk angina pektoris stabil kronik
Timbul keluhan walaupun telah telah mendapat terapi yang standar untuk angina pektoris stabil kronik (pemberian dosis oral
mendapat terapi konvensional antiangina seperti penyekat beta, nitrat kerja panjang dan antagonis kalsium.

Timbul keluhan pengobatan telah diberikan pengobatan anti iskemik yang maksimum, termasuk dengan nitrat intravena.
maksimum
Penegakan Diagnosa : Presentasi Klinis
Angina stabil yang mengalami
destabilisasi
(angina progresif atau kresendo):
Angina tipikal yang
 menjadi makin sering, lebih lama,
persisten selama atau menjadi semakin berat; minimal
lebih dari 20 menit kelas III klasifikasi CCS.
(80%).

Angina awitan baru (de Angina pascainfark-


novo) CCS kelas III (20%) miokard: angina yang
terjadi dalam 2 minggu
setelah infark miokard.

Angina ekuivalen, terutama pada wanita dan kaum lanjut usia.


Gejala Klinis...
•Lokasi :
retrosternal, pasien sulit melokalisasi.
•Onset :
lebih dari 20 menit.
•Karakteristik :
rasa berat seperti dihimpit, ditekan,
diremas, panas atau dada terasa
penuh.
•Penjalaran
•Faktor pencetus :
latihan fisik, stress emosi,
udara dingin, dan sesudah makan.
•Gejala sistemik :
mual, muntah atau keringat dingin.
EKG : UAP/NSTEMI

• Depresi segmen ST
dan/atau inversi
gelombang T; dapat
disertai dengan elevasi
segmen ST yang tidak
persisten (>20 menit).
• Gelombang Q yang
menetap
• Nondiagnostik
• Normal
EKG : STEMI

Evolusi EKG

13
EKG : STEMI

Nilai ambang ST elevasi

14
EKG : STEMI

Lokasi Infark berdasarkan sadapan EKG

15
Biomarka Jantung

Gold Standard UAP/NSTEMI: troponin I/T Troponin tidak ada  CKMB


Meningkat dalam waktu 4 -6 jam. Kadar
Peningkatan akan terjadi dalam waktu 2 hingga puncak : 12 jam, dan menetap sampai 2
4 jam dan menetap sampai 2 minggu. hari.
Algoritma SKA
Stratifikasi : TIMI (Thrombolysis In Myocardial Infarction)

Tujuan stratifikasi risiko adalah untuk menentukan strategi penanganan


selanjutnya (konservatif atau intervensi segera) bagi seorang dengan
NSTEMI.

Skor TIMI untuk UAP dan NSTEMI Stratifikasi Risiko berdasarkan


skor TIMI
Skor TIMI untuk STEMI

The Power of PowerPoint | thepopp.com 21


Stratifikasi : GRACE
ACC/AHA Guidelines for the Management of Patients with ST-Elevation
Myocardial Infarction (2013)

IKP PRIMER / PCI

03
Terapi Reperfusi
a. Fibrinolitik : Streptokinase,
Alteplase
b. Antikoagulan : Warfarin,

02
Heparin, Enoxaparin
Morfin, Oksigen
Nitrat, Aspirin
Clopidogrel, Beta Bloker,
ACEI, ARB, Statin
01
23
Tatalaksana STEMI

Streptokinase
Dosis awal 1,5 juta U/100ml
Dextrose 5% atau larutan saline
0,9% dalam waktu 30-60 menit.
Koterapi Heparin i.v selama 24-48
jam

Alteplase
Dosis awal bolus 15 mg intravena
0,75 mg/kg selama 30 menit,
kemudian 0,5mg / kg selama 60
menit, dosis total tidak lebih dari
100mg
Koterapi Heparin i.v selama 24-48
jam
Tatalaksana STEMI
Tatalaksana STEMI
Terapi Awal UAP/NSTEMI

Morfin Oksigen
Bagi Pasien yang tidak respon Semua Pasien Ukur O2
terhadap 3 dosis NTG Sublingual Perifer  Hipoksemia 
 Morfin sulfat 1-5 mg IV  SaO2 <90% / PaO2 60
dapat diulang 10-30 menit

Nitrat
M O mmHg

Aspirin
NTG (Nitrogliserin) Spray 160-320 mg  segera kepada
/ tab sublingual  untuk semua pasien yang tidak
pasien dengan nyeri
dada yang berlangsung
saat di UGD N A diketahui intoleransinya
terhadap aspirin
Farmakoterapi SKA

• Antiiskemia
• Penghambat Reseptor
1. Penyekat Beta (Beta
blocker)
Glikoprotein IIb/IIIa
2. Nitrat • Statin
3. Calcium Channel Blocker • Antikoagulan
• ACEI dan ARB
• Antiplatelet
1. Aspirin
2. Clopidogrel
Anti Iskemia : Penyekat Beta (Beta blocker)

•Direkomendasikan untuk pasien dengan :


UAP atau NSTEMI, hipertensi dan/atau
takikardia.
•Keuntungan :
Efek terhadap reseptor beta-1  turunnya
konsumsi oksigen miokardium.
•Kontraindikasi :
gangguan konduksi atrio-ventrikuler yang
signifikan, asma bronkiale, dan disfungsi
akut ventrikel kiri.
Anti Iskemia : Nitrat
Indikasi nitrat intravena :
Iskemia yang persisten, gagal jantung, atau
hipertensi dalam 48 jam pertama UAP/NSTEMI.
Kontraindikasi Nitrat:
1. TD sistolik <90 mmHg atau >30 mmHg di
bawah nilai awal
2. bradikardia berat (<50 kali permenit)
3. takikardia tanpa gejala gagal jantung
4. infark ventrikel kanan.
5. Pasien yang telah mengkonsumsi inhibitor
fosfodiesterase: sidenafil dalam 24 jam,
tadalafil dalam 48 jam.
Dilatasi vena yang mengakibatkan berkurangnya preload dan volume
akhir diastolic ventrikel kiri sehingga konsumsi oksigen miokardium
berkurang.
Anti Iskemia : Calcium Channel Blocker
Anti Platelet
Anti Koagulan

• Fondaparinuks  profil keamanan berbanding risiko yang paling baik.


• Enoksaparin  pasien dengan risiko perdarahan rendah bila fondaparinuks tidak ada.
• Heparin tidak terfraksi (UFH) dengan target aPTT 50-70 detik atau heparin berat molekul
rendah (LMWH) lainnya (dengan dosis yang direkomendasikan)  fondaparinuks atau
enoksaparin tidak tersedia.
Anti Koagulan

• Fondaparinuks  profil keamanan berbanding risiko yang paling baik.


• Enoksaparin  pasien dengan risiko perdarahan rendah bila fondaparinuks tidak ada.
• Heparin tidak terfraksi (UFH) dengan target aPTT 50-70 detik atau heparin berat molekul
rendah (LMWH) lainnya (dengan dosis yang direkomendasikan)  fondaparinuks atau
enoksaparin tidak tersedia.
Statin

• Inhibitor hydroxymethylglutary-coenzyme A reductase (statin) harus diberikan pada


semua penderita UAP/NSTEMI.

• Hendaknya dimulai sebelum pasien keluar RS, dengan sasaran terapi untuk
mencapai kadar kolesterol LDL <100 mg/dL.
Penghambat Reseptor Glikoprotein IIb/IIIa

• Pemilihan kombinasi agen antiplatelet oral, agen penghambat reseptor


glikoprotein IIb/IIIa dan antikoagulan  berdasarkan risiko kejadian iskemik
dan perdarahan.

• Indikasi : pada pasien IKP/PCI yang telah mendapatkan DAPT dengan risiko
tinggi (misalnya peningkatan troponin, trombus yang terlihat) apabila risiko
perdarahan rendah.

• Agen ini tidak disarankan diberikan secara rutin sebelum angiografi atau pada
pasien yang mendapatkan DAPT yang diterapi secara konservatif
ACEI dan ARB

• Inhibitor angiotensin converting enzyme (ACE) berguna dalam mengurangi


remodeling dan menurunkan angka kematian penderita pascainfark-miokard
yang disertai gangguan fungsi sistolik jantung, dengan atau tanpa gagal
jantung klinis.

• Penggunaannya terbatas pada pasien dengan karakteristik tersebut, walaupun


pada penderita dengan faktor risiko PJK atau yang telah terbukti menderita
PJK, beberapa penelitian memperkirakan adanya efek anti aterogenik
Prognosis

Mortalitas 30 hari berdasarkan Kelas Killip


03 Kesimpulan
Kesimpulan

SKA merupakan suatu Pemeriksaan Penunjang SKA


masalah kardiovaskular : EKG, marka jantung (gold
yang utama karena standart adalah Troponin I/T),
menyebabkan angka ECHO dan angiografi.
perawatan dan kematian
yang tinggi.

Prinsip penatalaksanaan :
• meningkatkan pemberian SKA
oksigen (dengan Terapi fibrinolitik
meningkatkan aliran diindikasikan sebagai
darah koroner) terapi reperfusi awal
• menurunkan kebutuhan yang dilakukan pada 30
oksigen (dengan menit awal dari
mengurangi kerja kedatangan di Rumah
jantung). Sakit.
Terima Kasih
Semoga Bermanfaat