Anda di halaman 1dari 16

ALIANSI GLOBAL DAN

IMPLEMENTASI STRATEGI

DIVYA MALIKA (10090318306)


Kintan Savira (10090318305)
ALISYA SYAILA SALSABILA (10090318302)
Abdullah (10090317270)
M Arif Rahman (10090317930)
Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan strategi aliansi?
2. Keuntungan apa yang terdapat pada aliansi strategis?
3. Apa saja ruang lingkup aliansi strategis?
4. Bagaimana proses pembentukan aliansi strategis?
5. Apa saja yang terdapat dalam implementasi strategis?
6. Bagaimana penggunaan aliansi strategis?
7. Tipe-tipe aliansi strategis?
8. Bagaimana indikator untuk mengukur variabel kesuksesan aliansi?
9. Apa saja faktor-faktor penyebab kegagalan aliansi strategis?
Definisi Strategi Aliansi

Aliansi strategis adalah hubungan formal trate dua atau lebih kelompok untuk mencapai satu

tujuan yang disepakati bersama ataupun memenuhi bisnis kritis tertentu yang dibutuhkan masing-
masing organisasi secara independen. Aliansi strategis pada umumnya terjadi pada rentang waktu
tertentu, selain itu pihak yang melakukan aliansi bukanlah pesaing langsung, namun memiliki kesamaan
produk atau layanan yang ditujukan untuk target yang sama.
Pada prinsipnya, aliansi dilakukan oleh perusahaan untuk saling berbagi biaya, resiko dan
manfaat. Alasan rasional ditempuhnya aliansi strategi adalah untuk memanfaatkan keunggulan sesuatu
perusahaan dan mengkompensasi kelemahannya dengan keunggulan yang dimiliki partnernya.
Dengan demikian, masing-masing pihak yang beraliansi saling memberikan kontribusi dalam
pengembangan satu atau lebih strategi kunci dalam bidang usaha yang dialiansikan. Jadi, apapun
bentuk serta lingkup kegiatan yang dilakukan, semua pihak menghendaki suatu keuntungan serta
manfaat bersama yang diciptakan melalui interaksi terpadu.
Keuntungan Aliansi Strategis

• Kemudahan masuk ke pasar


Perusahaan yang ingin masuk ke pasar baru sering menghadapi
berbagai masalah besar, seperti persaingan yang ketat dan peraturan
pemerintah yang tidak mendukung. Berpartner dengan perusahaan
trat sering dapat membantu perusahaan untuk mengatasi hambatan-
hambatan seperti itu.

• Berbagi resiko
Saat ini strategi-industri besar begitu kompetitif sehingga tidak
ada perusahaan yang dapat menjamin akan meraih kesuksesan
ketika perusahaan memasuki pasar yang baru atau mengembangkan
produk baru. Aliansi strategis dapat dipakai untuk mengurangi atau
mengendalikan risiko perusahaan tunggal.
• Membuat partner-partner dapat memeroleh pengetahuan dan keahlian baru
dari partner lain.
Dimana perusahaan tertentu mungkin ingin belajar tentang cara
memproduksi sesuatu, cara memeroleh sumber daya tertentu, cara
menghadapi peraturan pemerintah trat, atau cara mengelola lingkungan yang
berbeda informasi yang sering kali ditawarkan oleh partner perusahaan.

• Sinergi dan keunggulan bersaing


Keunggulan-keunggulan ini mencerminkan kombinasi dari
keunggulankeunggulan lain: idenya adalah bahwa melalui beberapa
kombinasi untuk masuk ke pasar, berbagi risiko, dan potensi pengetahuan,
setiap perusahaan yang berkolaborasi ini akan dapat mencapai lebih banyak
dan bersaing dengan lebih efisien dibandingkan jika perusahaan ini berusaha
masuk ke pasar baru sendirian.
Lingkup Aliansi Strategis
• Aliansi Komprehensif
Melibatkan seluruh lingkup aktivitas dan operasi bisnis. Karena luasnya lingkup
aliansi ini, perusahaan harus menyusun prosedur untuk mengatur fungsi-fungsi seperti
keuangan, produksi, dan pemasaran bagi aliansi ini agar mencapai kesuksesan.
Namun, mengintegrasikan prosedur operasi sejumlah induk perusahaan yang
berbeda dengan aktivitas fungsi-fungsi yang lingkupnya begitu luas akan sulit
dilakukan karena tidak adanya struktur organisasi formal. Akibatnya, kebanyakan
aliansi komprehensif diorganisir sebagai usaha patungan.
• Aliansi Fungsional , Hanya melibatkan satu aspek bisnis. Jenis-jenis aliansi fungsional
meliputi :

 Aliansi produksi
 Aliansi pemasaran
 Aliansi keuangan
 Aliansi riset dan pengembangan
PROSES PEMBENTUKAN ALIANSI STRATEGIS

• Pengembangan Strategi.
Pada tahap ini akan dilakukan kajian tentang kelayakan aliansi, sasaran dan
rasionalisasi, pemilihan strat isu yang utama dan menantang, pengembangan sumber daya
strategi untuk mendukung produksi, teknologi, dan sumber daya manusia. Pada tahapan ini
dilakukan penyesuaian sasaran dengan strategi keseluruhan perusahaan/ korporasi.
• Penilaian Rekanan.
Pada tahap ini dilakukan analisis potensi rekan yang akan dilibatkan, baik kekuatan
maupun kelemahan, penciptaan strategi untuk mengakomodasi semua gaya manajemen
rekanan, menyiapkan kriteria pemilihan rekanan, memahami motivasi rekanan dalam
membangun aliansi dan memperjelas gap kapabilitas sumber daya yang mungkin akan
dikeluarkan oleh rekanan.
• Negosiasi Kontrak.
Tahap ini mencakup penentuan apakah semua pihak memiliki sasaran yang realistis,
pembentukan tim negosiasi, pendefinisian kontribusi masing-masing pihak dan pengakuan atas
proteksi informasi penting, pasal-pasal terkait pemutusan hubungan, hukuman/ trateg untuk
kinerja yang buruk, dan prosedur yang jelas dan dapat dipahami dalam interaksi.
• Operasionalisasi Aliansi.
Operasionalisasi aliansi mencakup penegasan komitmen
manajemen senior masing-masing pihak, penentuan sumber daya
yang digunakan untuk aliansi, menghubungkan dan menyesuaian
anggaran dan sumber daya dengan prioritas strategic, penegasan
kinerja dan hasil dari aktivitas aliansi.

• Pemutusan Aliansi.
Aliansi dapat dihentikan dengan syarat-syarat tertentu yang
disepakati. Pada umumnya ketika sasaran tidak tercapai, atau ketika
partner melakukan perubahan prioritas strategic, atau melakukan
realokasi sumberdaya ke tempat yang berbeda.
IMPLEMENTASI STRATEGIS

• Pemilihan Partner
Riset menemukan bahwa aliansi strategis kemungkinan menjadi sukses jika
keterampilan dan sumber daya para partner saling melengkapi, dimana masing-masing
membawa kekuatan organisasi yang tidak dimiliki oleh yang lain. Setiap perusahaan
yang sedang memikirkan aliansi strategis harus mempertimbangkan setidaknya empat
faktor dalam memilih partner:
• Kecocokkan
Perusahaan harus memilih partner yang cocok dan dapat dipercaya dan juga
dapat bekerja sama dengan efektif. Tanpa adanya saling percaya, aliansi strategis tidak
akan sukses. Ketidakcocokkan dalam filosofi operasi perusahaan dapat menghancurkan
aliansi.
• Sifat Produk atau Jasa Calon Partner
Sangat sulit untuk bekerja sama dengan perusahaan di pasar tertentu sementara
harus bersaing ketat dengan perusahaan yang sama di pasar lain. Para ahli yakin bahwa
perusahaan sebaiknya bekerja sama dengan partner yang produk atau jasanya saling
melengkapi tetapi tidak langsung bersaing dengan produknya sendiri.
• Keamanan Aliansi secara Relatif
Dengan adanya kompleksitas dan potensi kerugian karena gagalnya kerja
sama, para manajer harus memeroleh sebanyak mungkin informasi dari calon partner
sebelum membentuk aliansi strategis. Kemungkinan untuk meraih kesuksesan akan
semakin tinggi jika perjanjian ini sesuai dengan keinginan masing-masing pihak.
• Potensi Pembelajaran Aliansi
Sebelum membentuk aliansi strategis, para partner harus menilai potensi untuk
saling mengajar. Area pembelajaran sangat bervariasi, dari yang sangat spesifik sampai
ke yang sangat umum.
• Bentuk Kepemilikan
Usaha patungan hampir selalu berbentuk korporat (PT), biasanya dibentuk di
negara di mana bisnis akan dilakukan. Bentuk korporat akan membuat para manajer
mampu mengatur struktur pajak yang menguntungkan, mengimplementasikan
perjanjian tentang kepemilikan baru, dan melindungi aset lain dengan lebih baik serta
dapat menciptakan identitasnya sendiri yang berbeda dengan partner.
Penggunaan Aliansi Strategis

• Aliansi strategis pada umumnya digunakan perusahaan untuk:


• Mengurangi biaya melalui skala ekonomi atau pengingkatan pengetahuan
• Meningkatkan akses pada teknologi baru
• Melakukan perbaikan posisi terhadap pesaingMemasuki pasar baru
• Mengurangi waktu siklus produk
• Memperbaiki usaha-usaha riset dan pengembangan
• Memperbaiki kualitas
Tipe Aliansi Strategis

• Joint venture
Aliansi strategis dimana dua atau lebih perusahaan menciptakan perusahaan
yang independen dan legal untuk saling berbagi sumber daya dan kapabilitas untuk
mengembangkan keunggulan bersaing.
• Equity strategic alliance
Aliansi strategis dimana dua atau lebih perusahaan memiliki persentase
kepemilikan yang dapat berbeda dalam perusahaan yang dibentuk bersama namun
mengkombinasikan semua sumber daya dan kapabilitas untuk mengembangkan
keunggulan bersaing.
• Nonequity strategic alliance
Aliansi strategis dimana dua atau lebih perusahaan memiliki hubungan
kontraktual untuk menggunakan sebagian sumber daya dan kapabilitas unik untuk
mengembangkan keunggulan bersaing.
• Global Strategic Alliances
Kerjasama secara partnerships antara dua atau lebih perusahaan lintas negara
dan lintas industri. Terkadang aliansi ini dibentuk antara korporasi (atau beberapa
korporasi) dengan pemerintah asing.
Indikator Untuk Mengukur Variabel Kesuksesan Aliansi

• Kelanjutan aliansi merupakan keberhasilan perusahaan dalam memelihara


kerjasama yang telah terjalin baik.

• Peningkatan kualitas merupakan peningkatan kualitas pelayanan


perusahaan setelah menjalin kerjasama dengan mitranya.

• Kemampuan berkompetisi merupakan peningkatan kemampuan


perusahaan dalam berkompetisi dengan para pesaingnya.
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEGAGALAN ALIANSI
STRATEGIS

• Ketidakcocokkan Antarpartner
Ketidakcocokkan antarpartner aliansi strategis menjadi penyebab utama kegagalan
perjanjian. Kadang-kadang, ketidakcocokkan dapat menghasilkan konflik yang serius, walaupun
biasanya hanya menghasilkan penurunan kinerja aliansi. Dalam banyak kasus, masalah
ketidakcocokkan ini dapat diantisipasi jika partner-partner lebih dulu membahas dan menganalisa
dengan hati-hati alasan masing-masing partner ikut serta ke dalam aliansi.
• Akses ke Informasi
Supaya kolaborasi dapat berjalan dengan efektif, satu atau kedua partner harus
memberikan informasi yang lebih suka dirahasiakan oleh salah satu partner. Pada awalnya, memang
sering sulit untuk mengidentifikasi kebutuhan tersebut, oleh karena itu perusahaan membuat
perjanjian tanpa antisipasi harus berbagi informasi tertentu. Ketika situasi nyata terlihat jelas,
perusahaan harus dapat berbagi informasi atau jika tidak, efektifitas kolaborasi tersebut akan
terganggu.
• Konflik tentang Distribusi Penghasilan
Karena partner-partner berbagi risiko dan biaya, mereka juga berbagi profit.
Partner-partner juga harus menyetujui proporsi penghasilan yang akan dibagi di
antara mereka, sebagai kebalikan dari penghasilan yang diinvestasikan kembali ke
dalam bisnis.
• Hilangnya Otonomi
Perusahaan juga berbagi pengendalian, yang dengan demikian membatasi
kegiatan masing-masing perusahaan. Usaha-usaha untuk memperkenalkan produk
atau jasa baru, perubahan cara bisnis aliansi, atau memperkenalkan perubahan
organisasi yang penting lainnya harus lebih dulu dibahas dan dinegosiasikan.
• Perubahan Keadaan
Kondisi ekonomi yang dulunya memotivasi perjanjian kerja sama sudah tidak
ada lagi, atau keunggulan teknologi membuat perjanjian menjadi tidak
menguntungkan
TERIMA KASIH