Anda di halaman 1dari 53

ANTIBIOTIK DAN ANTISEPTIK

Antibiotik
• Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri
yang mempunyai khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan
kuman, sedangkan toksisitasnya pada manusia relatif kecil. Obat yang
digunakan untuk membasmi mikroba harus memiliki sifat toksisitas
selektif setinggi mungkin di mana obat tersebut harus bersifat sangat
toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk hospes.
• Dewasa ini istilah antibiotika sering digunakan secara luas, dengan
demikian tidak terbatas pada obat yang dihasilkan oleh fungi dan
bakteri, melainkan juga untuk obat-obat sintesis, seperti sulfonamida,
INH, PAS, nalidiksat, dan flurokinolon.
Aktivitas dan Spektrum
• Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antibiotik
yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba,
dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik, dan ada pula
yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebagai
aktivitas bakterisid. Antimikroba yang tertentu
aktivitasnya dapat meningkat dari bakteriostatik
menjadi bakterisid bila kadarnya ditingkatkan.
Antimikroba dapat digolongkan menjadi dua
kelompok, yaitu:

1. Antimikroba yang berspektrum sempit: hanya efektif untuk jenis


bakteri gram positif atau negatif saja. Contoh penisilin G, penisilin
V, eritomisin, klindamisin, kanamisin, dan asm fusidat efektif
terutama terhadap bakteri gram positif saja, sedangkan
streptomisin, gentamisin, polimiksin B, dan asam nalidiksat
khusus terhadap kuman gram negatif.
2. Antimikroba yang berspektrum luas: efektif untuk berbagai jenis
mikroba. Contoh tetrasiklin aktif terhadap beberapa jenis bakteri
gram positif, gram negatif, rickettsia, dan Chlamydia.
Mekanisme Kerja
• Antibiotika bekerja dengan menghambat: metabolisme sel mikroba
(saingan), sintesis dinding sel mikroba, keutuhan membran sel
mikroba, sintesis protein sel mikroba dan sintesis asam nukleat sel
mikroba.
Mekanisme erja obat antibiotika.
1. Menghambat metabolisme sel mikroba
Mikroba membutuhkan asam folat untuk kelangsungan hidupnya. Bila sintesis asam folat dari PABA
dihambat oleh antimikroba maka kelangsungan hidupnya akan terganggu. Dengan mekanisme kerja ini
diperoleh efek bakteriostatik. Contoh obat: sulfonamide, trimetoprim, asam p-aminosalisilat, dan
sulfonamide.
2. Menghambat sintesis dinding sel mikroba
Contoh obat: penisilin, sefalosporin, basitrasin, vankomisin, dan sikloserin.
Dinding sel terdiri dari polipeptidoglikan, bila sintesis polipeptidoglikan dihambat maka dapat
menyebabkan dinding sel lisis oleh karena tekanan osmosis dalam sel yang lebih tinggi dibandingkan
dengan tekanan diluar sel.
3. Mengganggu keutuhan membran sel mikroba
Kerusakan membran sel menyebabkan keluarnya berbagai komponen penting dari dalam sel mikroba,
seperti protein, asam nukleat, nukleotida, dan lain-lain. Contoh obat: polimiksin, gol polien serta
berbagai antimikroba golongan kemoterapetik.
4. Menghambat sintesis protein sel mikroba
Untuk kehidupannya sel mikroba perlu mensintesis berbagai protein. Obat antibiotik diatas
menghambat pembentukan protein, atau mengakibatkan terbentuknya protein yang abnormal dan
nonfungsional. Contoh obat: aminoglikosida, makrolid, linkomisin, tetrasiklin, dan kloramfenikol.
5. Menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba. Contoh obat rifampisin, dan golongan kuinolon.
Resistensi
Secara garis besar kuman dapat menjadi resisten terhadap suatu antimikroba melalui 3
mekanisme:
1. Obat tidak dapat mencapai tempat kerjanya di dalam sel mikroba karena:menghilang atau
bermutasinya pada kuman gram negatif, kuman mengurangi mekanisme transpor aktif yang
memasukkan antimikroba(AM) ke dalam sel (gentamisin), mikroba mengaktifkan pompa efluks
yang untuk membuang keluar AM dalam sel (tetrasiklin).
2. Inaktivasi obat
Mekanisme ini sering mengakibatkan terjadinya resistensi terhadap golongan aminoglikosida dan
beta laktam (penisilin dan sefalosporin) karena mikroba mampu membuat enzim yang merusak
kedua golongan AM tersebut (enzim penisilinase).
3. Mikroba mengubah tempat ikatan AM.
Mekanisme ini terlihat pada S. Aureus yang resisten terhadap metisilin (methicillin resistan S.
aureus = MSRA). Kuman ini mengubah penisilin binding proteinnya (PBP) sehingga afinitasnya
menurun terhadap metisilin dan antibiotika beta laktam yang lain.
Penyebaran resistensi pada mikroba dapat terjadi secara vertikal atau
yang sering terjadi ialah secara horizontal dari suatu sel donor.
Bagaimana resitensi dipindahkan dapat dibedakan 4 cara, yaitu:
1.Mutasi: proses ini terjadi secara spontan, acak dan tidak tergantung
dari ada atau tidaknya paparan terhadap AM. Mutasi terjadi akibat
perubahan pada gen mikroba mengubah binding site AM, protein
transport, protein yang mengaktifkan obat dan lain-lain.
2.Transduksi: keadaan suatu mikroba menjadi resisten karena
mendapat DNA dari bakteriofag (virus yang menyerang bakteri) yang
membawa DNA dari kuman lain yang memiliki gen resisten terhadap
antibiotic tertentu. Mikroba yang sering mentransfer resisten dengan
cara ini adalah S. aureus.
3. Transformasi: transfer resistensi terjadi karena mikroba mengambil
DNA bebas yang membawa sifat resisten dari sekitarnya. Transformasi
sering menjadi cara transfer resistensi terhadap penisilin pada
pneumokokus dan Neisseria.
4. Konyugasi: transfer yang resisten di sini terjadi langsung antara 2
mikroba dengan suatu “jembatan” yang disebut pilus seks. Dapat
terjadi antara kuman yang spesiesnya berbeda, lazim terjadi antar
kuman gram negatif dan sifat resitensi dibawa oleh plasmid (DNA yang
bukan kromosom).
Faktor-faktor yang memudahkan
berkembangnya resistensi di klinik adalah :
1. Penggunaan antimikroba yang sering. Terlepas dari penggunaannya
rasional atau tidak, antibiotika yang sering digunakan biasanya akan
berkurang efektivitasnya. Karena itu penggunaan antibiotika yang
irrasional perlu dikurangi sedapat mungkin.
2. Penggunaan antibiotika yang irrasional terutama di rumah sakit
merupakan faktor penting yang memudahkan berkembangnya
resistensi kuman.
3. Penggunaan antimikroba baru yang berlebihan. Beberapa contoh
antimikroba yang relatif cepat kehilangan efektivitasnya adalah
siprofloksasin dan kotrimoksazol.
4. Penggunaan antibiotika untuk jangka waktu lama memberi
kesempatan bertumbuhnya kuman yang lebih resisten.
5. Penggunaan antibiotika untuk ternak sebagai perangsang
pertumbuhan. Kadar antibiotika yang rendah pada pakan ternak
memudahkan tumbuhnya kuman-kuman yang resisten.
6. Kemudahan transportasi modern, perilaku seksual, sanitasi yang
buruk, dan kondisi perumahan yang tidak memenuhi syarat.
Efek Samping
1. Reaksi alergi
Reaksi alergi dapat ditimbulkan oleh semua antibiotik dengan melibatkan
sistem imun tubuh hospes. Terjadinya tidak tergantung pada besarnya
dosis obat.
2. Reaksi idiosinkrasi
Gejala ini merupakan reaksi abnormal yang diturunkan secara genetik
terhadap pemberian anti mikroba tertentu. Sebagai contoh 10% pria
berkulit hitam akan mengalami anemia hemolitik berat bila mendapat
primakuin. Ini disebabkan mereka kekurangan enzim glukosa-6-fosfat-
dehidrogenase (G6PD).
3. Reaksi toksik
Efek toksik pada hospes ditimbulkan oleh semuajenis antimikroba.
Tetrasiklin dapat mengganggu pertumbuhan tulang dan gigi.
Dalam dosis besar obat ini bersifat hepatotoksik.
4. Perubahan biologik dan metabolik
Penggunaan antimikroba berspektrum luas dapat mengganggu
keseimbangan ekologi mikro-flora normal tubuh sehingga jenis
mikroba yang meningkat populasinya dapat menjadi patogen.
Pada beberapa keadaan perubahan ini dapat menimbulkan
super infeksi, yaitu suatu infeksi baru yang terjadi akibat terapi
infeksi primer dengan suatu AM.
ANTIBIOTIKA
1.Penisilin
• Penisilin berasal dari jamur Penisilium notatum yang pertama kali
ditemukan tahun 1929 oleh Alexander Fleming. Penisilin digolongkan
ke dalam antibiotik beta-laktam karena mempunyai ciri terdapat
cincin beta-laktam di dalam struktur kimianya, yang berperan penting
dalam aktivitas biologis senyawa ini. Apabila cincin beta-laktam secara
enzimatis dipisah oleh enzim betalaktamase yang dihasilkan bakteri,
maka produk yang dihasilkannya akan berkurang aktivitas
antibakterinya.
Struktur kimia penisilin
Mekanisme Kerja
• Seperti halnya semua antibiotik golongan beta-laktam, kerja penisilin
menghambat pertumbuhan bakteri dengan jalan menghambat tahap spesifik
dalam sintesis dinding sel bakteri.
• Dinding merupakan lapisan luar yang kaku dari sel bakteri, lapisan ini menutupi
keseluruhan membran sitoplasma.
• Fungsi dari dinding sel adalah mempertahankan bentuk sel dan mencegah
terjadinya lisisnya (pecah) sel bakteri yang dikarenakan perbedaan tekanan
osmotik yang tinggi antara cairan di dalam sel dan cairan di luar sel.
• Mekanisme kerja dari penisilin adalah menghambat kerja protein pengikat
penisilin (PBP) yang berfungsi mengkatalisis reaksi transpeptidase dalam proses
pembentukan dinding sel bakteri, sehingga mengakibatkan matinya sel bakteri.
• Antibiotika golongan penisilin bersifat bakterisid (membunuh bakteri) hanya bila
sel-sel bakteri tumbuh dengan aktif dan mensintesis dinding sel.
Resistensi
Resistensi terhadap penisilin dan antibiotik beta-laktam lainnya
disebabkan oleh salah satu dari empat mekanisme umum.
1. Inaktivasi antibiotik oleh enzim betalaktamase yang
dihasilkan bakteri. Enzim betalaktamase merusak cincin beta-
laktam dari antibiotik yang menyebabkan hilangnya aktivitas
antibakteri dari antibiotik tersebut.
2. Modifikasi struktur PBP pada bakteri sehingga menyebabkan
antibiotik betalaktamase tidak mampu berikatan dan
menghambat protein tersebut.
3. Kerusakan penetrasi obat ke dalam PBP bakteri gram negatif.
Kurangnya penetrasi antibiotik ke dalam sel bakteri
menyebabkan rendahnya kadar penisilin di dalam sel bakteri,
sehingga memengaruhi kemampuan antibiotik dalam
menghambat sintesis dinding sel bakteri. Hal ini hanya
terjadi pada bakteri gram negatif.
4. Adanya suatu pompa aliran keluar, yang secara aktif
mengeluarkan antibiotika dari dalam sel. Hal ini
menyebabkan rendahnya kadar antibiotika di dalam sel,
sehingga memengaruhi kemampuan antibiotik dalam
menghambat sintesis dinding sel
Penggunaan Klinis
1. Benzil penisilin (penisilin G)
•Benzil penisilin mempunyai efek bakterisid yang kuat, dengan
spektrum kerja yang sempit terutama pada bakteri gram
positif. Benzil penisilin digunakan pada radang paru, radang
otak, profilaksis penyakit sifilis, endokarditis, dan gonorea.
Benzil penisilin bersifat tidak tahan asam sehingga
penggunaannya hanya melalui rute parenteral. Ikatan protein
plasmanya sebesar 60 % dengan waktu paruh 30 menit, Dosis
benzil penisilin adalah 4-6 kali sehari 1.000.000-4.000.000 unit
melalui rute intramuskular.
2. Kloksasilin
•Kloksasilin merupakan derivat (turunan) penisilin yang tahan asam dan
enzim betalaktamase. Sifat kloksasilin yang tahan asam menyebabkan obat
ini dapat digunakan secara oral. Kloksasilin mempunyai spektrum kerja
yang sempit. Sifat farmakokinetik kloksasilin adalah absorbsi secara oral
sekitar 50%, berikatan dengan protein plasma lebih dari 90 %, waktu paruh
30-60 menit. Dosis oral kloksasilin adalah 500 mg yang diberikan 4 sampai
6 kali sehari, sedangkan dosis pemberian secara intravena sebesar 250-
1000 mg yang diberikan 4 sampai 6 kali sehari.
3. Ampisilin
•Ampisilin merupakan antibiotik golongan penisilin yang mempunyai
spektrum kerja luas, yang aktif pada bakteri gram positif dan bakteri
gram negatif. Ampisilin digunakan pada infeksi saluran napas, saluran
cerna, saluran kemih, kulit, gonore, dan infeksi pada bagian lunak,
seperti otot. Sifat farmakokinetik ampisilin adalah diabsorbsi secara
oral sebesar 30-40%, waktu paruh 1-2 jam, dan ikatan protein plasma
sebesar 20%. Dosis oral ampisilin 0,5-1 gram yang diberikan 4 kali
sehari.
4.Amoksisilin
•Amoksisilin mempunyai aktivitas yang sama dengan ampisilin. Sifat
farmakokinetik amoksisilin adalah absorbsi per oral sebesar 80%,
berikatan dengan protein plasma sebesar 20% dan mempunyai waktu
paruh 1-2 jam. Dosis amoksisilin adalah 250-500 mg yang diberikan 3
kali sehari
Efek Samping
•Reaksi efek samping yang terpenting dari golongan penisilin adalah
reaksi alergi karena hipersensitasi, shok anafilaksis, diare, mual,
muntah, nefrotoksisitas, dan neurotoksisitas.

Wanita Hamil Dan Laktasi


•Penggunaan penisilin dianggap relatif aman bagi wanita hamil dan
menyusui.
2. Sefalosporin
• Sefalosporin termasuk
antibiotika beta laktam yang
struktur, khasiat dan sifat yang
mirip dengan penisilin.
Sefalosporin dihasilkan oleh
Cephalosporium acremonium.
Inti dasar sefalosporin adalah
asam 7-aminosefalosporanat (7-
ACA).
Aktivitas Dan Mekanisme Kerja
• Sefalosporin mempunyai spektrum kerja yang luas, dan
berkhasiat bakterisid pada fase pertumbuhan kuman.
Mekanisme kerja sefalosporin ialah menghambat
sintesis dinding sel mikroba.
Penggolongan
Menurut khasiat antimikrobanya dan resistensinya terhadap enzim
betalaktamase sefalosporin digolongkan menjadi:
1.Generasi 1: Aktif terhadap cocci gram positif, tidak tahan
terhadap betalaktamase Contoh: sefalotin, sefazolin, sefradin,
sefaleksin, dan sefadroksil
2.Generasi 2: Lebih aktif terhadap kuman gram negatif, termasuk H.
influenzae, proteus, klebsiella, gonococci, dan kuman yang resisten
terhadap amoksisilin. Agak tahan terhadap betalaktamase. Khasiat
terhadap kuman gram positif lebih kurang sama dengan generasi 1.
Contoh: sefaklor, sefamandol, sefmetazol, dan sefuroksim.
3. Generasi 3: Aktivitas terhadap kuman gram negatif
lebih kuat dan lebih luas meliputi pseudomonas
dan bacteroides. Lebih resisten terhadap
betalaktamase. Contoh: sefoperazon, sefotaksim,
seftizoksim, seftriakson, sefotiam, sefiksim, dan
sefprozil.
4. Generasi 4: Sangat resisten terhadap
betalaktamase, dan sefepim sangat aktif terhadap
pseudomonas. Contoh: sefepim, sefpirom.
Resistensi
•Dapat timbul dengan cepat, sehingga digunakan hanya untuk
infeksi berat.

Efek Samping
•Umumnya sama dengan obat golongan penisilin, hanya lebih
ringan, seperti gangguan lambung, usus, alergi, nefrotoksisitas
(terutama generasi 1).

Wanita Hamil Dan Laktasi


•Obat-obat generasi 1, seperti sefaklor, sefotaksim, seftriakson,
dan seftazidim dianggap aman bagi bayi, obat lainnya belum
terdapat kepastian keamanannya.
3. Kloramfenikol
• Kloramfenikol berasal dari jamur
Streptomyces venezuela dan
pertamakali disintesis pada
tahun 1949.
Aktivitas dan Mekanisme Kerja
• Kloramfenikol merupakan antimikroba dengan spektrum
luas. Kloramfenikol umumnya bersifat bakteriostatis
terhadap enterobacter dan staphilococus aureus, bakterisid
terhadap Str. pneumoniae, neisseria meningiditis, H.
influenzae.
• Mekanisme kerja kloramfenikol dengan menghambat
sintesis protein kuman. Obat ini terikat pada ribosom
subunit 50s dan menghambat enzim petidil transferase
sehingga ikatan peptida tidak terbentuk pada sintesis
protein kuman.
Indikasi
•Kloramfenikol hampir tidak digunakan lagi karena toksisitasnya
yang kuat, resistensi dan tersedianya obat-obat lain yang lebih
efektif. Bila tidak ada pilihan lain kloramfenikol digunakan
untuk demam tifoid (Salmonella typhi), meningitis (H.
influenza), infeksi anaaerob khususnya abses otak.
Kloramfenikol terkadang digunakan secara topikal untuk
mengobati infeksi mata karena mempunyai spektrum kerja
yang luas.

Kontraindikasi
•Kloramfenikol dikontraindikasikan pada neonatus, pasien
dengan gangguan hati, dan pasien yang hipersensitif terhadap
kloramfenikol.
Efek Samping
1.Gangguan GIT, seperti mual, muntah, diare, kandidiasis
oral.
2.Gangguan sumsum tulang, seperti anemia aplastik
(ireversibel) yang merupakan reaksi idiosinkrasi yang tidak
berhubungan dengan dosis.
3.Toksisitas pada bayi baru lahir sehingga menyebabkan
gray baby syndrome dengan ciri-ciri muntah, tonus otot
menurun, hipotermi, perubahan warna menjadi kelabu,
dan kolaps.

Wanita Hamil dan Laktasi


•Dapat menimbulkan cyanosis dan grey baby sindrom.
4. Tetrasiklin
• Tetrasiklin merupakan suatu
kelompok besar obat dengan
struktur dasar dan aktivitas yang
serupa. Tetrasiklin dihasilkan
oleh streptomyces aureofaciens
(klortetrasiklin) dan
streptomyces rimosus
(oksitetrasiklin).
Aktivitas dan Mekanisme Kerja
• Tetrasiklin merupakan antimikroba dengan spektrum kerja yang
luas. Tetrasiklin bersifat bakteriostatis untuk banyak bakteri
gram positif, negatif, ricketsia, klamidia, mikoplasma serta untuk
beberapa protozoa.
• Mekanisme kerja tetrasiklin berdasarkan hambatan sintesis
protein pada bakteri, yaitu dengan mencegah penambahan
asam amino baru pada rantai peptida yang sedang dibuat.
Tetrasiklin memasuki sel mikroba dengan cara difusi pasif atau
transport aktif.
Efek Samping
•Efek samping pada penggunaan tetrasiklin secara oral mual, muntah,
suprainfeksi, dan lain-lain. Efek lainnya penyerapan pada tulang dan gigi
yang baru terbentuk sehingga dapat menyebabkan kelainan bentuk dan
hambatan pertumbuhan. Efek lainnya adalah hepatotoksik, nefrotoksik,
dan fotosensitasi.
Wanita Hamil Dan Laktasi
•Karena menghambat pertumbuhan tulang dan kalsifikasi gigi, tetrasiklin
tidak boleh digunakan setelah bulan keempat masa kehamilan dan anak-
anak di bawah 8 tahun.
Interaksi
•Tidak boleh digunakan bersama antasida dan susu karena membentuk
kompleks tak larut sehingga memengaruhi jumlah obat yang diabsorbsi
kecuali doksisiklin dan minoksiklin. Interaksi lain adalah menghambat
hidrolisis dari estrogen terkonjugasi dalam usus sehingga memengaruhi
jumlah estrogen yang diserap.
5. Aminoglikosida
• Antibiotik golongan
aminoglikosida dihasilkan oleh
jenis fungi streptomyces dan
micromonospora. Semua
turunannya mengandung gula
amino yang saling terikat
dengan ikatan glikosida.
Penggolongan
Antibiotik golongan aminoglikosida digolongkan menjadi
1. Antibiotik yang mengandung satu molekul gula amino:
streptomisin.
2. Antibiotik yang mengandung dua molekul gula amino yang
dihubungkan oleh molekul sikloheksana: kanamisin dan
turunannya (amikasin, dibekasin), gentamisin dan turunannya
(netilmisin, tobramisin).
3. Antibiotik yang mengandung tiga molekul gula amino:
neomisin, framisetin, dan paromomisin.
Aktivitas Dan Mekanisme Kerja

• Aminoglikosida bersifat bakterisid dan merupakan


antimikroba dengan spektrum luas terutama pada
bakteri gram negatif.
• Mekanisme kerja aminoglikosida menghambat
sintesis protein kuman dengan cara ini terikat pada
ribosom subunit 30s dan menyebabkan salah baca
kode genetik yang menyebabkan terganggunya
sintesis protein.
Indikasi
•Streptomisin dan kanamisin digunakan untuk tuberkulosis, pes, tularemia
secara intramuskuler. Gentamisin digunakan untuk sepsis dan pneumonia
yang resisten terhadap obat-obat lain secara intramuskular, meningitis
secara intratekal, dan tobramisin untuk pseudomonas. Gentamisin,
tobramisin, framisetin, dan neomisin digunakan secara topikal.

Kontraindikasi
•Antibiotik golongan aminoglikosida dikontraindikasikan pada pasien usia
lanjut dan pasien yang menderita gangguan ginja
Efek Samping
•Efeksamping dari antibiotik golongan aminoglikosida adalah:
1.alergi: demam, rash kulit, dan lain-lain;
2.iritasi dan toksik yang berupa nyeri pada tempat suntikan, ototoksik,
nefrotoksik, neurotoksik;
3.perubahan biologik berupa perubahan mikroflora tubuh.

Wanita Hamil dan Laktasi


•Aminoglikosida dapat melintasi palsenta dan menyebabkan kerusakan
ginjal dan menyebabkan ketulian pada bayi.
6. Makrolida dan Linkomisin
• Makrolida merupakan suatu kelompok senyawa dengan ciri
mempunyai cincin lakton di mana terkait gula-gula deoksi.
Obat yang merupakan prototipe golongan ini adalah
eritromisin yang diambil dari Streptomyces
erytheus .Kelompok antibiotika ini terdiri dari eritromisin
dengan derivatnya (klaritomisin, roxitromisin, azitromisin,
dan diritromisin), spiramisin. Linkomisin dan klindamisin
secara kimiawi berbeda dengan eritromisin, tetapi mirip
aktivitas, mekanisme kerja, dan pola resistensinya.
Aktivitas dan Mekanisme Kerja

Golongan makrolida bersifat bakteriostatis terhadap


bakteri gram positif. Mekanisme kerja golongan ini
menghambat sintesis protein kuman dengan cara
berikatan secara reversibel dengan ribosom subunit 50s.
1. Eritromisin
a.Eritromisin merupakan pilihan pertama pada infeksi paru yang disebabkan oleh
Legionella pneumophila, Mycoplasma pneumonia. Selain itu, eritromisin
diindikasikan untuk infeksi usus yang disebabkan Campylobacter jejuni, infeksi
saluran napas, kulit, dan lain-lain. Eritromisin merupakan pilihan kedua bila
terdapat resistensi dan hipersensitivitas pada obat-obat golongan penisilin.
b.Efek samping eritromisin berupa gangguan saluran cerna, nyeri kepala, reaksi
kulit, gangguan fungsi hati, dan pada dosis tinggi dapat menimbulkan ketulian
yang reversible bila obat dihentikan.
c.Eritromisin dapat meningkatkan toksisitas karbamazepin, kortikosteroid,
siklosporin, digoksin, warfarin, terfenadin, astemizol, dan teofillin karena
menghambat aktivitas cytochrom P450 di hati. Kombinasi dengan terfenadin dan
astemizol menyebabkan aritmia jantung.
d.Eritromisin relatif aman diberikan selama kehamilan dan laktasi.
2. Azitromisin

Azitromisin diindikasikan pada infeksi saluran napas, kulit, otot, infeksi


saluran kemih, dan juga infeksi Mycobacterium avium pada pasien HIV.

3. Spiramisin
a.Spiramisin diindikasikan untuk infeksi mulut tenggorokan dan saluran
napas. Selain itu, jugamerupakan pengobatan alternatif untuk infeksi infeksi
toxoplasmosis.
b.Efek samping spiramisin relatif ringan.
c.Spiramisin tidak dianjurkan digunakan selama laktasi.
4. Klindamisin
a. Klindamisin diindikasikan untuk acne (topikal), infeksi
anaerob berat, luka tusuk pada abdomen dan usus, infeksi
saluran genital wanita, dan pneumonia karena aspirasi.
b. Efek samping klindamisin meliputi gangguan diare, mual,
rash kulit, gangguan fungsi hati, neutropenia, dan kolitis.
ANTISEPTIK
1. Eugenol
Bahan ini adalah esens (essence) kimiawi minyak cengkeh dan mempuyai hubungan
dengan fenol. Agak lebih mengiritasi dari minyak cengkeh dan keduanya
golongan anodyne. Eugenol menghalangi impuls saraf interdental.

2. ChKM (Chlorphenol kamfer menthol)


• Terdiri dari 2 bagian para-klorophenol dan 3 bagian kamfer. Daya disinfektan dan sifat
mengiritasi lebih kecil daripada formocresol. Mempunyai spektrum antibakteri luas
dan efektif terhadap jamur.
• Bahan utamanya; para-klorophenol. Mampu memusnahkan berbagai
mikroorganisme dalam saluran akar.
• Kamfer sebagai sarana pengencer serta mengurangi efek mengiritasi dari para-
klorophenol murni. Selain itu juga memperpanjang efek antimikrobial
• Menthol mengurangi sifat iritasi chlorphenol dan mengurasi rasa sakit.
3. Cresatin
Dikenal juga sebagai metakresilasetat. Bahan ini merupakan cairan
jernih, stabil, berminyak dan tidak mudah menguap. Mempunyai sifat
antiseptik dan mengurangi rasa sakit. Efek antimikrobial lebih kecil dari
formocresol dan ChKM, sifat mengiritasi jaringan periapikal lebih kecil
daripada ChKM.

4. Formocresol
Kombinasi formalin dan kresol dalam perbandingan 1:2 atau 1:1,
Formalin adalah disinfektan kuat yang bergabung dengan albumin
membentuk suatu substansi yang tidak dapat dilarutkan, tidak dapat
menjadi busuk . Pada beberapa pengujian mampu menimbulkan efek
nekrosis dan inflamasi persisten pada jaringan vital. Selain itu juga bisa
menimbulkan respon imun antara sel. Dianjurkan digunakan dalam
konsentrasi rendah.
5. TKF (Trikresol formalin)
• Adalah campuran ortho, metha, dan para-cresol dengan formalin. Bersifat
merangsang jaringan periapikal dan menyebabkan jaringan menjadi nekrosis
6. Halogen
Yang termasuk golongan ini adalah:
a.sodium hipoklorit
Klorin dengan berat atom terendah menpunai daya antibakteri yang terbesar. Uap
sodium hipoklorit bersifat bakterisidal. Disinfektan klorin bukan kompoun yang stabil
karena berinteraksi cepat dengan bahan organik, sehingga baik diaplikasikan pada
saluran akar tiap dua hari sekali.
b. Yodida
Yodin sangat reaktif, berkombinasi dengan protein dalam ikatan longgar sehingga
penetrasinya tidak terganggu. Bahan ini mungkin memusnahkan mikroorganisme
dengan membentuk garam yang merugikan kehidupan mikroorganisme. Seperti
kompoun klorin bahan ini efek antibakterialnya sebentar, tetapi merupakan
medikamen yang paling sedikit mengiritasi.
Kombinasi Antimikroba
Penggunaan kombinasi dua atau lebih antimikroba tidak dianjurkan,
terapi terarah lebih disukai, tetapi beberapa kombinasi dapatlah
bermanfaat, yaitu:
1. Pengobatan infeksi campuran
•Beberapa infeksi tertentu dapat disebabkan oleh lebih dari satu
mikroba yang peka terhadap antimikroba yang berbeda.
2. Pengobatan infeksi berat yang etiologinya belum jelas.
•Beberapa infeksi berat, seperti septikemia, meningitis purulenta dan
infeksi berat lainnya memerlukan kombinasi antimikroba, karena
keterlambatan pengobatan dapat membahayakan jiwa pasien.
Kombinasi diberikan dengan dosis penuh, bila pemeriksaan
mikrobiologi telah didapat maka AM yang tidak diperlukan dapat
dihentikan penggunaannya.
3. Mendapatkan efek sinergi
•Bila kombinasi antimikroba menghasilkan efek yang lebih besar
dibandingkan efek aditif saja.
4. Memperlambat timbulnya resistensi
•Khususnya untuk infeksi menahun, seperti TBC, lepra, dan HIV.
5. Untuk mengatasi resistensi
Amoksisilin dan asam klavulanat.
6.Untuk mengurangi toksisitas
•Trisulfa dan sitostatika, karena dosis masing2 komponen dapat
dikurangi.