Anda di halaman 1dari 62

Pengertian dan Klasifikasi

Luka Bakar

Astari Savitri
1510711010
Pengertian Luka Bakar
• Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh
panas arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai
kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam. Luka bakar
yang luas mempengaruhi metabolisme dan fungsi setiap sel
tubuh, semua sistem dapat terganggu, terutama sistem
kardiovaskuler
(Rahayuningsih, 2012).
• Luka bakar bisa merusak kulit yang berfungsi melindungi kita
dari kotoran dan infeksi. Jika banyak permukaan tubuh terbakar,
hal ini bisa mengancam jiwa karena terjadi kerusakan pembuluh
darah, ketidakseimbangan elektrolit dan suhu tubuh, gangguan
pernapasan serta fungsi saraf (Adibah dan Winasis, 2014).
Klasifikasi Luka Bakar
Derajat Luka Bakar
Grade I
• Jaringan yang rusak hanya epidermis
• Klinis adanya nyer, warna kemerahan, kulit kering
• Test jarum adanya hiperalgesia (respon yang berlebihan
terhadap stimulus yang secara normal menimbulkan nyeri)
• Lama sembuh ±7 hari
• Hasil kulit menjadi normal
Grade II
➢ Grade II A
• Jar. yang rusak sebagian dermis. Folikel, rambut & kelenjar keringat
utuh
• Rasa nyeri warna merah pada lesi
• Adanya cairan pada bula
• Waktu sembuh ±7-14 hari
➢ Grade II B
• Jar. yang rusak sampai dermis, hanya kelenjar keringat yang utuh
• Eritema, kadang ada sikatrik (penonjolan kulit akibat penumpukan
fibrosa)
• Waktu sembuh ±14-20 hari
Grade III

• Jar. yang rusak seluruh epidermis & dermis


• Kulit kering, kaku, terlihat gosong
• Tidak terasa nyeri karena ujung saraf rusak
• Waktu sembuh >21 hari
Grade IV

• Luka bakar yang mengenai otot bahkan tulang


Tes Jarum “Pin
Klasifikasi Jaringan yang rusak Klinis Waktu Sembuh Hasil
prick”

- Sakit
I Epidermis - Merah Hiperalgesi 7 hari Normal
- Kering

Sebagian dermis,
II Sakit merah/kuning, Hiperalgesi atau Normal, pucat,
folikel, rambut dan 7 – 14 hari
Dangkal basah, bula normal berbintik
kelenjar keringat utuh

Sakit merah/kuning, Pucat, depigmen-tasi,


II Hanya kelenjar basah, bula Hipoalgesi 14 – 31 hari rata, mengkilat, rambut
Dalam keringat yang utuh
(-), cicatrix, hipertropi

Tidak sakit, putih,


III Dermis seluruhnya Analgesi 21 hari Cicatrix, hipertropi
coklat, hitam, kering
Pengelolaan Luka Bakar
Luka bakar Ringan (minor)

• Luka bakar grade I & II luasnya <15% pada orang dewasa


• Luka bakar grade I & II luasnya <10% pada anak
• Luka bakar grade III luanya <2% pada segala usia
Luka bakar Sedang (moderate burn)

• Luka bakar grade II luasnya 15-25% pada orang dewasa


• Luka bakar grade II luasnya 10-20% pada anak
• Luka bakar grade II luasnya <10% pada segala usia
Luka bakar Berat (major burn)

• Luka bakar grade II luasnya >25% pada orang dewasa


• Luka bakar grade II luasnya >20% pada anak
• Luka bakar grade III luasnya >10% pada segala usia
• Luka bakar grade IV mengenai seluruh tubuh
Luas Luka Bakar
Berdasarkan “Rule of nine” oleh Polaski dan Tennison dari
Wallace

• Kepala & leher : 9%


• Dada & perut : 18%
• Punggung hingga bokong : 18%
• Anggota gerak atas masing-masing : 9%
• Anggota gerak bawah masing-masing : 18%
• Perineum : 1%
Menurut Linch dan Blocker untuk bayi

• Kepala: 20%
• Tangan, masing-masing 10%
• Kaki, masing-masing 10%
• Badan kanan 20 %, kiri 20 %
Menurut Lund dan Browder
Area 0-1 th 1-4 th 5-9 th 10-14 th 15 th Dewasa
Kepala 19 17 13 11 9 7
Leher 2 2 2 2 2 2
Anterior tubuh 13 13 13 13 13 13
Posterior tubuh 13 13 13 13 13 13
Bokong kanan 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
Bokong kiri 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
Genitalia 1 1 1 1 1 1
Lengan atas kanan
4 4 4 4 4 4

Lengan atas kiri


4 4 4 4 4 4
Area 0-1 th 1-4 th 5-9 th 10-14 th 15 th Dewasa
Lengan bawah kanan
3 3 3 3 3 3

Lengan bawah kiri


3 3 3 3 3 3

Telapak tangan
2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
kanan
Telapak tangan kiri
2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5

Paha kanan 5,5 6,5 8 8,5 9 9,5


Paha kiri 5,5 6,5 8 8,5 9 9,5
Kaki kanan 5 5 5,5 6 6,5 7
Kaki kiri 5 5 5,5 6 6,5 7
Telapak kaki kanan
3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5

Telapak kaki kiri


3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5

Total 100 100 100 100 100 100


KOMPLIKASI COMBUSTIO
INDAH AGUSTIN PRATIWI
SINDROM
KOMPARTEMEN
Merupakan proses terjadinya pemulihan integritas kapiler, syok
luka bakar akan menghilang dan cairan mengalir kembali ke dalam
kompartemen vaskuler, volume darah akan meningkat. Karena edema
akan bertambah berat pada luka bakar yang melingkar. Tekanan
terhadap pembuluh darah kecil dan saraf pada ekstremitas distal
menyebabkan obstruksi aliran darah sehingga terjadi iskemia
ADULT RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME

Akibat kegagalan respirasi terjadi jika derajat gangguan


ventilasi dan pertukaran gas sudah mengancam jiwa pasien.
ILEUS PARALITIK DAN ULKUS CURLING

Tanda – tanda dari ileus paraliitik : nausea

1.Berkurangnya peristaltic usus 2.Perdarahan lambung akibat

2.Berkurangnya bising usus stress fisiologi massif


(hipersekresi asam lambung)
Tanda – tanda dari ulkus curling :
3.Darah okulta dalam feces
1.Distensi lambung menyebabkan
GAGAL GINJAL AKUT

Haluaran urine yang tidak memadai dapat menunjukan


resusitasi cairan yang tidak adekuat khususnya haemoglobin
dalam urine.
PEMERIKSAAN PENUNJANG (LUKA
BAKAR)
DEANDA ELIan k (1510711037)
Vanda gita rahmadani (1510711068)
Pemeriksaan Penunjang

1. DPL (Diagnostic peritoneal lavage)


2. Ureum dan Elektrolit
3. Jika curiga trauma inhalasi : rontgent thorak, gas darah arteri,
perkiraan CO
4. Golongan darah dan cross match
5. EKG/ Enzim jantung dengan luka bakar listrik

Sumber : Grace a Pierce, borley r neil.2007. at a glance, ilmu bedah. Edisi 3. Penyakit dalam, luka bakar.
Halaman 87. Jakarta : Erlangga
Tambahan :
1. JDL, elektrolit, albumin serum, oksihemoglobin, BUN, Kreatinin,
bilirubin, alkalin fosfatase.
2. Gas darah arteri, glukosa, karbooksihemoglobin.
3. Urinalis terhadap hemoglobin, mioglobia, albumin, glukosa, aseton,
berat jenis
4. Radiologi dada dan tubuh, bronkoskopi, skan paru.
5. Elektrokardiogram (ECG)

Sumber : Tucker.M.Susan, dkk. 1999. standar perawatan pasien, proses keperawatan, diagnosis, dan
evaluasi. Edisi 5, bab 11, halaman 635. Jakarta : EGC
Menurut Doenges, 2000, diperlukan pemeriksaan penunjang
pada luka bakar
• 1. Laboratorium

a. Hitung darah lengkap : Hb (Hemoglobin) turun menunjukkan adanya pengeluaran


darah yang banyak sedangkan peningkatan lebih dari 15% mengindikasikan adanya cedera,
pada Ht (Hematokrit) yang meningkat menunjukkan adanya kehilangan cairan sedangkan
Ht turun dapat terjadi sehubungan dengan kerusakan yang diakibatkan oleh panas
terhadap pembuluh darah.

b. Leukosit : Leukositosis dapat terjadi sehubungan dengan adanya infeksi atau


inflamasi.

c. GDA (Gas Darah Arteri) : Untuk mengetahui adanya kecurigaaan cedera inhalasi.
Penurunan tekanan oksigen (PaO2) atau peningkatan tekanan karbondioksida (PaCO2)
mungkin terlihat pada retensi karbon monoksida.
d. Elektrolit Serum : Kalium dapat meningkat pada awal sehubungan
dengan cedera jaringan dan penurunan fungsi ginjal, natrium pada awal
mungkin menurun karena kehilangan cairan, hipertermi dapat terjadi
saat konservasi ginjal dan hipokalemi dapat terjadi bila mulai diuresis.

e. Natrium Urin : Lebih besar dari 20 mEq/L mengindikasikan kelebihan


cairan , kurang dari 10 mEqAL menduga ketidakadekuatan cairan.

f. Alkali Fosfat : Peningkatan Alkali Fosfat sehubungan dengan


perpindahan cairan interstisial atau gangguan pompa, natrium.

g. Glukosa Serum : Peninggian Glukosa Serum menunjukkan respon


stress.
h. Albumin Serum : Untuk mengetahui adanya kehilangan protein pada
edema cairan.

i. BUN atau Kreatinin : Peninggian menunjukkan penurunan perfusi atau


fungsi ginjal, tetapi kreatinin dapat meningkat karena cedera jaringan.

j. Loop aliran volume : Memberikan pengkajian non-invasive terhadap


efek atau luasnya cedera.

2. EKG : Untuk mengetahui adanya tanda iskemia miokardial atau


distritmia.

3. Fotografi luka bakar : Memberikan catatan untuk penyembuhan luka


bakar.
Tambahan :
1. Karena adanya edema, membuat tekana darah sulit diauskultasi, alat dopler (ultra
sound) atau tensimeter elektronik yang noninvasive dapat membantu, alat dopler
juga berguna untuk memantau denyut nadi perifer
2. Pada luka bakar yang berat, kateter arteri dapat digunakan untuk mengukur
tekanan darah dan mengambil specimen darah.
3. Warna urin yang kemerahan menunjukkan adanya hemokromogen dan myoglobin
yang terjadi akibat kerusakan otot karena luka bakar yang dalam dengan disertai
cedera listrik atau kontak yang lama dengan nyala api.
4. Glukosuria merupakan gejala yang sering ditemukan pada jam-jam pertama pasca
luka bakar dan terjadi akibat pelepasan glukosa yang disimpan dari dalam hati
sebagai respon stress.

Sumber : Smeltzer c Suzanne, Bare g Brenda. 2001. Buku ajar keperawatan medical bedah brunner and
suddarth.edisi 8. volume 3. unit 13. halaman 1924. Jakarta : EGC
Penatalaksanaan
farmakologi dan non
farmakologi
pada luka bakar
LINDA MANDASARI
DESSY FRANSISCA
FARMAKOLOGI
1. Perak Sulfadiazin (Silvadene) : Krim 1% , dioleskan 1-2 kali / hari.
Mencegah dan mengobati infeksi pada luka bakar derajat ke II dan
ke III. 10 % dari obat ini diabsorbsi. Pemakaian yang banyak atau
pengolesan secara berlebihan dapat menyebabkan timbulnya
Kristal sulfa (kristaluria)
2. Perak Nitrat : Larutan 0,5 %. Untuk luka bakar derajat ke II dan ke
III. Pembalut direndam dalam larutan perak nitrat 0,5 % dan
pembalut diangkat sebelum menjadi kering. Efektif melawan
beberapa organisme gram negatif. Dapat menimbulkan
ketidakseimbangan elektrolit (Hipokalemia) jika dipakai
berlebihan.
3. Mafenid Asetat (Sulfamylon) : Krim 8,5 %. Untuk luka bakar
derajat ke II dan ke III.

4. Nitrofurazone (Furacin) : Krim, salep, larutan, 0,2 %. Untuk luka


bakar derajat ke II dan ke III dapat menimbulkan fotosensistifitas,
oleh karena itu hindari sinar matahari dapat menyebabkan
dermatis kontak
NON FARMAKOLOGI
1. Cairan susu
Susu merupakan cairan yang paling bagus untuk mengompress luka bakar kecil.
Rendam daerah luka dengan susu selama 15 menit atau lebih. Bila anda
kesulitan merendam, anda bisa menggunakan handuk yang telah dibasahi susu
untuk menutup daerah yang terbakar. Lemak yang terdapat dalam susu akan
menyejukan daerah yang terbakar dan mempercepat penyembuhan.
2. Lidah buaya
Lidah buaya akan mempercepat proses penyembuhan. Dua atau tiga hari
setelah terluka, anda dapat membubuhi daerah luka dengan cairan dari daun
lidah buaya. Kesejukan dari cairan itu akan membantu meredakan nyeri.
Gunakan empat sampai 5 kali sehari tanpa ditutup dengan perban.
3. Kentang
Kentang juga bisa dipakai untuk pertolongan luka bakar. Irislah kentang lalu
tutup daerah yang terbakar menggunakan irisan tersebut. Zat tepung pada
kentang akan menetralisir luka bakar, rasa nyeri dan mencegah pembentukan
jaringan parut.
4. Madu
Madu yang digunakan untuk menutup luka akan menyejukan luka, meredakan
nyeri dan mempercepat penyembuhan. Madu juga akan mencegah infeksi
kuman serta melindungi daerah luka.
5. Minyak lavender
Minyak lavender akan meredakan rasa nyeri dan mempercepat penyembuhan
serta mencegah jaringan parut. Pertama tama, bersihkan daerah luka dengan
air dan sabun. Campur minyak lavender dengan minyak zaitun dengan
perbandingan 1 : 3. Selanjutnya tutuplah daerah luka dengan campuran tadi.
Algortitma Dan Manajemen Masalah
Kegawatdaruratan

Kartika Dwi P
Desi Hilda
Yosafat Galang
Puspa
Airway
Saat menilai Airway perhatikan apakah terdapat luka bakar inhalasi
Tanda-tanda fisik yang mungkin menunjukkan luka bakar inhalasi
meliputi:
1. Luka bakar pada wajah, leher atau 5. Sputum karbonat di orofaring
tubuh bagian atas 6. Dyspnoea
2. Rambut atau bulu hidung gosong 7. Eritema
3. Edema oropharyngeal Jika benar luka bakar inhalasi dilakukan
4. Perubahan suara ( hoarseness, intubasi endotrakeal
stridor )

Keterlambatan akan mengarah pada edema saluran napas progresif


dan kesulitan yang lebih besar dalam manajemen saluran napas
BREATHING
Pada kasus luka bakar pasien mengalami kesulitan bernapas , RR : 10
x/menit
• Tindakan yang harus dilakukan adalah pemberian SaO2 aliran
tinggi
• Pemantauan rutin laju pernapasan, tekanan darah, EKG, dan SaO2
harus dimulai. Selain itu, CXR, analisis AGD dan kadar COHb
(karboksihemoglobin) adalah wajib pada setiap pasien dengan
cedera inhalasi atau luka bakar mayor.
Circulation and Fluid Management
Cari bukti klinis defisit sirkulasi. Ini dapat ditunjukkan oleh:

• Takikardia
• Takipnea
• Penurunan tingkat kesadaran
• Waktu pengisian kapiler pusat yang memanjang
• Perifer dingin
Kekurangan cairan dari luka bakar harus diganti untuk
mempertahankan homoeostasis. Luka bakar yang mencakup
lebih dari 15% luas permukaan total tubuh pada orang dewasa
dan lebih dari 10% pada anak-anak memerlukan resusitasi
cairan formal. Akses IV ukuran besar harus melalui kulit yang
tidak terbakar jika memungkinkan. BM (pergerakan usus)
harus selalu diperiksa pada saat mendapatkan akses. Ambil
darah untuk FBC (jumlah darah lengkap), Ureum & Elektrolit,
glukosa, profil pembekuan, G & S dan kreatine kinase.
Formula Parkland untuk resusitasi luka bakar
Total kebutuhan cairan dalam 24 jam
• 4ml x BSA (luas permukaan yang terbakar) (%) x berat badan
(kg)
• 50% diberikan dalam 8 jam pertama
• 50% diberikan dalam 16 jam berikutnya
• Pasien dengan luka bakar yang membutuhkan resusitasi cairan harus
diberikan kateter dan keluaran urin diukur setiap jam. Ini akan memandu
administrasi cairan dan titik akhir yang diinginkan adalah:
Keluaran urin: 0,5-1,0 ml/kg /jam pada orang dewasa
Keluaran urin: 1,0-1,5 ml/kg/jam pada anak-anak (2-4 ml/kg/jam pada bayi)
• Ingatlah untuk memeriksa βhCG kandung kemih pada wanita usia subur.
• Anak-anak menerima cairan perawatan (0,45% saline + 5% dekstrose)
sebagai tambahan, dengan laju:
4ml/kg/jam untuk berat badan 10kg pertama ditambah
2ml/kg/jam untuk 10kg berat badan kedua ditambah
1ml/kg/jam untuk setiap kg lebih dari 20kg berat badan
Disability and Exposure
• Selalu periksa dan dokumentasikan GCS dan ukuran pupil.
Perhatikan dengan teliti tanda-tanda cedera kepala.
• Pasien dengan kurangnya kewaspadaan, selalu menahan
keracunan misalnya, CO, sianida atau efek dari obat lain
seperti alkohol atau zat terlarang.
• Suhu inti harus diukur dan dipertahankan di atas 36 ° C.
Pengkajian Luka Bakar
Rizky Kurnialita 1510711060
Afif Khoirun N 15107110
Reima AlBary 15107110
Pengkajian Primer
Setiap pasien luka bakar harus dianggap sebagai pasien
trauma, karenanya harus dicek Airway, Breathing, dan
Circulation-nya terlebih dahulu.
Airway
Apabila terdapat kecurigaan adanya trauma inhalasi, maka
segera pasang Endothraceal Tube (ET). Tanda-tanda adanya
trauma inhalasi antara lain: Terkurung dalam api, luka bakar
pada wajah, bulu hidung yang terbakar dan sputum yang
hitam.
Breathing
Eschar yang melingkari dada dapat menghambat pergerakan
dada untuk bernapas, segera lakukan escharotomi. Periksa
juga apakah ada trauma-trauma lain yang dapat menghambat
pernapasan, misalnya pneumothorax, hematothorax dan
fraktur costae.
Circulation
Luka bakar menimbulkan kerusakan jaringan sehingga
menimbulkan edema, pada luka bakar yang luas dapat terjadi
syok hipovolemik karena kebocoran plasma yang luas.
Manajemen cairan pada pasien luka bakar dapat diberikan
dengan formula Baxter.
Formula Baxter:
a. Total cairan: 4cc x berat badan x luas luka bakar.
b. Berikan 50% dari total cairan dalam 8 jam pertama,
sisanya dalam 16 jam berikutnya.
Pengkajian sekunder

1. Identitas pasien

Resiko luka bakar setiap umur berbeda: anak dibawah 2


tahun dan diatas 60 tahun mempunyai angka kematian lebih
tinggi, pada umur 2 tahun lebih rentan terkena infeksi.
(Doengoes, 2000)
2. Riwayat kesehatan sekarang

• Sumber kecelakaan
• Sumber panas atau penyebab yang berbahaya
• Gambaran yang mendalam bagaimana luka bakar terjadi
• Faktor yang mungkin berpengaruh seperti alkohol, obat-obatan
• Keadaan fisik disekitar luka bakar
• Peristiwa yang terjadi saat luka sampai masuk rumah sakit
• Beberapa keadaan lain yang memeperberat luka bakar
3. Riwayat kesehatan dahulu

Penting untuk menentukan apakah pasien ,mempunyai


penyakit yang merubah kemampuan utuk memenuhi
keseimbangan cairan dan daya pertahanan terhadap infeksi
(seperti DM, gagal jantung, sirosis hepatis, gangguan
pernafasan). (Doengoes, 2000)
Luas Luka Bakar
Berdasarkan “Rule of nine” oleh Polaski dan
Tennison dari Wallace

• Kepala & leher : 9%


• Dada & perut : 18%
• Punggung hingga bokong : 18%
• Anggota gerak atas masing-masing : 9%
• Anggota gerak bawah masing-masing : 18%
• Perineum : 1%
Menurut Linch dan Blocker untuk bayi

• Kepala: 20%
• Tangan, masing-masing 10%
• Kaki, masing-masing 10%
• Badan kanan 20 %, kiri 20 %
Menurut Lund dan Browder
Area 0-1 th 1-4 th 5-9 th 10-14 th 15 th Dewasa

Kepala 19 17 13 11 9 7
Leher 2 2 2 2 2 2
Anterior tubuh
13 13 13 13 13 13

Posterior tubuh
13 13 13 13 13 13

Bokong kanan
2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5

Bokong kiri
2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5

Genitalia 1 1 1 1 1 1
Lengan atas kanan
4 4 4 4 4 4

Lengan atas kiri


4 4 4 4 4 4
Area 0-1 th 1-4 th 5-9 th 10-14 th 15 th Dewasa
Lengan bawah kanan 3 3 3 3 3 3
Lengan bawah kiri 3 3 3 3 3 3
Telapak tangan kanan
2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5

Telapak tangan kiri 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5


Paha kanan 5,5 6,5 8 8,5 9 9,5
Paha kiri 5,5 6,5 8 8,5 9 9,5
Kaki kanan 5 5 5,5 6 6,5 7
Kaki kiri 5 5 5,5 6 6,5 7
Telapak kaki kanan 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5
Telapak kaki kiri 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5
Total 100 100 100 100 100 100