Anda di halaman 1dari 21

AQUA

AROMATIKA
DAN INFUSA

KELOMPOK II :
ENJELIN NUR FATHIKA
SITI NUR AINUN
NUR SYAIDATUL SADDIA
AQUA AROMATIKA
Menurut Farmakope Edisi II Aqua Aromatic adalah larutan
jenuh Minyak atsiri dalam air. Diantara air aromatic ada
yang memiliki daya terapi yang lemah,terlebih digunakan
untuk memberi aroma pada obat-obatan atau sebagai
pengawet.

Air ini tidak boleh berwarna dan berlendir, tapi harus


mempunyai bau dan rasa yang menyerupai bahan asal.
Sedangkan menururt FI edisi IV, kecuali dinyatakan lain,
aqua aromatic adalah larutan jernih dan jenuh dalam air
dari minyak yang mudah menguap atau senyawa aromatik
atau bahan mudah menguap lain.

Air aromatik dapat dibuat secara destilasi atau dibuat dari


larutan senyawa aromatik, dengan atau tanpa
menggunakan bahan pendispersi. Air aromatik perlu
disimpan terlindung cahaya dan panas berlebih.
Cara Pembuatan
 Larutkan minyak atsiri sejumlah yang tertera dalam
masing-masing monografi dalam 60 ml etanol 95%
 Tambahkan air sedikit demi sedikit sampai volume 100 ml
sambil dikocok kuat-kuat
 Tambahkan 500 mg talk, kocok lalu diamkan kemudian
disaring.
 Encerkan 1 bagian filtrat dengan 39 bagian air.
• Etanol disini, berguna untuk menambah kelarutan minyak
atsiri dalam air.
• Talk berguna untuk membantu pendistribusian minyak
dalam air dan menyempurnakan pengendapan kotoran
sehingga aqua aromatik yang dihasilkan jernih.

Selain cara melarutkan seperti yang tertera dalam FI edisi


II, buku lain juga mencantumkan aqua aromatik sebagai
hasil samping dari pembuatan olea volatilia secara
penyulingan sesudah diambil minyak atsirinya.
Aqua aromatik yang diperoleh sebagai hasil samping,
pembuatan minyak atsiri secara destilasi dapat dicegah
pembusukannya dengan cara didihkan dalam wadah
tertutup rapat yang tidak terisi penuh penangas air selama
1 jam.
 Pemerian:

Cairan jernih, atau agak keruh, bau dan rasa tidak boleh
menyimpang dari bau dan rasa minyak atsiri asal.

 Syarat untuk resep:


Jika air aromatik keruh, kocok kuat-kuat sebelum
digunakan.
 Penyimpanan:
Dalam wadah tertutup rapat, terlindungi dari cahaya, di
tempat sejuk.

 Khasiat:
Zat tambahan.
Air aromatik yang tertera
dalam FI II yaitu :
 Aqua Foeniculi
Adalah larutan jenuh minyak adas dalam air. Aqua foeniculi
dibuat dengan melarutkan 4 g oleum foeniculi dalam 60 ml
etanol 90%, tambahkan air sampai 100 ml sambil dikocok kuat-
kuat, tambahkan 500 mg talc, kocok, diamkan, saring.Encerkan 1
bagian filtrat dalam 39 bagian air.

 Aqua Menthae Piperitae


Adalah larutan jenuh minyak permen dalm air.
Cara pembuatan : lakukan pembuatan menurut cara yang tetera
pada aqua aromatika dengan menggunakan 2 g minyak permen.
 Aqua Rosae
Adalah larutan jenuh minyak mawar dalam air.
Cara pembuatan : larutkan 1 g minyak mawar dalam 20 ml
etanol, saring.Pada filtrat tambahkan air secukupnya hingga 5000
ml, saring.

Pemerian, penyimpanan dan syarat untuk resep sama seperti


aqua aromatik.
INFUSA

Menurut Farmakope Indonesia Ed. III, infusa merupakan


sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi (menyari)
simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat celcius
selama 15 menit.

Kecuali dinyatakan lain infusa yang mengandung bukan


bahan khasiat keras dibuat dengan menggunakan 10%
simplisia.
Sedangkan dekok adalah sediaan cair yang dibuat dengan
menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat
celcius selama 30 menit

jika tidak ditentukan perbandingan yang lain dan


tidak mengandung bahan berkhasiat keras maka untuk
100 bagian dekok harus dipergunakan 10 bagian dari
bahan dasar atau simplisia
Banyaknya air yang dibutuhkan dalam pembuatan infusa
atau dekokta adalah :

 untuk simplisia segar : sejumlah infusa atau dekokta yang


dibuat.
 untuk simplisia ½ kering : sejumlah infusa atau dekokta
yang dibuat , + (1x berat simplisia)
 untuk simplisia kering : sejumlah infusa atau dekokta yang
dibuat , = 2x (berat simplisia) -Depkes RI 1997, Farmakope
Indonesia edisi IV
Hal-Hal Yang Perlu
Diperhatikan Dalam
Membuat Sediaan Infusa

 Jumlah simplisia
Kecuali dinyatakan lain, infus yang mengandung bahan
tidak berkhasiat keras dibuat dengan menggunakan 10%
simplisia.
 Derajat halus simplisia
Yang digunakan oleh infus harus mempunyai derajat halus
sebagai berikut :
Serbuk Bahan-bahan
Serbuk (5/8) Akar Manis, Daun Kumis Kucing, Daun Sirih,
Daun Sena.
Serbuk (8/10) Dringo, Kelembak.
Serbuk (10/22) Laos, Akar Valerian, Temulawak, Jahe.
Serbuk (22/60) Kulit Kina, Akar Ipeka, Sekale Kornutum.
Serbuk (85/120) Daun Digitalis.
 Banyaknya air ekstra
Umumnya untuk membuat sediaan infus diperlukan
penambahan air sebanyak 2 kali berat simplisia. Air ekstra ini
diperlukan untuk melembabkan simplisia, karena simplisia yang
digunakan pada umumnya dalam keadaan kering.

 Cara menyerkai
Pada umumnya infus diserkai selagi panas, kecuali infus simplisia
yang mengandung minyak atsiri, infus condurango cortex dan
infus daun senae diserkai setelah dingin
Infus condurango diserkai dingin, karena zat berkhasiatnya larut
dalam keadaan dingin dan mengendap dalam keadaan panas.
Infus daun sena harus diserkai setelah dingin karena infus daun
sena mengandung zat yang dapat menyebabkan sakit perut yang
larut dalam air panas, tetapi tidak larut dalam air dingin.
Untuk asam jawa sebelum dibuat infus dibuang bijinya dan
diremas dengan air hingga massa seperti bubur
Infus daun sena, infus asam jawa dan infus simplisia lain
yang mengandung lendir tidak boleh diperas. Untuk buah
adas manis dan buah adas harus dipecah terlebih dahulu.
Bila sediaan tidak disebutkan derajat
kehalusannya hendaknya diambil derajat kehalusan suatu
bahan dasar yang kekentalan sama / sediaan galenik
dengan bahan yang sama
 Penambahan bahan-bahan lain
Pada pembuatan infus kulit kina ditambahkan asam sitrat
10% dari bobot bahan berkhasiat dan pada pembuatan
infus simplisia yang mengandung glikosida antrakinon,
ditambahkan Natrium karbonat 10% dari botol simplisia
dengan tujuan untuk memperbesar kelarutan zat
berkhasiat dalam air.
Contoh Infus