Anda di halaman 1dari 23

MODUL II

BERCAK PUTIH
KELOMPOK 4

KEDOKTERAN TROPIS
Nama Anggota Kelompok
Andi Muh.Gunawan
Andi Kartini
Annisa Nurillah
Musfirah Fauziah Ataullah
Nila Ardilla
Riyatnisar
Tri Wahyuni Utami
Urfatun Ita Julhaidar
Skenario

Seorang laki-laki, sawo matang, umur 17


tahun datang ke puskesmas dengan keluhan
bercak-bercak berwarna putih pada kulit,
berbentuk bulat dan lonjong, diameter 1-3
cm. Bercak putih tersebut muncul 1 bulan
yang lalu di daerah punggung.
Kata kunci

• Laki-laki 17 tahun
• Bercak putih pada kulit
• Bercak berbentuk bulat dan lonjong dengan
diameter 1-3 cm
• Muncul satu bulan yang lalu didaerah
punggung
Pertanyaan

1. Bagaimanakah anatomi kulit yang normal ?


2. Apakah jenis effloresensi dari scenario ?
3. Apakah penyebab terjadinya bercak putih ?
4. Bagaimana mekanisme timbulnya bercak putih ?
5. Penyakit apa sajakah yang memberikan gambaran
klinik berupa bercak putih ?
6. Apakah diagnosa banding dari skenario ?
7. Bagaimana langkah-langkah diagnostik pada
skenario ?
Anatomi
Effloresensi
Makula hipopigmentasi

Ukuran
• Numular adalah ukuran lesi sebesar uang
logam 5 rupiah atau 100 rupiah
• Plakat adalah ukuran lesi lebih besar dari
numular
Penyebab bercak putih
• Infeksi
Bakteri : Mycobacterium leprae, Streptococcus
aureus
Jamur : Malassezia furfur

• Non – Infeksi
Sinar UV, kelainan kromosom/kongenital4
Mekanisme timbulnya bercak putih
Diagnosa Banding
• Tinea Versikolor
• Morbus Hansen
• Tinea Alba
• Vitiligo
Anamnesis Tambahan

1. Apakah ada gatal terutama saat berkeringat ?


2. Apakah ada rasa panas ?
3. Apakah ada nyeri ?
4. Apakah bercak putihnya ada di tempat lain selain daerah punggung ?
5. Bagaimana ukuran dan warna awal bercaknya ?
6. Apakah ada kram-kram/mati rasa ?
7. Apakah pernah ada keluhan yang sama sebelumnya ?
8. Ada riwayat berobat tapi belum sembuh ?
9. Apakah ada orang disekitar yang mengalami hal yang sama ?
10.Bagaimna kondisi lingkungan sekitarnya ?
11.Apakah ada riwayat kontak dengan penderita lepra ?
12.Apakah demam ?
Diagnosa Sementara
Defenisi
Penyakit jamur superficial yang knonik

Sinonim
Tinea vasikolor, kromofitosis, dermatomikosis,
liver spot, line flava, pitriasi versikolor flava, dan
panu

Epidemiologi
Pitriasis versikolor adalah penyakit universal dan
terutama ditemukan di daerah tropis
Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

Tinea versikolor pada umumnya datang berobat


karena tampak bercak putih
pada kulitnya. Keluhan gatal ringan muncul terutama
saat berkeringat,
namun sebagian besar pasien asimptomatik.
Faktor Risiko

a. Sering dijumpai pada dewasa muda


(kelenjar sebasea lebih aktif
bekerja).
b. Cuaca yang panas dan lembab.
c. Tubuh yang berkeringat.
d. Imunodefisiensi
Hasil Pemeriksaan Fisik dan
Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

Tanda Patognomonis
Lesi berupa makula hipopigmentasi atau berwarna-warni, berskuama halus,
berbentuk bulat atau tidak beraturan dengan batas tegas atau tidak tegas.
Skuama biasanya tipis seperti sisik dan kadangkala hanya dapat tampak
dengan menggores kulit (finger nail sign).
Predileksi di bagian atas dada, lengan, leher, perut, kaki, ketiak, lipat paha,
muka dan kepala. Penyakit ini terutama ditemukan pada daerah yang
tertutup pakaian dan bersifat lembab.
Penatalaksanaan
a. Pasien disarankan untuk tidak menggunakan pakaian yang
lembab dan tidak berbagi penggunaan barang pribadi
dengan orang lain.
b. Pengobatan terhadap keluhannya dengan:

1. Pengobatan topikal
• Suspensi selenium sulfida 1,8%, dalam bentuk shampo
yang digunakan 2-3 kali seminggu. Obat ini digosokkan pada
lesi dan didiamkan 15-30 menit sebelum mandi.
• Derivat azol topikal, antara lain mikonazol dan klotrimazol.
2. Pengobatan sistemik diberikan apabila penyakit
ini terdapat pada daerah yang luas atau jika
penggunaan obat topikal tidak berhasil. Obat
tersebut, yaitu:
• Ketokonazol per oral dengan dosis 1 x 200 mg
sehari selama 10 hari, atau
• Itrakonazol per oral dengan dosis 1 x 200 mg
sehari selama 5-7 hari (pada kasus kambuhan
atau tidak responsive dengan terapi lainnya).
Konseling dan Edukasi

Edukasi pasien dan keluarga bahwa pengobatan harus


dilakukan secara menyeluruh, tekun dan konsisten,
karena angka kekambuhan tinggi (± 50% pasien).
Infeksi jamur dapat dibunuh dengan cepat tetapi
membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk
mengembalikan pigmentasi ke normal. Untuk
pencegahan, diusahakan agar pakaian tidak lembab
dan tidak berbagi dengan orang lain untuk
penggunaan barang pribadi.
TERIMA KASIH
DAFTAR PUSTAKA

1.
2. Djuanda,Adhi. 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Ed.6. FK UI: Jakarta. Hal. 3-4, 40, 100-101,
333-334
3. Scanion, Valerie C. 2007. Essentials of Anatomy and Physiology. F.A Davis Company.
Philadelphia: United Statets of America. P. 91-92
4. Siregar. 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit.Ed.2. EGC: Jakarta. Hal. 3, 5, 10
5. Graham,Robin. 2005. Lecture Notes Dermatologi Ed.8. Erlangga: Jakarta. Hal. 126-130
6. Weller, Richard. 2008. Clinical Dermatology Ed.4. Blackwell Publishing: Australia. P. 277-283
7. Mboi,Nafsiah. 2014. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer. Peraturan Menteri Kesehatan: Jakarta.
8. Zulkifli. 2003. Penyakit Kusta dan Masalah yang Ditimbulkan. FKM USU: Sumatera Utara
9. Christiana, Lenna. 2004. Lepra Subklinis dengan Pemeriksaan MLPA dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi. FK UNDIP: Semarang
10.Halim, Liana. 2010. Tata Laksana Komprehensif Ulkus Plantar pada Pasien Lepra. FK UI: Jakarta
11.Dumasari, Ramona. 2008. Vitiligo. FK USU: Sumatera Utara