Anda di halaman 1dari 24

DISKUSI TOPIK

PEMERIKSAAN DAN NEUROANATOMI AFASIA,


PEMERIKSAAN SISTEM MOTORIK

Penyaji:
Tanti Melinda
Heru Chris
Imam Agus Faisal
Vini Apriyanti
Marisa

Pembimbing :
dr. Helly Habiballoh Luqmansyah. Sp.S
DEFINSI
 Afasia adalah gangguan komunikasi yang disebabkan oleh
kerusakan pada bagian otak yang mengandung bahasa
(biasanya di hemisfer serebri kiri otak, yaitu otak yang lebih
dominant).
 Individu yang mengalami kerusakan pada sisi kanan hemisfer
serebri kanan otak mungkin memiliki kesulitan di luar masalah
bicara dan bahasa.
 Afasia dapat menyebabkan kesulitan dalam berbicara,
mendengarkan, membaca, dan menulis, tetapi tidak
mempengaruhi kecerdasan. Individu dengan afasia mungkin
juga memiliki masalah lain, seperti disartria, apraxia, dan
masalah menelan.
Global Afasia
 Global Afasia adalah afasia yang melibatkan semua aspek bahasa
dan mengganggu komunikasi lisan. Penderita tidak dapat berbicara
secara spontan atau melakukannya dengan susah payah, menghasilkan
tidak lebih dari fragmen perkataan.
 Pemahaman ucapan biasanya tidak ada; atau hanya bisa mengenali
beberapa kata, termasuk nama mereka sendiri dan kemampuan untuk
mengulang perkataan yang sama adalah nyata terganggu. Penderita
mengalami kesulitan menamakan benda, membaca, menulis, dan
menyalin kata kata.
 Bahasa otomatisme (pengulangan omong kosong) adalah
karakteristik utama. Distribusi lesi terletak di seluruh arteri serebri,
termasuk area Wernicke dan Broca.
Broca’s Afasia
 Broca’s afasia (juga disebut anterior, motorik, atau afasia ekspresif)
ditandai dengan tidak adanya gangguan spontan berbicara,
sedangkan pemahaman hanya sedikit terganggu.
 Pasien dapat berbicara dengan susah payah, memproduksi kata kata
yang goyah dan tidak lancar. Penamaan, pengulangan, membaca dengan
suara keras, dan menulis juga terganggu. Daerah lesi adalah di area
Broca; mungkin disebabkan infark dalam distribusi arteri prerolandic
(arteri dari sulkus prasentralis).
Afasia Wernicke
 Afasia Wernicke (juga disebut posterior, sensorik, atau reseptif aphasia)
ditandai dengan penurunan pemahaman yang kronik.
 Bicara tetap lancar dan normal mondar-mandir, tetapi kata kata
penderita tidak bisa dimengerti (kata salad, jargon aphasia). Penamaan,
pengulangan kata-kata yang di dengar, membaca, dan menulis juga
nyata terganggu. Area lesi ialah Area Wernicke (area 22). Mungkin
disebabkan oleh infark dalam distribusi arteri temporalis posterior.
Afasia Transkortikal
 Afasia transkortikal. Kata-kata yang didengar penderita dapat diulang,
tapi fungsi linguistik lainnya terganggu.
 Tidak bisa bicara secara spontan untuk penderita transkortikal motor
afasia (sindrom mirip dengan Broca afasia). Area lesi transkortikol
motorik terletak di kiri lobus frontal berbatasan dengan area Broca.
 Tidak mempunyai pemahaman bahasa bagi penderita transkortikal
afasia sensorik (sindrom mirip dengan Wernicke afasia). Lesi
transkortikol sensorik terletak di temporo-oksipital berhampiran Area
Wernicke.
Amnestik (anomik) Afasia
 Jenis afasia yang ditandai dengan gangguan penamaan dan mencari
perkataan. Bicara masih spontan dan fasih tapi sulit untuk menemukan
kata dan mencipta ayat.
 Kemampuan untuk mengulang, memahami, dan menulis kata-kata pada
dasarnya normal. Daerah lesinya di korteks temporoparietal atau di
substansia nigra.
Afasia Konduksi
 Pengulangan sangat terganggu; fasih, bicara spontan terganggu oleh
jeda untuk mencari kata-kata. Pemahaman bahasa hanya sedikit
terganggu. Daerah lesi ialah fasikulus arkuata.
Terdapat 3 area utama pusat bahasa yaitu, area Broca, area Wernicke dan
area konduksi:

 Area Broca yang merupakan area motorik untuk berbicara. Area


Broca terletak di posterior gyrus frontal. Secara neuroanatomi,
daerah ini digambarkan sebagai daerah Brodman 44 dan 45.

 Area Wernicke dimana pusat pemprosesan kata kata yang


diucapkan terletak di posterior gyrus temporal superior. Secara
neuroanatomi, daerah ini digambarkan sebagai daerah Brodmann 22.

 Area konduksi terdiri daripada fasikulus arkuata yang merupakan


satu bundel saraf yang melengkung dan menguhubungkan antara area
Broca dan area Wernicke. Kerusakan fasikulus arkuata menyebabkan:
timbul defisit unutk mengulang kata kata.
Cara pemeriksaan
 Kelancaran bicara : Bicara spontan, lancar tidak tertegun untuk
mencari kata yang diinginkan. Minta pasien
menyebutkan nama hewan sebanyak-banyaknya
selama 1 menit.
 Pemahaman bahasa lisan : Ajak pasien bercakap-cakap dan nilai
pemahamannya terhadap kalimat. Minta
pasien melakukan apa yang kita
perintahkan mulai dari yang sederhana
sampai yang sulit.
 Repetisi : Mintalah pasien untuk mengulangi apa yang kita ucapkan
mulai dari kata hingga kalimat.
 Menamai : Mintalah pasien untuk menyebutkan dengan cepat dan
tepat nama objek yang kita tunjukkan.
 Membaca
 Menulis
PEMERIKSAAN SISTEM MOTORIK
 INSPEKSI

Gaya berjalan dan tingkah laku.

Simetri tubuh dan ektremitas.

Kelumpuhan badan dan anggota gerak. dll.

Gerakan Volunter
GERAKAN VOLUNTER

Yang diperiksa adalah gerakan pasien atas permintaan pemeriksa, misalnya:

 Mengangkat kedua tangan pada sendi bahu.

 Fleksi dan ekstensi artikulus kubiti.

 Mengepal dan membuka jari-jari tangan.

 Mengangkat kedua tungkai pada sendi panggul.

 Fleksi dan ekstensi artikulus genu.

 Plantar fleksi dan dorso fleksi kaki.

 Gerakan jari- jari kaki


GERAKAN VOLUNTER
PALPASI OTOT
Konsistensi otot yang meningkat terdapat pada:
Pengukuran besar otot
 Spasmus otot akibat iritasi radix saraf spinalis,
Nyeri tekan. misal: meningitis, HNP.
Kontraktur.  Kelumpuhan jenis UMN ( spastisitas ).
Konsistensi  Gangguan UMN ekstrapiramidal ( rigiditas ).
 Kontraktur otot.
Konsistensi otot yang menurun terdapat pada.
 Kelumpuhan jenis LMN akibat denervasi otot.
 Kelumpuhan jenis LMN akibat lesi di ”motor
end plate”.
TONUS OTOT
Pasien diminta melemaskan Pada orang normal terdapat tahanan yang wajar:
ekstremitas yang hendak diperiksa  Flaccid : tidak ada tahanan sama sekali ( dijumpai pada
kelumpuhan LMN).
kemudian ekstremitas tersebut kita
 Hipotoni : tahanan berkurang.
gerak-gerakkan fleksi dan ekstensi  Spastik : tahanan meningkat dan terdapat pada awal
pada sendi siku dan lutut. gerakan , ini dijumpai pada kelumpuhan UMN.
 Rigid : tahanan kuat terus menerus selama gerakan
misalnya pada Parkinson.
Atrofi otot
Cara pemeriksaan:
Palpasi masa otot yg
diperiksa
PERKUSI OTOT
1. Normal : otot yang diperkusi akan berkontraksi yang bersifat
setempat dan berlangsung hanya 1 atau 2 detik saja.
2. Miodema : penimbunan sejenak tempat yang telah diperkusi (
biasanya terdapat pada pasien mixedema, pasien dengan gizi
buruk ).
3. Miotonik :tempat yang diperkusi menjadi cekung untuk beberapa
detik oleh karena kontraksi otot yang bersangkutan lebih lama
dari pada biasa.
Kekuatan otot
Pemeriksaan ini menilai kekuatan  Cara menilai kekuatan otot menggunakan score 0-5:
otot, untuk memeriksa kekuatan
0 : Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot, lumpuh total.
otot ada dua cara:
1 : Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan
 Pasien disuruh menggerakkan
pada persendiaan yang harus digerakkan oleh otot tersebut.
bagian ekstremitas atau
badannya dan pemeriksa 2 : Didapatkan gerakan,tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya
menahan gerakan ini. berat ( gravitasi ).
 Pemeriksa menggerakkan bagian 3 : Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat.
ekstremitas atau badan pasien 4 : Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula mengatasi
dan ia disuruh menahan. sedikit tahanan yang diberikan.
5 : Tidak ada kelumpuhan ( normal ).
KEKUATAN OTOT
GERAKAN INVOLUNTER
 Gerakan involunter ditimbulkan oleh gejala pelepasan yang bersifat positif, yaitu dikeluarkan
aktivitas oleh suatu nukleus tertentu dalam susunan ekstrapiramidalis yang kehilangan kontrol
akibat lesi pada nukleus pengontrolnya. Susunan ekstrapiramidal ini mencakup kortex
ekstrapiramidalis, nuklues kaudatus, globus pallidus, putamen, corpus luysi, substansia nigra,
nukleus ruber, nukleus ventrolateralis thalami substansia retikularis dan serebelum.

 Tremor saat istirahat : disebut juga tremor striatal, disebabkan lesi pada corpus striatum ( nukleus
kaudatus, putamen, globus pallidus dan lintasan lintasan penghubungnya ) misalnya kerusakan
substansia nigra pada sindroma Parkinson.

 Tremor saat bergerak ( intensional ) : disebut juga tremor serebellar, disebabkan gangguan
mekanisme “feedback” oleh serebellum terhadap aktivitas kortes piramidalis dan ekstrapiramidal
hingga timbul kekacauan gerakan volunter.
GERAKAN INVOLUNTER
 Khorea : gerakan involunter pada ekstremitas, biasanya lengan atau tangan,
eksplosif, cepat berganti sifat dan arah gerakan secara tidak teratur, yang hanya
terhenti pada waktu tidur. Khorea disebabkan oleh lesi di corpus striataum,
substansia nigra dan corpus subthalamicus.
 Athetose : gerakan involenter pada ektremitas, terutama lengan atau tangan atau
tangan yang agak lambat dan menunjukkan pada gerakan melilit lilit , torsi
ekstensi atau torsi fleksi pada sendi bahu, siku dan pergelangan tangan. Gerakan
ini dianggap sebagai manifestasi lesi di nukleus kaudatus.
 Ballismus: gerakan involunter otot proksimal ekstremitas dan paravertebra, hingga
menyerupai gerakan seorang yang melemparkan cakram. Gerkaan ini
dihubungkan dengan lesi di corpus subthalamicus, corpus luysi, area prerubral dan
berkas porel.
 Fasikulasi: kontrasi abnormal yang halus dan spontan pada sisa serabut otot yang
masih sehat pada otot yang mengalami kerusakan motor neuron. Kontraksi
nampak sebagai keduten keduten dibawah kulit.
FUNGSI KOORDINASI
Tujuan pemeriksaan ini untuk menilai aktivitas serebelum. Serebelum
adalah pusat yang paling penting untuk mengintegrasikan aktivitas
motorik dari kortex, basal ganglia, vertibular apparatus dan korda
spinalis. Lesi organ akhir sensorik dan lintasan – lintasan yang
mengirimkan informasi ke serebelum serta lesi pada serebelum dapat
mengakibatkan gangguan fungsi koordinasi atau sering disebut “
Cerebellar sign “
CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK.

Dengan menggunakan angka dari 0 – minus 4

 Nilai 0 -1 -2 -3 -4
 Gerakan bebas + + + + -
 Melawan gravitasi+ + + - -
 Melawan pemeriksa + +/-- - -

Nilai O berarti normal, -1 = parese ringan, -2 = parese


moderat, -3= parese hebat, -4 paralisis.