Anda di halaman 1dari 28

ABLASIO RETINA

REFERAT
Hilman Abdurahman

Pembimbing :
dr. Boyke Sisprihattono,Sp. M
Pendahuluan
• Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang
mengandung reseptor yang menerima rangsangan
cahaya
• Retina manusia merupakan suatu struktur yang sangat
terorganisir, yang terdiri dari lapisan-lapisan badan sel
dan prosesus sinaptik
• Ablasio retina adalah suatu keadaan terpisahnya sel
kerucut dan batang retina dari sel epitel pigmen retina.
Ablasio retina dapat menyebabkan cacat penglihatan
atau kebutaan yang menetap
Lepasnya retina atau sel kerucut dan batang dari
koroid atau sel pigmen epitel akan mengakibatkan
gangguan nutrisi retina dari pembuluh darah koroid
yang bila berlangsung lama akan mengakibatkan
gangguan fungsi yang menetap.

Ablasio retina dapat terjadi melalui 3 mekanisme :


1. Penimbunan cairan subretina
2. Tarikan oleh jaringan fibrotik di dalam badan
kaca
3. Pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid
vitreous)
Anatomi Retina
Retina terdiri dari 10 lapisan, yaitu lapis fotoreseptor, membran limitan
eksterna, lapis nuklear luar, lapis pleksiform luar, lapis nukleus dalam, lapis
pleksiform dalam, lapis sel ganglion, lapis serabut syaraf, dan membran
limitan interna.
Di tengah – tengah retina posterior
terdapat makula. Secara klinis makula
dapat didefinisikan sebagai daerah
pigmentasi kekuningan yang disebabkan
oleh pigmen luteal (xantofil) yang
berdiameter 1,5 mm. Secara histologis
makula merupakan bagian retina yang
lapisan ganglionnya mempunyai lebih
dari satu lapis sel. Secara klinis, makula
adalah bagian yang dibatasi oleh arkade –
arkade pembuluh darah retina temporal.
• Retina menerima darah dari dua sumber yaitu khoriokapilaria
yang berada tepat diluar membrana Bruch, yang mendarahi
sepertiga luar retina termasuk lapisan pleksiformis luar dan
lapisan inti luar, fotorreceptor, dan lapisan epitel pigmen
retina serta cabang – cabang dari arteri sentralis retinae yang
mendarahi dua pertiga sebelah dalam.
Fisiologi Retina
• Retina adalah jaringan paling kompleks di mata. Untuk melihat, mata
harus berfungsi sebagai suatu alat optis, sebagai suatu reseptor kompleks,
dan sebagai suatu transducer yang efektif.

• Makula bertanggung jawab untuk ketajaman penglihatan yang terbaik dan


untuk penglihatan warna, dan sebagian besar selnya adalah sel kerucut.

• Macula terutama digunakan untuk penglihatan sentral dan warna


(penglihatan fotopik) sedangkan bagian retina lainnya, yang sebagian
besar terdiri dari fotoreseptor batang, digunakan terutama untuk
penglihatan perifer dan malam (skotopik).
Definisi

• Ablasio berasal dari bahasa


Latin ablatio yang berarti
pembuangan atau
terlepasnya salah satu
bagian badan. Jadi, ablasio
retina adalah suatu keadaan
terpisahnya sel kerucut dan
batang retina dari sel epitel
pigmen retina.
Epidemiologi

• Penyebab paling umum di seluruh dunia yang terkait dengan ablasio retina
adalah miop, afakia, pseudofakia, dan trauma.

• Sekitar 40-50% dari semua pasien dengan ablasio memiliki miop, 30-40%
mengalami pengangkatan katarak, dan 10-20% telah mengalami trauma
okuli. Ablasio retina yang terjadi akibat trauma lebih sering terjadi pada
orang muda, dan miop terjadi paling sering pada usia 25-45 tahun.
Klasifikasi

1. Ablasio Retina Primer (Ablasio Retina Regmatogenosa)

• Pada ablasio retina regmatogenosa terjadi robekan pada retina sehingga cairan masuk ke belakang

antara sel pigmen epitel dengan retina. Terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid

vitreous) yang masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga subretina sehingga

mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen koroid.

• Faktor predisposisi terjadinya ablasio retina regmatogenosa antara lain: Usia, Jenis Kelamin,

Miopia, Afakia, Trauma, Fenile Posterior Vitreous Detachment (PVD) /terpisahnya korteks vitreus

posterior dari membran limitan interna retina, Pasca sindrom nekrosis akut retina, dan degenerasi

retina.
• Ablasio retina akan
memberikan gejala
terdapatnya gangguan
penglihatan yang kadang -
kadang terlihat sebagai
tabir yang menutupi dan
terdapat riwayat adanya
pijaran api (fotopsia) pada
lapangan penglihatan

Ablasio retina tipe regmatogenosa, arah panah


menunjukkan horseshoe tear
2. Ablasio Retina Sekunder (Non regmatogenosa)

a. Ablasio Retina Eksudatif

• Ablasio retina eksudatif terjadi akibat adanya


penimbunan cairan eksudat di bawah retina
(subretina) dan mengangkat retina.

• Penyebab Ablasio retina eksudatif dibagi menjadi dua


yaitu penyakit sistemik (Toksemia gravidarum,
hipertensi renalis, poliartritis nodosa) dan penyakit
pada mata (skleritis posterior, selulitis orbita,
perforasi bola mata pada operasi intraokuler)
Ablasio retina tipe eksudatif akibat dari hasil
metastase karsinoma
b. Ablasio retina traksi
• Pada ablasio ini lepasnya
jaringan retina terjadi akibat
tarikan jaringan parut pada
korpus vitreus yang
menyebabkan penglihatan turun
tanpa rasa sakit. Pada badan
kaca terdapat jaringan fibrosis
yang dapat disebabkan diabetes
melitus proliferatif, trauma, dan
perdarahan badan kaca akibat
bedah atau infeksi.
Diagnosis
a. Anamnesis
• Floaters (terlihatnya benda melayang-layang)
• Photopsi/light flashes (kilatan cahaya), tanpa adanya sumber cahaya di
sekitarnya,
• Penurunan tajam penglihatan
• adanya riwayat trauma
• riwayat pembedahan sebelumnya seperti ekstraksi katarak, pengangkatan
korpus alienum inoukler
• riwayat penyakit mata sebelumnya (uveitis, perdarahan vitreus, amblopia,
glaukoma, dan retinopati diabetik)
• Riwayat keluarga dengan sakit mata yang sama serta penyakit serta
panyakit sistemik yang berhubungan dengan ablasio retina (diabetes
melitus, tumor, sickle cell leukemia, eklamsia, dan prematuritas)
b. Pemeriksaan oftalmoskopi
• Pemeriksaan tajam penglihatan
• Pemeriksaan lapangan pandang
• Memeriksa apakah ada tanda-
tanda trauma
• Periksa reaksi pupil. Dilatasi pupil
yang menetap mengindikasikan
adanya trauma.
• Pemeriksaan slit lamp; anterior
segmen biasanya normal,
pemeriksaan vitreous untuk
mencari tanda pigmen atau
tobacco dust, ini merupakan
patognomonis dari ablasio retina
pada 75 % kasus.
• Periksa tekanan bola mata.
c. Pemeriksaan Penunjang

• Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk


mengetahui adanya penyakit penyerta seperti
diabetes melitus.
• Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan bila retina
tidak dapat tervisualisasi oleh karena perubahan
kornea, katarak, atau perdarahan.
• Teknik pencitraan seperti foto orbita, CT scan,
atau MRI tidak diindikasikan untuk membantu
diagnosis ablasio retina tetapi dapat dibutuhkan
untuk mendeteksi benda asing intraokuli dan
tumor.
Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada ablasio retina adalah


pembedahan. Prinsip bedah pada ablasio retina
yaitu :
• Menemukan semua bagian yang terlepas.
• Membuat iritasi korioretinal pada sepanjang
masing-masing daerah retina yang terlepas.
• Menguhubungkan koroid dan retina dalam waktu
yang cukup untuk menghasilkan adhesi dinding
korioretinal yang permanen pada daerah
subretinal.
1. Scleral buckling
• Prosedur meliputi lokalisasi
posisi robekan retina,
menangani robekan dengan
cryoprobe, dan selanjutnya
dengan scleral buckle (sabuk).
• Pertama-tama dilakukan
cryoprobe atau laser untuk
memperkuat perlengketan
antara retina sekitar dan epitel
pigmen retina. Sabuk dijahit
mengelilingi sklera agar ada Spons silikon dijahit pada bola mata untuk
tekanan pada robekan retina menekan sklera di atas robekan retina
sehingga terjadi penutupan setelah drainase cairan sub retina dan
pada robekan tersebut. dilakukan crioterapi
2. Retinopeksi pneumatik
• Retinopeksi pneumatik
merupakan metode yang juga
sering digunakan pada ablasio
retina regmatogenosa
terutama jika terdapat
robekan tunggal pada bagian
superior retina
• Teknik pelaksanaan prosedur
ini adalah dengan
menyuntikkan gelembung gas
ke dalam rongga vitreus.
Gelembung gas ini akan
menutupi robekan retina dan
mencegah pasase cairan lebih Setelah pengangkatan gel vitreus pada
lanjut melalui robekan. drainase cairan sub retina, gas fluorokarbon
inert disuntikan ke dalam rongga vitreus
3. Vitrektomi
• Merupakan cara yang paling banyak

digunakan pada ablasio akibat diabetes,

dan juga pada ablasio regmatogenosa

yang disertai traksi vitreus atau

perdarahan vitreus

• Teknik dan instrumen yang digunakan

tergantung tipe dan penyebab ablasio.

Lebih dari 90% lepasnya retina dapat

direkatkan kembali dengan teknik-teknik

bedah mata modern, meskipun kadang-

kadang diperlukan lebih dari satu kali

operasi.
2.8 Pencegahan

• Cara pencegahan yang terbaik adalah


mengontrol diabetes dan tekanan darah
tinggi. Penderita diabetes sebaiknya menjalani
pemeriksaan mata secara rutin (1 kali/tahun),
yang dimulai pada tahun ke 5 setelah
terdiagnosis menderita diabetes.
2.9 Prognosis
• Prognosis dari penyakit ini berdasarkan pada keadaan
makula sebelum dan sesudah operasi serta ketajaman
visualnya. Jika, keadaannya sudah melibatkan makula
maka akan sulit menghasilkan hasil operasi yang baik,
tetapi dari data yang ada sekitar 87 % dari operasi yang
melibatkan makula dapat mengembalikan fungsi visual
sekitar 20/50 lebih kasus dimana makula yang terlibat
hanya sepertiga atau setengah dari makula tersebut.

• Pasien dengan ablasio retina yang melibatkan makula


dan perlangsungannya kurang dari 1 minggu, memiliki
kemungkinan sembuh post operasi sekitar 75 %
sedangkan yang perlangsungannya 1-8 minggu
memiliki kemungkinan 50 %.
• Dalam 10-15 % kasus yang dilakukan pembedahan
dengan ablasio retina yang melibatkan makula,
kemampuan visualnya tidak akan kembali sampai level
sebelumnya dilakukannya operasi. Hal ini disebabkan
adanya beberapa faktor seperti irreguler astigmat akibat
pergeseran pada saat operasi, katarak progresif, dan
edema makula. Komplikasi dari pembedahan misalnya
adanya perdarahan dapat menyebabkan kemampuan
visual lebih menurun.
Daftar Pustaka
• Ilyas, H. Sidarta. 2010. Ilmu Penyakit Mata-Ablasi Retina. Edisi ke-3. Jakarta : Badan
Penerbit FKUI; 183-186.
• Artini, Widya. 2011. Pemeriksaan Dasar Mata. Edisi pertama. Jakarta: Badan
Penerbit FKUI.
• Vaughan, Daniel G. Asbury, Taylor. 2000. Oftalmologi umum (General
ophthalmology) edisi 17. EGC: Jakarta. p. 12-199
• Sundaram venki. Training in Ophthalmology. 2009. Oxford university press: New
York. P.118-119
• Larkin, L. Gregory. Retinal Detachment.[serial online] 8th septembe 2010 [cited 24th
January 2012]. Available from : http//emedicine.medscape.com/article/1226426
• Bruce James, Chris Chew,Anthony Bron, Lecture Notes On Oftalmology , edisi
kesembilan , Blackwell Science Ltd :Penerbit Erlangga
• Khurana. Diseases of retina in comprehensive ophthalmology 4th edition. New Age
International Limited Publisher: India. p. 249- 279.
TERIMA KASIH