Anda di halaman 1dari 28

STANDARD MINIMUM

KETAHANAN PANGAN
DALAM BENCANA
YUSUF AFIF
25010116140134

2
DEFINISI STANDARD
MINIMUM
Standar Minimum untuk ketahanan pangan dan gizi merupakan panduan
praktis keyakinan dan komitmen bersama lembaga-lembaga
kemanusiaan dan sekaligus prinsip-prinsip umum yang mengatur aksi-
aksi kemanusiaan sesuai yang tercantum di dalam Piagam
Kemanusiaan.

3
KETAHANAN PANGAN DAN GIZI
DALAM SITUASI BENCANA

• Gizi merupakan masalah kesehatan • Orang-orang yang terkena dampak • Setiap orang berhak atas pangan yang
masyarakat yang serius dan menjadi biasanya sudah berada di dalam kondisi cukup.
penyebab utama kematian, baik secara kronis kekurangan gizi saat bencana
langsung mau pun tidak langsung. melanda.

4
PERATURAN BNPB NOMOR 03TAHUN 2018TENTANG PENANGANAN
PENGUNGSI PADA KEADAAN DARURAT BENCANA

Kegiatan Perlindungan Pengungsi pada Keadaan Darurat Bencana meliputi:


a. penyelamatan dan evakuasi;
b. penyediaan kebutuhan air bersih dan sanitasi;
c. penyediaan kebutuhan sandang dan pangan;
d. penyediaan layanan kesehatan dan psikososial;
e. penyediaan dan pengelolaan tempat pengungsian;
f. pengamanan dan ketertiban;
g. perlindungan dengan prioritas terhadap kelompok rentan;
h. pengarusutamaan gender; dan
i. penyediaan layanan pendidikan darurat

5
● Pelaksanaan pengelolaan bantuan logistik pada status keadaan darurat mencakup langkah-langkah yang diuraikan
sebagai berikut:
– Aktivasi
• Mengaktifkan Bidang Logistik dari Pos Komando pada status keadaan darurat sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya;

• Mendukung penyelenggaraan Pos Komando Tanggap Darurat;

• Mengkoordinasikan semua bantuan logistik dari instansi/lembaga/ organisasi yang terkait.

– Penerimaan
• Mencatat jenis, jumlah dan mutu logistik yang diterima dari berbagai sumber;

• Menyeleksi dan mencocokkan bantuan logistik sesuai skala prioritas kebutuhan;

• Menyimpan logistik ditempat yang mudah diakses. Sumber penerimaan logistik dapat berasal dari dalam dan luar negeri antara lain dari masyarakat,
pemerintah dan pemerintah daerah serta dunia usaha. Proses penerimaan bantuan logistik pada status keadaan darurat bencana dimulai dari
pencatatan dan pengecekan, sumber bantuan, waktu diterima, jenis dan jumlah bantuan, cara penyimpanan, transporter, sasaran penerima bantuan,
yang dilaksanakan oleh koordinator bidang logistik.

6
– Penyimpanan
• Memilih gudang dengan memperhatikan tempat, tipe gudang, kapasitas, fasilitas, sistem pengamanan dan keselamatan, sesuai ketentuan yang
berlaku.

• Menyimpan bantuan logistik di gudang, dengan melakukan pencatatan, pemilahan dan penyusunan barang logistik disesuaikan dengan jenisnya serta
pengecekan stok barang logistik secara periodik;

• Menata kelola bantuan logistik sehingga memudahkan dalam penerapan system “First-In First-Out”, First Expired First Out;

• Menjaga bantuan logistik dari kerusakan dan kehilangan maupun berkurangnya standar mutu.

– Pengangkutan
• Mengangkut dan atau memindahkan logistik dari gudang penyimpanan ke tujuan penerima;

• Menjamin keamanan, keselamatan dan keutuhan logistik dari gudang ke tujuan;

• Mempercepat penyampaian;

• Jenis Pengangkutan terdiri dari angkutan darat, air dan udara, baik secara komersial maupun non komersial yang berdasarkan kepada ketentuan yang
berlaku;

• Pemilihan moda angkutan berdasarkan pertimbangan:

• Pengangkutan dilaksanakan berdasarkan kebutuhan bantuan logistik yang harus dilengkapi dengan data (jenis, jumlah, tujuan, pengirim, transporter
termasuk pengawalan, dan penerima), dan berita acara serah terima barang.
7
– Distribusi
• Setelah bantuan logistik sampai ditempat tujuan (titik distribusi), selanjutnya didistribusikan kepada korban sesuai dengan data permintaan yang telah
mendapatkan persetujuan dari pejabat berwenang;

• Data pendukung memuat calon penerima bantuan, bantuan prioritas bantuan yang dibutuhkan, waktu penyampaian, lokasi, cara penyampaian, alat
transportasi yang digunakan, penanggung jawab atas bantuan tersebut;

• Distribusi bantuan logistik dibuatkan laporan pertanggungjawabannya, sesuai dengan data pendukung.

– Penghapusan
• Barang logistik untuk bantuan bencana yang dialihkan kepemilikannya atau tidak dapat digunakan atau tidak dapat dimanfaatkan atau hilang atau
musnah, dapat dilakukan penghapusan;

• Penghapusan harus dilakukan dengan permohonan penghapusan oleh pejabat yang berwenang melalui proses penghapusan dan diakhiri dengan
berita acara penghapusan.

8
KERENTANAN DAN KAPASITAS PENDUDUKYANG
TERKENA BENCANA

Mengoptimalkan partisipasi masyarakat,


memastikan bahwa semua kelompok terwakili
termasuk mereka yang kurang tampak tampil di
masyarakat

Pilah data berdasarkan jenis kelamin dan usia (0–80


tahun ke atas)

Memastikan bahwa hak atas informasi


disebarluaskan dan diberitahukan kepada
masyarakat dengan cara yang terbuka dan dapat
diakses oleh semua anggota masyarakat

9
DALAM HANDBOOK SPHERE
TERDAPAT 4 BAGIAN
● Pengkajian ketahanan pangan dan gizi
● Makanan bayi dan kanak-kanak
● Pengelolaan kurang gizi akut dan kurang zat gizi mikro
● Ketahanan pangan
– Pemberian makanan
– Pemberian dana tunai dan kupon bantuan
– Mata pencarian

10
KEGIATAN PELAYANAN PANGAN
SAAT DARURAT BENCANA
● Pengadaan dan distribusi pangan, mencakup pembelian bahan makanan, makanan siap saji, pengemasan untuk
distribusi, dan biaya bongkar muat barang, sewa kendaraan angkutan, bahan bakar, sewa lahan usaha dan
pengadaan benih dan lainnya yang relevan.
● Penyiapan operasional dapur umum, mencakup pembelian bahan bakar, bahan dan alat kebersihan, peralatan
pengolahan makanan dan perlengkapan makan.

11
PENGKAJIAN
KETAHANAN
PANGAN DAN GIZI

12
PENGKAJIAN

● Dalam kondisi krisis akut dan membutuhkan tindakan cepat,


pengkajian awal multi sektor mungkin dapat dianggap cukup untuk
memutuskan apakah bantuan dibutuhkan atau tidak.
● Idealnya, pengkajian ketahanan pangan dan gizi harus sejalan
dan harus dengan jelas mengidentifikasi hambatan untuk
mendapatkan gizi yang cukup, serta intervensi untuk
meningkatkan ketersediaan, akses, dan pemanfaatan optimal dari
asupan pangan.

13
STANDAR PENGKAJIAN KETAHANAN
PANGAN DAN GIZI 1: KETAHANAN
PANGAN
Di saat terjadi peningkatan risiko terhadap orangorang untuk
mengalami kerawanan pangan, pengkajian dilakukan dengan
menggunakan metode yang dapat diterima untuk memahami jenis,
derajat, dan tingkat kerawanan pangan yang terjadi, untuk
mengidentifikasi mereka yang paling terkena dampak dan untuk
mendefinisikan tindakan yang paling tepat untuk membantu.

14
INDIKATOR KUNCI

● Pengamatan dilakukan terhadap ketahanan pangan dan sumber mata


pencarian individu, rumah tangga, dan masyarakat untuk membantu
intervensi .
● Dalam sebuah laporan analisis termasuk rekomendasi untuk tindakan apa
yang akan dilakukan untuk mendukung kelompok dan individu rentan .
● Tanggap darurat dilakukan berdasarkan kebutuhan pangan masyarakat yang
paling mendesak dan juga mempertimbangkan perlindungan dan promosi
strategi mata pencarian.

15
STANDAR PENGKAJIAN KETAHANAN
PANGAN DAN GIZI 2: GIZI
Di saat seseorang berisiko mengalami kurang gizi, pengkajian
dilakukan dengan menggunakan metode yang diterima secara
internasional untuk memahami jenis, derajat, dan tingkat gizi serta
mengidentifikasi mereka yang paling terkena dampak, yang paling
berisiko, dan tanggap darurat yang sesuai.

16
INDIKATOR KUNCI

● Metodologi pengkajian dan analisis termasuk mempertahankan standar


indikator yang dapat diterima secara luas dapat diadopsi baik untuk
pengkajian antropometrik maupun non-antropometrik .
● Temuan pengkajian ini disajikan dalam laporan analisis termasuk
rekomendasi yang jelas mengenai tindakan untuk mendukung individu dan
kelompok.

17
PEMBERIAN
MAKANAN BAYI DAN
KANAK-KANAK

18
PEMBERIAN MAKANAN BAYI DAN
KANAK KANAK
● Praktik pemberian makanan bayi dan kanak-kanak yang kurang optimal meningkatkan
kerentanan kelompok ini terhadap kurang gizi, penyakit dan kematian.
● Kondisi bencana dapat meningkatkan kerentanan dan yang paling muda usia adalah yang
paling rentan.
● IYCF (Penyediaan pangan untuk bayi dan kanak-kanak) berkaitan dengan tindakan untuk
mendukung dan melindungi kebutuhan gizi, baik itu ASI maupun non-ASI bagi bayi dan
kanak-kanak.
● Prioritas tindakan termasuk perlindungan dan dukungan untuk pemberian ASI, meminimalkan
risiko pemberian makanan buatan dan memungkinkan makanan pendamping ASI yang tepat
dan aman.

19
STANDAR PEMBERIAN MAKANAN
BAYI DAN KANAK-KANAK 1: PANDUAN
KEBIJAKAN DAN KOORDINASI
Perlindungan pemberian makanan bayi dan kanak-kanak yang aman
dan tepat untuk penduduk terkena bencana dilakukan dengan penerapan
panduan kebijakan kunci dan koordinasi yang kuat.

20
INDIKATOR KUNCI

● Tersedia kebijakan nasional atau instansi yang mencerminkan Pedoman


Operasional yang terdapat pada IYCF dan IFE.
● Sebuah badan yang memimpin kordinasi diterapkannya IYCF dalam setiap
kondisi darurat.
● Sebuah badan yang ditunjuk untuk menangani setiap sumbangan dari BMS,
produk susu, botol dan dot.
● Pemantauan dan pelaporan (bila terjadi) Kode Pelanggaran.

21
STANDAR PEMBERIAN MAKANAN BAYI DAN
KANAK-KANAK 2: BANTUAN DASAR DAN
AHLI
Ibu dan pengasuh bayi serta kanak-kanak memiliki akses dan
mendapatkan bantuan pangan secara tepat waktu dan layak untuk
meminimalkan risiko dan meningkatkan status gizi, kesehatan dan kemampuan
bertahan hidup.

22
INDIKATOR KUNCI

● Indikator standar pengukuran WHO untuk inisiasi dini menyusui, ASI eksklusif pada bayi < 6
bulan, dan meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 1 dan 2 tahun.
● Pangasuh memiliki akses yang memadai, tepat waktu, makanan pendamping yang bergizi
dan aman untuk bayi 6 sampai <24 bulan.
● Ibu menyusui memiliki keahlian dan akses yang memadai untuk mendapatkan bantuan
pemberian ASI yang terampil.
● Ada akses pada Kode – pasokan makanan tambahan atau pendamping ASI dan bayi yang
membutuhkan susu formula.

23
PENGELOLAAN
KURANG GIZI AKUT
DAN KURANG ZAT
GIZI MIKRO

24
PENGELOLAAN KURANG GIZI AKUT
DAN KURANG ZAT GIZI MIKRO
● Kurang gizi akut dan kurang zat gizi mikro dihubungkan dengan peningkatan risiko kesakitan
dan kematian bagi individu. Oleh sebab itu, apabila mengalami risiko tinggi maka perlu
dipastikan untuk mendapatkan akses pada pelayanan yang baik dan benar untuk mencegah
kekurangan gizi.
● Kondisi kurang gizi akut sedang dapat diatasi dengan banyak cara. Dalam kondisi bencana,
pemberian makanan tambahan kadang-kadang menjadi strategi untuk pencegahan dan
pengelolaan kurang gizi sedang.
● Gizi buruk akut ditangani melalui perawatan terapi yang dapat diakses melalui berbagai
pendekatan.
● Kurang zat gizi mikro sulit diidentifikasi dalam banyak konteks. Kurang zat gizi mikro ini harus
diatasi dengan intervensi yang luas dan menyeluruh disertai dengan penanganan terhadap
individu terkait.

25
KETAHANAN
PANGAN

26
KETAHANAN PANGAN

● Tujuan pembagian pangan untuk memastikan bahwa orang-orang memiliki akses yang aman
untuk mendapatkan pangan dengan mutu dan jumlah yang memadai, dan memiliki sarana
untuk mempersiapkan dan mengonsumsinya dengan aman.
● Pembagian pangan umum (gratis) dapat diperkenalkan apabila dibutuhkan, ditujukan bagi
mereka yang paling membutuhkan pangan, dan pembagian harus dihentikan apabila
kemampuan penerima manfaat telah kembali pulih untuk memproduksi dan mengakses
sendiri kebutuhan pangannya.
● Baik untuk pemberian pangan umum maupun makanan tambahan, sebaiknya dilakukan
dengan sedapat mungkin menggunakan rasio kebutuhan rumah tangga.
● Supply chain management (SCM) atau pengelolaan rantai pasokan harus sangat kuat dan
dapat dipertanggungjawabkan – sebab hidup dapat saja menjadi taruhannya dan pangan
adalah hal yang paling penting di saat kondisi tanggap darurat.

27
THANK
YOU