Anda di halaman 1dari 10

m 

Ú     

Ê  
      
m        Ê     
 

Ê   




m   


   Ê
 

 
 
m   
 Ê
 

 
   
m   
Ê m
 

 
A. Keadaan Normal
sifat-sifat otot polos :
¢ !  aitu terjadina kontraksi secara
ritmis dari otot polos tanpa rangsangan dari luar

¢ O  
 @ aitu otot polos mempunai
tonus tertentu@ baik dalam keadaan relaksasi
maupun kontraksi.

¢ a
 sifat terdapat pada otot visceral. Pada
panjang ang berbeda tegangan otot polos bisa
sama maupun sebalikna@ pada panjang ang
sama bisa mempunai tonus ang berbeda.
ð. Penambahan Adrenalin

Ô Terjadi penurunan potensial sehingga frekuensi


dan kontraksi ritmis turun.

Ô Adrenalin merupakan suatu smpatic agent ang


meningkatkan potensial membran dengan
threshold tetap@ sehingga depolarisasi sukar
terjadi. Akibatna potensial ang terjadi kecil.
Adrenalin juga menghambat permeabilitas Na@
sekaligus menghambat pemasukan Na ke dalam
sel. sehingga frekuensi kontraksi menurun dan
otot sulit mencapai nilai ambang karena jarang
terjadi potensial aksi.
þ. Penambahan Pilokarpin

Ô Penambahan pilokarpin bersifat


menurunkan potensial membran sehingga
amplitudo meningkat.

Ô ðahan ini juga menebabkan peningkatan


permeabelitas membran terhadap Na@
sehingga terjadi peningkatan frekuensi
kontraksi ang diikuti oleh peningkatan
tonus otot.

Ô Dalam tabel hasil praktikum kami terjadi


penurunan tonus ang berbeda dengan teori
sebenarna.
D. Penambahan Atropin Sulfat

Ô Atropin sulfat mempunai fungsi ang sama


dengan adrenalin ang menaikkan potensial
membran sehingga permeabilitas membran
menurun.

Ô Atropin sulfat merupakan w



w
 

ang menghambat asetilkolin agar tidak dapat
bekerja pada membrane. Akibatna frekuensi@
amplitudo@ dan tonus ang didapatkan dari
percobaan lebih rendah dari kontrolna.

Ô Pada praktikum kami didapatkan tonus otot ang


turun. berbeda dengan teori sebenarna pula.
Ô uambung katak terlalu banak mendapat
sentuhan dari luar ang mengakibatkan stres
pada lambung katak@ sehingga mempengaruhi
kontraksi otot polos lambung katak tersebut.

Ô Pencucian otot polos lambung ang kurang


bersih@ sehingga obat ang telah diberikan
sebelumna mempengaruhi kerja obat ang
diberikan selanjutna.
Ô Kadar obat ang diberikan untuk merangsang
kontraksi otot kurang sesuai sehingga
pengaruh ang diberikan kurang jelas untuk
diamati.

Ô Pemasangan alat ang kurang tepat sehingga


grafik tidak terbaca secara jelas@ dan hal itu
dapat berpengaruh terhadap pengukuran
amplitudo gelombang ang tergambar pada
penulis.
Kesimpulan
^ Otot polos dapat berkontraksi secara
ritmis tanpa adana rangsangan dari
luar.

^ Obat Adrenergik adalah obat ang


kerjana menimbulkan relaksasi.

^ Obar kolinergik adalah obat ang


kerjana menimbulkan kontraksi.
^ Adrenalin dan Sulfat Atropin termasuk
jenis obat adrenergik. keduana dapat
menebabkan penurunan kontraksi otot
polos. Keduana menurunkan
frekuensi@ amplitudo@ dan tonus otot
sehingga dapat digolongkan obat w

w
  

^ Pilokarpin termasuk jenis obat


kolinergik. Obat ini dapat menebabkan
peningkatan frekuensi@ amplitudo@ dan
tonus sehingga dapat digolongkan
sebagai obat w